
Suasana di kamar semakin panas ketika Alendra terus melakukan serangan kepada Alina. Entah kenapa perasaannya begitu bergejolak setelah mendengar pengakuan dari Alina. Ia tidak lagi menyangkal tetapi juga tidak percaya begitu saja. Gairah dalam tubuhnya malah semakin meningkat, menginginkan gadis itu seutuhnya untuk menjadi miliknya. Entah sebagai Alina atau Jennifer di dalamnya. Alendra tidak akan peduli, karena sejatinya gadis itu kini benar-benar memikat hatinya.
"Ja-ngan diteruskan," ujar Alina masih dengan mata terpejam.
Keduanya kini sudah setengah telanjang. Menolak permainan Alendra juga sangat sulit untuk Alina lakukan sedari tadi. Tubuhnya seakan meminta sentuhan dari laki-laki itu. Alina lemah dalam hal ini, karena pikiran dan perasaannya tidak bekerja sama dengan baik. Meski ada niatan untuk menolak, pada kenyataannya ia sangat menikmati sentuhan-sentuhan yang Alendra berikan.
"Aku terima kamu, siapapun kamu Alin," bisik Alendra mengecup lembut bagian telinga Alina.
Lagi, Alina dibuat merinding dan tidak berkutik karena tindakan Alendra untuknya. Semakin ia ingin berontak semakin ia merasa nikmat, Alendra justru malah sengaja menyerangnya dengan sangat ganas dan pas pada titik tertentu, titik yang membuat Alina merasa terbang tinggi dan belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Dengan Diko, Alina termasuk remaja dengan gaya pacaran yang sangat sehat, sebatas pelukan dan tidak lebih.
Tangan Alendra berhasil menyingkap rok seragam milik Alina. Sengaja jemarinya bermain dibagian tertentu yang masih tertutup rapat oleh celan* dal*m yang Alina kenakan. Sudut bibir Alendra tertarik ke atas melihat reaksi Alina dengan permainannya.
Tubuh bagian atasnya tanpa Alina sadari terus ia busungkan kala mendapatkan rasa nikmat dari Alendra. Matanya juga terpejam bersamaan dengan rasa nikmat itu yang terus muncul.
"Emhh," lenguhnya semakin membuat Alendra semangat untuk meneruskan.
"Katakan, kamu juga ingin Alin," bisik Alendra seketika membuat mata Alina kembali terbuka.
Ia menatap Alendra dengan begitu lekat, begitu juga sebaliknya, Alendra yang menatap Alina tidak kalah dalam.
"Panggil gue Jenni, bukan Alina," ujar Alina menatap lekat manik mata tajam bak elang di depannya.
Sangat dekat sampai ia rasakan hunusan pada bola mata tajam itu.
Cukup lama keduanya terdiam. Sampai pada akhirnya Alendra membuka suaranya dan membuat Alina lagi-lagi dibuat terkejut secara bertubu-tubi oleh Alendra.
"Aku menyukaimu Jenni, aku sangat menyukaimu Jennifer," ujar Alendra membuat Alina tercekat.
"Dengan tubuh ini atau tubuh kamu yang asli, aku akan tetap menyukaimu," lanjut Alendra mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
Ciuman panas kembali terjadi di antara mereka. Bahkan sekujur tubuh Alina menjadi sasaran empuk bagi Alendra. Sampai pada dimana jemari Alendra mulai menarik pelan bagian celan* dal*m milik Alina. Disitu rasa bimbang kembali Alina rasakan.
"Jangan," ujar Alina mencoba untuk kembali mengingatkan Alendra.
Meski ia tahu Alendra sudah menerimanya sebagai Jennifer, bukan berati ia harus merelakan begitu saja mahkotanya kepada Alendra. Ia juga sangat yakin jika Alina yang asli dan Alendra belum melakukan hubungan suami istri.
"Kenapa?" sorot mata Alendra tampak sedikit kecewa.
"Kita bisa lakukan setelah semua masalah selesai," ujar Alina membuat Alendra terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya ia mengangguk setuju dengan Alina.
Meski ia sudah sangat ingin, namun ia juga tidak tahu masalah apa saja yang dialami Jennifer selama menjadi Alina. Dalam hal ini Alendra mencoba untuk bersikap dewasa saja sebagai mana mestinya.
"Fine, bantu aku untuk menidurkan dia," ujar Alendra melirik bagian bawahnya.
Mata Alina mengikuti arah pandang Alendra. Baru setelah itu jantungnya kembali terpompa dengan sangat cepat menyadari tongkat sakti milik Alendra yang sudah berdiri tegak di depan matanya. Aneh, saking menikmatinya permainan Alendra tadi Alina sampai tidak merasakan ada sesuatu yang sedari tadi sudah berdiri meminta pijitan darinya.
"Gu-gue harus nyanyi atau baca dongeng?" tanya Alina pura-pura polos.
"Ck, jangan pura-pura polos Jenni, aku rasa kamu tahu apa yang harus kamu lakukan," ujar Alendra kembali menarik tubuh Alina. Bibirnya langsung bermain nakal pada bagian dada Alina, br* yang dikenakan olehnya sudah berhasil Alendra singkap tadi.
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu-"
Ucapan Alendra terhenti saat jemari Alina mulai mengelus lembut bagian miliknya. Sudut bibirnya tertarik ke atas bersamaan dengan bibirnya yang kembali bermain pada ni**le milik Alina.
"Good girl," ujar Alendra menatap licik Alina.
"Nikamti saja guru cab*l," balas Alina melanjutkan permainannya.
Alendra dibuat semakin tertantang karena ucapan Alina. Ia juga sangat menyukai keberanian Alina.
"I love you Jenni," ujar Alendra seketika membuat Alina menatapnya dengan diam. Namun ia tidak membalas ungkapan yang sangat jarang dan terkesan mustahil untuk Alina dengarkan dari mulut Alendra.
__ADS_1
Alina lebih memilih untuk kembali melanjutkan aksinya dari pada disekap oleh Alendra dengan embel-embel harus menidurkan adik kecilnya.
Tanpa mereka ketahui. Widya sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Alendra. Niatnya tadi untuk memanggil Alina atas suruhan dari mama Intan. Namun ingatannya terus tertuju dimana tadi Alina sedang berciuman panas dengan Alendra di kamar tersebut.
Tubuh Widya menegang seketika ketika sampai di depan pintu kamar itu. Keringat dingin kembali bercucuran, Widya selalu merasa gugup ketika merasa takut atau marah dan kecewa. Tangannya terkepal bersamaan dengan napasnya yang terus naik turun tidak beraturan.
"Lho nak, Alin belum juga keluar?" Mama Intan tiba-tiba datang mengejutkannya.
"Ta-tante, a-aku sudah manggil Alin," dustanya.
Mama Intan mengangguk bersamaan dengan kepala yang menggeleng. "Pasti Endra nih biang keladinya," gumam mama Intan.
Mendengar gumaman dari mama Intan semakin membuat napas Widya tercekat. Dadanya semakin bergemuruh hebat, kecewa, kesal, marah atau iri, ia sendiri tidak begitu memahami, yang ia tahu sekarang. Widya tidak begitu suka dengan Alina karena bisa mendapatkan Alendra.
"Ya sudah, kamu ke bawah dulu saja, biar tante yang panggil ya?" ujar mama Intan diangguki oleh Widya.
"Sayang, kalau sudah turun ya? Kita makan malam bersama, ini ada Widya juga," seru mama Intan membuat Widya menoleh sebentar ke belakang. Lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Alina ingin marah, namun tidak bisa ia lakukan karena Alendra sepertinya sengaja sekali membuatnya lemas dengan tindakan atau sentuhan-sentuhan yang dia berikan untuk Alina.
Setelah berhasil menidurkan adik kecil Alendra setelah memuntahkan lahar dinginnya. Alina dipaksa untuk mandi bersama dengan Alendra. Yakin jika keduanya sudah melakukan hubungan layaknya suami-istri, Alendra pasti akan membuat Alina tidak bisa jalan karena permainannya. Baru setengah perjalanan menuju ranjang panas saja Alina sudah dibuat kewalahan. Apa lagi nantinya.
"Ale, berhenti! Gue mau mandi beneran," ujar Alina setengah kesal.
"Aku juga mandi beneran Jenni, kapan aku main-main?" balas Alendra.
Sejujurnya Alina merasa tersentuh karena sejak pengungkapannya. Alendra terus memanggilnya dengan sebutan Jenni, bukan Alina lagi.
"Tapi lo terus nyabunin tubuh gue, bukan tubuh lo!" bentak Alina membuat Alendra terkekeh.
"Punya kamu, punyaku juga Jenni," bisik Alendra.
__ADS_1