From Sydney With Love

From Sydney With Love
Membeli Lukisan


__ADS_3

“Miss, yang kuat ya.” Ucap Mily dalam hatinya sambil melihat kepergian Linda dan masuk kedalam toko menemui kedua Ibu angkatnya dan juga dengan Nenek Evi.


Linda langsung masuk ke dalam mobil dan menyalakan mobilnya juga AC mobilnya itu.


“Kenapa seperti ini? Apakah Farrell benar cocok untukku? Apakah dia bisa meninggalkan ketiga wanita itu? Apakah Farrell benar benar mencintaiku?” Ucap LInda berbicara sendiri.


Air mata Linda menetes dan Linda hanya diam dalam mobilnya dengan seribu pertanyaan karena dia sangat yakin jika Farrell yang dimaksudkan oleh Kinara adalah Farrell kekasihnya.


“Mily ayo kita ke mobil menemai Linda” Ucap Miss Lissa.


“Ibu Sebentar lagi saja, biarkan dulu Linda sendiri, dia masih membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya, nanti juga dia pasti turun dari mobil dan ikut shalat berjamaah kok.” Ucap Mily.


“Mily Benar kita harus memberikan Linda waktu untuknya, jika tidak maka dia akan terus kepikiran dengan hal ini, jadi kita tunggu dia menghubungi kita saja ya.” Ucap Miss Elvira.


“Ya sudah gimana jika kita cari restoran atau cafe saja, sambil menunggu Linda, jadi Nenek tidak kecapaian.” Ucap Mily.


“Iya Mily, Nenek mu ini sudah pegal dan ingin duduk santai.” Ucap Nenek Evi.


“Bagaimana jika kita ke restoran tadi saja lagi, disana kan kursinya sangat nyaman dan ada sofa juga untuk kita duduki.” Ucap Miss Elvira.


“Ya sudah ayo kita kesana saja.” Ucap Nenek Evi.


Mereka berempat pun kemudian kembali ke restoran di Rooftop itu dan kembali mengambil satu ruangan untuk mereka sendiri agar mereka bisa bersantai.


“Aku tahu yang sebenarnya, sepertinya aku harus ke Cafe The Peak itu juga, jika aku tidak melihatnya langsung maka aku tidak akan tahu yang sebenarnya terjadi.” Ucap Linda berbicara sendiri sambil melihat photo Farrell di layar ponselnya.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Linda dan langsung di lihat oleh Linda yang ternyata pesan itu di kirim oleh Farrell.

__ADS_1


“Linda, aku ada urusan nanti malam, jadi aku tidak ikut makan malam bersama di rumah kakek ya” Tulis Farrell di pesan singkat itu.


“Iya.” Tulis Linda membalas pesan singkat itu.


“Jadi benar dugaan ku, kau akan bertemu dengan Kinara.” Ucap Linda berbicara sendiri kembali sambil melihat jam di ponselnya ternyata sudah mau masuk ke waktu Shalat Ashar.


“Sebaiknya aku shalat Ashar dulu, baru kembali menemui yang lainnya.” Ucap Linda kembali berbicara sendiri sambil mengambil tisu dan membersihkan bekas air matanya.


Linda kemudian turun dari dalam mobilnya itu dengan tidak lupa membawa  mukena yang dia simpan di dalam mobil dan melangkah menuju mushola yang ada di parkiran itu juga, lalu mengambil wudhu dan shalat sunnah sambil menunggu waktu shalat Ashar datang.


“Ya Allah, jika memang dia jodoh ku yang sudah disiapkan oleh Mu untukku, aku harap dia tetap setia kepada ku.” Ucap Linda dalam hatinya saat dia melakukan sujud terakhir shalat sunnahnya.


Linda terus di mushola itu sampai dia melaksanakan shalat Ashar berjamaah dan baru kembali ke mobilnya setelah selesai.


“Aku harus menemui mereka, kasihan mereka jika sampai kepikiran tentang kondisi ku.” Ucap  Linda dalam hatinya sambil mengambil tas dan juga ponselnya, lalu menutup kembali mobilnya dan menguncinya.


Linda kemudian masuk kembali kedalam Mall dan berkeliling sendirian sambil menenangkan perasaannya.


“Miss maaf lupa mengabari anda, kami kembali ke restoran yang tadi karena Nenek kelelahan jadi kami beristirahat disini, apakah sudah mau pulang.” Ucap Mily melalui telepon seluler itu.


“Ya sudah aku kesana., apakah kalian di ruangan yang tadi?” Ucap Linda.


“Tidak, tapi ruangan yang seberangnya, karena di sini ada sofanya.” Ucap Mily.


“Oke, tunggu sebentar aku kesana.” Ucap Linda sambil memutuskan panggilan telepon itu dan menyimpan ponselnya di dalam tasnya.


Linda tidak menggunakan Lift namun dia menggunakan eskalator dan berjalan dengan santai sambil melihat lihat barang barang yang terpajang di kaca toko hingga dia termenung di depan sebuah toko lukisan.

__ADS_1


“Lukisan lukisan ini sangat bagus.” Ucap Linda dalam hatinya sambil kemudian memasuki toko lukisan itu dan melihat lihat isinya.


“Mba saya mau lihat lukisan ini lebih jelas dong.” Ucap Linda sambil menunjuk lukisan Jembatan Sydney Harbour yang terpajang di salah satu dinding.


“Baik Bu, Sebentar saya ambilkan.” Ucap wanita muda yang merupakan penjaga toko itu sambil mengambil sebuah kursi plastik lalu mengambilkan lukisan itu dan memberikannya ke Linda.


“Apakah masih ada lukisan lain tentang sydney.” Ucap Linda sambil meletakkan lukisan itu di atas etalase toko itu.


“Ada Bu, kami punya beberapa lukisan tentang sydney sebentar saya ambilkan ya Bu.” Ucap wanita muda itu sambil mengambilkan beberapa lukisan lalu meletakkan di atas bagian lain etalase agar Linda bisa melihatnya.


“Mba saya akan mengambil semuanya, tapi apakah ada yang bisa membantu saya membawa nya ke mobil saya.” Ucap Linda.


“Biar saya Bu yang membantu Ibu membawakan ke mobil ibu.” Ucap Wanita muda itu sambil tersenyum lebar.


“Oke jadi berapa sepuluh lukisan ini harganya.” Ucap Linda.


“Ini satunya lima juta rupiah Bu, jadi lima puluh juta semuanya, mari Bu, kita ke kasir saja.” Ucap wanita muda itu sambil merapikan lukisan lukisan itu dan membawanya ke kasir yang terletak di pojok toko itu.


“Bu, Ibu ini mau membeli sepuluh lukisan kayak, dan nanti aku akan membawakannya ke mobil ibu ini ya jadi aku tinggalkan Ibu sendirian dulu.’ Ucap Wanita muda itu ke seorang wanita yang berusia empat puluh lima tahunan yang berjaga di kasir.


“Iya kak, jika sudah langsung kesini lagi ya temani ibu.’ Ucap wanita yang di kasir itu sambil mulai mengetik di keyboard dan mencetak nota pembelian Linda.


“Iya Bu.” ucap Wanita muda itu yang sedang membungkus lukisan yang di beli linda agar tidak rusak selama perjalanan.


“Bu, semuanya jadi lima puluh juta rupiah namun ibu cukup membayarnya empat puluh lima juta saja, saya berikan sedikit potongan saja ya Bu.” Ucap wanita yang ada di kasir itu.


“Iya Bu, di debit saja ya dan saya minta kontak ibu ya, sepertinya beberapa bulan lagi saya membutuhkan lebih banyak lukisan, apakah ini semua ibu yang melukisnya.” Ucap Linda sambil memberikan sebuah kartu debitnya.

__ADS_1


“Benar Bu, ini semua lukisan saya.” Ucap Wanita itu menerima kartu debit lalu memproses penarikan dari kartu debit itu ke mesin debit.


“Wah ibu sungguh pandai ya melukisnya, karena hasilnya sangat bagus dan detailnya dari lukisannya juga dapat.” Ucap Linda..


__ADS_2