
Kejadian tadi sore membuat Alina sengaja terus berada di kamarnya. Rasa malunya sebenarnya sudah hilang, namanya juga Alina fersi Jenni, tetapi ia sangat paham pasti Alendra akan memojokannya dengan kata-kata yang membuat Alina nantinya malah akan semakin emosi.
Namun kini rasa lapar di perutnya sudah tidak tertahan lagi. Di kamarnya tidak ada makanan atau pun cemilan, hanya permen yupi sisa tadi di sekolah.
"Mana kenyang makan si gemoy," ujar Alina menunjuk-nunjuk permen yang sudah dia kupas.
Alina mendesah, ia mulai gelisah karena rasa laparnya. Kalau begini caranya dia tidak akan bisa tidur dengan keadaan lapar.
"Udah dikasih badan kecil biar makan bisa sepuasnya malah tersiksa gini," decaknya terus mondar-mandir di kamar.
"Si Ale udah keluar belum ya?" gumamnya lagi.
Jika Alendra sudah pergi maka Alina akan langsung keluar untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan seperti lagu lawan kesukaan eyang putrinya dulu.
"Masa bodoh lah, palingan tuh cowok udah teler di bar," final Alina akhirnya keluar kamar.
Keadaan apartemen sudah sepi. Lampu yang menyala juga bukan lampu utama yang terang benderang, seketika Alina bisa bernapas dengan lega, itu tandanya Alendra sudah pergi dan membuatnya leluasa untuk mengisi perutnya.
Tangannya terangkat untuk mengambil mie instan yang berada di lemari. Sengaja memang ia lebih memilih membuat mie untuk mempersingkat waktu.
Selesai membuat mie instan, Alina berniat untuk ke ruang TV. Rencananya untuk memakan mie buatannya sembari menonton televisi, barang kali berita tentang kematiannya sudah tidak diberitakan lagi, namun apa yang dia lihat seketika membuat mie di tangannya hampir saja terjatuh.
Glek
Susah payah Alina meneguk air ludahnya yang tiba-tiba terasa kering ditenggorokan. Kali ini Alendra yang terlihat ketiduran di sofa ruang TV. Bedanya jika malam itu Alina terlihat menggelikan lain halnya dengan penampakan Alendra saat ini.
Tubuh tegapnya yang dibiarkan terlihat begitu saja setelah olahraga membuat perut ratanya terlihat sedikit mengkilat karena keringat. Roti sobek pada perut itu terlihat begitu menggoda kala bergerak sesuai dengan napasnya. Untuk beberapa saat Alina tertegun dengan keindahan yang dimiliki oleh mahluk Tuhan satu itu.
"Gue mana bisa ngambil foto disaat lo kek gini Ale, yang ada gue tremor nantinya," gumam Alina menggelengkan kepalanya.
Langkahnya mulai mundur perlahan. Dia tidak lagi berniat untuk bertingkah seperti malam itu. Meski Alendra terlihat memang benar-benar sedang tidur, namun ia tidak mau membuat detak jantungnya semakin tidak beraturan jika sampai memegang tubuh yang terlihat begitu menggoda di depannya.
Disaat Alina berniat untuk pergi ke kamarnya. Terdengar lenguhan kecil dari Alendra. Dan si*lnya suara Alendra itu terdengar begitu menggoda di telinga Alina.
"Emmhhh," lenguh Alendra seketika membuat langkah Alina terhenti. Bersamaan dengan matanya yang melebar takut jika Alendra tiba-tiba bangun dan mengiranya sudah melakukan hal memalukan seperti saat itu.
Buru-buru Alina meninggalkan Alendra untuk menuju ke kamarnya. Namun suara Alendra berikutnya membuat tubuh Alina seketika terasa beku.
__ADS_1
"Alin," panggil Alendra.
Masih setengah sadar Alendra beranjak dari sofa. Dia duduk menatap punggung Alina yang masih berada di depannya.
"Alin aku lapar, tolong buatkan aku mie juga," ujar Alendra seketika membuat Alina berani menoleh ke belakang.
Cukup lega rasanya jika Alendra tidak berpikir yang macam-macam tentangnya.
"Bikin aja sendiri," jawab Alina dengan nada ketus
Alendra berdecak. Kesal rasanya dengan gadis kecil yang kini sering sekali memancing emosinya.
"Bau mie yang kamu buat sudah membangunkanku Alina," tekan Alendra menatap tajam Alina.
"Siapa suruh cium mie buatan gue? Kalau tidur ya tidur aja. Segala pakai nyuruh-nyuruh lagi," omel Alina merasa gara-gara Alendra makan malamnya terus tertunda.
Mendengar jawaban Alina membuat Alendra semakin kesal. Alina memang tidak ada takutnya sekarang, selalu menjawab apa yang Alendra katakan, dan selalu membantah apa yang Alendra perintah.
"Oke, kalau kamu tidak mau ribet," ujar Alendra beridir tepat di depan Alina.
"Ale," teriak Alina kesal.
Piring yang dibawanya sengaja ia tarik agar Alendra berhenti memakannya. Namun apa yang terjadi selanjutnya membuat Alina diam dengan seribu bahasa. Bukannya bisa bebas dan meninggalkan Alendra. Alina kini justru terperangkap pada kungkungan Alendra, piring yang tadi sengaja ia tarik sudah pecah berserakan di lantai. Sekali lagi Alendra menyelamatkannya agar tidak terjatuh.
Keduanya terbaring di sofa dengan Alina yang berada di atas Alendra. Sementara Alendra berada di bawah Alina dengan tangannya memeluk pinggang ramping Alina.
Drrtt
Drrt
Drrt
Suara gertaran ponsel milik Alendra yang berada di atas meja membuat satu tangan Alendra terjulur untuk mengambilnya.
Telepon dari Pinka membuat Alendra teringat dengan janjinya. Buru-buru ia angkat sebelum Pinka bertambah marah dan nekat pergi ke apartemennya.
Sementara posisi mereka masih bertahan seperti tadi.
__ADS_1
"Endra kenapa belum sampai sih? Aku udah nungguin kamu dari tadi, jangan bikin aku marah Ndra," cerocos Pinka dari sebrang telepon.
"Ale, lepasin."
Suara dari Alina yang berontak meminta untuk dilepaskan terdengar sampai ke telinga Pinka. Sontak saja membuat wanita itu terkejut dan semakin membuat pikiran dan hatinya resah karena tidak datangnya Alendra.
"Sstt...bisa diem nggak sih kamu," balas Alendra tetapi tidak melepaskan genggaman tangannya pada pinggang ramping Alina.
"Sayang kamu. Kamu sama siapa? Dimana? Jangan bikin aku nething Endra," suara Pinka mulai terdengar panik diseberang telepon.
"Enggak beby, aku masih berada di rumah ini, tapi ma-"
"Aw...sakit Alin jangan digituin," ujar Alendra ketika Alina dengan sengaja memukul dadanya dengan kekuatan super dahsyat.
"Lepasin gue nggak?" mata Alina menatap tajam Alendra.
Alina bukan lagi gadis bod*h yang mudah menerima apa lagi sampai ditindas. Enak saja Alendra melakukan itu denganya, sementara ia enak-enakan sembari teleponan dengan panggilan sayang.
"Aku lepas kalau kamu sudah- ah..."
Suara Alendra malah terdengar seperti ******* ketika tanpa sengaja lutut Alina menyenggol bagian terpentingnya.
"Endra! Aku bakal ke apartemen kamu sekarang," seru Pinka mematikan sambungan teleponnya.
Hatinya sudah panas tidak karuan, pikirannya bercabang kemana-kemana. Bayangan dimana Alendra sedang bermain panas dengan seorang gadis kini memenuhi pikirannya.
"Nggak, nggak bakal gue biarin siapapun ngerebut Endra dari gue," gumam Pinka menancap gas mobilnya.
Berbeda denga Alina dan Alendra yang kini berlanjut ke babak adu mulut. Bukannya malah romantis dengan keadaan mereka itu yang ada malah saling menyerang lewat kata-kata.
"Apa sih? Segala pakai ngedesah lo pikir enak diginiin?" bentak Alina bersamaan dengan lututnya yang sengaja menyiku barang berharga milik Alendra.
"Auw...sakit Alin." Alendra akhirnya melepaskan Alina. Tangannya sudah mengelus barang pusakanya yang terasa berdenyut ngilu.
"Mam**s, salah siapa cari kesempatan banget," decak Alina berlalu pergi.
"Ah...sia**an Alina, masa depan kamu suram kalau punyaku sampai cidera." Alendra meringis sakit ngilu memegangi siput jumbonya.
__ADS_1