
"Farrell kau tidak salah, kan memang aku saat di desa adalah seorang mekanik meskipun biasanya aku tidak mentarif mereka sih kalau untuk para tetangga, bahkan dalam lima tahun ini kau satu satunya yang aku tarif, itu saja aku asal sebut saja, maaf ya jika mahal" ucap Linda sambil tertawa ringan.
"Linda kau seorang CEO perusahaan periklanan terbesar di Australia ini apakah kau tidak khawatir jika ada media atau klienmu melihat mu sedang membetulkan mobil" ucap Farrell dengan sangat penasaran.
"Tentu saja tidak, kami di sini berbisnis dengan hati dan kekeluargaan dan di sini sudah biasa kok jika ada wanita pekerja seperti ku membetulkan mobilnya sendiri." Jawab Linda dengan ramah.
"Jadi kapan kau akan pulang kenapa tidak bersama sama saja dengan kami saja" ucap Farrell dengan sangat ramah.
"Aku pulang nya nanti malam saja agar sampai di desanya pagi hari jika pulang ikut bersama kalian maka aku akan sampai di desa tengah malam" ucap Linda.
"Oh jadi seperti itu, oh ya jika membutuhkan sesuatu untuk apapun kabari saja ke aku" ucap Farrell.
"Aku memerlukan sinyal ponsel untuk desaku apa kau punya" ucap Linda dengan ramah.
"Aku ada kenalan di provider dan nanti aku akan minta dia memasang base transceiver station di desa mu paling satu minggu ini akan terpasang" ucap Farrell dengan sangat ramah dan tersenyum hangat ke Linda.
"Apa kau serius bisa melakukan hal itu" ucap Linda.
"Ya tentu saja kenapa tidak lagi pula aku sudah menjalin kerja sama dengan pabrik teh itu jadi ini juga untuk kemudahan ku" ucap Farrell.
"Farrell terima kasih, jadi kau yang menjual teh dari pabrik ke luar negeri" ucap Linda sambil melihat kedatangan Mily.
Mily langsung menaruh kedua cangkir itu di atas meja, kopi hitam untuk Farrell dan Secangkir coklat panas untuk Linda serta beberapa kue kue khas Australia lalu dia kembali meninggalkan mereka berdua.
"Benar, kebetulan ada yang membutuhkan jadi aku mengambil langsung saja dari pabriknya namun jangan khawatir karena truk truk nya tidak melewati jalanan desamu karena sudah aku sampaikan aku tidak ingin jika jalanan desa mu di lalui oleh truk truk ku" ucap Farrell.
__ADS_1
"Terima kasih, tapi kenapa kau berbisnis begitu banyak, tidak di satu bidang saja, apakah kau tidak capai" ucap Linda.
"Sebenarnya aku merasa lelah tapi aku tidak bisa melepasnya begitu saja, semua supermarket ku itu warisan dari kakek nenek ku jadi mau tidak mau aku melanjutkannya dan konstruksi adalah bidangku" ucap Farrell dengan ramah.
"Farrell ayo silahkan di minum dan di coba kue nya, ini semua khas Australia loh, oh ya kenapa kau bisa memiliki perusahaan periklanan juga" ucap Linda dengan ramah.
"Itu awalnya hanya ingin mengembangkan usaha saja namun ternyata tidak semudah yang dibayangkan untuk bermain di dunia periklanan makanya saat aku mendengar perusahaan mu ini mencari perusahaan periklanan yang hendak di jual ya aku coba tawarkan" ucap Farrell sambil mengambil cangkir kopinya.
Linda tidak langsung berbicara melainkan menunggu Farrell meminum kopinya dan menyimpan kembali cangkir kopi itu.
"Farrell oh Farrell kau terlalu banyak memiliki usaha padahal usaha supermarket mu jika di kembangkan akan sangat maju loh, namun kenapa perusahaan mu lebih suka menyewa tempat di mall mall tidak membangun mall nya sendiri" ucap Linda setelah Farrell menyimpan kembali cangkir kopinya.
"Keuangan berjalan ku belum cukup untuk membangun mall sendiri apalagi membelinya" ucap Farrell sambil tertawa ringan.
"Sepertinya di perusahaan mu itu terlalu banyak pemegang saham ya" ucap Linda dengan ramah.
"Saham tertutup atau saham terbuka untuk supermarket mu itu" ucap Linda mencoba mencari tahu lebih jauh.
"Saham terbuka dan ada di bursa saham kok" ucap Farrell bersamaan dengan datangnya Mily kembali dan Mily langsung duduk di sebelah Linda.
"Mily, tolong belikan aku saham supermarket milik Farrell, jika bisa ambil alih lima puluh persen sahamnya" ucap Linda dengan ramah dan hal ini mengejutkan Farrell.
"Tuan Farrell bisa tuliskan nama perusahaan supermarket anda" ucap Mily sambil menyodorkan sebuah pena dan buku notes kecil miliknya.
"Linda apakah anda serius dengan hal ini" ucap Farrell yang masih sangat terkejut.
__ADS_1
"Farrell dari pada mereka yang memiliki dan banyak menuntut mu lebih baik aku saja yang memilikinya lagi pula aku memang langganan supermarket mu" ucap Linda dengan ramah.
"Ya sudah di tolak juga dia pasti tetap membelinya tanpa aku ketahui setidaknya aku bisa jadi sering bertemu" ucap Farrell sambil menuliskan nama perusahaan supermarket miliknya dan menyerahkan kembali ke Mily.
"Miss, aku pakai laptop mu ya, laptop ku lupa bawa" ucap Mily sambil memandang Linda.
"Pakai saja bukankah selama aku di Indonesia kau yang pakai itu laptop" ucap Linda.
Mily hanya tersenyum simpul dan berdiri lalu melangkah ke meja kerja Linda dan duduk di kursi tamu karena memang dia tidak pernah menduduki kursi kerja Linda meskipun Linda ada di Indonesia.
"Farrell jangan khawatir meskipun aku membeli lima puluh persen saham perusahaan supermarket mu namun aku tidak akan mengaturmu seperti mereka jadi jangan khawatir jika ingin mengembangkannya" ucap Linda dengan sangat ramah dan tersenyum hangat ke Farrell yang meskipun senyum biasa namun Farrell merasa sangat nyaman dengan senyum itu.
"Iya, dan sebelumnya terima kasih atas bantuan bantuanmu kepadaku, kau selalu ada di saat yang tepat" ucap Farrell sambil tersenyum hangat ke Linda.
Mily mendengarkan mereka berdua dan dia sangat gembira ria bos besarnya itu kini sudah bisa dekat dengan laki laki.
"Miss mau pakai nama pribadi atau nama perusahaan" ucap Mily sambil tetap memandang laptop.
"Mily nama pribadi saja" ucap Linda dengan ramah.
Lima menit berlalu dan Mily langsung duduk di samping Linda.
"Mily sudah selesaikah?" Tanya Linda.
"Miss, sudah beres, sudah lima puluh persen aku beli, karena hanya lima puluh persen saja yang di jual, semuanya aku beli pakai nama anda, dan bukti pembelian juga sudah aku kirimkan ke anda, sekarang anda memiliki saham tunggal lima puluh persen untuk perusahaan supermarket tuan Farrell" ucap Mily sambil tersenyum puas.
__ADS_1
"Berarti aku harus memanggil mu Bos dong" ucap Farrell sambil memandangi Linda.
"Ada ada saja, di kantor ini saja tidak ada yang memanggil ku begitu" ucap Linda.