Fire On Fire

Fire On Fire
Penuh Drama Di Sekolah


__ADS_3

Tubuhnya bersandar di dinding. Matanya terpejam sembari menikmati semliri angin yang masuk di ruangan tersebut. Segelas jus alpokat ikut menikmati waktunya di hari ini.


Helaan napas yang beraturan semakin membuatnya menikmati rasa sepi seperti saat ini. Ingatannya ketika ia masih menjadi seorang Jennifer kini kembali berputar di otaknya.


"Ck, gini banget hidup gue sekarang, temen aja nggak punya," decaknya tersenyum tipis.


Tidak ada yang berada di sana kecuali Alina juga beberapa ibu kantin. Alina kembali datang ke kantin barat untuk sekadar menikmati waktu longgarnya hari ini karena sudah ijin untuk bolos langsung kepada gurunya. Ini untuk yang kedua kalinya ia datang ke kantin barat, setelah ia datang pertama kalinya bersama dengan Widya. Namun kini Widya sedang di fase ingin menjauh darinya.


"Boy," gumamnya merogoh ponsel miliknya.


Jemari lentiknya terampil mengetik pesan untuk ia kirimkan kepada Boy. Siapa tahu Boy sudah membalas setelah tadi pagi dia hubungi tidak ada jawaban juga. Jika terjadi apa-apa dengan mantan asistennya itu. Alina tidak akan segan untuk memberi pelajaran kepada Alendra.


Namun setelah Boy membalas pesan dan bahkan menanyakan apa yang sedang dilakukan oleh Alina di jam pelajaran membuat Alina cukup lega. Boy masih dalam keadaan bernapas dan seluruh anggota tubuhnya ternyata masih utuh.


"Neng Alin lagi di hukum apa bolos sih?" tanya salah satu ibu Kantin.


Alina menoleh. Ia tersenyum tipis. "Emmm lagi di-"


"Maaf lama menunggu," sela Alendra yang baru saja datang dan masuk ke dalam kantin sepi tersebut.


Alina dibuat terkejut bukan main dengan kedatangan Alendra. Dan lagi apa tadi? Maaf lama menunggu? Memangnya kapan mereka janjian?


"Eh pak ganteng," sapa beberapa ibu kantin dengan sangat ramah.


Alendra hanya mengangguk dengan senyum tipis. Asli jika berada di sekolah. Alendra terlihat sangat berwibawa layaknya seorang guru pada umumnya. Bahkan aura Alendra ini terpancar dengan begitu nyata layaknya seorang pemimpin yang tegas dengan tubuh tegap dan wajah rupawannya.


Duduk santai di depan Alina. Sorot mata Alendra lekat menatap gadis di depannya. Alina terlihat manis sekali, lebih cantik dari Alina yang dulu ketika masih menjadi gadis pendiam, terlebih Alina kini pintar sekali merawat diri. Alendra akui itu Alina kini semakin terlihat lebih menarik dibanding dengan dulu, meski sikap Alina sangat bar-bar sekali sampai sering kali membuat Alendra ingin bertindak lebih untuk membuat gadis itu tidak berkutik lagi.


"Bapak lagi ngajar, ngapain ke sini sih?" sinis Alina tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.


"Aku sudah kasih tugas ke mereka," balas Alendra enteng.


"Sama aja kayak makan gaji buta dong kalau gitu," tebak Alina tidak kalah sinis.


"Emmm mungkin kalau guru yang lain begitu, tapi aku di sini yang gaji mereka, aku yang bayar sekolah. Bukan sekolah yang membayarku," jawab Alendra dengan angkuhnya.


Kepalanya mengangguk. Alina akui itu, Alendra mengajar di sekolah itu memang tanpa digaji sepeserpun, justru secara tidak langsung memang ia yang memberi gaji kepada para guru yang mengajar di sekolah.

__ADS_1


"I know, but... You pelit and tidak tahu diri," balas Alina membuat Alendra hampir meledakkan tawanya.


Selain mengesalkan dengan sikap bar-barnya ternyata sisi lain dari Alina saat ini ialah unik. Tingkahnya memang terkadang diluar perkiraan Alendra.


"Belajar bahasa inggris lagi Alin kalau tidak mau tinggal kelas," ujar Alendra tidak lagi dipedulikan oleh Alina.


Alendra tersenyum tipis. Kini ia mulai beranjak dari duduknya. Sebelum benar-benar pergi ia menatap Alina yang sedang menatap lurus ke depan.


"Yang tidak mengerjakan tugas dari saya, siap-siap kena hukuman," beritahu Alendra berlalu pergi.


Merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan ucapan Alendra barusan, Alina kembali menikmati jus segar di depannya setelah kepergian Alendra.


"Ying tidik mingirjikin tigis diri siyi, siyip-siyip kini hikimin, halah apakah banget deh si Ale," gumam Alina mengulangi kata-kata Alendra dengan fersinya.


"Neng Alin ada hubungan apa sama pak ganteng?" tanya salah satu ibu kantin yang penasaran.


"Iya, kalau diliat-liat tatapan mata pak Endra itu dalem banget natap neng Alin, kayak ada lopnya neng," tambah salah satu ibu kantin lagi.


Alina terkekeh. "Ada-ada aja deh si ibu, lop warna hitam sampai bikin saya terbatuk," balas Alina tidak berniat menyangkal juga mengiyakan.


Bell istirahat pertama Alina memilih untuk duduk di pinggir lapangan. Tidak berada di dekat Widya membuatnya merasa kesepian, namun langsung melabrak Aurel juga sama sekali bukan tipe Alina. Tidak ada bukti jika Aurel lah yang menghasut atau mengancam Widya untuk menghindarinya. Meski Alina sangat yakin penyebabnya karena Aurel tetapi jika tanpa adanya bukti Alina tidak akan bertindak lebih. Selagi Aurel diam dan tidak mengganggunya, maka Alina juga demikian.


"Eh iya kasian banget lho."


"Denger-denger sih ayahnya emang udah penyakitan sejak lama."


"Pantesan, kasian juga sih. Tapi males nggak level banget berteman sama anak beasiswa."


"Justru itu kita bisa manfaatin dia buat ngerjan tugas."


Beberapa obrolan dari siswi yang baru saja melewati di belakang Alina terdengar cukup jelas. Alina acuh, namun saat nama Widya disebutkan oleh mereka seketika membuatnya terdiam.


"Ya udah buruan yuk deketin si Widya."


"Lol, cuma demi tugas gaes," ujar mereka secara bersamaan, setelah itu pergi untuk menemui Widya.


Bibir bagian bawahnya ia gigit. Alina ingin mengejar dan membantu Widya. Namun disaat seperti ini bukanlah saat yang tepat, Alina yakin Widya akan tetap menghindar darinya.

__ADS_1


"Ogeb banget sih gue," decaknya kesal dengan diri sendiri yang tidak bisa melakukan apa-apa.


Alina sebenarnya sangat ingin baikan dengan Widya. Namun dia tipe yang malas untuk terus berusaha mendekat selagi Widya masih menghindar. Baginya seperti buang-buang waktu yang sia-sia saja.


"Hai Alina," sapa Aurel dengan begitu ramah.


Yakin, jika Aurel bersikap demikian pasti ada sesuatu yang direncanakan. Alina acuh, dia tidak peduli dan berniat untuk bangkit. Melihat wajah Aurel saat ini malah membuat emosinya terus naik, meski dia coba untuk tahan dan bersikap tenang, tetapi tangannya sudah gatal jika terus berdiam diri.


"Minggir!" titah Alina berniat untuk pergi. Namun detik itu juga Aurel sudah tersungkur karena tindakannya sendiri.


"Auw, Alina," ujarnya penuh drama.


Alina memutar bola matanya. Ingin berdiam diri malah semakin aneh peran Aurel agar ia terlihat jahat.


"Prik banget sih jadi cewek, segala pakai jatuh sendiri, lo bikin mood gue ancur banget tahu nggak!" dumel Alina masih mencoba untuk tetap tenang.


Namun disaat tanpa sengaja tatapan matanya melihat Alendra yang sedang berjalan berdua dan mengobrol bersama dengan salah satu guru wanita yang Alina ketahui juga masih cukup muda dan belum menikah seketika emosinya semakin naik. Ia tidak bisa lagi mengontrol untuk tetap bersikap tenang.


"Nih gue tambahn biar sakit beneran," tanpa ampun Alina sengaja sekali menginjak kaki Aurel.


Pikirnya biar patah sekalian. "Kalau mau drama yang bagusa dikit, jangan pakai cara lama," ujarnya membuat Aurel ingin bangkit dan membalas perbuatannya. Namun disaat Aurel meliha kedatangan Alendra dan guru wanita tersebut seketika niatnya untuk membalas Alina terurungkan.


"Auw... Alina, lo tega banget sih sama gue," adunya sengaja dilebih-lebihkan.


"Alina. Apa yang kamu lakukan sama dia?" tanya Alendra dengan nada tegas.


"Ayo, berdiri Aurel," ujar guru wanita tersebut membantu Aurel untuk berdiri.


Alina menatap Alendra nyalang. Tidak ada rasa takut sama sekali, bahkan jika dia diberi hukuman sekalipun karena sebuah drama yang Aurel perankan, maka itu jauh lebih baik menurutnya. Mengikuti disetiap pelajaran hari ini menambah pikiran di otaknya saja. Tidak ada yang masuk sama sekali pelajaran yang disampaikan jika keadaannya saja sedang tidak baik-baik saja.


"Nginjak kaki dia, apa? Bapak mau juga?" tawar Alina membuat Alendra semakin geram sendiri rasanya menghadapi segela tingkah dan tindakan yang dilakukan oleh Alina.


"Ikut saya!" Alendra menarik tangan Alina untuk segera pergi dari tempat itu. Bahkan panggilan dari guru wanita tersebut dan juga Aurel tidak ia pedulikan.


"Pak Endra!"


"Pak Endra!"

__ADS_1


__ADS_2