
"Ini berarti perusahaan kita akan semakin maju dan berkembang ya Pak" ucap bawahannya Felix.
"Benar, dari hasil penyelidikan ku tadi ternyata dalam sepuluh tahun terakhir perusahaan periklanan Bu Linda selalu memenangkan tender tender proyek terbesar dan semoga saja perusahaan kita bisa menjadi perusahaan terbesar di Indonesia ini jadi kita harus bekerja ekstra membuktikan kepada Bu Linda bahwa kita cocok untuk menjadi karyawannya" ucap Felix.
"Iya Pak, saya paham, saya akan menyampaikan kepada seluruh karyawan di bawah saya agar lebih bersemangat lagi dalam bekerja jangan sampai Bu Linda kecewa dan mengganti kami dengan karyawan baru" ucap bawahannya Felix tersebut.
Kembali ke Linda saat ini dia sudah selesai menikmati makan malamnya dan sedang duduk santai di teras rumahnya bersama kedua bawahannya dan juga kakek neneknya.
"Kakek, Linda berencana membangun ulang desa kita, jadi Linda selain mau membangun perumahan di atas bukit nantinya Linda juga akan membangun perkantoran di desa kita ini namun ada satu hal lagi yang Linda inginkan yaitu membangun ulang semua rumah warga desa, bisakah kakek besok pagi mengumpulkan warga desa di rumah Linda?" Ucap Linda dengan sangat sopan.
"Linda, warga desa ini hampir semuanya pegawai perkebunan mu jadi mereka akan sangat bahagia jika kau membangun ulang rumah mereka menjadi lebih baik, tapi apakah kau tidak rugi?" Ucap kakek Muchtar
"Kakek kan pernah bilang ke Linda, jika kita membantu orang lain tidak boleh berhitung agar rezeki kita selalu bertambah banyak, dan satu lagi Linda mau merubah bangunan Masjid menjadi lebih besar dan megah agar tidak kalah dengan lingkungan kita ini" ucap Linda.
"Jika memang keinginan mu seperti itu ya sudah kakek ikut saja" ucap Kakek Muchtar.
"Kakek, rencana Linda di atas bukit ada lima puluh rumah dan salah satunya untuk kakek dan nenek" ucap Linda lagi.
"Linda Lima puluh rumah di kurangi kita jadi masih ada empat puluh lima rumah apakah tidak kebanyakan, saran kakek cukup orang orang terdekat mu saja yang tinggal di atas bukit, karena sepertinya orang orang terdekat mu tidak sebanyak itu bukan" ucap Kakek Muchtar.
"Benar Linda, kami di Sydney kan hanya dua belas orang jadi menurut kami empat belas rumah sudah cocok untuk di atas bukit" ucap Mister Alexander.
"Jika demikian dua puluh rumah saja bagaimana sisanya kita biarkan saja dulu kosong, kita bisa gunakan rumah yang kosong untuk menjadi guest house untuk tamu tamu kita" ucap Linda.
__ADS_1
"Nah jika dua puluh saya sangat setuju, jadi masih banyak area yang bisa aku jadikan hutan kota di perumahan kita" ucap Mister Grahan sambil tertawa ringan.
"Ayah, nanti malam kami akan menjemput istri kami di bandara jadi rumah ayah ini akan sangat ramai" ucap Mister Alexander sambil tersenyum lebar.
"Nah sudah seharusnya kalian menjemput istri kalian, sudah lama ibu tidak berjumpa mereka berdua" ucap Nenek Evi dengan sangat bersemangat.
"Iya Nek, biar mereka berdua tidak kelayapan, Linda takut mereka berdua malah nyari ibu baru buat Linda" ucap Linda sambil tertawa terbahak bahak.
"Anak ini benar benar ya bercandanya bikin pusing" ucap Mister Grahan dan di ikuti gelak tawa oleh Linda dan kakek neneknya.
"Sudah sudah, sebaiknya kita pulang dan beristirahat dulu, jadi badan kita fresh saat ke bandara nanti malam" ucap Mister Alexander.
"Ayah Ibu kami pulang dulu, kami akan menempati Paviliun tamu di rumah Linda" ucap Mister Grahan dengan sangat sopan dan hormat.
Mereka bertiga kemudian kembali ke rumah Linda dan langsung beristirahat, Linda di rumahnya sedangkan Mister Grahan dan Mister Alexander mengisi Paviliun tamu yang memang terpisah dari rumah Linda namun masih satu areal.
Tepat jam 23.00 wib Linda sudah keluar dari dalam rumahnya dan berjalan ke arah garasi yang ada di belakang rumahnya untuk mengambil mobilnya.
"Linda kami sudah siap, biar kami saja yang mengemudi dan kita ke apartemen saja dulu ya untuk mengambil barang barang kami" ucap Mister Alexander yang sedang duduk bersama Mister Grahan di teras Paviliun tamu yang diisi olehnya.
"Ke apartemennya pulang dari bandara saja, aku tidak ingin telat menjemput ibu, nanti di rest area tol kita bisa membeli jaket yang tebal untuk kalian berdua, sebentar aku ambil dulu mobilnya" ucap Linda dengan ramah sambil kembali berjalan ke arah garasi rumahnya.
Linda kemudian memilih menggunakan mobil Toyota Vellfire miliknya karena dengan mobil itu dia rasa perjalanan mereka akan nyaman lalu membawa mobil itu ke depan Paviliun tamu yang di isi oleh mister Alexander.
__ADS_1
"Ayo kita berangkat, aku saja yang mengemudi" ucap Linda yang tidak ingin kedua ayah angkatnya itu kecapean jika harus mengemudi sampai jakarta yang berjarak seratus delapan puluh kilometer dari desanya.
Mister Alexander langsung naik tapi tidak dengan mister Grahan karena dia hendak menutup pintu gerbang sehingga Linda langsung memajukan mobilnya dan berhenti di depan gerbang.
Mister Grahan yang sudah selesai menutup dan mengunci pintu Gerbang rumah Linda langsung naik ke dalam mobil dan duduk di jok penumpang tengah karena mister Alexander duduk di jok penumpang depan.
"Linda, apakah sudah kau kunci rumahmu" ucap Mister Alexander.
"Sudah, dan di rumahku jugq sistem alarm nya sudah menyala jadi sudah aman" ucap Linda sambil menjalankan mobilnya perlahan karena seburu buru apapun dia tidak pernah mengebut di dalam desa lain hal nya jika sudah jauh dari desa.
Cuaca malam itu sangat dingin sehingga mister Alexander dan Mister Grahan meminta untuk tidak menyalakan AC mobil katanya mereka takut menjadi es batu.
Tidak ada halangan apapun yang mereka alami dan kini mereka berhenti di Rest area km 97 Jalan Tol Cipularang karena Linda ingin membelikan jaket untuk kedua ayah angkatnya itu.
"Kita berhenti disini dulu beristirahat sekalian membeli jaket" ucap Linda sambil memarkirkan mobilnya di parkiran rest area dan kebetulan tepat di depan toko yang menjual pakaian.
Mereka bertiga kemudian turun dari dalam mobil dan langsung melangkah menuju ke toko pakaian itu lalu membeli banyak pakaian dan jaket tentunya.
"Linda kau tidak membeli jaket" ucap Mister Alexander.
"Tidak, kan aku sudah pakai jaket jadi buat apa aku membelinya, apakah hanya ini yang kalian beli" ucap Linda yang melihat jila sudah lebih dari lima puluh pakaian dan jaket yang di beli oleh kedua ayah angkatnya itu.
"Sudah ini sudah cukup, kami juga sudah memilihkan jaket untuk ibumu" ucap Mister Grahan.
__ADS_1
"Oke" ucap Linda sambil kemudian membayarkan semua tagihan belanjaan itu.