Fire On Fire

Fire On Fire
Berlanjut Atau Tidak?


__ADS_3

Alina dibuat menegang saat pintu kamar besar Alendra tertutup dengan rapat. Sesungguhnya ia dalam keadaan setengah bingung saat ini. Alendra tiba-tiba berubah sikap dan langsung..


Byurrrr


Deg


Jantung Alina terpompa dengan sangat cepat saat tubuhnya sengaja dibanting pelan oleh Alendra ke dalam batup. Ia bahkan baru tersadar jika kini berada disituasi yang bisa membahayakan untuknya.


"Ale, lo apa-apaan sih?" kesal Alina berusaha untuk menormalkan keadaan dirinya.


Bukannya menjawab. Alendra justru malah menyunggingkan senyumnya tipis, tangannya sibuk membuka kemeja dan juga jam tangan yang dikenakan olehnya. Mata Alina melotot saat Alendra sendiri ikut masuk ke dalam batup. Belum sempat kembali protes karena rasa terkejutnya. Alendra sudah bermain dengan dasinya untuk mengikat kedua tangan kecil Alina.


"Mau apa lo?" tanya Alina mulai merasa bahaya di depan matanya.


"Ale, jangan ngaco! Lo itu guru!" protes Alina dengan tubuh ia gerak-gerakkan sebagai bentuk berontak terhadap Alendra.


Meski sia-sia saja, namun tetap ia lakukan sampai Alina merasa lelah dan tidak berguna lagi dengan bentuk protes yang ia lakukan barusan.


"Dan kamu murid sepesialku," balas Alendra malah semakin membuat Alina merasa takut.


Siku Alina sengaja ia arahkan pada perut Alendra. Namun untuk saat ini usaha Alina kembali gagal dan sia-sia saja. Apa yang Alina lakukan seakan tidak berati apa-apa bagi Alendra.


"Diam Alin, aku hanya ingin buktikan," ujar Alendra selesai mengikat kedua tangan Alina dengan dasi Alendra tadi.


"Terkadang. Kamu memang harus diberi hukuman yang serius Alina," ujar Alendra mengecup lembut pundak Alina.


"Tali ini, dalam sekali tarikan sepertinya langsung bisa terlepas," tangan Alendra bermain-main pada ikatan gaun Alina yang berada di belakang.


Otak Alina terus berpikir keras. Ia sangat yakin Alendra sengaja melakukan hal ini untuk mengerjainya. Alendra selalu balas dendam setelah apa yang Alina lakukan. Namun dengan cara berbeda, cara Alendra sendiri yang terkadang membuat Alina tidak habis pikir.


"Jangan macam-macam Ale," tekan Alina menatap tajam Alendra.

__ADS_1


Meski sorot mata Alina seakan menolak perlakuan Alendra. Namun reaksi tubuhnya berbeda. Selalu bisa menerima dan bahkan malah menginginkan sentuhan-sentuhan dari Alendra lebih dari sekadar kecupan singkat saja.


"No Alina Ghaveza, aku hanya ingin membuktikkan sesuatu malam ini," bisik Alendra seketika membuat sekujur tubuh Alina dibuat merinding oleh kata-kata Alendra yang jelas terdengar sangat ambigu.


"Bersama dengan istriku, jangan lupakan. Kamu murid sepesial Alina," lanjutnya lagi membuat napas Alina semakin terasa tersendat.


Alendra bukan hanya menyihir dengan kata-katanya. Namun juga dengan sentuhan jemarinya yang terasa begitu lembut dan memabukkan untuk Alina.


Niat Alina jelas ingin menolak permainan Alendra sebelum jati dirinya diungkapkan dan juga diketahui oleh Alendra. Namun entah kenapa apa yang ia rasakan saat ini sepertinya akan sangat bertolak belakang dengan misi sebelumnya.


Cup


Alendra kembali mengecup pundak Alina dengan begitu. Bahkan tindakan Alendra kali ini berhasil membuat mata gadis itu terpejam. Alina tidak menolak dan malah menikmatinya.


"I want you," bisik Alendra kembali mengecup Alina dengan begitu lembut.


Tidak hanya sekali dua kali saja. Namun Alendra sudah menghujani kecupan dibagian pundak juga leher gadis itu sebelum mendapat jawaban dari Alina.


"Eughhh, Ale jangan," gumam Alina protes, namun mata gadis itu terpejam, juga tubuh yang bereaksi beda dengan ucapannya.


"Aku menyukaimu Alina," ungkap Alendra seketika membuat mata Alina kembali terbuka.


Ia menatap Alendra dengan begitu lekat. Begitu juga dengan Alendra yang menatap dalam manik mata gadis itu. Seakan mencari sesuatu dari gadis lugu yang tiba-tiba begitu menarik di mata Alendra. Alina yang sekarang merubah cara pandang Alendra tentang gadis lugu yang menurutnya dulu begitu membosankan.


Alina berbeda, dan Alendra menyukai perubahan sikap Alina yang sekarang.


"Lo bilang apa?" tanya Alina ingin mendengar lagi ungkapan Alendra barusan.


Terdiam. Alendra tidak langsung mengatakan apa yang tadi sudah ia katakan kepada Alina. Ada perasaan aneh dalam dirinya. Dan bingung untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan.


"Anda menyukai saya atas dasar apa pak Endra?" kini pertanyaan Alina serius ditujukan untuk Alendra.

__ADS_1


Tidak mungkin ia langsung percaya begitu saja dengan kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki yang baru beberapa jam lalu memutuskan hubungannya dengan kekasihnya. Alina sendiri malah belum mengetahui hal itu.


"Apa karena saya yang sekarang?" tanya Alina memastikan.


Sudut bibir Alina tertarik ke atas melihat Alendra yang diam seribu bahasa. Meski sorot mata laki-laki itu begitu hidup dan sampai membuat Alina terpukau, namun ia tahu diamnya Alendra ialah jawabnya.


"Lepaskan saya pak Endra, anda salah melihat tentang saya," ujar Alina tersenyum getir.


Hatinya sakit dan ada sedikit rasa kecewa dengan apa yang ia alami sekarang. Di satu sisi Alina senang jika apa yang Alendra katakan itu benar adanya, misi utamanya ketika ia memutuskan untuk menjadi Alina fersi dirinya berhasil, namun di sisi lain, Alina juga merasa kecewa, Alendra sama sekali tidak pernah melihat bagaimana Alina yang dulu atau yang asli. Juga dengan perasaan yang dimiliki malah akan membuatnya semakin berada disituasi rumit.


"Aku menyukaimu tanpa alasan Alina," balas Alendra menatap tajam manik mata Alina.


Tangannya sedikit menarik rambut Alina bagian belakang. Sampai hembusan napas keduanya begitu terasa saling bersautan.


"Jangan pernah membuat alasan yang nantinya akan membuat luka untuk dirimu sendiri," ujar Alendra berniat untuk kembali mengecup Alina.


Namun kini wajah Alina ia tolehkan ke arah lain. Alina tidak mau Alendra salah paham akan dirinya.


"Ck, banyak alasan, kenapa Alina?" tanya Alendra dengan nada suara yang terdengar berbeda dari yang tadi. Alendra sedang menahan kembali amarahnya. Tindakan Alina barusan seakan penolakan untuk dirinya. Dan itu suatu penghinaan untuk Alendra, terlebih setelah ia mengungkapkan perasaannya kepada Alina. Gadis itu malah seakan menolaknya dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal menurut Alendra.


Jika memang iya, Alendra menyukai Alina karena perubahan sikap gadis itu sekarang? Memangnya dimana letak kesalahannya? Justru Alina seharusnya senang dengan perubahannya membuat Alendra tidak lagi memandang dirinya sebelah mata.


"Kenapa Alin?" tekan Alendra mencengkram lengan Alina.


Ia marah, namun tangan gadis itu masih kembali ia kecup dengan begitu lembut. Ibarat kata Alendra berada di tengah-tengah gurun pasir yang sangat luas. Keinginan Alendra begitu besar, sudah berada di ujung tanduk untuk mengarungi api cinta bersama dengan gadis itu malam ini, namun tiba-tiba ia seakan di dipaksa untuk mundur.


"Saya bukan Alina istri kamu pak Endra, jiwa saya masuk ke dalam tubuh Ali-"


Mata Alina kembali terbelalak saat Alendra menarik paksa tengkuk lehernya untuk kembali ia nikmati. Diusapnya dengan begitu lembut bibir gadis itu.


"Jangan membual Alin, kamu istriku," ujar Alendra sebelum kembali melanjutkan permainannya.

__ADS_1


__ADS_2