Fire On Fire

Fire On Fire
Pacar Dadakan


__ADS_3

Setelah mengelilingi lapangan 10 kali dibawah terik matahari. Alina sudah kembali bisa beristirahat. Widya yang sedari tadi menemani di pinggir lapangan memberikan sebuah botol minuman dingin.


"Makasih Wid," ujar Alina dan diangguki oleh Widya.


"Duduk sini yuk," ajak Alina duduk di pinggir lapangan.


"Capek kan pasti?" komentar Widya membuat Alina menoleh dan menggeleng. "Enggak tuh, malahan sehat," balasnya seraya terkekeh.


"Ih...Alin, nggak ada kapoknya deh," ujar Widya membuat Alina tersenyum.


"Tuh ratu drama dihukum apaan sama Gevan?" tanya Alina membuat senyum Widya seketika terbit.


"Dih...malah senyum-senyum, baru nyebut nama Gevan aja udah nyengir lo," cibir Alina yang langsung mendapat gelengan kepala dari Widya.


"Bukan itu Lin, tapi ada anak kelas 10 juga yang ngaku pernah dibully sama Aurel dan gengnya, jadi ada saksi juga kan selain kita," jelas Widya membuat Alina mengangguk.


"Terus siapa lagi yang ngaku?" tanya Alina seketika membuat wajah Widya terlihat lesu.


"Cuma dia aja?" tanya Alina kembali mendapat anggukan dari Widya.


"Tapi Alin udah hebat banget lho, Aurel dapat skors dari guru BK setelah laporan dari kak Gevan diberikan," beritahu Widya seketika membuat Alina ikut tersenyum.


"Itu baru berita bagus, baru kita-kita aja yang ngaku dia udah dapat skors kalau pada berani langsung keluarin pasti," ujar Alina yang diangguki setuju oleh Widya.


"Kan tinggal bilang pak Endra, yang punya sekolah keluarga pak Endra, Alin juga kan istirnya," bisik Widya seketika membuat Alina mendelik.


"Nggak gitu juga kali Wid, jangan karena kita punya kuasa, tapi memang murni kesalahan Aurel yang ngebuat dia keluar dari sekolah harusnya gitu aturannya," jelas Alina membuat Widya mengangguk dengan senyum tipis di bibirnya.


Alin kamu sekarang keren banget Lin, nggak penakut kayak dulu, aku juga mau jadi seperti Alin. Ujar Widya dalam hatinya.


Berita mengenai perkelahian Alina dan Aurel sudah tersebar dipenjuru sekolah. Banyak di antara mereka yang memuji keberanian Alina. Tidak sedikit juga yang mencibir Alina agar mendapat perhatian dari Alendra.


Seperti halnya saat ini. Alina dibuat kesal setengah mati setelah disuruh Alendra menunggu di dalam mobilnya. Niat hati sudah sangat berhati-hati sekali untuk sampai ke parkiran khusus guru agar tidak ada yang melihat malah Alina dibuat terkejut dengan kedatangan bu Tina yang tiba-tiba muncul.


"Alina, lagi apa kamu di sini?" selidik bu Tina.


Alina menoleh. Ia tersenyum semanis mungkin. Tahu kalau wanita di depannya ini sebenarnya masuk dalam kategori musuh yang terus mencari perhatian dengan Alendra disetiap kesempatan.


"Nungguin doi bu," balas Alina seketika membuat bu Tina mendelik.


"Jangan sembarangan kamu Alin, jelas-jelas kamu mepet di mobil calon suami saya," ujar bu Tina seketika membuat Alina terperangah.


"Calon suami ibu?" tanya Alina menatap ke sekeliling mobil.

__ADS_1


"Iya, minggir kamu Alin! Jangan dekat-dekat mobil mas Endra," ujarnya lagi seketika membuat Alina tersedak.


Uhuk


Uhuk


Uhuk


Demi apa baru saja ia tidak salah dengar kan dengan pernyataan dari salah satu ibu gurunya itu? Alendra calon suaminya? Oh Tuhan... Rupanya ada yang lebih halu dari pada teman-teman sekolahnya. Guru sendiri jauh lebih menghayal tentang Alendra.


"Nggak sopan kamu," ujar bu Tina melirik Alina sinis.


"Ma-maaf bu, bukan maksud saya nggak percaya sama ibu, tapi...."


"Ada apa ini?" tanya Alendra yang baru saja datang dengan gagahnya.


Buru-buru bu Tina memperlihatkan senyuman semanis mungkin. Ia tidak mau terlihat jelek di mata laki-laki pujaannya. Berbeda dengan Alina yang malah mencebik melihat kedatangan Alendra. Perkara pulang saja ribetnya minta ampun.


"Ini lho pak Endra, si Alin lagi nungguin pacarnya jemput katanya," ujar bu Tina membuat Alendra menatap Alina dengan sorot mata sedikit tajam.


Dalam hatinya bertanya. Apakah benar apa yang dikatakan oleh rekan sesamanya itu?


"Alin, kamu kalau mau nungguin doi kamu itu, jangan di sini. Ini parkir khusus guru, kamu bisa tunggu di depan gerbang atau di halte depan," jelas bu Tina membuat Alina hampir meledakkan tawanya.


"Yang lagi ditungguin udah datang kok bu," balas Alina sebenarnya ditujukan untuk Alendra.


Namun situasi seketika berubah saat tiba-tiba Gevan datang dengan motor besarnya.


"Siang pak, bu," sapa Gevan sopan selaku ketua OSIS.


"Oh....jadi kalian pacaran," ujar bu Tina seketika membuat Alina mendelik.


"Bilang dong Alin kalau lagi nungguin Gevan pulang, hati-hati ya kalian di jalan, pacaran yang sehat-sehat aja jangan aneh-aneh," beritahu bu Tina seketika membuat hati Alendra terasa mendidih panas.


Ia kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih ketika melihat senyum bahagia salah satu anak didiknya. Rasanya Alendra ingin mengkuliti wajah tampan tersebut.


"Alin nungguin gue?" tanya Gevan membuat Alina bingung untuk menjawab.


"Nggak usah malu Alin, tinggal bilang iya aja, iya kan pak? Seperi saya yang nggak malu mengakui kalau hari ini sengaja nunggu pak Endra untuk pulang bersama," jelas bu Tina lagi semakin membuat darah Alendra seketika mendidih panas.


Tangannya sudah mengepal dibalik saku celananya.


"Kita duluan," ujar Alina dengan senyum canggung.

__ADS_1


Melihat kesempatan emas di depannya. Buru-buru Gevan memberikan helm yang memang selalu dia bawa meski jarang sekali ada yang menumpang dengan motornya.


Sudut bibir Gevan tertarik ke atas ketika Alina terlihat kesusahan mengenaka helm tersebut.


"Sini biar gue bantuin," ujar Gevan turun dari atas motornya.


Ia membantu Alina mengenakan helm dengan mata keduanya saling beradu.


"Udah, ayo naik," ujae Gevan yang hanya dituruti oleh Alina.


"Duluan, pak bu." Gevan melajukan motornya meninggalkan parkiran.


"Aduh...manis banget sih mereka,"ujar bu Tina melirik ke arah Alendra yang masih menatap kepergian Alina dan Gevan.


"Pak Endra, kita kapan seperti itu," lanjutnya lagi menyiku lengan Alendra.


Bukannya menjawab dengan kata-kata tidak kalah manis. Alendra justru menatap tajam bu Tina.


"Eh...pak Endra tunggu, saya jadi ikut nebeng," ujarnya buru-buru masuk ke mobil Alendra.


Jalanan yang cukup ramai tidak membuat motor besar yang dikendarai oleh Gevan terjebak macet seperti kendaraan yang lainnya. Cowok itu sangat mahir dalam mengendarai motor besar miliknya.


"Mau makan dulu nggak?" tawae Gevan mencari kesempatan.


"Enggak usah deh Gev, gue udah ditunggu nyokap di rumah," balas Alina dan diangguki oleh Gevan.


"Nggak mau beli apa dulu gitu Lin?" tanya Geva lagi.


Cowok itu masih berusaha, siapa tahu kan Alina mau untuk memperlambat waktu berdua mereka.


"Enggak ada Gev," balas Alina dan diangguki oleh Gevan.


Ada rasa kecewa sebenarnya dalam hati Gevan.


Tepat disaat lampu merah, motor Gevan berhenti di depan, tidak lama setelah itu muncul motor besar lainnya. Alina menatap seseorang yang berada tepat di sebelahnya. Motor besar yang digunakannya jelas sangat ia kenali.


"Diko?" lirihnya bersamaan dengan Diko yang menoleh ke arahnya.


Buru-buru ia mengalihkan pandangan matanya. Namun sepertinya Diko jauh lebih mengenalinya dari pada perkiraan Alina.


Drummmm


Motor besar milik Gevan kembali jalan setelah lampu berubah warna menjadi hijau.

__ADS_1


"Alina," teriak Diko membuat Gevan melirik dari kaca sepionnya.


__ADS_2