Fire On Fire

Fire On Fire
Sopir Misterius


__ADS_3

Tubuh kecilnya menggigil, tangisnya sudah tidak bersuara lagi, namun air mata masih bercucuran bersamaan dengan air yang terus mngguyur sekujur tubuhnya, karena sesak yang dirasakan masih begitu terasa atas tindakan Alendra tadi.


Bayangan dimana tadi Alendra hampir saja menodainya terus berputar jelas di pikirannya. Beruntung Mama Intan tiba-tiba datang ke apartemen dan menggagalkan rencana jahat Alendra. Jika tidak mungkin Alina akan menjadi gadis pendedam kepada Alendra.


Secara nyata Alina ialah istri Alendra, seharusnya Alendra bebas melakukan apa saja termasuk meminta haknya, namun naluri Alina kini ialah seorang Jenni, akan sangat susah baginya untuk menerima permintaan Alendra juga untuk dijelaskan apa yang dia rasa.


Tok


Tok


Tok


"Nak, sudah nak... Nanti Alin sakit ini sudah terlalu malam sayang," ujar Mama Intan dari luar kamar mandi.


Alina tergugu, iya memejamkan matanya sebelum akhirnya memutuskan untuk menyudahi acara memberishkan diri karena sentuhan dari bibir laknat Alendra tadi. Ia merasa kotor rasanya meski baru dijamah dengan bibir seksi itu.


Ceklek


Dengan jubah handuk Alina keluar dari kamar. Mama Intan yang memang sengaja menungguinya tersenyum tipis menatap Alina.


"Pakai baju dulu ya? Setelah itu kita ke ruang tamu," beritahu Mama Intan yang diangguki setuju oleh Alina.


"Mama tunggu diluar pintu," lanjut beliau mengelus pundak Alina sebelum kepergiannya.


Niatnya tadi kedua orang tua Alendra datang untuk mengajak makan malam diluar bersama. Sampai pada akhirnya keduanya dibuat terkejut dengan penampilan Alina setelah dibukakan pintu oleh Alendra. Seragam sobek dan juga baju yang acak-acakan. Tidak lupa bekas merah hasil pahatan bibir Alendra memenuhi leher Alina. Juga dengan air mata Alina sebagai wakil bagaimana perasaannya diperlakukan demikian oleh Alendra membuat kedua orang tua Alendra kini mengerti. Gadis itu belum siap.


"Begini cara kamu memperlakukan istrimu Endra?" tanya Pak Dirta dengan nada meremehkan.


"Papa kira kamu ini laki-laki sejati, laki-laki dewasa. Ternyata papa salah," ujar beliau menatap Alendra sinis.


Setelah mendapat beberapa pukulan dari Pal Dirta. Alendra masih bergeming, menjelaskan kepada kedua orang tua Alina tentang bagaimana sesungguhnya gadis itu rasanya sia-sia saja. Alendra tahu pasti kedua orang tuanya tidak mungkin percaya begitu saja.


"Semua yang didasari karena paksaan tidak akan berakhir baik Endra. Ingat itu," ujar beliau sebelum akhirnya duduk di sofa menunggu kedatangan istri dan menantunya.


Tidak berselang lama. Alina bersmaan dengan Mama Intan datang. Kini Alina sudah terlihat cantik lagi tidak semenyedihkan seperti tadi ketika mereka menemukan Alina dengan kondisi yang cukup memprihatinkan.

__ADS_1


Tahu apa yang sedang gadis itu sengaja lakukan? Ia ingin membuat Alendra tidak bisa seenaknya bertindak akan dirinya. Ada secercah harapan jika Alendra akan dihukum oleh kedua orang tuanya. Dan pada saat ekor mata Alina melirik ke arah Alendra, sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas menyadari jika ia baru saja mendapat hadiah berupa pukulan dari Papanya.


Ck, impas Ale sama apa yang lo lakuin ke Boy dan gue, batin Alina tersenyum sinis.


"Ayo sayang kita makan dulu, di sini nggak papa ya?" ujar Mama Intan yang hanya diangguki oleh Alina sebagai bentuk setuju.


Beberapa kali disaat makan malam. Alendra sengaja melirik Alina, ia sendiri tidak akan bertindak demikian tadi jika saja Alina tidak mengatakan hal-hal yang membuat emosinya naik dengan kesabaran yang sudah tidak bisa Alemdra tahan lagi. Mendengar Alina tidur bersama dengan laki-laki yang bernama Boy itu jelas membuat Alendra harus bertindak lebih, namun memberitahu kepada kedua orang tuanya juga tidak akan Alemdra lakukan. Nama baik Alina pasti akan jelek di mata Mama Intan dan Papa Dirta. Untuk saat ini Alendra bisa melihat betapa sayangnya Mama Intan kepada Alina, dan Alendra bukan orang yang gegabah untuk mengacaukan itu, kecuali tadi untuk memberi pelajaran Alina.


"Alin besok tetap akan sekolah?" tanya Mama Intan lembut.


Kepalanya mengangguk pelan. Sedikit senyum tipis untuk menjawab pertanyaan dari wanita sebaik Mama Intan di depannya. "Iya ma," balasnya singkat.


"Ya sudah kalau begitu, mulai besok untuk beberapa hari ke depan Alin biar berangkat sama mang Udin ya?" ujar Pak Dirta yang diangguki oleh Alina dengan senyum.


"Endra kamu jangan ganggu Alina dulu untuk beberapa waktu, kasian dia masih ketakutan. Kalau sampai terjadi apa-apa lagi Alin akan mama bawa pulang dulu biar kamu di sini kesepian," ancam Mama Intan yang tidak mendapat jawaban dari Alendra.


Sendok yang berada di genggaman tangannya sudah Alendra kertakan. Alina yang membuat amarahnya terus muncul. Terkadang seperti ia menggenggam abu yang sangat panas, bisa dirasakan tetapi juga mudah hilang begitu saja. Layaknya apa yang dirasakan Alendra terhadap Alina sekarang. Lalu kini orang tuanya memberi hukuman untuknya. Tidak adil namun Alendra lebih memilih diam. Dia bisa bertindak tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.


Pagi harinya Alina sudah bersiap dengan seragan sekolah miliknya. Cukup lama tadi ia melakukan ritual di depan cermin untuk menutupi bekas merah yang Alendra buat. Alina sendiri masih sangat kesal setiap kali mengingat kejadian tadi malam itu.


Ia berniat untuk langsung ke bawah saja. Karena mulai hari ini ia tidak berangkat bersama dengan Alendra melainkan dengan mang Udin salah satu sopir keluarga Atmajaya.


"Langsung aja ya pak?" ujar Alina setelah menutup pintu mobil.


Hanya membalas dengan anggukan sopir tersebut langsung melajukan mobilnya. Awalnya masih biasa dan tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan, namun setelah Alina menerima telepon dari seorang laki-laki. Disitulah masalah kembali akan muncul.


"Hallo Boy, kenapa?" tanya Alina mengangkat sambungan teleponnya.


(..)


"Hah? Seriusan lo?" tanya Alina tidak percaya.


(..)


"Oke thank, tapi gue belum siap buat ketemu," ujar Alina membuat sang sopir mengeratkan pegangan tangannya pada kemudi.

__ADS_1


Tiba-tiba mobil yang mereka kendarai melaju dengan kecepatan tinggi. Alina hampir saja tersungkur ke depan jika saja tidak berterak cepat untuk menahan.


"Pak... Nggak usah ngebut-ngebut, ini masih pagi juga kok," beritahu Alina yang tidak mendapat jawaban dari sopir tersebut.


Alina mencebik. Sedari tadi sang sopir memang tidak pernah menjawab perkataannya setiap kali diajak bicara.


"Iya gue mau ke sekolah, udah ya Boy, nanti gue telpon lagi," pamit Alina mematikan sambungan teleponnya.


Ia menatap sopir tersebut dari arah belakang. Lalu menghela napas mengingat sopir tersebut seperti tidak ada sopan santunnya.


"Nggak sopir nggak bosnya... Sama-sama nggak punya etika banget, jangan-jangan nih sopir udah ketularan si Ale lagi," gumam Alina melirik sekilas. Sebelum akhirnya kembali fokus pada ponselnya.


"Pak kita ke rumah makan depan yang buka 24 jam itu ya?" Pinta Alina berniat untuk sarapan terlebih dahulu.


Mama Intan sudah menyuruhnya untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat. Lagian jika dipikir-pikir memang lebih baik sarapan di rumah makan terlebih dahulu karena masih banyak waktu. Di kantin akan membuat Alina bosan nantinya jika pagi sudah sarapan di sana, siangnya pun begitu.


"Bapak sekalian saja yuk!" ajak Alina masih mencoba untuk bersikap sopan kepada si sopir.


"Pak... Jawab kek, jangan ngangguk atau geleng aja," beritahu Alina membuat sopir tersebut tiba-tiba batuk.


Uhuk


Uhuk


Uhuk


"Maaf non, saya sedang sakit tenggorokan makanya dari tadi memilih untuk diam, silahkan non sarapan dulu," ujarnya seraya membernarkan topi dan kaca mata yang dikenakannya.


"Oh ya udah... Gue pesenin aja biar dibawa ke sini gimana?" tawar Alina yang lagi-lagi mendapat gelengan kepala dari si sopir.


"Tidak usah, saya sudah sarapan tadi," balasnya lagi.


Alina mengangguk. Lalu ia pergi meninggalkan sang sopir yang kini sedang menatap kepergiannya dibalik kaca mata hitam yang dikenakannya. Sampai lagi-lagi emosinya harus kembali naik melihat Alina yang didekati oleh seorang cowok. Mereka mengenakan seragam yang sama dan jika tidak salah namanya ialah Gevan.


"Oh... S**t," umpatnya melepaskan topi yang sedari tadi bertengger di kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2