
Untuk yang kesekian kalinya. Alendra sengaja membawa pulang Alina ke rumah besar miliknya. Tadi sebenarnya mereka berniat untuk datang ke rumah lama Alina atau Jennifer. Boy juga sudah menunggu di sana, namun sepertinya sia-sia saja karena untuk saat ini Alendra sedang ingin menghabiskan waktu bersama dengan Alina saja. Ada alasan kenapa Alendra tiba-tiba memutar balik mobilnya tadi. Itu semua karena ulah Alina sendiri tadi dan itu juga sangat menyiksa bagi Alendra.
Setelah mengetahui siapa Alina yang sekarang justru rasa ketertarikan Alendra semakin bertambah. Ia seperti menemukan sosok baru dengan tubuh yang sama. Alina bisa memikat Alendra dengan caranya.
"Kenapa ke sini sih? Ngaco banget jadi orang, dibilang Boy udah nungguin juga," dumel Alina yang tidak dihiraukan oleh Alendra.
"Rumah lo terlalu gede Ale, bikin kaki gue capek buat jalan ke kamar," protes Alina membuat Alendra menoleh.
Ia menatap Alina yang sedang siap-siap untuk turun.
"Gampang, nanti aku pijitan kalau capek," balas Alendra seketika membuat Alina mendelik.
Keduanya turun dari mobil. Namun baru beberapa langkah kaki Alina berpijak tubuhnya sudah kembali melayang karena gendongan dari Alendra secara tiba-tiba.
"Ale, apa-apaan sih? Lepas nggak!" berontak Alina mencoba untuk membebaskan diri.
"Biar nggak capek Jenni, rumah saya terlalu besar untuk kaki kecil kamu ini," ujar Alendra membawa Alina masuk ke dalam rumahnya.
"Tapi malu, nggak usah pakai gendong segala deh, dikira gue bocah apa." Alina masih mencoba untuk protes.
Dilihat oleh beberapa asisten rumah tangga Alendra membuatnya merasa tidak nyaman. Meski mereka suami-istri namun Alina masih merasa canggung, sebelumnya memang tidak pernah ada hal-hal yang romantis terjad di antara mereka. Kebanyakan adu mulut malah. Namun sikap dan tindakan Alendra akhir-akhir ini mulai berubah. Sedikit lebih manis dari pada pertama bertemu.
"Mau nanti aku pijitin apa gendong biar nggak capek?" tanya Alendra seperti sebuah penekanan juga ancaman.
"Nggak mau dipijitin gue," balas Alina mengalihkan wajahnya. Ia merasa malu karena lumayan banyak orang di rumah besar milik Alendra ini.
Terkadang Alina juga heran sendiri. Rumah sebesar itu yang jarang sekali dihuni oleh pemiliknya kenapa memiliki banyak sekali asisten rumah tangga. Bahkan ada yang jika dilihat masih sangat muda, usia remaja mungkin sama dengan Alina.
"Ya sudah anteng, jangan bikin punyaku bangun lagi Jenni," titah Alendra seketika membuat Alina menghela napas dalam.
__ADS_1
Awas saja kalau sudah sampai kamar dan tinggal berdua hanya mereka saja. Alina tidak segan-segan untuk memberi pelajaran kepada Alendra yang sudah memanfaatkan keadaan sekarang. Mendengar ucapan Alendra barusan saja seketika membuat telinganya terasa panas. Bukannya menjadi on Alina justru gerah sendiri untuk menendang bagian tubuh Alendra mana saja.
Berbeda dengan Alendra yang diam-diam malah merasa tidak nyaman dengan posisi mereka saat ini. Darahnya semakin berdesir kala tangan yang sedang menggendong Alina ala bridal style pas memegangi bagian p*ha bawah Alina. Bisa kalian bayangkan bagaimana panasnya tubuh Alendra sekarang. Jemarinya memegang kulit mulus Alina secara langsung. Seragam rok Alina yang pendek jelas tidak menutupi bagian tersebut.
Please, calm Ndra. Gumamnya dalam hati.
Padahal sangat jelas jika sebenarnya sepanjang perjalanan tadi Alendra menahan diri untuk tetap fokus pada setir kemudinya. Mendapat tingkah nakal Alina tadi membuatnya seketika ingin berubah menjadi singa jantan yang tangguh di atas ranjang. Sampai ia sengaja memutar balik setir demi untuk menenangkan otak dan pikirannya. Karena akan percuma saja jika mereka tetap pergi ke rumah lama Alina. Alendra sedang berada di posisi ingin namun tertahan. Yang ada akan membahayakan Alina nantinya jika mereka sudah mendapat waktu berdua saja.
Bruk
Alendra melempar tubuh Alina di atas ranjang besar miliknya. Pintunya sengaja dia kunci agar Alina tidak bisa kabur darinya.
"Apa-apaan ini?" selidik Alina mulai merasa waspada.
"Kamu sengaja Jenni ingin membuatku melakukannya," ujar Alendra membuka gorden besar di kamarnya. Kebetulan jendela kamar langsung menghadap ke arah kolam dan juga pemandangan sekitar rumah. Sangat indah jika dilihat pada malam hari.
Tubuh tegap milik Alendra berdiri tepat di depan Alina. Hal itu membuat Alina tidak bisa berkutik lagi dan berdiam diri di tempatnya.
"Kebetulan aku juga ingin mandi Alin," ujarnya menarik tubuh Alina dan kembali ia gendong seperti tadi untuk dibawa ke kamar mandi.
Alina tergugu, tubuhnya kembali terasa kaku, pikirannya juga paham jika ia berada disituasi yang membahayakan untuknya. Namun bibirnya seakan tidak bisa terbuka sekadar untuk protes atas tindakan Alendra sekarang atau nanti.
"Nikmati," lirih Alendra menatap lekat manik hitam legam milik Alina.
"Mata kamu sangat indah," pujinya bersamaan dengan satu tangannya terampil menyalakan air hangat.
Detik berikutnya Alina sudah berada di batup besar bersama dengan Alendra. Masih menggunakan pakain keduanya berada di batup.
Seragam milik Alina yang basah menambah kesan seksi pada gadis itu sekarang. Terlebih sejak tubuh Alina dimasuki jiwa Jennifer, sangat banyak sekali perubahan pada tubuh gadis itu. Yang tadinya tidak terlihat dan sangat tidak menarik kini begitu menggiurkan di mata Alendra.
__ADS_1
Dagu Alina sengaja Alendra tolehkan ke hadapannya. Sedikit diusap lembut lalu dikecup ringan. Tindakan Alendra tersebut seketika membuat mata Alina terpejam. Karena sejujurnya tanpa Alina sadari ia sendiri memiliki ketertarikan dengan Alendra, terlebih ketika Alendra menerimanya setelah pengakuan darinya. Alina semakin sulit untuk berontak atau protes dengan tingkah nakal Alendra.
"Ja-ngan," lirihnya akhirnya bisa bersuara.
Tangan Alendra yang tadinya ingin meraih dua gunduk*n miliknya seketika Alendra urungkan. Ia menatap Alina yang juga sedang menatapnya.
"Ada apa lagi?" tanya Alendra membuat Alina terdiam.
Ingin mengatakan tentang surat yang Alina asli berikan untuknya, namun setengahnya ia dirundung rasa bingung.
Kepalanya menggeleng pelan. "Tidak," balasnya membuat sudut bibir Alendra tertarik ke atas.
Dikucupnya dengan lembut dan cukup lama kening Alina. Setelahnya ia menatap Alina dengan begitu dalam. Lalu kembali berniat untuk mengecup Alina namun entah kenapa tiba-tiba gadis itu menolak dan sedikit menjauhkan wajahnya.
"Kenapa Jenni?" tanya Alendra pensaran.
"Ck, masih nanya. Gue nggak akan ngasih apa yang lo mau Ale, pake pelet apa lo sampai gue hampir dibodohi sama lo!" ujar Alina membuat Alendra mengernyit.
"Udah cukup! Mending lo ke si tante aja kalau butuh hiburan." Alina beranjak dari batup.
Tidak peduli dengan seragam yang ia kenakan basah dan membuat bagian atasnya seperti setengah terlihat. Ia baru sadar jika Alendra masih mempunyai wanita simpanan, dan bodohnya Alina hampir saja terjebak hanya karena Alendra sudah menerimanya sebagai Jennifer.
"Aku dan Pinka sudah tidak ada hubungan apa-apa Alin, hubungan itu sudah berakhir," ujar Alendra membuat langkah Alina terhenti.
Sejujurnya Alendra gemas sendiri dengan reaksi Alina. Beberapa kali kejadian semacam ini terjadi. Alina menikmati namun selalu menolak disaat Alendra akan memulainya.
Ia ikut bangkit dari batup dan melangkah mendekati Alina yang masih memunggunginya.
"Jadi, jangan banyak alasan lagi," bisiknya meremat lengan Alina dari arah belakang.
__ADS_1