Fire On Fire

Fire On Fire
Tragedi Di Ruang Guru


__ADS_3

Menjadi anak pemilik sekolah membuat Alendra mempunyai wewenang sendiri di sekolah tersebut. Salah satunya ialah ruangan Alendra yang memang lebih berbeda dengan guru yang lain. Itu bukan permintaan Alendra sendiri dan bahkan ia sempat menolak ketika disediakan ruangan khusus untuknya. Melainkan Bapak Kepala Sekolah yang memang meminta sampai memaksanya. Menolak permintaan yang cukup menguntungkan untuknya juga bukanlah tipe Alendra.


Dan disinilah Alina dan Alendra kini berada. Di ruangan Alendra yang sama sekali belum pernah dimasuki oleh siswa atau pun siswi. Alina siswi pertama yang masuk dan Alendra sendirilah yang memaksanya tadi.


Bruk


Beberapa buku tebal sengaja Alendra keluarkan di depan Alina. Membuat gadis itu mengernyit bingung dengan apa yang akan Alendra suruh berikutnya. Terkadang apa yang dilakukan atau perintah Alendra juga sama tidak masuk akalnya dengan tindakan Alina. Keduanya memiliki keunikan sendiri.


"Kerjakan soal di halaman 36," ujar Alendra seketika membuat Alina bangkit dari duduknya.


Jelas Alina akan menolak perintah Alendra itu. Ia lebih baik dihukum dari pada harus mengerjakan soal yang membuat otaknya semakin panas.


"Nggak mau, hukum saya saja pak Ale, cabut rumput atau apa gitu kek," tawar Alina membuat Alendra terkekeh.


Langkahnya pelan menuju dimana kini Alina berada. Sengaja ia duduk di sudut mejanya sembari menatap Alina yang masih berdiri dengan lirikan mata ogah-ogahan menatap ke arah beberapa buku yang sudah Alendra ambilkan tadi dari lemari.


"Kamu pikir saya tidak tahu rencana licik kamu Alin?" tanya Alendra membuat Alina mengernyit.


"Kerjakan kalau tidak mau temanmu saya hukum lagi," titah Alendra membuat Alina semakin bingung.


Teman Alina yang dihukum siapa? Apa maksud Alendra itu adalah Widya. Di sekolah memang Alina hanya berteman dengan Widya seorang.


"Kapan bapak hukum Widya?" tanya Alina membuat Alendra seketika ikut bingung.


Bukan Widya yang Alendra maksudkan. Namun teman Alina yang sudah berani sekali mengajak Alina pergi ke kelab malam. Beruntung ia memergoki karena memang kelab malam yang sering Alina kunjungi bersama dengan Boy itu kini sudah dibeli secara resmi oleh keluarga Ben.


"Oh... Jangan bilang pak Ale masih dendam sama Boy," tebak Alina seketika membuat Alendra terkekeh.


"Tidak mungkin saya dendam sama laki-laki seperti dia. Namanya saja Boy, tapi tingkahnya ternyata pingky boy," cibir Alendra melirik Alina


Usut punya usut, tadi malam ketika Boy disuguhkan dengan beberapa wanita cantik dengan syarat untuk menjauhi Alina. Laki-laki berhati lembut itu malah lebih menginginkan tidur bersama dengan kedua sahabat Alendra. Sontak saja mereka semua terkejut tahu akan jati diri Boy yang sesungguhnya.


Jika dilihat Boy memang seperti lelaki perkasa pada umumnya. Namun kenyataan yang ada ialah Boy laki-laki yang butuh sentuhan layaknya seorang wanita.


Malas berdebat dengan keadaan emosinya yang sedang tidak setabil. Alina akhirnya memilih mengalah dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh Alendra. Beberapa tumpukan bukun yang sudah Alendra keluarkan akan dia ambil dan berniat untuk di bawa ke kelasnya. Namun ketika ia akan beranjak untuk pergi. Tangan Alendra sudah lebih dulu mencekalnya.


"Apa lag-"

__ADS_1


"Ssttt....ada yang datang," beritahu Alendra ketika terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.


Entah Alendra yang memang sengaja menggunakan momen tersebut untuk membuat Alina tetap berada di ruangannya. Atau Alendra yang memang tidak berpikir matang jika harusnya ia bersikap biasa saja, toh Alina di ruangannya untuk diberi tugas. Mereka tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Namun setatus mereka secara diam-diam malah membuat Alendra seakan seperti hampir saja dipergoki oleh seseorang.


"Pak Endra boleh saya masuk," terdengar suara dari luar pintu.


Keduanya saling tatap dengan sedikit rasa cemas.


"Kamu sembunyi di sini dulu Alin," titah Alendra menyuruh untuk Alina bersembunyi di bawah mejanya.


"Masuk saja," balas Alendra duduk di kursinya.


Posisinya Alina berada tepat di depan Alendra saat ini. Bedanya Alina berada di bawah meja untuk menutupi tubuhnya.


Ceklek.


Guru wanita yang bersama dengan Alendra tadi datang. Ia masuk dan langsung duduk di depan Alendra.


"Ada apa bu Tina?" tanya Alendra dengan tenang.


"Begini pak, saya ke sini untuk membahas kejadian tadi, kaki Aurel mengalami lebam karena injakan dari Alina. Jadi alangkah baiknya Alina diberi hukuman sesuai dengan perbuatannya?" usulnya membuat Alendra mengangguk pelan.


"Pak Endra barusan dengar sesuatu?" tanya beliau yang langsung mendapat gelengan dari kepala Alendra.


Jelas ia akan membantah, meski Alendra sendiri cukup kesal dengan Alina atas tindakannya barusan.


"Tidak ada apa-apa bu, apa anda sudah memberitahu kejadian ini dengan guru BK?" tanya Alendra yang mendapat gelengan kepala dari Bu Tina.


"Belum pak. Saya ke sini sengaja untuk mengkonfirmasi terlebih dahulu dengan pak Endra. Baiknya gimana," ujar beliau lagi-lagi membuat Alina mencebik.


"Itu sih modus," lagi-lagi Alina berujar yang membuat Bu Tina semakin penasaran dengan suara-suara yang ada pada ruangan tersebut.


"Pak Endra sama siapa di sini?" tanya beliau penasaran.


"Sama anda bu," balas Alendra mencoba untuk bersikap setenang mungkin. Bayangkan saja Alina dengan sengaja di bawah sana mencabuti bulu kaki Alendra satu persatu. Ingin mengaduh namun keberadaan Bu Tina membuat Alendra lebih memilih menahan nyeri pada sekitar kakinya.


"Apa saya salah denger ya dari tadi? Pak Endra saya takut," ujar beliau seraya bangkit dari duduknya. Niatnya jelas untuk mendekati Alendra dengan alasannya itu.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa bu. Mungkin yang ibu dengar tadi suara tikus yang berada di ruangan ini," balas Alendra secara enteng.


Mendengar ucapan Alendra seketika membuat Alina murka. Sengaja ia mengambil beberapa helai rambut pada kaki Alendra untuk ia cabut dalam sekali. Dan hasilnya.


"Ahh..." lirih Alendra kembali menahan rasa sakit. Namun suara itu lebih terdengat seperti desa*an dari pada rintihan. Bu Tina yang masih berada di ruangan Alendra seketika menatap Alendra dengan genitnya.


"Ada apa pak? Apa tikusnya menggigit bapak?" tanya beliau sedikit menggoda.


"Tidak. Tikus di sini sangat nakal, sebaiknya anda segera pergi sekarang, saya juga akan bersiap untuk memberi pelajaran dengan tikus nakal itu," jelas Alendra membuat Bu Tina akhirnya menyerah dan pamit untuk keluar.


Melihat wajah merah Alendra yang sepertinya sedang menahan marah karena tikus di ruangannya membuat Bu Tina memilih untuk pergi. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mendekati Alendra.


"Baik, biar saya panggilkan pak Aden untuk membersihkan ruangan bapak," ujar beliau seraya pergi keluar.


Pak Aden salah satu yang bertugas sebagai pembersih di sekolah tersebut.


Baru setelah kepergian Bu Tina. Alendra menatap tajam Alina yang masih asik dengan bulu di kakinya.


Meja di depannya sengaja ia dorong kasar dengan kakinya. Tubuh Alina kini dapat dilihat dan menoleh ke arahnya.


"Udah pergi ya bu caper?" tanya Alina tanpa berdosanya.


Gadis itu memang sengaja bersikap cuek seakan baru saja tidak terjadi apa-apa. Ia kesal dengan Alendra yang tiba-tiba menyuruhnya bersembunyi karena kedatangan Bu Tina tadi. Padahal bisa saja kan Alina pergi layaknya seorang siswi biasa.


"Kamu apakan kaki saya Alin?" tanya Alendra menatap tajam Alina.


Langkahnya maju untuk menyudutkan Alina.


"Nggak saya apa-apakan kok pak, malah saya bersihin secara geratis," balas Alina membuat Alendra mengepalkan tangannya.


Ditariknya Alina dengan cukup kencang, bahkan buku yang tadi akan Alina bawa sampai berjatuhan di lantai. Kemudian tanpa menunggu lama lagi sengaja ia kecup bibir mungil yang selalu berhasil membuat emosi Alendra naik.


"Bibir kamu terlalu nakal Alin, harus sering saya beri hukuman," ujarnya sebelum akhirnya sebuah ciuman ia lakukan pada bibir mungil tersebut.


Alina membulatkan matanya. Ini di ruangan seorang guru. Bagaimana kalau sampai ada yang melihat? Atau ada CCTV yang merekam aksi mereka.


Namun sepertinya selain sedang diliputi amarah Alendra juga sudah diliputi rasa gair*h, terbukti dari ciuman panas itu kini tidak membuatnya melepaskan Alina, namun malah semakin memperdalam dan sedikit memainkan bibir mungil itu agar mau terbuka.

__ADS_1


Alina berusaha untuk berontak dengan mendorong tubuh tegap Alendra. Namun karena kalah tenaga jelas usaha Alina sia-sia saja. Sampai tanpa disadari ciuman panas yang terjadi di antara mereka dengan sedikit paksaan dari guru tampan itu disaksikan langsung oleh seorang siswi yang ternyata sedari tadi sudah berusaha mengetuk pintu ruangan Alendra.


__ADS_2