From Sydney With Love

From Sydney With Love
Ponsel untuk warga desa 4


__ADS_3

Mereka bertiga terus berbincang santai sementara itu Linda yang telah membersihkan badannya langsung menuju ke rumah kakek neneknya untuk membantu memasak untuk makan malam mereka, karena Nenek Evi menolak jika harus mempekerjakan orang di rumahnya.


"Nek, di rumah yang baru nanti mau nga mau nenek harus menerima orang untuk bekerja membantu nenek membersihkan rumah karena rumah baru nanti lebih luas dari rumah ini" ucap Linda sambil membantu memotong sayuran.


"Iya Linda, jika disana nanti tidak apa apa, tapi sebenarnya nenek sayang sekali dengan rumah ini namun kami tahu jika kami menolak pindah maka penduduk desa juga tidak mau pindah nantinya" ucap Nenek Evi dengan sangat ramah.


"Makasih ya Nek, semua ini sebenarnya keinginan ayah dan ibu, aku hanya mewujudkan keinginan mereka saja" ucap Linda.


"Linda di luar ada Pak Amir hendak berpamitan sekaligus ingin menyerahkan kunci rumahnya kepadamu" ucap Kakek Muchtar yang menemuinya di dapur.


"Iya kek, baik saya akan menemuinya" ucap Linda sambil berdiri dan melangkah ke arah teras rumah.


"Pak Amir anda kesini, Ada apa?" Ucap Linda dengan ramah sambil duduk di kursi teras di depan Pak Amir dan istrinya.


"Linda maaf saya kesini karena saya tahu jika sudah mendekati jam shalat kau pasti ada di sini, kami hendak berpamitan dengan mu sekaligus menyerahkan kunci rumah kami" ucap Pak Amir dengan sangat sopan sambil memberikan kunci rumahnya.


"Iya pak, tidak apa apa, apakah bapak dan keluarga akan berangkat hari ini juga" ucap Linda berbasa basi.


"Benar, karena kami sudah mendapatkan rumah di Jakarta yang akan kami beli, besok pagi, saya sudah mengabari pihak pemiliknya jika kami akan tiba malam ini dan dipersilahkan jadi kami bisa beristirahat disana nanti malam" ucap Pak Amir.


"Iya pak, berhati hatilah di jalannya" ucap Linda dengan ramah.


"Iya Linda jika demikian kami pamit ya" ucap Pak Amir sambil berdiri dan berjabat tangan dengan Linda demikian juga Bu Amir, dan mereka langsung meninggalkan rumah kakek Muchtar itu.

__ADS_1


Linda kemudian masuk lagi ke dalam rumah dan langsung kembali membantu neneknya di dapur.


"Linda sudah setengah tanah di desa sebelah kau miliki apakah kau berencana mengambil semua tanah di desa itu?" Ucap Nenek Evi.


"Tidak Nek, jika mereka tidak menjualnya saya tidak akan membelinya, namun jika di jual ya saya akan membelinya, nanti saya jadikan saja semuanya perkebunan jadi hanya kita saja yang tinggal disini" ucap Linda sambil tertawa ringan dan kembali memotong sayuran.


"Linda setahu kakek mereka semua ingin menjualnya namun mereka sungkan bertemu dengan mu, jika kau mau biar kakek kesana saja besok pagi mengurusnya" ucap Kakek Muchtar.


"Jika kakek tidak keberatan ya Linda akan senang, tapi kenapa kakek memilih motor matic terus jika kemana mana dan tidak mau menggunakan mobil" ucap Linda.


"Linda kakek sudah nyaman naik motor jadi sudah jangan khawatir dengan hal itu ya" ucap Kakek Muchtar.


"Iya kek, makasih ya kek" ucap Linda.


"Iya kek, lihat besok saja ya kek, soalnya besok saya mau minta Farrell mulai merubuhkan rumah pak Acun biar jadi kantor sementara kami saja" ucap Linda.


"Apa tidak sayang dengan uangmu, kau bangun baru trus kau rubuhkan lagi nantinya" ucap Kakek Muchtar.


"Tidak kek, dari pada mahal di ongkos mendingan membuat disini saja, Linda nga mau kedua ayah angkat Linda kecapean di jalan jika mereka harus mengemudi jauh jauh" ucap Linda.


"Kau ini tidak pernah berubah, orangnya tidak ada kau panggil ayah, orangnya ada kau panggil nama" ucap kakek Muchtar.


"Ya mau gimana lagi sudah terbiasa dari kecil, oh ya nanti jam delapan malam, Linda mau bagikan telepon seluler untuk penduduk desa, jadi tolong kakek umumkan abis shalat Isya ya kek, biar mereka tidak perlu membelinya jika sudah Linda kasih yang paling bagus" ucap Linda sambil tersenyum hangat ke kakeknya.

__ADS_1


"Iya nanti kakek umumkan, kadang kakek merasa kau ini terlalu baik ke warga desa" ucap Kakek Muchtar.


"Tidak apa apa, lagi pula mereka sudah seperti keluarga buat ku, kan mereka juga yang mengurus perkebunan ku" ucap Linda.


"Bicara soal itu, banyak sekali yang menanti peternakan mu itu" ucap kakek Muchtar.


"Iya, nanti juga ada kok, ada dua peternakan yaitu unggas dan sapi perah dan juga akan ada rumah produksinya juga jadi semuanya akan di di olah di desa kita ini, Linda hanya ingin warga desa kita ini mendapatkan pemasukan yang cukup untuk keluarga mereka" ucap Linda.


"Tapi Linda jika hanya warga desa sepertinya kurang pastinya nanti banyak warga desa lain yang ingin ikut bekerja kepadamu" ucap Nenek Evi.


"Ya tidak masalah Nek, selama mereka bener bener bekerja bukan bermalas malasan" ucap Linda sambil tersenyum hangat.


"Selama ini kau selalu mempercayakan perkebunan mu ke penduduk desa yang mengurusnya apa nanti peternakan juga sama" ucap kakek Muchtar.


"Kakek, selama semuanya menguntungkan kenapa kita harus batasi, Linda percaya dengan mereka semua toh selama ini mereka tidak pernah mengecewakan kita, lima tahun linda di desa ini dan Linda sudah mendapatkan hampir satu miliar rupiah dari hasil perkebunan bukankah ini keberhasilan dari kepercayaan yang Linda berikan untuk mereka" ucap Linda sambil tersenyum ramah ke kakek neneknya itu.


"Ya, tapi ingat berikan mereka pelatihan untuk peternakan jangan sampai mereka malah bingung karena apa yang kakek lihat di video yang Graham perlihatkan itu sangat modern dengan alat alat yang mahal tentunya" ucap Kakek Muchtar.


"Iya, Ayah Grahan juga sudah menghubungi perusahaan di Jepang yang akan menyediakan alat alat peternakan itu memberikan pelatihan untuk penduduk desa yang mengurus peternakan jadi nantinya mereka semua akan sangat ahli di bidangnya, dan kedepannya desa kita ini akan menjadi desa mandiri karena semuanya kita produksi sendiri" ucap Linda.


"Baguslah jika demikian, kakek senang mendengarnya, sejak kau datang ke desa ini, kehidupan warga desa juga semakin baik dari hari ke harinya, dulu sebelum kau datang kadang mereka hanya bisa berharap kepada kebun kebun mereka yang kadang masih gagal panen, tapi kau malah membeli semua perkebunan disini dan meskipun mereka tidak memiliki tanah tapi mereka malah lebih berhasil sekarang karena uang hasil bekerja kepada mu melebihi uang hasil kebun mereka" ucap Kakek Muchtar.


"Kakek, Linda hanya ingin mereka bisa tersenyum saja, Linda saat pertama pulang ke desa ini melihat jika mereka bersedih karena gagal panen sayuran dan dalam pemikiran Linda saat itu adalah harus ada perubahan, jika kebun satu gagal panen maka kebun lainnya harus panen lebih banyak dan terbukti setelah semua tanah di sini Linda jadikan perkebunan, keuntungan semakin berlipat ganda" ucap Linda sambil tersenyum hangat.

__ADS_1


__ADS_2