Fire On Fire

Fire On Fire
Berakhir Atau Lanjut?


__ADS_3

Bola matanya masih terbuka dengan sempurna. Meski terasa lelah karena pertempuran yang kembali dilakukan oleh Alendra tadi. Alina tidak langsung tertidur. Ia malah mulai penasaran dan ingin segera membuka surat yang sudah Alina asli berikan.


Ekor matanya melirik ke arah Alendra yang sedang terlelap tidur. Wajah tampan itu tadi benar-benar mengulangi permainan cinta yang membuat Alina seperti dibawa terbang melayang oleh sentuhan-sentuhannya.


"Guru cab*l," decak Alina dengan gelengan di kepalanya.


Setiap mengingat permainan mereka tadi Alina merasa malu sendiri. Diawal selalu menolak, namun berakhir dengan suara-suara lembut yang keluar dari mulutnya ketika merasakan nikmat atas perlakuan Alendra.


Satu pucuk surat yang sudah cukup lama ia simpan kini kembali ia ambil. Ada rasa ragu sebenarnya dalam dirinya ketika mengambil dan berniat untuk membacanya.


"Kasih tahu Boy dulu kali ya?" ujarnya mengambil ponsel yang tergeletak tidak jauh darinya.


Tangannya mulai mengetik pesan untuk ia kirimkan pada Boy. Sebelum membukanya, Alina berniat meminta pendapat dari Boy. Namun sudah 2 kali pesan ia kirimkan Boy sama sekali belum membukanya.


"Kebiasaan, dugem pasti nih anak," keluh Alina menekan kontak Boy untuk melakukan panggilan telepon.


Sekitar 3 kali panggilan. Boy baru saja mengangkat, buru-buru Alina menjauh dari ranjang kamarnya. Melihat Alendra dengan wajah terlelapnya membuatnya tidak tega untuk mengusik. Wajah tampan itu sayang untuk dibuat murka.


"Lama gila, dugem lo?" omel Alina mendapat kekehan dari Boy di sebrang telepon.


"Buang suntuk, apaan beb malam-malam gini? nggak diomelin laki lo? " t**anya Boy dari sebrang telepon.


"Buang suntuk tiap malam, Boy. Gue penasaran sama isi surat Alina," ujarnya.


Diam, cukup lama keduanya diam tanpa sepatah kata. Sebelum akhirnya Boy kembali bersuara.


"Ya udah buka aja sih, gue juga penasaran. Kalau lo yakin mending secepatnya Jenni biar lo nggak nyesel nantinya," ujar Boy diangguki yakin oleh Alina

__ADS_1


"Thank babe, gue buka sekarang ya?" setelah mengatakan itu Alina langsung menutupn sambungan teleponnya.


Benar kata Boy tadi, lebih cepat bukannya lebih baik dari pada nantinya ada penyesalan karena isi surat yang masih terahasiakan itu.


Alina duduk di pinggir ranjang. Ia menatap wajah Alendra yang nyaris tanpa kekurangan, sangat tampan dan Alina akui itu. Terkadang ia sendiri masih tidak habis pikir dengan jalan hidup yang sudah Tuhan gariskan untuknya. Hidup bersama dan menjadi istri Alendra adalah sesuatu yang tidak pernah Alina bayangkan sebelumnya. Kini ia mulai menerima keadaannya itu. Menjadi istri dari salah satu guru di sekolahnya. Dan membuka hati untuk Alendra yang sudah menerimanya sebagai Jennifer atau Alina dengan tersinya.


Cup


Satu kecupan singkat Alina berika pada kening Alendra. Tidak ada pergerakan dari laki-laki itu, sepertinya ia teramat lelah setelah tadi memimpin permainan dengan begitu dahsyatnya. Lihat saja Alina kini semakin luluh karena Alendra.


Perlahan langkahnya mulai menjauh. Ia memutuskan untuk membaca surat itu di balkon kamarnya.


Matanya mulai meneliti setiap tulisan tangan Alina asli disaat detik-detik terakhirnya. Awalnya Alina tersenyum tipis membaca isi surat dari Alina yang terkesan lucu menurutnya, namun dipertengahan isinya. Alina dibuat membeku tidak bisa berkata-kata lagi selain manik mata yang bergerak sesuai tulisan tangan Alina pada surat tersebut.


Dear Jennifer


Pacar kamu selalu datang, selalu menemani, dan dia begitu perhatian denganmu.


"Boy maksudnya?" gumam Alina dengan gelengan di kepalanya. Ia kembali melanjutkan membaca surat yang sempat terhenti.


Pasti sulit jadi kamu yang sekarang, harus menjadi seorang Alina dengan latar belakang sangat berbeda dengan kehidupan asli kamu


Mungkin disaat kamu membaca surat dariku ini, kamu sudah tahu jika Alina sudah bersuami, namun ketahuilah Jenni, aku tidak pernah mendapatkan kebahagiaan bersama dengan suamiku. Kami bertengkar di hari itu sampai aku memutuskan untuk mengakhiri pernikahan ini. Aku tidak sanggup terus hidup dengannya yang sama sekali tidak pernah melihat keberadaanku, aku berniat untuk mengakhiri pernikahan dengannya, sebelum semua merubah takdirku


Tuhan menghentikkan laju mobil yang aku kendarai sebelum aku sampai di rumah kedua orang tuaku. Sebelum aku memberitahu mereka untuk menyudahi rasa sakitku ini. Rasa sakit dari laki-laki yang seharusnya bisa aku banggakan


Dia suamiku, seseorang pemberi luka terdalam untuk hidupku

__ADS_1


Bantu aku Jenni, tolong


Deg


Sekujur tubuh Alina seketika terasa beku, ia menatap nanar isi surat Alina asli yang baru saja ia baca.


Di sana sama sekali tidak membahas hal lain selain pernikahannya dengan Alendra. Ada kemungkinan Alina lebih baik menyembunyikan jati dirinya dari keluarga Alendra atau pun kedua orang tua asli Alina.


Sebaliknya hubungannya dengan Alendra yang mulai menghangat, menerima satu sama lain kini akan dipertaruhkan. Ternyata Alina yang asli pergi disaat ia memustuskan untuk mengakhiri pernikahannya.


"Ck," decak Alina dengan buliran air mata yang mulai terjatuh.


Merasa menjadi orang paling bodoh saat ini. Disaat semuanya sudah terjadi, ia baru saja membuka isi surat dari Alina.


"Bodoh, lo bodoh Jenn," kesalnya pada diri sendiri.


"Sayang," panggil seseorang membuat tubuh Alina semakin membeku.


Kepalanya menoleh dan mendapati Alendra yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Are you okay?" Alendra mendekat dan menarik tubuh Alina ke dalam dekapannya.


"Angin malam tidak baik untuk kita yang baru saja berolahraga malam Jenni," bisiknya berniat untuk menggoda Alina, lalu sebuah kecupan sangat lembut ia berikan pada pundak Alina.


Matanya terpejam, hatinya semakin tersentil diperlakukan demikian oleh Alendra setelah membaca isi surat dari Alina.


"Lepas Ale," lirihnya bersamaan dengan air mata yang kembali terjatuh.

__ADS_1


Sebenarnya dari isi surat yang Alina tuliskan tidak ada perintah untuk Alina sekarang atau Jennifer memutuskan hubungannya dengan Alendra. Ia hanya menceritakan apa yang terjadi dengan pernikahannya sebelum kecelakaan terjadi. Namun permintaan tolong yang dituliskan itu membuat Alina merasa janggal.


__ADS_2