Fire On Fire

Fire On Fire
Rencana Sang Martua


__ADS_3

Hari ini Alina sengaja memesan taksi guna menghindari pulang bersama dengan Alendra. Entah kenapa setelah membaca surat dari Alina asli justru ia dirundung rasa bimbang. Tujuannya sebelum pulang jelas berkunjung ke makam Alina asli dan tubuhnya. Ia ingin mengadu dan juga menanyakan langsung kepada Alina. Paling tidak ia merasa cukup lega meski tidak mungkin mendapat jawaban apa lagi solusi.


"Tungguin bentar ya pak?" Alina keluar dari taksi.


"Siap neng," balas sopir taksi tersebut.


Langkahnya sedang menuju ke makam. Dari pintu masuk juga sudah terlihat makam yang membenamkan tubuhnya. Ia sampai di sana dan dibuat terkejut melihat adanya bunga segar di atas gundukan tanahnya.


Jika dilihat sepertinya seseorang baru saja datang dan sengaja membawakan bunga tersebut. Karena terlihat dan tercium masih sangat segar.


"Siapa? Boy bukan ya?" gumam Alina mengambil bunga tersebut.


Detik berikutnya ia langsung tahu jawabannya tanpa melihat siapa yang sudah membawakan bunga ke rumah terakhirnya. Di bawah banyaknya bunga yang sengaja diletakan di atas pusaranya, Alina menemukan 3 tangkai mawar merah. Dulu Diko selalu memberinya 3 tangkai bunga mawar merah, sebagai tanda rasa sayang yang dimiliki oleh cowok itu.


"Diko," lirihnya.


Hatinya sedikit tersentil mengingat bagaimana kejamnya Ayahnya terhadap hubungannya dengan Diko yang berakhir kandas dan membuat dirinya kini memiliki kehidupan berbeda, namun Alina tidak bisa berharap lebih lagi, kehidupan yang dijalaninya kini sudah berbeda. Alina memiliki tambatan hati sendiri meski banyak masalah yang menghadang dihubungan mereka.


"Maaf Diko, gue janji suatu saat nggak akan rahasiain ini lagi," gumamnya tersenyum tipis.


Sorot matanya kini menatap ke pusara di depannya. Sudut bibirnya ia pasakan untuk tertarik ke atas. Terdengar helaan napas yang cukup dalam, terkadang ia merasa lelah dengan kehidupan yang dia jalani sekarang ini. Selama menjadi seorang Alina yang sudah memiliki suami, banyak kejadian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, termasuk menaruh hati dengan suami Alina asli.


"Alin," lirihnya. Tangannya meraba bunga-bunga yang masih berada di atas makam. "Gue udah baca surat dari lo," lanjutnya lagi.


Matanya terpejam cukup lama, dadanya sedikit sesak rasanya setiap kali mengingat kejadian yang sudah terjadi bersama dengan Alendra. Ia tidak menyesal karena sepenuhnya Alina menginginkan itu, namun isi surat dari Alina asli membuatnya merasa bimbang, Alina dibuat bingung,

__ADS_1


"Lo tahu Lin, gue suka sama Ale," sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas. "Gue manggilnya Ale, kalau lo manggil apa? Kak Endra pasti ya?" masih mencoba untuk becanda ditengah-tengah rasa bimbangnya.


"Lin, gu sama Ale udah ngelakuinnya," kepalanya menunduk tak terhatan. Tanpa disengaja pun air matanya menetes begitu saja. Rasa sakit kembali menghantam di sekitar dadanya setiap mengingat kejadian itu.


"Gue harus apa sekarang? Surat lo bikin gue bingung Lin, pelase bantu gue. Setidaknya lewat mimpi."


Matanya menatap rumah yang sudah cukup lama tidak ia singgahi. Rumah dengan penuh kenangan rasa kesepian Alina. Hidup di rumah besar tanpa adanya kedua orang tuanya. Terkadang ia bisa sampai seminggu tinggal di apartemen Boy tanpa pulang sedetik pun. Sejenak Alina terdiam memandangi rumah tersebut, ada rasa keinginan untuk berkunjung dan menyambangi kamar yang sudah cukup lama tidak ia ketahui bagaimana rupanya kini.


"Neng, pasti salah satu fans Jennifer ya?" tiba-tiba sopir taksi tersebut berkata yang membuat Alina terkejut.


"Sayang banget ya masih muda, cantik, karirnya bagus malah cepet banget dipanggil sama Yang Maha Kuasa," komentar taksi tersebut membuat Alina mengernyit.


"Emang bapak tahu Jennifer?" tanya Alina tampak tidak percaya jika ternyata seorang sopir taksi saja mengetahui keberadaannya.


"Ya jelas tahu lah neng, berita tentang almarhumah Jenni kan sangat menarik untuk dikulik berita tivi, merintis karir ketika masih muda tanpa kedua orang tua, apa lagi wajah cantik blasterannya. Beuh...anak saya juga ngefans banget sama dia, sampai beli yang buat warna mata biar kayak si Jenni katanya," cerita sopir taksi seketika membuat hati Alina terenyuh.


Alina menggeleng dengan senyum harunya. "Ada-ada aja, ya udah pak jalan lagi aja," titahnya.


Sampai di depan gerbang rumah Alendra atau keluarga Alendra. Alina memberikan 3 lembaran uang berwarna merah kepada sopir taksi yang tadi sudah mengantarnya seharian.


"Kebanyakan neng," tolak sopir dengan halus.


"Nggak papa pak, itu karena bapak udah ceritain tentang Jenni ke saya," balas Alina tersenyum simpul.


"Wah...makasih banyak kalau gitu, mari neng," pamit sopir taksi berlalu.

__ADS_1


Baru berapa langkah ia masuk ke dalam. Lagi-lagi Alina sudah dikejutkan dengan adanya Widya di sana. Entah kenapa Alina semakin tidak bisa mengerti akan Widya sekarang, hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja, namun justru Widya malah seakan bersikap aneh, layaknya orang yang tidak sedang memiliki masalah. Berkunjung ke rumah ibu martua Alina jelas sesuatu yang harus Widya pikirkan seharusnya. Meski Ibu Widya kini sudah bekerja di sana, paling tidak Widya berpikir dua kali untuk datang yang tidak sekadar menjemput Ibunya saja.


Lihatlah sekarang. Widya kini dengan santainya sedang memijat kaki mama Intan. Hal itu jelas membuat Alina merasa tidak wajar akan dir Widya. Namun ia malas untuk berpikir apa lagi membahas tentang itu.


"Ma." Alina mendekat dimana mama Intan kini sedang duduk di sofa ruang tengah.


"Lho sayang, kamu kok baru pulang? Dari mana aja hmm? Ini Widya nungguin kamu lho dari tadi," balas mama Intan seketika membuat mood Alina hilang.


Widya ke sana bukan untuk bertemu dengan Alina. Melainkan untuk Ibunya. Setidaknya itu lah yang Alina pikirkan sekarang.


"Sini nak, mama punya sesuatu buat kamu," ujar mama Intan menyuruh Alina untuk mendekat beliau.


"Sudah dulu nak, terimakasih banyak ya? Kamu sangat baik sekali," ujar mama Intan diangguki oleh Widya dengan senyumnya.


"Apa mah?" tanya Alina bingung dengan dua tiket yang diberikan oleh mama Intan.


"Ih kamu ini, anak muda masa nggak tahu sih? Beliau mencubit pipi Alina dengan gemas.


"Ini tuh tiket ke bioskop, nanti malam ada film bagus kata anaknya temen mama. Kamu kalau tidak capek pergi ya sama Endra?" pinta mama Intan penuh harap.


Alina mengernyitkan keningnya. Ia menatap mama Intan dan Widya secara bergantian. Namun ditatap oleh Alina membuat Widya yang masih berada di situ langsung mengalihkan pandangan matanya.


"Emang film apa ma?" tanya Alina dengan polosnya.


Semakin gemas dengan pertanyaan menantu kesayangannya. Mama Intan kembali mencubit pipi Alina dengan pelan. "Tuh ada tulisannya, dibaca coba," titah beliau seketika manik mata Alina memperhatikan tulisan sedang yang berada di kertas tersebut satu persatu.

__ADS_1


"Mama! i-ini film dewasa! Mana bisa tayang di bioskop?" ujar Alina dengan lantang.


"Bisa dong, udah pokoknya kamu sama Endra harus lihat ya?" ujar mama Intan dengan senyum penuh rahasia.


__ADS_2