
Kebahagiaan yang baru dirasakan seakan sirna begitu saja. Pikirannya penuh dengan tanda tanya tentang pertolongan yang Alina asli tuliskan dalam suratnya. Ingin menyudahi atau memperbaiki hubungannya dengan Alendra agar perpisahan itu tidak terjadi.
"Jenni," ujar Alendra merasa ada yang berbeda dengan Alina pagi hari ini.
Gadis itu tampak tidak seperti biasanya. Sedari tadi Alina terus terdiam bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Kenapa?" tanya Alendra membuat Alina menoleh.
Kepalanya menggeleng, ia mengambil tas dan segera bergegas keluar dari mobil Alendra.
"Gue duluan," pamitnya seraya menutup pintu.
Tidak ada jawaban dari Alendra. Menahan Alina juga tidak dia lakukan, namun sorot mata Alendra tidak terlepas dari tubuh Alina yang kian menjauh.
"Apa yang kamu sembunyikan lagi Jenni?" gumamnya dengan satu tangan merogoh ponsel miliknya.
Seseorang dia hubungi untuk mencari tahu penyebab perubahan pada Alina. Padahal jelas tadi malam mereka baru saja memadu kasih dengan penuh hangat. Setelah pergulatan itu selesai Alendra juga masih teringat jika Alina bergelayut manja pada dada bidangnya. Lalu tadi malam gadis itu berubah setelah berdiri sendiri di balkon kamar mereka.
"Apa kamu menyesal melakukannya Jenni?" lirih Alendra meremat ponsel di tangannya.
Masih seperti kemarin. Alina menjadi bulan-bulanan teman-temannya untuk dijadikan bahan gosip atau cerita yang belum tentu kebenarannya. Terlebih ketika di papan tulis sana terdapat tulisan besar yang menyebutkan Alina sebagai 'jal*ng'. Alina seakan terus dipancing agar emosinya mendidih.
"Sumpah kurang kerjaan banget yang lakuin ini," ujarnya berniat untuk menghapus tulisan besar di papan tulis.
"Siapa yang lakuin ini?" tukas Gevan yang tiba-tiba datang dan masuk ke dalam kelas Alina.
Semua mata tertuju pada Gevan yang menjelma menjadi super hero untuk Alina. Namun detik berikutnya mereka semua kembali mencemooh Alina.
"Kak Gevan, kan emang bener dia itu seperti bi**h! Lo lupa kalau kemarin dia deketin lo sama cowoknya Aurel?"
"Iya Kak Gev, udah sih biarin aja. Pantas kok si Alin dapetin itu. Pura-pura lugu padahal mah, idih amit-amit banget deh."
__ADS_1
"Kalau gue jadi dia si udah malu masuk sekolah, secara ya udah kepergok deketin dua cowok sekaligus, yang satunya pacarnya temen satu sekolah lagi."
"Kayak nggak tahu dia aja, bi**h mana ada malu, kalian lupa pak Endra juga salah satu targetnya."
"Cukup! Kalian mau sekolah atau mau ngerumpi? Silahkan tinggalkan kelas kalau masih mau lanjutin!" tegas Gevan seketika membuat semua yang tadi terang-terangan mencibir Alina terdiam.
Juga Widya yang sedari tadi diam dan lebih banyak menyimak apa yang sedang terjadi di sekitarnya.
"Perlu kalian tahu, yang deketin bukan Alina, tapi kita. Bahkan kita terang-terangan buat dapetin Alina, dia memang pantas untuk diperjuangakan. Tidak pura-pura baik seperti seorang munafik. Camkan!" lanjut Gevan melirik ke salah satu siswi yang sedari tadi duduk diam di bangkunya.
Tangannya terampil menghapus tulisan besar di depan . Lalu menatap Alina yang masih terdiam di tempatnya tadi.
"Ikut gue Lin," ujar Gevan menarik Alina untuk keluar dari kelasnya.
Dan di sinilah mereka sekarang. Di atap gedung sekolah yang sama sekali belum pernah Alina kunjungi. Rupanya Gevan sering berkunjung ke tempat itu sekadar melihat teman-teman sekolahnya yang berniat untuk bolos atau semacamnya. Namun kini sang ketua OSIS sendiri malah yang mengajak Alina untuk bolos.
"Ngajakin bolos?" tanya Alina mendapat kekehan dari Gevan.
"Nggak papa sih, asal jangan ketagihan aja." Alina menatap lurus ke depan.
"Pasti bakal ketagihan, kalau setiap bolos bareng lo Lin," ujar Gevan membuat Alina terdiam beberapa saat.
Ia menatap Gevan sekilas. Lalu terkekeh kecil untuk menghangatkan kembali suasana. "Apaan sih? nggak jelas lo," balas Alina.
"Sorry gara-gara gue lo jadi kena," ujar Gevan serius.
"Nyante aja sih, mereka kurang kerjaan aja," mata Alina menelusuri setiap sudut sekolah.
Sangat cocok untuk seorang Gevan yang menjadi anggota OSIS. Dari sana, ia bisa melihat anak-anak yang mulai masuk ke kelas karena bel yang sudah berbunyi. Juga sebagian anak nakal yang berniat untuk bolos seperti yang mereka lakukan saat ini.
"Ini," mata Alina menatap tidak percaya saat benda pipih tiba-tiba Gevan berikan padanya.
__ADS_1
Ponsel lamanya yang hilang kini kembali muncul di depan matanya. Masih sama dan ternyata berada di tangan Gevan.
"Kok bisa?" tanya Alina setengah percaya.
Sudut bibir Gevan tertarik ke atas. Ia mengusap lembur bagian puncuk kepala Alina.
"Janji nggak marah dulu," ujae Gevan penuh harap.
Kepalanya mengangguk. Alina setuju jika Gevan mau menjelaskan kenapa ponsel yang sudah lama hilang dan bahkan sudah mulai dia lupakan ada pada Gevan.
"Jangan bilang lo yang sembunyiin HP gue," tebak Alina diangguki langsung oleh Gevan.
"Iyap, bener banget. HP lo ketinggalan di mobil gue Lin. Awalnya gue iseng pengen tahu isi HP lo ini, siapa tahu kan gue bisa tahu siapa aja cowok yang lagi deket sama lo, tapi gue ngerasa tindakan gue itu terlalu curang dan pecundang. Sorry banget karena gue lo jadi kehilangan HP lo ini," jelas Gevan menyerahkan ponsel yang sudah hampir 2 bulan bersamanya.
"Nggak gue buka kok, gue juga nggak tahu gimana cara bukanya. Selama tuh HP di tangan gue, tugas gue cuma buat nambahin dayanya aja," jelas Gevan jujur.
Alina mengambil kembali ponsel yang kini sudah ada gantinya. Namun meski begitu di dalamnya masih banyak rahasia yang tidak boleh diketahui oleh siapa pun, terkecuali dirinya dan juga Boy.
"Oke nggak papa, udah lama juga kok," balas Alina membuat Gevan mengangguk.
"Boy, dia siapa lo Lin?" tanya Gevan seketika membuat Alina terdiam.
Langkahnya santai menyusuri setiap lorong kelas. Kali ini Alendra kembali dibuat kesal dengan tindakan semena-mena Alina. Kembali bolos disaat jam pelajaran yang diajarkan olehnya.
Meski wajahnya nampak santai. Namun tidak dengan hatinya yang mulai gundah, mengingat bukan hanya Alina saja yang kini ketahuan bolos di mata pelajaran pertama, melainkan ada Gevan juga selaku ketua OSIS yang ikut tidak hadir, padahal tas keduanya berada di dalam kelas masing-masing.
Langkah Alendra kembali memasuki kelas Alina. Masih sama ketika ekor matanya kembali melirik ke arah bangku kosong yang seharusnya diisi oleh Alina. Seketika darah dalam tubuhnya seakan mendidih dengan hebat.
"Kemana kamu?" lirihnya.
Hal itu tidak luput dari pandangan Widya yang terus memperhatikan gerak-gerik cemas dari Alendra. Bibir bagian bawahnya ia gigit, ragu untuk mengatakan atau membiarkan Alendra dengan kegundahan yang dirasakan karena tindakan Alina.
__ADS_1