
Setelah kepulangan Widya yang seakan diusir secara halus tadi oleh Alendra. Alina dibuat tidak berkutik dengan segala tindakan Alendra yang memang sengaja ingin mengengkangnya. Sedari tadi Alina mencoba untuk naik dari kolam, namun Alendra melakukan segala cara agar ia tetap berada di dalam kolam bersamanya. Salah satunya ialah Alendra dengan sengaja menarik tarikan b*r*a yang terlihat jelas karena seragam basah milik Alina.
"Mau lo apa sih?" final Alina tidak bisa lagi menahan emosi.
Meski mencoba berontak seratus kalipun atau sampai Alina lelah sendiri jika Alendra masih berniat untuk mengerjainya hasilnya tetap saja akan sia-sia. Alendra akan melakukan berbagai cara dengan otak liciknya.
"Temani aku di sini," balas Alendra seketika membuat Alina berdecih.
Rasanya tidak sudi sekali menemani laki-laki seperti Alendra. Bukannya meminta secara halus atau bila perlu dengan cara yang romantis malah menariknya dengan cara paksaan seperti tadi.
Biar pun Alina marah setidaknya Alendra harus berusaha bersikap lebih manis lagi dengannya.
"Nggak mau, lo udah ngusir temen gue Ale," tolak Alina membuat Alendra terkekeh.
"Oh ya?" jawabnya enteng.
"Iya, perusak suasana tahu nggak!" decak Alina seketika membuat Alendra terkekeh.
"Ini rumah aku Alin, aku berhak melakukan apapun sesukaku," ujar Alendra dengan angkuhnya.
Sepertinya sifat tidak tahu diri Alendra memang sudah mendarah daging pada relung jiwa dan raganya. Meski diawal terlihat akan berakhir romantis tadi. Tetapi jika keduanya sudah saling melempar kata, yang ada pertengkaran yang terjadi hanya karena masalah sepele.
"Terserah. Minggir gue mau naik." Alina mencoba untuk meloloskan diri dari kukungan Alendra. Namun lagi-lagi nasib baik sepertinya sedang tidak berada dipihaknya. Dengan sengaja Alendra membawa Alina kembali menyelam dan bahkan melakukan sesuatu yang bisa dibilang sangat nekat.
"Naik?" senyum Alendra terlihat sangat mengerikan.
Dengan sengaja Alendra menarik tengkuk leher Alina untuk dia kecup. Seakan sudah sangat mahir berada di dalam air. Tangan yang satunya ia gunakan untuk menarik pinggang ramping Alina agar lebih mendekat dan menempel pada tubuhnya.
Alina terkejut. Namun dia tidak bisa melakukan apa-apa selain mencoba mendorong tubuh Alendra agar menjauh darinya. Hasilnya nihil, karena semakin Alina mencoba mendorong tubuh Alendra semakin Alendra menekan tubuhnya agar lebih mendekat.
Fyuh
Napas Alina memburu ketika Alendra membawa kembali wajahnya ke permukaan air.
__ADS_1
"Hah..hah..hah...." Alina mencoba menarik napas sebanyak-banyaknya. Seakan oksigen yang ia hirup tinggal tersisa sedikit lagi.
"Lumayan merdu," komentar Alendra seketika membuat Alina mendelik.
"Dasar me**m," cibir Alina berusaha untuk kembali naik ke atas.
"Bukan kamu Alina, tapi burung aku," ujar Alendra membuat langkah Alina seketika terhenti.
Ia sudah berhasil menjauh dari Alendra dan berniat meninggalkan Alendra yang pasti akan semakin mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Bisa nggak sih nggak usah jorok gitu ngomongnya! Lo tuh guru Ale, nggak mencerminkan banget sebagai guru," decak Alina kesal, tetapi tawa Alendra malah terdengar semakin kencang.
"Kamu tidak dengar burung aku sedang berbunyi Alin?" nampaknya pertanyaan Alendra kali ini sedikit menjebak Alina.
Buktinya Alina kini dengan bod*hnya melirik ke arah bagian bawah Alendra yang sudah berdiri di pinggir kolam.
Glek
"Gue nggak peduli!" ketus Alina berniat untuk pergi. Menanggapi ucapan Alendra malah membuatnya gila sendiri nantinya. Laki-laki itu mana bisa serius. Jika tidak mengejeknya sudah pasti akan menggodanya dengan seribu cara yang membuat Alina malah malu sendiri nantinya.
Namun ketika ia kembali melangkahkan kakinya. Sebuah burung besar berwarna biru tua terbang tepat di atasnya dan bahkan hampir saja mengenai kepalanya.
"Anj*r gede banget!" keget Alina dengan kedatangan burung tersebut.
Alendra terkekeh melihat reaksi Alina tadi. Ia mendekat bersamaan dengan burung biru besar itu yang sudah berada di punggungnya. Terlihat sangat gagah seperti pemiliknya.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan Alina," bisik Alendra berlalu pergi.
Alina terdiam. Ia meremat tangannya dengan perlakuan Alendra yang selalu berhasil membuatnya emosinya naik dan berujung malu sendiri.
"Uh...dasar ibl*s tampan," umpat Alina berlalu pergi.
Malam ini ada yang berbeda. Alina sudah rapih untuk menjemput mama Intan dan pak Dirta yang sudah kembali ke ibu kota. Keduanya sudah menunggu di bandara setengah jam yang lalu. Karena Alendra memakan waktu cukup lama di kamar mandi membuat mereka harus telat menjemput kedua orang tua Alendra.
__ADS_1
"Buruan Ale!" teriak Alina yang sudah siap di dekat mobil.
Alendra datang dengan penampilan yang sudah pasti selalu menyegarkan mata bagi siapa saja yang melihat. Ia langsung masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan sepatah kata pun untuk Alina yang sedari tadi sudah protes.
"Tumben kalem," gumam Alina ikut masuk ke dalam mobil.
"Astaga... Bisa nggak sih sopan dikit nyetirnya!" protes Alina tatkala Alendra dengan sengaja melajukan mobilnya cukup kencang disaat Alina sedang merapihkan dres yang dikenakannya.
Baru saja dipuji, sudah bertingkah lagi. Ujar Alina dalam hatinya.
Perlu kalian tahu. Mama Intan dan juga pak Dirta tidak hanya menyuruh mereka untuk menjemput saja. Tetapi juga meminta agar Alina dan Alendra berpakain layaknya seseorang yang akan pergi ke pesta. Tipikal yang tidak mau mengambil pusing. Keduanya menurut saja tanpa protes.
Biasanya mereka akan protes jika sesuatu hal itu menyangkut hanya mereka berdua saja. Seperti yang baru saja Alina lakukan.
Ekor mata Alendra melirik Alina sekilas. Namun dia tidak menanggapi ucapan Alina tadi. Melihat penampilan Alina malam ini sebenarnya cukup mengganggu mata Alendra. Bayangkan saja Alina menggunakan dres yang membuat beberapa lekukkan pada tubuhnya dapat terlihat dengan jelas.
Dari awal ia keluar dan melihat Alina otaknya sudah berpikir yang tidak-tidak.
Sampai mobil berhenti di bandara pun keduanya masih sama-sama saling diam. Sebenarnya ini cukup menguntungkan untuk Alina. Ia jadi bisa menghemat tenaga karena tidak emosi. Namun semua itu tidak berlangsung lama ketika tangan Alendra meraih tangannya untuk ia genggam. Kebiasaan Alendra ialah bersikap manis kepada Alina di depan kedua orang tua mereka.
"Ck, mulai drama," decak Alina melirik sinis Alendra.
Keduanya berjalan bergandengan tangan menuju dimana mama Intan dan juga Pak Dirta sedang menunggu. Namun tiba-tiba semua terasa berat saat tanpa sengaja tatapan mata Alina menatap ke arah wanita yang sedang berjalan dengan seseorang.
Deg
Detak jantungnya seakan berhenti berdetak melihat wajah ceria dihiasi sebuah tawa dari wanita tersebut. Terlihat betapa bahagianya wanita itu dengan orang yang berada di sebelahnya. Wanita yang sangat dia rindukan, namun membuatnya kecewa dan juga ingin marah.
Langkah Alina terhenti. Tubuhnya terasa lemas saat tatapan matanya tanpa sengaja beradu dengan wanita yang sedari tadi ia perhatikan.
"Ada apa?" tanya Alendra menatap Alina bingung.
"Mom and uncle," gumamnya lirih.
__ADS_1