
Suasana di kelas sudah cukup ramai. Alina memang datang agak siangan dari hari biasanya. Itu semua terjadi karena tragedi tadi di dalam mobil. Dimana mang Udin bekerja sama dan memutar balik arah karena perintah dari Alendra.
Terkadang Alina heran juga dengan jalan pikir Alendra yang terlampau dibuat berliku seperti jalanan menuju ke puncak. Banyak mobil yang berjejer di pekarangan rumahnya kenapa harus menyuruh mang Udin untuk mengantarkannya. Padahal jika dipikir-pikir mobil yang tadi ditumpangi Alina itu tidak sekeren mobil yang sering Alendra bawa.
"Herman gue sama tuh guru," decak Alina duduk dibangkunya.
Tiba-tiba seseorang datang seraya membawa minuman yang sering Alina sebutkan karena mempunyai kesamaan dengan nama seseorang yang menyebalkan menurutnya. Widya datang membawa 2 cup minuman a*l*e-a*l*e di tangannya. Entah dengan tujuan apa Widya kini mendekat ke arahnya. Atau mungkin saja Widya sudah bersemedi dan menyadari kesalahannya dengan Alina di hari kemarin.
"Alin," cicit Widya dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
"Lo nggak ikhlas senyum sama gue Wid?" tebak Alina yang langsung mendapat gelengan kepala dari Widya.
"Enggak Alin, nggak gitu tapi aku malu," ujarnya membuat Alina mendesah kesal.
Sama sahabat sendiri saja masih malu, apa lagi sama orang lain atau seseorang yang Widya taksir. Pantas saja sih Widya selalu kebanjiran keringan setiap kali ada atau melihat Gevan. Vibez Gevan langsung menyaut direlung jiwa dan raganya.
"Ck, sama gue malu, kemarin lo liat gue kayak gitu aja di ruangan Ale nggak malu tuh sama lo," ujar Alina membuat Widya setengah melotot.
"Alin, nggak boleh gitu," peringat seketika membuat Alina tertawa.
"Jadi gimana? Udah sadar belum kalau lo sengaja banget ngehindar dari gue?" tanya Alina sedikit menggoda Widya.
Kepala Widya mengangguk. Ia menyerhakan satu cup minuman yang sedang dibawanya. "Nih buat Alin," ujarnya membuat Alina mendelik.
"Ale-ale?" tanya Alina dan diangguki oleh Widya dengan senyum manisnya.
"Seger kok, tadi aku ambilnya langsung dari kulkas buk kantin," jelas Widya kembali menyerahkan satu minumannya.
"Nyogok gue Wid ceritanya?" goda Alina kembali mendapat gelengan kepala dari Widya.
"Enggak, tapi kayaknya Alina suka minuman ini, sering nyebutin juga kan?" ujar Widya membuat Alina melotot.
Diam-diam ternyata Widya memperhatikan kata-kata yang sering Alina ucapkan juga.
"Ale yang itu beda Widya. Nggak bikin seger tapi bikin panas," jelas Alina membuat Widya terkikik.
"Tahu kok Lin," balasnya kini gantian membuat Alina yang malah bengong dengan tanggapan Widya.
"Maafin aku ya Lin," napasnya ia hela dengan sangat dalam. Tatapan matanya serius menatap Alina yang sedang menunggunya meneruskan ucapannya. "Pulang sekolah aku ceritain," ujarnya dengan senyum tulus ke arah Alina.
Kepalanya mengangguk. Sudut bibirnya juga tertarik ke atas. Alina senang akhirnya Widya kembali menjadi Widya yang dulu lagi.
"Oke," balasnya seraya menyeruput minuman seribuan yang ternyata menyegarkan tenggorokan juga.
__ADS_1
Sangat berbeda dengan Ale yang itu. Rasanya ada manisnya tapi lebih banyak pahitnya.
Kemeja yang ia kenakan sengaja ia gulung sampai ke siku, jam tangan mahal yang setia bertengger dipergelangan tangannya menambah kesan maskulin dan wibawa pada guru tampan tersebut. Langkahnya cukup santai di lorong kelas untuk menuju ke ruangannya. Beberapa murid sengaja berdiam diri untuk sekadar menikmati wajah tidak manusiawi dari Alendra.
Dug
Dug
Dug
Sebuah bola mendarat tepat dihadapannya. Beberapa anak menatap diam ke arahnya. Terlebih ketika senyum tipis itu dapat mereka lihat bersamaan dengan Alendra yang menyugar rambutnya membuat beberapa siswi menjerit histeris.
"Aaa...pak Endra, please saya nggak tahan."
"OMG, jantung gue mulai bereaksi gaes."
Segelintir pujian dari para siswi yang diberikan untuk guru tampan tersebut karena pesona yang dimiliki memang tidak main-main.
Terlebih ketika bola tersebut Alendra lempar ke dalam ring dengan jarak yang cukup jauh.
Bola masuk dan membuat siswa dan siswi yang berada di sekitar lapangan menjerit histeris.
"Aaa.. pak Endra!"
"Gila...masuk man!"
"Gue kira guru biasa, ternyata suhu."
"Semangat anak-anak," ujar Alendra berlalu pergi.
"Siap pak," balas mereka dengan kompak.
Sementara di kantin barat, kantin sepi dan cukup menenangkan itu Alina sedant terkikik membalas pesan dari Boy. Widya yang berada di depannya sedikit melirik ke arah layar ponsel Alina.
"Pasti pak Endra ya?" tebak Alina sedikit menggoda.
"Dih...mana ada, gue nggak bakal bisa senyum kalau sama dia," balas Alina membuat Widya tersenyum tipis.
"Masa sih? Pak Endra kan ganteng, kamu termasuk wanita paling beruntung di dunia lho Alin," ujar Widya dengan polosnya.
Mendengar kata-kata Widya membuat Alina terperangah kaget. Buru-buru ia berkaca dari layar ponselnya.
"Hah? Segitunya Wid? Gue juga cantik kok," ujarnya seraya bercermin dari layar ponselnya.
__ADS_1
Widya terkikik melihat tingkah Alina yang menurutnya semakin hari semakin berbeda saja. Selain pemberani ternyata Alina juga sedikit centil menurut Widya.
"Kamu sekarang centil Alin," ujar Widya lagi. Kali ini berhasil membuat Alina tersedak karena penuturan jujur dari Widya.
"Gue centil?" tanya Alina dan diangguki oleh Widya.
"Dulu setiap kali aku bilang kamu cantik, pasti kamu senyum sambil nunduk malu, sekarang aku baru bilang kamu beruntung. Kamunya langsung protes kan?" Widya terkikik melihat wajah merah Alina.
Alina yang sekarang bukannya malu dikatakan oleh Widya seperti itu. Justru ia semakin penasaran dengan Alina yang asli.
Sejenak ia terdiam sembari mengamati wajah Widya di depannya.
Kalau lo tahu gue bukan Alina sahabat lo Wid, apa lo tetep kayak gini ke gue? Ujarnya dalam hati.
Gue semakin penasaran apa isi surat itu Alin. Batinnya lagi masih dengan menatap Widya di depannya.
Pulang sekolah hari ini Alina sudah dijemput oleh mang Udin. Ada Widya juga bersamanya. Mereka akan berkunjung ke taman kota atas permintaan Widya tadi.
"Non Alin sama siapa?" tanya mang Udin melihat Alina datang bersama dengan gadis yang berpenampilan sedikit kuno. Kaca mata sedikit besar juga rambut dikuncir dua.
"Sama temen. Udah mang cepetan jalan sebelum dia datang," balas Alina buru-buru menarik Widya agar segera masuk.
"Tapi non, tadi saya sudah disuruh den Endra untuk nunggu," jelas mang Udin membuat Alina mendesah kesal.
"Mang Udin mau nunggu si Ale?" tanya Alina membuat mang Udin melotot. "Bukan si Ale non, tapi den Endra," jelasnya sedikit protes.
"Iya tahu gue, maksud gue dia lah pokoknya. Iya atau tidak?" tanya Alina sedikit menekan.
Kepala mang Udin mengangguk. "Iya, tapi den Endra non bukan si al-"
"Ada apa?" tanya seseorang yang tiba-tiba datang dan membuat semuanya menoleh ke arahnya secara bersamaan.
Termasuk Widya yang gugup setengah mati berada sedekat itu dengan guru tampan yang menjadi idola di sekolahnya.
Glek
"Alin," cicitnya sedikit menarik seragam milik Alina.
"Semua masuk," titah Alendra ikut masuk ke dalam mobil.
Namun ada yang berbeda kali ini. Alendra duduk di depan sebelah dengan mang Udin. Ia tahu Alina pasti akan duduk bersama dengan Widya.
Berbeda dengan Alina yang masih terdiam di ambang pintu mobil. Niatnya untuk menarik Widya agar mereka bisa kabur dan pergi ke tempat tujuan. Karena jika ada Alendra pasti rencana keduanya akan gagal di tengah jalan.
__ADS_1
"Jangam mencoba untuk kabur Alina, saya bisa melakukan hal yang lebih dari pada kemarin langsung di depan teman kamu," gertak Alendra malah membuat Widya yang semakin gemetaran. Keringat dingin mulai bermunculan di sekitar pelipis Widya.
"A-li-na, pak Endra cool banget," lirihnya dengan suara gemetar hebat.