
Alina berjalan dengan pelan bersama dengan Boy menuju ke sebuah kelab malam yang dulu sering mereka kunjungi. Jika tidak salah kelab malam tersebut jauh dengan kelab malam yang beberapa waktu lalu pernah ia singgahi bersama dengan Alendra dan teman-temannya.
Alina merasa yakin jika ia akan aman karena tidak mungkin Alendra pergi ke kelab tersebut juga. Dulu ketika ia dan Boy sering berkunjung ke sana juga tidak pernah melihat adanya Alendra di sana, semakin membuat Alina yakin jika Alendra hanya pergi ke satu kelab malam dan tidak berpindah-pindah tempat.
"Nostalgia Boy," seru Alina dan diangguki oleh Boy.
Namun ada yang berbeda dengan wajah Boy saat ini. Seperti menyimpan sesuatu yang membuat Alina kini menatap Boy ingin tahu.
"Lo kenapa sih? Nggak seneng banget keliatannya?" tanya Alina yang mendapat gelengan kepala dari Boy.
"Gue nggak suka ya... Ada yang ditutupi di antara kita," jelas Alina kini membuat Boy tidak bisa lagi menahan rasa sedih yang sedari tadi sudah mendesak di dalam dadanya.
Air matanya seakan terdorong untuk keluar, laki-laki tampan namun berhati lembut itu tidak bisa lagi untuk pura baik-baik saja.
"Lah... Kok nangis sih Boy? Why?" tanya Alina bingung sendiri dengan keadaan Boy saat ini.
"Gue kangen lo Jen, kangen Jennifer Mauren yang dulu," jawab Boy membuat Alina mendesah dalam.
Tahu, ia juga sangat tahu dengan apa yang dirasakan oleh Boy sekarang. Alina paham jika meski itu jiwanya namun raga Alina kini sangat berbeda dengan yang dulu membuat Boy merasa seperti ada jarak tipis yang menyekat di antara mereka.
"Gue masih yang dulu Boy, lihat mata gue," titah Alina yang disetujui oleh Boy.
"Jenni kan? Bukan Alina?" tanya Alina yang diangguki oleh Boy.
Detik berikutnya Alina sudah mendorong wajah Boy dengan tangannya karena terlalu dekat dan lekat menatap manik matanya tadi.
"Auw Jejen," kesal Boy membuat Alina terkekeh.
"Pen ketawa gue liat muka lo mendadak kayak laki tadi," beritahu Alina seraya menarik Boy untuk segera masuk ke dalam.
"Gue lagi nyari bola mata biru lo Jenni," jelas Boy membuat Alina terkekeh.
__ADS_1
Mana ada bola mata biru pada tubuh Alina yang sekarang. Warna mata keduanya sangat jauh berbeda, Alina yang memiliki bola mata berwana hitam pekat dan jernih, sementara Jennifer memiliki bola mata berwarna biru dari Daddy nya yang memang keturunan warga negara Jerman.
"Ngaco aja deh," dumel Alina menarik masuk Boy.
Musik sudah terdengar nyaring di telinga Alina. Kepalanya juga sudah bergerak sesuai irama musik yang DJ mainkan. Sejenak Alina terdiam mengamati kursi di depan bartender yang dulu sering ia duduki di sana.
"Bengong aja, maju sayy," ujar Boy menarik tangan Alima untuk segera maju ke depan.
"Wuih... Siapa nih Boy?" tanya salah satu pramutama bar melihat kedatangan mereka.
Boy mencebik dengan pertanyaan salah satu teman tidak akrabnya itu. "Nanya lagi, ya Jen-oh maksud gue cewek cantik lah, lo nggak lihat dia cantik gini?" balas Boy yang diangguki setuju oleh pramutama bar tersebut.
"Cantik, tapi kasian lo bawa-bawa ke sini kayaknya masih polos banget Boy," bisiknya membuat Boy mendelik.
Tidak tahu saja pramutama tersebut jika gadis polos di depannya ini seorang mantan bosnya yang dulu sering memberikan uang tip kepadanya.
"Banyak cincong deh lo, buruan bikinin gue minum yang bikin tenggorokan goyang," titah Boy diacungi jempol oleh bartender tersebut.
Senyumnya terbit ketika menyadari bahwa tidak ada yang mengenalinya sama sekali di sana. Padahal dulu ada beberapa wartawan yang malah dengan sengaja mengikuti kegiatannya secara diam-diam demi sebuah berita. Alina baru sadar ternyata seenak ini hidup bebas tanpa dikejar oleh peliput berita.
"Ngaco! Gue tuh seneng karena ternyata nggak ada yang ngenalin gue di sini Boy," ujar Alina diangguki oleh Boy.
"Setuju Jen, gue juga ikut ngerasa bebas nggak perlu tuh ngusir-ngusir para wartawan kepo kayak dulu," jelas Boy membuat keduanya tertawa dan kembali menikmati minuman serta musik yang sedang disuguhkan.
Baru saja Alina akan kembali meneguk minumannya. Ponselnya tiba-tiba terasa bergetar. Sebenarnya sudah sedari tadi ponsel yang sengaja ia taruh di dalam tas itu bergetar. Namun ia baru merasakannya sekarang.
Bola matanya seketika membulat dengan sempurna saat melihat nama Mama Intan yang tertera.
"Anj*r gue lagi dugem gini emak martua telpon," gumam Alina bingung sendiri.
"Napa? Mas ganteng?" tanya Boy melihat kegelisahan pada raut wajah Alina.
__ADS_1
Kepalanya menggeleng. Otaknya juga masih berpikir cara tepat yang harus dilakukannya sekarang. "Mama martua Boy," beritahu Alina seketika membuat Boy mendelik dan buru-buru menaruh minuman yang memabukkan itu di atas meja bar.
"Buruan ke toilet! Lo mau kena semprot menantu tidak tahu diri martua pergi malah kelayaban?" titah Boy yang langsung disetujui oleh Alina.
Ia segera pergi menuju ke toilet. Meski wajahnya sangat asing di tempat itu. Namun letak-letak ruangan di kelab malam tersebut masih dapat Alina ingat dengan sangat jelas.
Merasa sudah pas dan musik sudah tidak begitu terdengar lagi. Alina bersiap-siap untuk menerima sambungan telepon dari Mama Intan.
"Hallo ma," sapanya dengan ramah.
"Sayang sudah tidur ya? Maaf mama mengganggu," beritahu Mama Intan dari sebrang telepon.
"Iya nggak papa kok ma, kenapa?" tanya Alina langsung saja.
Dia tidak mau berlama-lama, Tidak enak rasanya membohongi orang tua sebaik Mama Intan.
"Besok pagi tolong sampaikan ke Endra sebelum mengajar ke sekolah suruh bawa berkas-berkas di meja kerja papa ke kantor ya? Dari tadi mama telponin nggak diangkat, Endra di rumah kan sayang?" tanya Mama Intan ingin tahu.
"Oh i-iya ma besok Alin sampaikan. Udah tidur juga kok ma," balas Alina membuat Mama Intan merasa lega.
"Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat lagi ya sayang, maaf lho mama ganggu," pamit mama Intan setelah itu mematikan sambungan teleponnya.
Napasnya kembali lega. Alina sampai geleng-geleng kepala menyadari tingkah Alendra dan dirinya saat ini. Sama-sama sedang pergi dan tidak bisa berdiam diri di rumah.
"Ngapain sih si Ale? Ditelpon nykokap sampai nggak diangkat?" gumam Alina merasa penasaran.
Ada segelintir pikiran jika Alendra mungkin saja sedang bersama kekasihnya yang Alina sebut tante itu. Jika memang iya, maka Alina harus bertindak sesuatu. Terkadang Alina sendiri merasa aneh, jika disentuh oleh Alendra ia akan marah, namun tidak dipungkiri mengingat jika Alendra menyentuh wanita lain termasuk kekasihnya itu juga membuatnya merasa marah dan ada segelintir perasaan kecewa.
Perasaan yang tidak mudah untuk Alina pahami. Ia tidak ingin menyebutnya jika itu cinta, karena ia tahu persis perasaan cinta itu seperti apa. Yang dia tahu saat ini ialah baik Alendra atau pun dirinya kini mulai memiliki rasa ketertarikan, meski keduanya tidak mau untuk mengakui atau berterus terang.
"Bodo ah... Nambah-nambahin pikiran aja-"
__ADS_1
Suara Alina terdengar memelan diakhir kalimatnya. Tepat disaat ia berbalik badan untuk kembali ke meja bar. Diko entah datangnya dari mana sudah berdiri tepat di depannya dengan tatapan jelas mengamati Alina.
"Lo yang waktu itu kan?" tunjuk Diko pada Alina.