Fire On Fire

Fire On Fire
Ada Penguntit


__ADS_3

Ada yang berbeda dengan kisah pasangan suami istri Alina dan Alendra. Suasana romantis tadi ketika masih berada di dalam kolam seketika menjadi kelabu untuk Alendra. Bayangkan saja setelah Alina tahu maksud terselubung Alendra tadi ia tidak segan-segan untuk menendang dibagian bawahnya. Jelas tindakan Alina itu membuat Alendra hampir pingsan rasanya, tidak tanggung-tanggung Alina menendangnya dengan kekuatan luar dan dalam.


"Alin... Buruan," titah Alendra ketika Alina mencari obat seperti perintahnya.


Keduanya kini sudah berada di dalam kamar. Tidak ada yang tahu kejadian itu selain mereka berdua.


"Sabar sih? Makanya tahu diri kalau nggak mau berakhir tragis," dumel Alina seraya membawakan kotak P3K untuk Alendra.


"Nih... Obatin sendiri," ujar Alina menyerahkan kotak sedang tersebut.


Mata Alendra membola. Yang benar saja Alina menyuruhnya untuk mengobati sendiri, sedangkan rasanya saja masih sangat sakit seperti disengat lebah.


"Kamu tanggung jawab Alina," tekan Alendra berhasil membuat mata Alina memicing.


"Gue?" tunjuknya dan diangguki oleh Alendra.


"Ogah banget, udah sih jangan manja udah tua juga masih manja, ingat lo itu guru Ale, punya wibawa kek malah nyuruh-nyuruh pegang gituan hiiii," celoteh Alina langsung kabur menjauh dari Alendra.


Alina tidak mau lagi sampai lengah dan malah membuatnya terkurung dibawah Alendra seperti yang sudah-sudah. Ia tahu betul lelaki seperti apa Alendra itu.


Melihat tanggapan Alina membuat Alendra mendesah kesal. Namun ia tidak bisa apa-apa untuk saat ini karena dibagian itunya yang masih super nyeri. Aneh juga rasanya gadis kecil itu seperti memiliki kekuatan super pada tendangannya tadi.


Malam yang seharusnya dijadikannya untuk membuat Alina bertekuk dibawahnya kini seakan buyar. Tidak ada kejahilan lagi yang Alendra lakukan. Ia hanya perlu cepat istirahat agar cepat sembuh dan besok bisa beraktifitas seperti biasa.


"Emmhh," lenguh Alendra ketika krim pereda nyeri sengaja ia olesi pada bagian terpentingnya.


Mata Alina tadi sudah terpejam, namun mendengar lenguhan dari Alendra seketika kembali terbuka. Ia menutup mulutnya agar tidak protes dan Alendra mengiranya sudah tertidur.


"Uhhh....ssshhh," lagi-lagi Alendra terus mengeluarkan suara seperti de*ahan orang sedang berkuda di dalam kamar. Alina masih mencoba untuk tetap tenang, meski kini mulai terganggu karena suara-suara durjana dari Alendra.


"Uh...tahan Ndra, sebentar lagi selesai," gumamnya seraya menutup matanya. Tangannya bekerja untuk mengolesi bagian yang menurutnya sangat nyeri itu, namun ia tidak berani melihat takut saja kalau ada yang membuatnya semakin syok.


Alina tidak bisa lagi untuk pura-pura biasa saja. Meski ia mencoba untuk log tenang, namun suara Alendra itu sangat mengganggu di telinga juga otaknya kini.


"Ale, lo lagi diobatin kenapa harus kayak sapi kurang makan gitu sih," dumel Alina bangkit dari tidurnya.


Alendra menoleh. Ia bersikap biasa dan berekspresi datar saja. Seakan protes dari Alina itu hanya angin lalu.

__ADS_1


"Sshh...ohhh," gumam Alendra lagi membuat Alina mengepalkan tangannya.


Tidak kuat juga rasanya terus disuguhkan dengan suara aneh Alendra. Ia bangkit dan mendekat ke arah Alendra yang masih berada di sofa kamar.


"Mau gue tambahin lagi sakitnya? Nih tangan gue siap nonjok," ancam Alina tidak tahan.


Terdengar kekehan dari Alendra. Kesempatan yang pas ini untuk mengerjai Alina disaat seperti ini.


"Boleh. Kamu lihat gara-gara kamu punyaku jadi bengkak seperti ini," ujar Alendra otomatis membuat Alina reflek menatap ke arah bagian yang dimaksud oleh Alendra.


Detik itu juga Alina terperangah melihat tongkat sakti milik Alendra yang rupanya tidak apa-apa. Malahan terlihat segar dan juga juga sedang berdiri tegak layaknya pasukan yang siap bertempur.


"Ayo kasih pukulan lagi Alin, lihatlah dia hanya kesakitan sebentar, sangat tangguh bukan?" ujar Alendra dengan maksud menggoda Alina.


Hanya gelengan kepala dari Alina sebagai jawaban. Kedua tangannya sudah menutup rapat bagian matanya.


"Ck, dasar bocil," decak Alendra melihat reaksi Alina.


Jika perempuan lain pasti sudah mendekat dan meminta dengan gilanya untuk disentuh Alendra sampai bisa merasakan tongkat sakti itu. Namun Alina malah menutup matanya seakan apa yang berada di depannya ini seperti mahluk tak kasat mata.


Protes dengan Alendra seakan sia-sia saja rasanya, yang ada Alina akan dibuat malu atau kesal dengan segala tingkah atau tindakan menyebalkan Alendra.


Ia kembali mencoba memejamkan matanya. Berharap suara-suara Alendra tidak lagi terdengar di telinganya. Jika masih terdengar, maka dengan sangat terpaksa akan Alina buat Alendra tidak bisa lagi membanggakan tongkat sakti miliknya.


"Huh...tidur Alin," gumamnya pada diri sendiri.


Srekk


Deg


Merasakan ada pergerakan pada bagian belakangnya. Jantung Alina terpompa dengan sangat cepat, terlebih bayangan-bayangan dimana milik Alendra sedang berdiri tegak sejujurnya tidak bisa ia hilangkan begitu saja. Ia memejamkan matanya merasakan sesuatu yang cukup hangat disekitar belakang tubuhnya. Dengan pelan ia menoleh dan...


Ternyata bantal guling yang Alendra berikan sebagai sekat di tengah-tengah mereka. Meski ingin sekali tidur di dekat Alina, namun masih ada rasa sedikit ngilu pada bagian bawahnya, Alendra berjaga-jaga saja jika nanti keduanya tertidur lalu tanpa sengaja Alina kembali menyiku atau menendangnya, sudau dipastikan ia harus terbang ke liar negeri sana untuk melakukan pengobatan pada tongkat saktinya.


Pagi harinya keduanya pamit untuk pulang setelah sarapan bersama di rumah Mama Intan. Alina sendiri tidak membawa seragam sekolah, sampai di apartemen ia disibukan dengan rutinitas seperti biasanya menyiapkan segala keperluan belajarnya di sekolah.


"Pak Ale buruan sih!" seru Alina tidak sabar lagi menunggu Alendra.

__ADS_1


Ia sudah siap sedari tadi. Sementara Alendra belum muncul juga dari peredarannya.


Ceklek


Pintu kamar Alendra terbuka. Laki-laki dengan perawakan tinggi dan juga memiliki wajah rupawan bak seorang dewa yunani itu muncul dihadapan Alina.


Asli jika sedang melihat keindahan di depannya Alina seakan merasa sangat beruntung dengan kehidupannya yang sekarang. Walau begitu ia sudah bertekad untuk memberitahu Alendra juga kedua orang tuanya juga orang tua Alendra. Tidak sekarang tetapi nanti. Untuk saat ini Alina akan ikuti alur kehidupan yang sudah Tuhan gariskan untuknya.


Cletuk


Sebuah sentilan cukup keras dari Alendra terasa nyeri dibagan kening Alina. Ia mengusap keningnya dengan mulut sengaja dikerucutkan.


"Sakit pak Ale," keluh Alina melirik sinis Alendra.


"Mata kamu nggak kedip Alin, aku kira kamu kemasukin jin," balas Alendra dengan senyum tipisnya.


"Sembarangan, lo kali jinnya bikin mata gue sepet aja," ujar Alina tidak mau kalah.


Memang karena Alendra yang membuat mata Alina sempat tidak berkdip tadi. Bukan karena Alendra sebagai jin namun karena Alendra yang terkadang menjelma sebagai laki-laki titisan dari dewa.


"Heran gue, udah kayak siluman aja nih laki," gumam Alina melirik Alendra sekilas.


Mobil Alendra berhenti tepat di depan mini market seperti biasanya. Sudah enggan untuk protes Alina turun tanpa sepatah katapun. Sampai akhirnya suara Alendra membuat langkahnya terhenti.


"Alin, hari ini aku nggak ngajar karena ada rapat di kantor. Pulang nanti bareng sopirku," ujar Alendra membuat tubuh Alina membelok menghadapnya.


"Emmm...oke," balas Alina singkat.


Padahal dalam hatinya cukup disayangkan sekali dengan penampilan cool Alendra hari ini malah pergi ke kantor. Pikiran Alina jadi kemana-mana.


Setelah memberi tahu hal itu, Alendra langsung melajukan mobilnya untuk pergi. Alina terperangah dengan tindakan Alendra itu. Menurutnya percuma saja Alendra sekolah tinggi dengan otak cerdasnya, tetapi sama sekali tidak tahu sopan santun.


"Emang dasar nggak tahu diri, nggak punya sopan santun, nyesel gue tadi sempet muji lo," dumel Alina dengan langkah kakinya kembali maju.


Ia berjalan seperti biasanya melewati beberapa toko untuk sampai ke gerbang sekolahnya. Alina tidak sendiri ada seseorang yang sedari tadi mengintai dari awal ia turun mobil dan kini sudah mengikutinya. Ia sendiri peka akan itu. Meski langkahnya tetap maju namun ekor matanya terus bermain disekitar.


"Siapa sih? Iseng banget deh," gumam Alina memainkan jemarinya.

__ADS_1


__ADS_2