
Di rumah kedua orang tua Gevan. Kini banyak para anggota OSIS ditambah Alina, Widya dan juga siswa atau siswi lainnya yang Gevan dan Nando minta secara langsung untuk membahas pentas seni yang akan diadakan di sekolah bulan depan.
Pentas seni yang akan diadakan cukup megah, maka tak ayal anggota OSIS saja sangat kurang dan sampai meminta bantuan siswa dan siswi yang kini sudah ikut serta rapat para anggota OSIS.
"Makasih bi," ujar mereka serentak saat asisten rumah tangga menyediakan minum beserta cemilan untuk mereka.
Sudah sekitar 2 jam mereka membahas apa saja yang akan diselenggarakan di acara pentas seni. Dan kini mereka sedang beristirahat sejenak sebelum pulang ke rumah masing-masing.
"Jam berapa Lin?" bisik Widya membuat Alina menoleh ke arah arloji yang berada di tangannya.
"Eh...udah jam 5 lebih Wid," balas Alina.
Widya tampak mendesah kesal. Ia yakin pasti sudah sangat susah mencari angkutan umum untuk pulang ke rumahnya. Tadi Alina dan Widya datang beramaig-ramai menggunakan angkot bersama dengan siswa dan siswi lainnya. Dan kini tinggal rasa cemas untuk bisa sampai pulang ke rumah.
"Kenapa?" tanya Alina yang mendapat gelengan kepala dari Widya. "Enggak papa Alin," balasnya tersenyum tipis.
"Alin, nanti pulangnya bareng gue aja ya?" ujar Gevan seketika membuat teman-temannya bersorak.
"Wuuu...pepet terus."
"Gue bareng sama Widya Gev, sorry," tolak Alina sopan.
Terlihat anggukan kepala dari Gevan. Ia menatap Alina dan melirik ke arah Widya sekilas. "Pakai mobil aja, jadi Widya bisa sekalian," beritahu Gevan.
Baik Alina atau pun Widya saling pandang. Sebelum akhirnya Alina mengangguk setuju. "Oke," balasnya yang langsung mendapat usapan lembut pada puncuk kepala Alina.
Lagi-lagi Gevan melakukan hal itu kepada Alina. Entah itu untuk yang keberapa kalinya. Alina pikir Gevan tidak akan melakukannya lagi, mengingat sekarang hampir semua teman-teman Gevan juga berada di sana. Namun Alina salah, justru Gevan seakan tidak peduli dengan sorakan dan godaan dari teman-temannya setelah ia melakukannya. Bahkan beberapa dari mereka ada yang membandingkan antara Gevan dan Alendra.
"Wah.... Saingannya pak Endra Gev, gue beberapa kali liat, guru tampan itu liatin si Alin terus," ujar Nando langsung mendapat sorakan dari teman-temannya.
"Jeli banget mata lo Do?" ledek salah satu siswa.
__ADS_1
"Lah... Gara-gara tuh guru, fans gue berkurang anj*r," dumel Nando mengundang gelak tawa teman-temannya.
"Kaya yang banyak fans aja, bac*t lo gede," ledek siswi lainnya lagi-lagi mengundang gelak tawa mereka.
"Tenang sih, pak Endra udah dewasa beliau mungkin suka liat Alina karena dia cantik, tapi untuk selera sudah pasti wanita dewasa yang seumuran dengannya," jelas Gevan lekat menatap wajah Alina.
Sudut bibirnya tertarik ke atas. Ternyata Alina sangat cantik setelah ditatap lama oleh matanya. Gevan baru menyadari hal itu sekarang. Wajah lugunya kini tergantikan dengan wajah yang menggemaskan, tidak bosan untuk dipandang mata.
"Dah lah jadia aja sih, kalian cocok banget dan bakal jadi pasangan fenomenal di sekolah pasti," celetuk Nando membuat mereka mengangguk setuju.
"Apaan sih pada, jangan gini deh gue jadi nggak nyaman," keluh Alina tanpa rasa takut.
Jika ia terus menjadi bahan percakapan jelas membuatnya merasa tidak nyaman. Terlebih Alina ini setatusnya seorang istri yang masih kecil. Meski terlihat seperti siswi pada umumnya, tetapi aslinya ia bukan sembarang siswi.
"Sorry Lin, kalau lo jadi nggak nyaman," lirih Gevan hanya diangguki oleh Alina.
"Semua, silahkan diminum dan nikmati cemilannya. Gue ke kamar bentar ya buat ganti baju," pamit Gevan diangguki oleh teman-temannya.
"Alin, a-aku pengen ke kamar mandi," cicit Widya takut-takut.
"Enggak usah Lin, aku bisa sendiri kok," jelas Widya diangguki oleh Alina. "Yakin?" tanya Alina mendapat anggukan kepala dari Widya.
Widya beranjak dari duduknya. Ia mulai melangkah dan ingin menemui asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Gevan. Widya sendiri merasa tidak layak jika ke kamar mandi tamu. Kasta ia dengan teman-teman yang lain berbeda. Itu penyebab membuatnya tidak mau diantar langsung oleh Alina.
"Dimana ya dapurnya?" gumam Widya mencari-cari keberadaan dapur di rumah Gevan.
Ia terus melangkah maju sampai tanpa sengaja melewati ruangan dengan pintu setengah terbuka. Ekor matanya melirik ke arah ruangan tersebut. Tenryata itu kamar dari Gevan. Ia sempat terkejut saat melihat Gevan yang sedang berganti baju, sejenak ia terdiam melihat pemandangan yang menurutnya begitu mengagumkan.
Keringat dingin kembali bermunculan disekitar pelipisnya. Terlebih saat Gevan mengambil sesuatu yang seketika membuat Widya semakin merasa gugup karena terkejut.
"Gue masih penasaran apa aja isinya," gumam Gevan tersenyum kecil dengan gelengan di kepalanya. Lalu tangan itu kembali menaruh sesuatu yang sudah berhasil membuat Widya kini menerka-nerka.
__ADS_1
"Widya, kamu kenapa?" tanya Alina melihat Widya yang tampak sedikit pucat tidak seperti tadi.
"A-aku nggak papa Alin, tadi bingung nyari kamar mandinya," balas Widya sekenanya.
"Tuh kan, harusnya gur anter, lo-nya sih ngeyel," ujar Widya tersenyum tipis.
Tidak lama setelah itu. Gevan datang dan sudah berganti baju. Ia kembali bergabung bersama teman-teman lainnya.
"Gev, pamit ya gue? Udah sore banget."
"Gue juga deh Gev, makasih lho udah ngerepotin."
"Makasih ganteng atas jamuannya."
Beberpa dari mereka mulai pamit untuk pulang. Sementara Nando memang sudah niat sekali untuk menginap di rumah Gevan. Kebetulan besok tanggal merah dan mereka bisa sepusnya main game online bersama nantinya.
"Gev, gue sama Widya juga balik ya? Makasih untuk hari ini," ujar Alina bernajak dari duduknya diikuti oleh Widya.
"Gue yang makasih banget sama lo, maksud gue sama kalian, thanks ya udah mau bantuin buat acara pentas seni bulan depan," ujar Gevan diangguki oleh Alina dan Widya.
Sejujurnya Widya kini melihat Gevan dengan cara yang berbeda. Gevan yang tadinya menjadi idola di hatinya mulai tidak memiliki tempat lagi di hati itu. Entah kenapa Widya langsung hilang feel akan Gevan. Dan itu sejak kejadian tadi.
"Do, tinggal bentar ya?" pamit Gevan berniat mengantar Alina dan Widya.
"Lama juga nggak papa, asal jangan lupa PJ-nya," goda Nando langsung mendapat lemparan bantal dari Alina.
"Dih... Cantik-cantik galak, gini amat tipe cewek Gevan," ujar Nando membuat Alina mendelik. Namun ia malas untuk menanggapi dan lebih memilih keluar.
Sementara di tempat lain. Alendra meremat ponsel di tangannya dengan cukup keras. Salah satu orang suruhannya memberitahu jika Alina baru saja keluar dari rumah besar bersama dengan teman sekolahnya.
Alendra paling tidak suka dibantah. Dan Alina sudah beberapa kali membantah dan kabur-kaburan darinya. Kini ia sudah kehabisan kesabaran untuk menghadapi gadis kecil itu.
__ADS_1
Pagi tadi Alendra sudah meminta Alina untuk menemaninya memutuskan hubungannya dengan Pinka. Dan kini gadis itu malah pergi bersama dengan teman-temannya sampai lupa waktu.
"Bi, suruh dia langsung ke kamarku nanti," titah Alendra melonggarkan dasi yang dikenakan.