Fire On Fire

Fire On Fire
Alina Mulai Aktif


__ADS_3

"Alina!" suara seseorang yang tiba-tiba datang mengalihkan atensi keduanya.


Melihat kedatangan Gevan membuat Alina mengernyit, ia seperti berada disituasi yang tidak aman, jangan sampai Alendra datang disaat kedua cowok itu masih bersama dengannya. Dapat Alina pastikan Alendra akan murka dan mengerjainya entah dengan cara apa lagi.


Lirikan mata Gevan cukup tajam melihat adanya Diko di sana. Ia seperti tidak suka dengan cowok yang hampir memiliki perawakan sama dengannya. Bedanya sangat tipis sekali, Diko lebih tinggi dan terlihat seperti bad boy. Namun keduanya sama-sama memiliki wajah yang rupawan.


"Alina, ngapain di sini?" untuk yang kesekian kalinya Alina mendapat pertanyaan yang sama dari orang berbeda.


"Ck, lo nggak liat dia lagi ngobrol sama gua?" sela Diko yang sepertinya juga tidak suka dengan keberadaan Gevan.


"Gue nggak tanya lo bro, sorry kita nggak saling kenal," ujar Gevan seketika membuat Diko terkekeh.


"Kalau gitu kenalin, gue Diko calon pacar A-"


"Kalian yang ngapain di sini?" ujar Alina memotong ucapan Diko tadi sebelum melanjutkannya.


"Mau pada ke dalem? Silahkan, gue udah dapet yang gue pengen soalnya," ujar Alina melenggang pergi.


Baik Diko atau pun Gevan sama-sama saling pandang tidak suka. Sebelum akhirnya keduanya sadar jika Alina sudah tidak terlihat lagi. Padahal baru beberapa detik saja mereka mengalihkan pandangannya dari gadis itu.


"Lha, kemana Alina?" gumam Gevan mencari-cari keberadaan Alina.


"You." Diko mengacungkan jari tengahnya sebelum kembali naik ke atas motornya.


Berada di sana tanpa adanya Alina jela membuang-buang waktu saja bagi Diko. Niatnya tadi juga untuk mendekati Alina. Bahkan Aurel yang menjadi tujuan awal sampai Diko lupakan.


"Cepet banget jalannya," gumam Gevan lagi tanpa mempedulikkan apa yang tadi Diko berikan untuknya.


Sementara Alina bisa bernapas dengan lega setelah bisa lolos dari dua cowok beda sekolah itu. Ia tadi sengaja bersembunyi untuk menghindari mereka. Baru setelah itu keluar melihat mobil Alendra yang juga sudah datang.


"Huh...untung tuh orang datengnya pas dua tuyul udah pada pergi," ujarnya melangkah menuju dimana mobil Alendra kini berada.


Blup


Alina masuk ke dalam mobil dan langsung duduk di sebelah Alendra. Ia ingin mengeluarkan unek-uneknya.


"Lama banget sih!" keluhnya membuat Alendra melirik sekilas.


"Sengaja," balas Alendra seketika membuat Alina mendelik.

__ADS_1


"Sengaja lo bilang? Gue hampir lumutan nungguin lo Ale," kesal Alina membuat Alendra terkekeh.


"Bukannya orang sabar itu p*nt*tnya lebar ya? Kamu harusnya sabar Jenni," balas Alendra semakin membuat Alina tidak habis pikir dengan otak Alendra yang terkadang memang sedikit m*s*m, pantas saja sebenarnya jika ia dijuluki guru cab*l oleh Alina. Otak Alendra tidak jauh-jauh dari hal yang berbau sensitif.


"Uh...gila, dasar cab*l!" umpat Alina seketika membuat Alendra terkekeh.


"Kenapa nggak pulang bareng sama salah satu dari mereka?" tanya Alendra membuat Alina mengernyit.


"Ck," decak Alendra semakin menambahkan kecepatan mobilnya.


"Lo udah dari tadi?" tanya Alina dijawab Alendra dengan senyuman.


"Aku sebenarnya yang terus nahan sabar Jennifer," ujar Alendra seketika membuat Alina terdiam.


Secara tidak langsung Alendra mengatakan jika ia melihat adanya Gevan dan Diko tadi. Namun sepertinya laki-laki tidak tahu diri itu tidak jadi marah karena Alina sengaja menghindar dari kedua cowok yang sedang berusaha mendekatinya.


Justru ada rasa sedikit kagum dari Alendra atas sikap Alina tadi. Ia tidak mudah tergoda dengan para tikus-tikus kecil yang coba mendekatinya. Diam-diam sudut bibir Alendra sedikit tertarik ke atas dengan tanggapan Alina itu.


Mobil mewah milik Alendra sampai di parkiran makam. Keduanya keluar dari mobil, namun Alina dengan sengaja mengambil kerudung berwarna hitam panjang yang sengaja tadi ia bawa dari rumah. Tidak lupa kaca mata hitam juga Alina kenakan yang menang sudah disediakan tadi bersama dengan kerudung hitam tersebut.


"Niat sekali," gumam Alendra melirik Alina dan mengikutinya dari belakang.


Sampailah mereka di makam yang di atasnya terdapat nama Jennifer Mauren. Alina duduk dan mengambil botol air mineral untuk ia tuangka di atas pusara tersebut.


Alendra masih terdiam. Ia menatap gundukan tanah yang terlihat masih basah tanpa sepatah kata. Entah kenapa ada rasa penyesalan yang kini menyeruak masuk ke dalam relung hatinya. Pertengkaran yang menurutnya kecil namun ternyata sampai menghilangkan nyawa seorang gadis yang dulu selalu ia sia-siakan.


Masih teringat dengan jelas kata-kata Alina terakhir kalinya. dimana Alina meminta untuk berpisah dengannya. Alendra ingat betul kejadian itu.


"Maaf Alina," ujarnya dengan tubuh yang ikut duduk di sebelah Alina yang sekarang.


Semoga kamu tenang di surga sana Alin, maafkan aku. Ujar Alendra dalam hatinya.


Tangannya meraba bagian gundukan tanah tersebut. Lalu melirik ke arah Alina yang sedang berdoa untuk tubuhnya dan jiwa asli Alina.


Dalam hati Alendra berkata, jika ia tidak akan lagi menyia-nyiakan gadis di depannya.


"Lo nggak berdoa buat dia?" tanya Alina melirik Alendra.


"Sudah," balas Alendra sekenanya.

__ADS_1


"Alin, makasih ya udah ngasih kesempatan buat gue hidup sekali lagi, gue janji akan jaga tubuh ini dengan baik," ujar Alina seketika membuat Alendra meliriknya.


"Gue juga nggak akan ngebiarin siapapun menyakiti tubuh ini termasuk." Alina melirik ke arah Alendra, membuat Alendra langsung mengalihkan pandangan matanya.


"Orang yang berhak sekali pun atas tubuh lo ini," ujar Alina seketika membuat Alendra hampir saja tersedak.


Tangannya buru-buru menarik Alina untuk segera pergi dari makam. Kata-kata Alina malah terdengar seperti ancaman bagi Alendra.


"Apa sih Ale? Buru-buru banget!" omel Alina setelah mereka sampai di parkiran.


"Kapan-kapan kita ke sini lagi, aku ada rapat setelah ini," alibi Alendra membuat Alina berdecih.


"Alasan aja, bilang kalau ngerasa terancam," gumam Alina masuk ke dalam mobilnya.


"Gue mau ke rumah dulu," ujar Alina membuat Alendra meliriknya. "Ini langsung pulang," balasnya mendapat gelengan kepala dari Alina.


"Rumah gue yang dulu, Boy udah nunggu di sana Ale, lagian rapat yang lo bilang itu cuma boongan kan tadi?" tebak Alina melirik ke arah Alendra.


Terdengar helaan napas dari Alendra, lalu ia mengangguk menuruti apa yang Alina minta.


"Kata-kata yang tadi, kamu cuma becanda kan Jenni?" tanya Alendra masih fokus dengan setir mobilnya.


"Yang mana? Kayaknya gue nggak pernah becanda sama kata-kata gue," tangan Alina mulai mengetik pesan untuk Boy.


"Di makam," jelas Alendra singkat.


"Di makam? Gue ngomong apa emangnya sampai lo ngira becanda? Makam itu tempat yang sakral Ale gue nggak mungkin jadiin candaan," jelas Alina terkesan memutar-mutar.


Seetttt


Mobil milik Alendra menepi dan berhenti. Tatapannya mulai menajam melihat reaski Alina yang terkesan biasa saja.


"Jangan pernah membuatku memaksa Jennifer Mauren," tekan Alendra dengan rahang yang mulai mengeras.


Dengan kata-kata Alina tadi jelas ancaman besar untuknya. Bukan berati Alendra akan menyakiti Alina atau tubuh Alina, namun ia seperti disudutkan.


Wajahnya sengaja ia dekatkan dengan Alendra. Alina malah sengaja menantang. "Lo lupa gue tadi bilang apa? Gue nggak akan ngebiarin orang yang akan nyakitin tubuh ini bukan yang...." kata-katanya sengaja tidak diteruskan.


Lidahnya keluar untuk mengusap lembut bagian bibirnya. Lalu tersenyum tipis melihat tatapan mata Alendra untuknya sekarang. Tangannya menarik kerah Alendra agar semakin dekat.

__ADS_1


"I can be more active than you," ujar Alina, setelahnya ia sengaja mendorong tubuh Alendra bersamaan dengan kerah baju Alendra yang ia lepaskan.


"s**t," umpat Alendra merasa Alina terlalu nakal sampai ia tidak bisa mengendalikan dirinya, tubuhnya mulai terasa panas dipancing dengan kata-kata Alina barusan.


__ADS_2