
Bel apartemen terus berbunyi sedari tadi. Pinka tidak main-main dengan ucapannya. Bahkan sengaja ia tadi pergi ke klub terlebih dahulu untuk meminta Ben dan Vinsan menemaninya ke apartemen Alendra. Memang sejak Alendra menikah dengan Alina ia pindah apartemen untuk menghindari situasi semacam ini.
Baik Alina atau pun Alendra akhirnya keluar kamar. Mereka sama-sama berada di ambang pintu dan...
Dug
"Auw," ringis Alina memegangi keningnya.
"Kamu tidur Alin besok sekolah," titah Alendra menatap tajam Alina.
"Lo juga tidur Ale, besok ngajar," balas Alina tidak mau kalah.
Enak saja ia disuruh tidur sementara Alendra akan menemui pacarnya. Tidak akan Alina biarkan, meski Alina seperti istri yang tidak dianggap namun dia tidak akan membiarkan Alendra bertindak sesukanya.
Cukup Alina yang dulu saja membiarkan Alendra bermain gila di belakangnya. Sampai-sampai Alina yang sekarang menemukan barang aneh di kamar mandi Alendra dulu ketika pertama kali menginjakkan kakinya di apartemen itu.
Jika pergi ke klub dan hanya mabuk saja masih bisa Alina maklumi, ia juga tahu bagaimana kehidupan laki-laki kaya raya seperti Alendra. Banyak kok di luar sana yang memang sering pergi ke tempat-tempat malam hanya untuk mengusir penat setelah seharian lelah bekerja. Tetapi bermain mesra dengan kekasih Alendra, jelas sekarang akan membuat Alina ikut bertindak.
Terdengar helaan napas dari Alendra. Sebelum akhirnya ia mendorong Alina untuk masuk ke kamarnya dan menguncinya, tidak tahu saja Alendra jika Alina yang sekarang banyak akal. Setelahnya langkahnya berjalan pelan menuju ke arah pintu, sudah bisa Alendra tebak siapa yang datang.
Ceklek
"Hai Ndra," sapa Ben dengan senyum semanis mungkin.
Melihat Ben dan Vinsan yang datang membuat Alendra berdecih. "Ngapain pada ke sini?" Alendra menatap malas kedua sahabatnya.
Jika tidak salah Alendra pernah menyuruh keduanya untuk tidak datang ke apartemennya setelah pernikahannya dengan Alina. Dulunya Alendra ada rasa malu karena menikahi gadis seperti Alina yang terlihat sangat lugu dan biasa saja.
Cantik saja bagi Alendra masih kurang menarik, Alendra suka wanita hot ketika bersamanya.
"Gue lagi nggak pergi, lo berdua cabut gih," usir Alendra seketika membuat Ben menggeleng dengan tangan mencegah pintu agar tidak tertutup.
"Kita punya hadiah buat lo," ujar Vinsan menyingkirkan diri dari hadapan Alendra tergantikan dengan Pinka yang ternyata sudah berada di belakang mereka.
"Tadaaa...aku datang sayang," sapa Pinka dengan girangnya.
Ia mencium pipi Alendra dan berakhir dengan kecupan singkat pada bibir di depan kedua sahabatnya. Hal semacam itu sudah sering ia lakukan di depan teman-teman Alendra, pantas jika mereka mengira di antara Alendra dan Pinka sudah melakukan sesuatu yang membuat hubungan mereka semakin terikat.
"Pinka," tekan Alendra yang tidak dipedulikan oleh Pinka.
__ADS_1
Gadis itu malah sengaja menggandeng Alendra dan masuk ke apartemennya.
"Kalian," ancam Alendra pada kedua sahabatnya.
Sayangnya ancaman Alendra tidak berati apa-apa bagi mereka. Karena datang ke apartemen Alendra malam ini merupakan waktu yang sangat tepat dan sangat menguntungkan untuk Ben dan Vinsan.
Bayangkan saja, mata keduanya kini tidak teralihkan menatap ke arah Alina yang tiba-tiba datang dengan baju tidur sangat seksi. Itu salah satu baju tidur yang ia beli ketika berbelanja ponsel dan pakaian dalam bersama dengan Alendra ketika itu.
Disuguhkan sesuatu yang menyehatkan mata jelas membuat Ben dan Vinsan tidak masalah jika mendapat tonjokan dari Alendra sekali pun, yang terpenting keindahan di depannya tidak cepat berlalu.
"Gila.. gila.. gila... Ndra lo kok nggak bilang si Alina jadi hot gini?" tanya Ben dengan mata tanpa berkedip menatap Alina.
Sontak saja apa yang dikatakan oleh Ben barusan membuat Alendra reflek menoleh ke arah gadis yang tiba-tiba datang dengan pakaian yang jelas nantinya akan membuat Alendra murka.
"Verry sexy," gumam Vinsan menggeleng tidak percaya.
Untuk beberapa saat Alendra dibuat tertegun sekaligus terkejut dengan penampilan Alina saat ini. Sangat menarik dan pasti sudah membuatnya panas dingin jika saja keadaanya tidak seperti sekarang ini. Hanya ada Alina dan Alendra saja.
Setahu Alendra tadi Alina masih memakai baju tidur gombrong yang ia bawa ketika mereka baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Dan kini Alina seakan sengaja untuk membuat Alendra murka karena tindakannya.
"Sayang, dia tinggal di sini juga?" tanya Pinka melirik Alina sinis.
Dengan langkah bak seorang model yang sudah handal, Alina menghampiri mereka dengan gaya sengaja dibuat menggoda. Asli wajah Alendra kini sudah sangat merah, antara menahan marah dan juga hasrat.
"Anj*r udah berdiri aja punya gue," dumel Ben berlalu pergi mencari kamar mandi.
Berbeda dengan Vinsan yang malah tersenyum senang dengan kedatangan Alina.
"Hai kak," sapa Alina dengan centilnya.
Suara Alina tedengar sangat menggemaskan dan membuat Vinsan ingin membawanya pergi. Sementara Alendra masih diam dengan rasa kesal yang sudah membuncah di dalam dadanya.
Rasanya ia sudah sangat ingin memberi pelajaran untuk Alina yang sudah sangat keterlaluan.
"Alin, makin cantik dan..." Vinsan melirik Alendra ketika akan melanjutkan ucapannya.
"Dan apa?" tanya Alina sengaja.
"Seksi baby," jelas Vinsan membuat Alendra tanpa sadar sudah mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Ia marah bukan dengan Alina saja, tetapi juga dengan kedua sahabatnya yang terlihat sengaja untuk menggoda Alina di depannya. Apa lagi dengan Pinka yang harus datang sampai membuat hal seperti sekarang ini terjadi.
"Kaka juga ganteng dan...seksi," balas Alina membuat Vinsan tersenyum tipis.
Selain cantik, Alina juga sudah banyak sekali perubahan menurutnya, sikapnya yang sekarang tidak membosankan karena enak diajak mengobrol dan becanda. Tidak seperti dulu sangat kaku dan pendiam.
"Alina masuk!" titah Alendra menatap tajam Alina.
Alina hanya melirik sekilas, tanpa berniat menjawab apa lagi menuruti perintah Alendra tadi. Baginya malam ini Alendra sedang bersama dengan kekasihnya. Maka Alina bersama dengan sahabatnya, malahan dua sekaligus yang Alina dapatkan jika saja yang satunya tidak mudah menyerah karena rasa keinginan untuk berperang di ranjang.
"Alin," tekan Alendra masih dengan sorot mata tajamnya.
"Apa sih? Gue lagi ngobrol sama kakak ini," balas Alina dengan nada kesal.
Dalam hatinya terus tertawa mengejek melihat wajah Alendra saat ini. Ternyata tidak begitu sulit membuat emosi Alendra naik.
"Biarin sayang, mending kita keluar yuk," ajak Pinka kepada Alendra.
"Bener tuh kata tante ini," ujar Alina ditujukan untuk Pinka.
Vinsan hampir saja meledakan tawanya, sementara Pinka sudah tersulut emosi terlebih dahulu karena dipanggil dengan sebutan tante oleh Alina.
"Ikut aku," tanpa lama lagi Alendra menarik Alina untuk ke kamarnya.
"Endra," panggil Pinka yang langsuny dicegah oleh tangan Vinsan ketika berniat untuk mengejar.
Terus berada di sana bersama teman-temannya membuat Alendra tidak bisa untuk mengendalikan diri. Tingkah Alina terlalu berlebihan dan membuatnya naik pitam.
"Kamu apa-apaan pakai baju seperti ini Alin?" bentak Alendra ketika mereka sudah berada di kamar Alina.
"Apa-apaan gimana? Bukannya lo suka liatin cewek dengan baju seksi ini? Tuh tante itu juga pakai baju kurang bahan lo biasa aja tuh? Kenapa sewotnya sama gue?" kilaj Alina dengan sewotnya, membuat Alendra semakin menatap tajam sampai mengepalkan tangannya.
"Akhhh," umpat Alendra memukul dinding yang berada di depannya.
"Nggak usah pukul-pukul itu dinding, semua yang berada di kamar gue nggak salah. Yang salah itu lo Ale," tekan Alina menatap berani Alendra.
"Aku? Iya...ya..ya... Aku Alina," ujar Alendra bersamaan dengan tangannya yang menarik paksa tengkuk gadis itu untuk ia kecup bibirnya.
Alina kalau tidak dikasih pelajaran berupa tindakan semacam itu pasti masih saja berkilah dan terus bertindak. Alendra saja hampir gila tadi melihat tubuh ramping itu bisa dilihat oleh kedua temannya.
__ADS_1
"What the f**k you man," umpat Ben terperangah melihat pemandangan di depannya.