Fire On Fire

Fire On Fire
Sahabat Tapi VS


__ADS_3

Sudah sekitar 4 hari Alendra pergi ke luar kota. Selama itu juga keduanya sama sekali tidak saling menanyakan kabar lewat apapun. Alina yang mengira Alendra sudah membaca surat yang Alina asli tuliskan dan sedang memikirkan bagaimana hubungan keduanya kedepan, sementara Alendra di luar kota sana sedang mencoba fokus agar rasa amarahnya terhadap Alina karena foto-foto juga vidio yang dia dapatkan tidak memecah kosentrasinya ketika bekerja. Alendra ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang. Ternyata pekerjaan yang pak Dirta percayakan kepadanya lebih dari satu proyek saja. Alendra harus menghandle semua dengan bantuan dari menejer di kantornya juga asisten pak Dirta.


Hari ini Alina berniat untuk kembali ke rumah martuanya nanti setelah pulang sekolah. Mama Intan sudah meminta Alina untuk ke sana dan mengeluh sepi tanpa adanya anak dan menantunya.


"Ma. Alin pamit sekolah ya? Nanti pulangnya langsung ke rumah mama Intan," pamit Alina menyalami tangan kedua orang tuanya secara bergantian.


"Hati-hati ya nak, sering-sering nginep di sini. Sama Endra juga kalau udah pulang," balas mama Diana yang dijawab Alina dengan anggukan kepalanya.


Sampai di sekolah. Alina berjalan cukup pelan, ternyata tidak adanya Alendra membuat beberapa siswi sengaja tidak datang ke sekolah. Dengan berbagai alasan yang siswi-siswi itu lakukan, ada yang beralasan sakit, juga ada yang beralasan sedang ke rumah saudara di luar kota. Semua mereka lakukan sebagai bentuk protes karena Alendra yang terus absen untuk mengajar beberapa hari ini.


Jika Alina. Ia mulai merasa tenang, terlebih kini teman-temannya tidak begitu membuat masalah lagi dengannya, termasuk Aurel dan gengnya. Teman kelasnya yang biasanya juga ikut mencibir kini sibuk bertanya dengan Widya yang mengaku tahu dimana Alendra karena Ibunya kerja dengan keluarga Alendra.


"Wid, kapan pak Endra pulang dan ngajar?" tanya salah satu siswi.


"Iya, lama banget sih? Lo tanya ke sama nyokap lo."


"Bosen juga lama-lama sekolah kalau gini."


"Untung kita masih kuat iman, coba kalau nggak? Udah kayak anak-anak kelas sebelah yang sengaja banget buat bolos tanpa pak Endra."


"Kalian tenang aja, pak Endra minggu ini balik kok," balas Widya seketika membuat beberapa teman sekelasnya itu menatapnya serius.


"Serius lo? Kapan?" tanya salah satu dari mereka.


Widya menggelengkan kepalanya. Ia hanya tahu dari Ibunya kalau Alendra minggu ini akan pulang, tetapi untuk lebih jelasnya. Widya tidak mengetahui.


"Aku nggak tahu kalau itu," balas Widya seketika membuat yang lain mencebik.


"Yeee kirain, penampilan aja sok gaya masih cupu juga lo," cibir mereka meninggalkan mereka.


Tanpa mereka ketahui. Widya mengepalkan tanganhta kuat. Meski dia tidak berani membalaa cibiran atau segala bentuk tindasan dari teman-temannya, bukan berati Widya terima begitu saja. Ia dendam dan sangat ingin membalas.

__ADS_1


Alina masuk dan mendapati Widya yang sudah duduk di tempatnya. Juga beberapa teman kelasnya yang lain. Namun ada yang berbeda dengan Widya kali ini ketika menatap matanya. Ia seperti menyimpan sebuah dendam dengan Alina. Dendam yang Alina sendiri tidak tahu apa kesalahannya jika tatapan mata yang Widya lemparkan padanya itu sebuah ketidaksukaannya.


Sejak Gevan memberi tahu tentang Widya yang berusaha membocorkan rahasia besar tentangnya. Menjauh dari Widya menurut Alina jauh lebih baik. Widya terlalu sulit untuk ditebak, diamnya Widya dengan wajah lugunya juga membuat Alina tidak yakin jika menyerang Widya secara langsung.


Huek


Tiba-tiba Alina merasa mual yang berlebihan ketika mencium aroma parfum dari salah satu teman sekelasnya. Menurutnya bau parfum itu sanga tidak enak dan menganggu.


Huek


Lagi-lagi Alina kembali merasa mual, dan bahkan semakin terasa mendesak untuk keluar dari dalam perut. Buru-buru ia keluar dari kelas untuk menuju ke toilet. Sementara teman-teman kelasnya kini mulai bergunjing tentangnya. Hal itu tidak luput dari pendengaran Widya yang ikut menyimak cibiran dari teman-teman kelasnya untuk Alina.


"Kenapa si Alin?"


"Jangan-jangan hamil."


"Ngaco ah."


"Ih nggak percaya. Lo lupa kalau si Alin banyak cowoknya? Dia mauan, wajar lah kalau hamil."


"Anak kak Gevan mungkin kalau nggak cowok yang kemarin di foto itu."


"Terserah mau anak siapa, yang penting bukan anak pam Endra aja."


"Ya kali anak pak Endra, mana sudi pak Endra sama cewek mauan kayak dia."


"Tapi kan dulu pak Endra sering perhatiin Alin."


"Itu dulu, sekarang beda dong, gue yakin pak Endra bakal risih ma tuh cewek, apa lagi kalau Alina beneran hamil."


Mereka semua tertawa setelah mengatakan hal itu. Dengan kejadian tadi membuat teman-teman sekelasnya menjadikan Alina bahan gosip lagi. Namin Widya, setelah mendengar obrolan teman-temannya ia justru semakin panik.

__ADS_1


Ketakutan terbesar Widya sekarang ialah jika Alina benar hamil, dan anak itu anak dari Alendra.


"Enggak! Nggak mungkin." Widya menggeleng dan segera beranjak dari duduknya.


"Kenapa tuh anak?"


"Biasa, cupu suka berlagak aneh emang," tawa dari teman-temannya terdengar saat melihat Widya tiba-tiba pergi.


"Ikut aku Alin!" tiba-tiba Widya datang menghampiri Alina yang baru saja keluar dari toilet.


"Apa-apaan sih Wid? Lepas!" tolak Alina mengibaskan tangannya.


Widya melirik ke sekitar lorong kamar mandi. Buru-buru dia menutup salah satu pintu toilet agar tidak ada yang melihat interaksi keduanya.


"Minggir bisa nggak? Gue mau lewat," ujar Alina menatap Widya. Namun Widya tetap kekeuh berdiri di depannya seraya menatap Alina dengan ragu.


"Alin, kamu hamil?" tanya Widya pada akhirnya.


"Hah?" beo Alina tidak percaya dengan pertanyaan yang Widya lontarkan.


"Ka-kamu beneran hamil Lin? Ka-kamu udah ngelakuin itu kan sama pak Endra?" tanya Widya semakin membuat Alina merasa aneh dengan Widya.


"Jawab Lin, ka-kamu nggak ha-hamil kan?" kini pertanyaan Widya semakin menekan Alina.


"Maksud lo apa-apaan sih Wid? Gue hamil atau tidak itu bukan urusan lo, dan gue lakuin itu atau nggak itu juga bukan urusan lo Wid, pak Endra suami gue, jadi lo nggak usah ikut campur," jelas Alina menekan Widya.


Setelahnya ia sedikit mendorong tubuh Widya agar menyingkir darinya. Alina pergi meninggalkan Widya yang kini sedang mengepalkan tangannya bersamaan dengan air mata yang mulai keluar.


"Nggak Alin, gue nggak akan rela."


"Akhh!" Widya menggebarak pintu toilet di depannya.

__ADS_1


Terdengar helaan napas dari Alina. Sejujurnya ia masih merasa sedikit mual, namun sudah tidak sehebat seperti tadi.


Apa sebenarnya mau lo Wid? Batin Alina kembali masuk ke kelas.


__ADS_2