
Langkahnya pelan menuruni anak tangga untuk ke lantai bawah. Namun Alina dibuat kesal dengan tingkah jail Alendra yang terus mengusili dirinyal. Sedari tadi laki-laki itu sengaja sekali berjalan di belakangnya, sesekali juga menarik kecil bagian rambut Alina. Lalu setelah Alina menoleh dan memasang wajah marahnya, Alendra malah memasang wajah datar dan cuek seakan tidak terjadi apa-apa.
"Berhenti Ale! Gue nggak suka diginiin," tekan Alina membalikkan tubuhnya.
Alendra menatap Alina datar. Tangannya bersikedap di dada. Lalu melangkah melewati Alina begitu saja.
"Sumpah, masih tidak tahu diri banget," umpat Alina merasa diabaikan oleh Alendra.
Padahal ia pikir Alendra akan membela diri atau memancingnya dengan kata-kata yang biasa laki-laki itu keluarkan. Namun Alina terkadang masih sulit menebak sikap dari Alendra.
"Malam ma," sapa Alendra tersenyum hangat.
Melihat Alendra yang tidak seperti biasanya membuat mama Intan mengernyit. "Kenapa sih nak?" tanya mama Intan yang hanya dijawab Alendra dengan sebuah kecupan singkat di pipinya.
Tidak lama setelah itu. Alina datang menghampiri keduanya yang berada di meja makan.
"Sayang, Endra nakal ya pasti sama kamu, tadi Widya ke sini jemput ibunya, nunggu kamu juga tapi-" Mama Intan tampak melirik ke arah Alendra. "Sepertinya Endra sengaja ngurung kamu," lanjut beliau seketika membuat Alina terbatuk.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
"Eh...minum sayang, minum," dengan cepat mama Intan mengambilkan minuman untuk Alina.
Sementara Alendra malah duduk santai tidak berbuat apa-apa melihat Alina yang sedang membutuhkan air minum. Meski sudah mengungkapkan perasaannya, nyatanya sikap tidak tahu diri Alendra masih bisa Alina rasakan.
"Widya dimana ma sekarang?" tanya Alina terkejut tahu jika Widya datang ke rumahnya.
"Baru aja pulang. Nggak papa besok bisa ke sini lagi," ujar beliau diangguki oleh Alina.
Alina pikir mungkin saja Widya juga berniat untuk mengobrol berdua bersama dengan Alina. Membahas tadi pagi yang membuat keduanya kini harus saling diam seperti tidak saling dekat.
Pagi ini Alina kembali berangkat bersama dengan Alendra. Setelah Alendra tahu siapa dirinya, Alina jadi semakin merasa lega, tinggal satu lagi yang masih mengganjal di hatinya. Surat dari Alina asli yang akan ia buka nanti malam. Rencananya Alina memang akan membukanya nanti, ia pikir sekarang sudah waktunya untuk mengetahui apa isi dalam surat tersebut.
__ADS_1
"Aku minta maaf kalau selama ini buat kamu kesulitan Jenni," ujar Alendra seketika membuat Alina menoleh.
"Maksudnya?" tanya Alina tidak paham dengan apa yang Alendra katakan.
"Apa saja yang membuat kamu sulit, aku minta maaf," ujarnya lagi. Kali kini Alina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia sudah memaafkan Alendra meski terkadang laki-laki itu sikapnya masih menyebalkan.
"Lo percaya, itu juga udah lebih dari cukup Ale," balas Alina kini diangguki oleh Alendra.
Sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas. Ia jadi mengerti sekarang kenapa Alina begitu berani mengganti nama panggilan Alendra fersi dirinya. Ternyata memang jiwa di dalam raganya bukan pemiliknya. Namun meski begitu Alendra merasa tetap memiliki hati untuk Alina yang sekarang.
"Aku mau ke makam Alina yang pergi bersama tubuh kamu," ujar Alendra seketika membuat Alina menoleh.
Antara tidak yakin, namun Alina kemnali menganggukan kepalanya. "Oke nanti," balasnya.
Cup
Seketika mata Alina kembali melotot mendapat serangan tiba-tiba dari Alendra.
"Makasih, udah hadir di hidup aku," ujarnya tersenyum tulus.
"Sudah sampai Jenni, kamu tidak ingin turun?" tanya Alendra seketika membuat Alina tersadar.
Ia mengambil tas dan juga ponsel yang berada di pangkuannya tadi. Lalu turun dari mobil Alendra sebelum ada yang melihat kedatangan mereka. Kini Alendra sering sekali menurunkannya di parkiran guru. Alina jelas waspada jangan sampai ada yang melihat.
"Jenni," panggil Alendra membuat Alina menoleh.
Bukannya mengatakan sesuatu. Alendra malah bertingkah layaknya remaja yang sedang kasmaran, ia sengaja menunjukkan ciuman jarak jauh untuk diberikan kepada Alina, jelas saja hal itu kembali membuat Alina terkejut dengan tingkah random Alendra.
Ingin mengumpat sebagai guru cab*l, namun mereka suami istri. Alendra jelas berhak melakukan apapun dengannya. Bahkan diam-diam Alina sendiri malah tersenyum karena tingkah aneh Alendra.
"Sumpah nggak ada wibawanya samsek si Ale," gumamnya terkekeh.
Buru-buru ia menuju ke kelas sebelum Alendra kembali memanggil namanya dengan segala tingkah yang menurut Alina terkesan aneh dan tidak cocok sama sekali dengan penampakan Alendra yang terkesan garang dan cool.
Sampai di kelas. Alina sudah dikejutkan dengan Widya yang kini sudah dikerubuni oleh banyak anak-anak. Alina sendiri sempat terkejut melihat penampilan Widya kali ini.
__ADS_1
Widya yang biasanya rambutnya diikat dua atau di kepang dua juga dikuncir kuda kini digerai dan Alina pikir Widya juga sempat mencatok rambutnya sebelum kepergiannya ke sekolah. Kaca mata besar yang biasanya bertengger di wajahnya kini tergantikan dengan soflen warna abu-abu di bola matanya.
Langkah Alina mendekat. Ia menatap Widya yang menurutnya semakin aneh. Bukan karena Alina tidak suka dengan perubahan pada penampilan Widya. Namun terlalu mencolok dan malah terkesan aneh.
"Wid," panggil Alina membuat semua menoleh ke arahnya.
"Hai Alin."
"Lin, si Widya kayaknya sengaja banget buat nyaingin lo."
"Tapi malah kek ondel-ondel nggak sih? Lihat tuh bulu matanya segala pakai yang palsu."
"Mana warna lipstiknya nggak sesuai sama kulitnya yang coklat, maksa banget nggak sih?"
Terdengar tawa dari teman-teman yang sedari tadi sepertinya sudah mengomentari penampilan Widya.
"Diem kalian!" tekan Alina membuat mereka langsung terdiam.
"Wid, kita harus bica-"
"Apa? Puas kamu lihat aku diketawain sama mereka? Puas Lin?" teriak Widya menabrak tubuh Alina sebelum keluar.
Alina terdiam di tempatnya. Ia mengepalkan tangannya kuat. Menurutnya ia tidak berbuat salah dengan Widya. Lalu Widya seakan menyalahkan dirinya atas tindakan Widya sendiri.
"Apa banget sih Widya, ngomel-ngomel sama Alin, udah jelas beda level tetep aja maksa," komentar salah satu teman kelas mereka.
Alina menatap siswi itu tidak suka. Meski secara tidak langsung siswi tersebut membela Alina, bukan berati ia harus menjelekan Widya, Alina sendiri sejatinya tidak perlu diberi pujian atau dibela oleh siapapun. Alina yang sekarang bisa berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun.
"Fake semua kalian," umpat Alina sebelum kepergiannya.
"Yee...dibelain malah nyolot, kalau bukan karena lo murid kesayangan pak Endra gua juga ogah," ketusnya merasa terabaikan oleh Alina.
Alina mencari keberadaan Widya yang entah perginya kemana. Ada perasaan kesal dengan Widya yang tiba-tiba berubah aneh.
"Widya kenapa sih jadi suka ngedrama gini?" dumelnya tetap berlari mencari keberadaan gadis itu.
__ADS_1