Fire On Fire

Fire On Fire
Ibu Hamil Banyak Maunya


__ADS_3

Sudah pukul 10 malam. Alina masih setia menemani Widya di rumah sakit. Begitu juga dengan Alendra yang masih berada di sana. Meski tidak dibutuhkan tetapi ia tetap harus menunggu Alina. Secara tidak langsung Alendra tetap menjaga Alina dengan fersinya yang tidak terlihat.


Beruntung Ayah Widya tadi langsung ditangani oleh dokter setelah mendapat bantuan dari mama Intan. Dokter sepesialis jantung di rumah sakit tersebut merupakan teman angkatannya dulu. Dan kini Ayah Widya masih menjalani operasi.


Sedari tadi keadaan cukup tegang. Terlebih operasi yang seharusnya berjalan kurang lebih 3 jam kini sudah berjalan selama 5 jam lebih. Meski ditangani oleh ahlinya, namun sakit jantung yang diderita oleh Ayah Widya ternyata sudah sangat parah.


"Lo pulang aja, gue mau tidur di sini," ujar Alina mendekat ke arah Alendra yang sedari tadi lebih memilih untuk duduk dan memainkan ponselnya.


Kepalanya menoleh. Tatapan matanya datar menatap Alina. Terdengar helaan napas yang cukup dalam dari Alendra.


"Pulang sekarang bersamaku," ujar Alendra dengan tegas.


Meski tidak bersuara kencang, namun dari nada bicaranya terdengar tidak main-main.


"Nggak bis-" jeda Alina ketika Alendra melangkah melewatinya.


Laki-laki itu berhenti tepat di depan Widya dan ibunya. Ia sempat melirik ke arah Alina sebelum berucap.


"Widya, ibu... Saya dan Alina pamit pulang dulu, besok kita ke sini lagi," ujar Alendra yang diangguki oleh Widya dengan senyum tulus.


"Terimakasih banyak pak Endra atas bantuannya," balas Widya sungkan.


"Te-terimakasih banyak pak Endra," ujar Ibu Widya mengikuti.


"Wid, sorry ya gue nggak bisa nemenin lo," sesal Alina yang langsung mendapat gelengan kepala dari Widya.


"Kamu udah banyak sekali bantu Alin, maaf aku jadi merepotkan. Hati-hati Alina." Widya tampak tersenyum tipis sebelum kepergian Alina dan Alendra.


"Ibu saya pamit dulu ya? Ditunggu kabar baiknya besok," pamit Alina.


"Widya, ada yang ingin ibu tanyakan," ujar ibu Widya menatap anaknya serius.


Sebenarnya Alina ingin menunggu sampai ayah Widya paling tidak selesai operasi. Tetapi mengingat sikap atau tindakan Alendra yang terkadang diluar nalar membuatnya menurut jauh lebih baik. Dari pada anak yang sudah tua itu bebruat ulah di rumah sakit, akan panjang ceritanya.


Tepat ketika keduanya berjalan keluar. Beberapa perawat datang menghampiri. Di sana ada seorang ibu yang tengah hamil tua dan sepertinya tinggal mengatur napas saja akan keluar. Perut besar juga rasa panik yang terlihat dari wajah orang-orang disekitarnya menandakan jika ibu hamil itu akan segera melahirkan.

__ADS_1


"Permisi mas, boleh istri saya peluk anda sebentar saja," ujar seorang laki-laki seketika membuat Alina dan Alendra saling pandang bingung.


Mereka yakin jika laki-laki itu ialah suami dari si ibu hamil.


"Cepat pak, istri anda harus segera ditangani, kasihan bayi di dalamnya," ujar perawat mengingatkan.


"Silahkan," balas Alendra tahu situasi sedang sangat genting.


Meski begitu si ibu hamil masih saja ngidam yang aneh disaat-saat terkahir kelahiran anaknya.


"Aaa... Terimakasih banyak mas ganteng," ujar si ibu hamil seraya turun dari kursi dorong seakan langsung sehat dan hilang rasa sakit yang dirasa mendengar jawaban dari Alendra.


Dipeluknya Alendra dengan gemas. Kapan lagi coba kesempatan emas itu ia dapatkan? Memeluk laki-laki setampan Alendra jelas kesempatan yang sangat langka.


"Semoga anak saya seperti mas ganteng ya? Tinggi ganteng dan...siapa namanya?" ujar ibu hamil tersebut.


Alina hampir saja muntah mendengar keinginan dari ibu hamil di depannya yang menginginkan anaknya mirip seperti Alendra, mungkin jika tampang Alendra masih bisa dibicarakan, tetapi untuk sifatnya, bagi Alina jelas amit-amit sekali.


"Ma...udah jangan aneh-aneh," beritahu suami ibu hamil tersebut.


Meski jika mereka diposisi ibu hamil pun bisa saja melakukan hal yang sama. Kapan lagi coba mendapat kesempatan untuk memeluk laki-laki yang tingkat ketampanannya sangat tidak manusiawi itu. Ngidam didetik-detik sebelum persalinan jelas alasan yang sangat ampuh.


"Ale-ale ibu," ujar Alina seketika membuat orang yang berada di sana menatap ke arahnya.


"Iya, nama mas ganteng ini Ale-ale," lanjut Alina menjelaskan.


Semua terperangah mendengar penuturan Alina baru saja. Terdengar unik dan sangat tidak cocok untuk penampakan Alendra. Para perawat juga diam-diam menahan tawa mendengar nama unik dari laki-laki setampan Alendra.


"Benar itu nama kamu mas ganteng?" tanya si ibu tidak percaya.


"Bukan, nama saya Al-"


"Ale-ale," sela Alina tersenyum manis.


Alendra mengepalkan tangannya. Alina sengaja sekali ingin mempermalukannya di depan orang-orang.

__ADS_1


Buru-buru ia melepaskan pelukan dari si ibu yang mulai mengendur setelah mendengar namanya tadi disebutkan oleh Alina.


"Terimakasih mas," teriak suami ibu hamil melihat kepergian Alendra dan Alina.


"Aduh duh... Sakit lagi pa, jangan lupa anak kita dinamakan Ale-ale seperti nama mas ganteng tadi ya," ocehanya yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh suaminya.


"Kamu sengaja sekali Alin ingin buat aku marah," tekan Alendra yang tidak dipedulikan oleh Alina.


"Hoammm... Gue ngantuk," ujarnya masuk ke dalam mobil.


Sekali lagi, Alendra harus menambah porsi kesabarannya menghadapi gadis seperti Alina. Selain sudah berani menentangnya, Alina ini juga memiliki seribu cara licik untuk membalas perbuatan Alendra.


Mobil berjalan sedang di tengah jalan raya. Sudah hampir tengah malam, namun keadaan di jalanan masih cukup ramai. Alina sedari tadi sudah menguap menahan rasa kantuk. Sebenarnya matanya sudah sangat berat dan meminta tertutup rapat sampai esok matahari yang menyambutnya untuk kembali terbuka, namun tanggung jawabnya untuk menjaga diri sendiri jauh lebih berat.


Tertidur di dalam mobil hanya berdua saja bersama dengan Alendra seperti halnya ia tidur di kandang singa jantan yang sedang kelaparan. Lengah sedikit Alina bisa saja langsung ditelan habis-habis. Mengingat tadi keduanya juga bertengkar hebat. Membuat Alina harus tetap waspada. Singa jantan akan tetap menjadi singa jantan dalam keadaan apapun, tidak mungkin berubah menjadi seekor kucing jantan yang jinak dan menggemaskan.


Meski kini terlihat baik-baik saja bukan berati mereka sudah tidak memiliki rasa dendam masing-masing. Pasti pertengkaran yang terjadi tadi masih melekat pada diri masing-masing.


"Lapar?" tanya Alendra memecah kesunyian.


"Sedikit," balas Alina yang tidak lagi mendapat tanggapan dari Alendra.


Namun mobik itu kini mulai menepi dan berhenti tepat di depan salah satu restoran yang buka 24 jam.


"Ngapain?" tanya Alina dengan bodohnya.


"Beli semen," balas Alendra membuat Alina mencebik.


Ke restoran sudah pasti makan Alina, bisa-bisanya gadis itu bertanya yang malah memperlihatkan sisi kebodohannya di mata Alendra.


"Ck, menyebalkan," gumam Alina yang masih dapat didengar oleh Alendra.


"Karena kamu bod*h," balas Alendra seketika membuat Alina mendelik.


"Nggak bude* ternyata," lirihnya lagi tidak mau kalah.

__ADS_1


__ADS_2