
"Aku setuju dengan hal itu, dan ingat jangan berpatokan dengan ijazah tapi fokuskan dengan kemampuan mereka seperti di perusahaan ini, semua orang memiliki perbedaan tergantung dari seberapa besar niat mereka untuk bekerja kepada kita" ucap Linda mengingatkan karena buat dia memiliki ijazah s2 atau s3 belum tentu memiliki kinerja lebih baik dari lulusan SMA bahkan di perusahaannya banyak yang hanya ijazah SMP namun sangat berdedikasi tinggi dan bahkan menjadi team leader.
"Baik Miss, kami semua akan mengingatnya dan akan lebih jeli dalam proses interview dan rekrutmen, serta pelatihannya" ucap Mister Alexander.
"Miss Linda, saya dan Mister Alexander meminta izin anda untuk besok jam dua belas siang ke Kota Bandung Indonesia bersama dengan Tuan Farrell, adapun kenapa kami berangkat bersama dengan Tuan Farrell karena kami harus melihat kondisi bangunan tersebut dan melakukan renovasi renovasi tentunya." Ucap Mister Grahan.
"Silahkan mulai di hitung kebutuhan kalian selama satu tahun ke depan dan Jane keluarkan dananya, jadi yang kita keluarkan dari dana perusahaan selain pembelian aset dan pembangunan namun biaya hidup kalian berlima selama satu tahun sekalian serta biaya tidak terduga juga, keluarkan lebih awal jika perlu sore jni dananya sudah siap, bagikan ke semuanya dan berikan laporannya kepadaku setelahnya" ucap Linda dengan ramah.
"Miss Linda saya sudah mengeluarkan dua puluh persen dari dana pengembangan usaha perusahaan sesuai yang saya emailkan kepada anda, dan setelah ini saya akan hitung ulang semuanya, semoga saja dua puluh persen dana itu cukup, jika tidak maka saya akan keluarkan lagi, tapi maaf miss, biaya hidup di Indonesia saya tidak mengetahuinya" ucap Jane yang merupakan direktur keuangan dengan sangat sopan dan hormat.
"Gunakan hitungan biaya di sini, pemasukan kalian berlima jika menggunakan hitungan Indonesia akan turun jauh dan saya tidak ingin hal itu terjadi jadi gunakan hitungan di sini saja" ucap Linda sambil tersenyum hangat ke mereka semua.
"Baik Miss, jika demikian seharusnya semuanya sudah cukup namun nanti saya akan hitung ulang agar tidak ada yang terlewat" ucap Jane dengan sopan.
"Baik, apakah ada hal lain yang hendak di bahas, jika tidak maka silahkan lanjutkan pekerjaan kalian" ucap Linda dengan sangat ramah.
Satu persatu mulai berdiri lalu memberikan salam dan meninggalkan ruang rapat tersebut sehingga hanya tersisa Linda dan Mily saja.
"Mily, tolong siapkan satu orang wanita yang dapat di percaya untuk merawat ruang kerjaku dan juga rumah ku" ucap Linda.
__ADS_1
"Miss sudah disiapkan semuanya, yang bertanggung jawab untuk ruangan kerja dan rumah anda adalah Claudia dalam lima tahun ini jadi ke depannya dia yang akan mengurusnya lagi" jawab Mily.
"Oke jika demikian, sekarang tolong siapkan sarapan untukku, perutku sudah minta di isi, bawa ke ruang kerjaku saja ya" ucap Linda sambil berdiri dan melangkah keluar dari dalam ruang rapatnya.
"Baik Miss" ucap Mily sambil mengikuti Linda namun dia mengarah ke Lift untuk menuju ke Kafetaria.
Linda langsung duduk kembali di kursi kerjanya dan melihat jika ada pesan masuk yang ternyata dari Farrell.
"Miss Linda maaf jika saat kita di Indonesia saya ada salah salah terhadap anda, dan terima kasih sudah mau membeli aset yang saya jual" tulis Farrell melalui pesan singkat itu.
"Farrell jangan kaku begitu, sudah seperti biasa saja, bukankah kita berteman, tapi maaf aku tidak bisa menemui mu karena masih banyak yang harus aku kerjakan" balas Linda melalui pesan singkat.
Linda langsung menyimpan kembali ponselnya di atas meja dan dia kembali memeriksa email email yang masuk melalui laptopnya, karena dalam satu hari ratusan email project report masuk meskipun sudah di handle oleh Mily namun dia tetap memeriksanya juga.
Dua puluh menit berlalu dan kini Mily sudah kembali dengan membawa makanan untuk Linda dan dirinya juga, karena satu kebiasaan Linda selama ini adalah selalu meminta di temani makan.
"Mily sepertinya kau sangat lapar, sampai sarapan saja kau membeli steak" ucap Linda sambil menutup laptopnya dan mendekatkan piring yang berisi steak.
"Tadi di kafetaria saya lihat steak jadi saya pilih ini saja, oh ya miss seminggu yang lalu ada restoran baru loh di buka dan itu restoran masakan Indonesia" ucap Mily.
__ADS_1
"Ngobrolnya nanti saja, ayo makan" ucap Linda sambil mulai memakan steak nya.
Mereka berdua menikmati steak dan spaghetti tersebut dengan sangat lahap.
Tidak memerlukan waktu lama untuk mereka berdua menghabiskan makanannya dan Mily langsung membawa piring piring kosong itu ke kafetaria karena orang kafetaria tidak akan berani untuk naik ke lantai tertinggi itu.
Sementara itu Farrell sudah kembali ke hotelnya yang tidak jauh lokasinya dari gedung milik Linda.
"Segera kirimkan melalui email berkas dokumen pembangunan apartemen kita dan jangan sampai ada izin yang terlewat karena aku akan menjualnya juga" ucap Farrell melalui ponselnya dan tidak lama kemudian dia memutuskan panggilan telepon itu lalu menyimpan kembali ponselnya.
"Aku sudah salah kira dengan Linda, bodohnya aku yang mengira dia hanya seorang mekanik desa padahal dari awal dia sudah menyampaikan jika dia memang besar dan kerja disini, ternyata dia seorang CEO perusahaan besar di Sydney ini, aku yang awalnya tertarik karena dia seorang pekerja keras sekarang malah aku semakin menyukainya, selama ini belum pernah aku temui sosok pekerja seperti Linda, seorang CEO yang bahkan rela hidup di desa untuk menemani kakek neneknya bahkan dia berani membuka perusahaan baru di Bandung hanya agar dapat dekat dengan kakek neneknya,
Sedangkan aku yang dari kecil di asuh oleh kakek nenek malah sibuk kesana kesini untuk urusan pekerjaan, semoga saja aku bisa banyak belajar dari Linda dan semua orang kepercayaannya agar aku juga bisa lebih santai dan rileks nantinya.
Oh Linda kau bukan hanya menolong ku saat mobil ku mogok tapi ternyata kau menolong ku saat aku mengalami kerugian akibat kelalaian anak buahku" ucap Farrell sambil melihat photo Linda yang sempat dia ambil waktu Linda membetulkan mobilnya.
Kembali ke Linda, Linda masih sibuk memeriksa laporan laporan project perusahaannya dan kesibukannya ini bukan hanya seperti saat ini saja melainkan hampir setiap hari saat dia di kantor, dia memang tidak ingin di sibukkan dengan pekerjaan saat dia di Bandung karena dia ingin lebih memberikan waktunya untuk kakek neneknya saja.
Waktu terus berlalu dan malam hari pun tiba, Mily dan semua karyawannya sudah pulang namun Linda memilih untuk tidur di kantornya karena memang di lantai dua puluh lima itu memiliki fasilitas layaknya apartemen.
__ADS_1