
Plak
Sebuah tamparan cukup keras berhasil membuat kepala Widya tertoleh ke samping. Bahkan sampai terasa kebas pada pipi bagian kirinya.Tidak lupa rambut yang tadi sudah sangat rapih kini ditarik paksa oleh seorang gadis yang menatapnya tidak suka.
"Cih, bergaya banget lo! Mau ikut-ikutan jadi bi**h seperti Alina?" Aurel mencengkram dagu Widya dengan cukup kencang.
"Dari nerd jadi bi**h, nggak heran sih pasti buat biaya bokap lo yang sakit-sakitan," ujar salah satu teman Aurel yang bernama Gress.
"Setuju, atau jangan-jangan nyokap lo juga jual badan ya? Dia kan udah nggak kerja di rumah gue? Ah...iya pasti lo sama nyokap lo kerja sama buat jadi pe**cu*," hina Aurel membuat napas Widya semakin naik turun tidak beraturan.
Ia ingin marah tapi rasa takutnya membuat Widya tidak bisa berbuat apa-apa. Keringat dingin juga sudah bermunculan sejak ia berpapasan dan ditarik paksa oleh Aurel di kamar mandi tadi. Terlebih Aurel ini beraninya main keroyokan bersama dengan gengnya. Gadis seperti Widya tidak akan tangguh layaknya Alina yang sekarang.
"Kompakan ya anak sama nyokap. Demi cuan sampai jual diri," Evelyn mendorong jidat Widya cukup keras.
"Berapa harga lo? Satpam di rumah gue butuh hiburan kayaknya," tangan Aurel menepuk pipi Widya pelan. "Ayo girls tinggalin sampah ini," ujarnya berlalu pergi.
"Ja**ng," ujar Loly tersenyum sinis.
Setelah Aurel dan teman-temannya pergi. Barulah Widya bisa mengeluarkan air matanya untuk menangis, sedari tadi ia mencoba untuk menahan, karena semakin ia terlihat lemah Aurel akan semakin puas dan semakin gencar untuk mengerjainya.
Rambut dan juga wajah Widya seketika berubah sangat memperihatinkan. Ia bercermin pada kaca yang terdapat di wastafel lorong kamar mandi. Tangannya terkepal namun ia tidak berbicara apapun.
"Dimana lagi nyari si Widya?" gumam Alina yang sedari tadi terus mencari keberadaan Widya.
"Nggak bener tuh anak ngasih tahunya," ujarnya lagi mengingat tadi ia diberi tahu oleh salah satu siswa yang mengatakan jika Widya pergi ke arah perpus.
Kenyataannya, tidak ada keberadaan Widya di sana. Dan bahkan Alina sempat mencarinya juga di kantin barat.
"Toilet kali ya?" langkahnya bergegas menuju ke toilet.
Benar saja, tepat disaat Alina akan berbelok menuju lorong toilet siswi Widya muncul dengan penampilannya seperti tadi. Hanya saja mata gadis itu terlihat merah seperti baru saja menangis.
Sejenak Alina terdiam mengamati gerak-gerik dari Widya. Baru ketika Widya akan melewatinya, dengan sengaja Alina mencekal tangan Widya.
"Kita harus ngomong Wid," ujar Alina.
Di kantin barat. Kantin sepi dan menjadi sejarah pertama kalinya Alina datang langsung mendapat traktiran dari Alendra kini keduanya duduk di bangku pojok. Sengaja memang duduk di sana agar obrolan di antara keduanya tidak mudah didengar yang lain.
__ADS_1
"Lo kenapa sih Wid? Aneh," ujar Alina tidak ingin basa-basi.
Diam, tidak ada jawaban dari Widya membuat Alina gemas sendiri rasanya. Ia menghela napas untuk meredakan emosi yang ingin meluap menghadapi sikap aneh dari Widya.
"Gue ada salah sama lo? Atau lo ada masalah? Bilang Wid, nggak gini caranya, lo dikit-dikit berubah aneh tahu nggak?"
"Aurel ancam lo lagi?" tebak Alina ketika melihat pipi sebelah kiri Widya terlihat merah. Namun melabrak atau membalas Aurel tidak bisa Alina lakukan jika Widya tidak mengaku atau tanpa bukti yang nyata.
"Kamu nggak akan pernah tahu Alin," ujarnya singkat.
Terdengar helaan napas dari Alina. Ia kesal sendiri menghadapi sikap seperti bocah Widya. "Gimana gue bisa tahu kalau lo aja nggak bilang? Gue temen lo bukan sih Wid?" Alina mulai menunjukkan rasa kesalnya.
Jelas dia kesal. Tidak tahu apa-apa tiba-tiba Widya berubah dan terkesan menyalahkan juga menghindarinya.
Untuk yang kesekian kalinya. Alina dibuat bingung dan kesal oleh tingkah Widya. Bukannya menjawab Widya malah buru-buru pergi meninggalkannya denyan sejuta pertanyaan yang membuat Alina kini dirundung rasa bingung.
"S**lan, ngaco banget lo Wid," umpat Alina memukul meja di depannya pelan.
Widya memang sahabatnya, tetapi bukan berati ia memaklumi begitu saja sikap kanak-kanakkan dari Widya begitu saja.
"Berapa bu?" tanya Alina kepada salah satu ibu kantin.
Alina memberikan uang dua puluh ribuan. "Kembaliannya buat ibu aja," ujarnya berlalu pergi.
Meski mereka duduk bersebelahan, namun tidak ada obrolan atau interaksi apapun dari Aina atau pun Widya. Keduanya sama-sama diam saling fokus dengan pelajaran.
Sampai bel istirahat terdengar. Alina beranjak dari duduknya, biasanya ia akan mengajak Widya untuk pergi ke kantin. Namun kini ia malas menghadapi sikap Widya yang sedang seperti bocah. Alina lebih memilih untuk pergi ke kantin sendiri. Namun sebelumnya ia sempat melirik ke arah Widya yang sedang mengamati bukunya.
Di perjalanan. Alina dikejutkan dengan suara bu Tina yang tiba-tiba memanggilnya. Biasanya beliau akan menyuruh para anggota OSIS jika butuh bantuan. Namun sepertinya kali ini Alina menjadi anggota OSIS dadakan karena akan diperintah oleh ibu genit yang masih single itu.
"Alin, Alina!" teriak bu Tina membuat Alina menoleh.
"Kenapa bu?" tanyanya biasa.
"Kamu panggil Widya juga ya? Kalian sudah ditunggu anggota OSIS di ruangannya," ujar bu Tina seketika membuat Alina mengernyit.
Meski ia tidak diperintah oleh bu Tina untuk membantunya, namun tetap saja ujung-ujungnya bersangkutan dengan anggota OSIS.
__ADS_1
"Sekarang?" tanya Alina bingung sendiri. Niat hati untuk mengisi perut dan menghindari Widya malah sebaliknya.
"Nggak tahun depan pas saya sama pak Endra nikah, ya iyalah sekarang," balas bu Tina tampak sedikit ketus.
Mendengar nama Alendra yang dibawa-bawa seketika membuat Alina terkikik. Heran juga kenapa laki-laki seperti Alendra bisa dikagumi sampai segitu halunya oleh bu Tina. Namun mengingat betapa ganasnya Alendra di ranjang membuat Alina malah jadi senyum-senyum sendiri. Belum apa-apa saja Alendra sudah begitu memabukkan, bagaimana jika mereka benar-benar sudah bercocok tanam bersama.
"Malah senyum-senyum nggak jelas, buruan Alin! jangan bikin calon suami saya lama menunggu!" titahnya membuat Alina mendelik.
Itu berati Alendra juga berada di sana bersama anggota OSIS.
"Payah," gumamnya berlalu meninggalkan bu Tina yang membolakan matanya ketika mendengar ucapan Alina barusan.
"Alina ini makin cantik makin berani aja, eh...cantikan saya dong," ujar beliau mengibaskan rambutnya yang sengaja disanggul.
Alina kembali masuk ke kelas. Di sana hanya ada Widya seorang diri yang sedang membaca buku. Mau tidak mau Alina memang harus mengajak Widya ke ruang OSIS atas perintah bu Tina.
"Widya, kita disuruh ke ruang OSIS sekarang. Lagi ditunggu sama anak-anak," ujar Alina seketika membuat Widya mendongak.
Ia mengangguk kecil tanpa menjawab. Lalu beranjak dari duduknya. Merasa Widya masih mengabaikannya, Alina juga lebih memilih untuk pergi tanpa menunggu Widya. Ia bukan tipikal orang yang terus meminta penjelasan jika seseorang itu tidak berniat untuk memperbaiki atau menjelaskan sendiri.
"Permisi," ujar Alina setelah mengetuk pintu ruangan OSIS.
"Masuk Lin," titah Gevan semangat.
Kedatangan Alina jelas menjadi semangat untuk Gevan. Ia bahkan sampai berdiri karena kedatangan Alina.
Tidak lama setelah itu Widya juga datang dari belakang Alina. Namun tatapan Widya langsung tertuju dimana Alendra kini berada dan duduk di depan anak-anak.
"Kalian silahkan duduk," titah bu Tina yang juga duduk di sebelah Alendra.
Baik Alina atau pun Widya mengangguk setuju. Mereka mulai berjalan untuk duduk di kursi yang masih kosong.
"Alin duduk sini," seru Gevan untuk duduk di sebelahnya. Bahkan Gevan sudah menyuruh salah satu temannya untuk pindah posisi.
Mendengar ucapan Gevan barusan seketika membuat atensi Alendra teralihkan. Tanpa sadar rahangnya mengeras dengan sendirinya tidak suka dengan apa yang Gevan lakukan untuk Alina.
Ia menatap Alina yang sedang melangkah pelan ke depan. Sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas. Kali ini kuasanya akan ia gunakan untuk membuat hati dan matanya tetap normal tanpa adanya rasa panas karena tingkah dari siswa dan siswinya.
__ADS_1
"Semua siswi pindah di sebelah kiri," ujar Alendra seketika membuat mereka saling pandang bingung.