
Linda langsung kembali ke rumah kakek neneknya terlebih dahulu untuk menurunkan belanjaannya dan dia kemudian kembali ke rumah nya.
Satu Minggu berlalu dengan cepat dan sehari harinya Linda menjalani kehidupan di desa layaknya warga pedesaan dan beberapa kali di membantu memperbaiki mobil milik warga desanya dan juga mobil pabrik teh.
Kini dia sudah di dalam mobilnya kembali setelah berpamitan dengan kakek neneknya dan di menuju ke Jakarta karena tiket pesawat yang belikan oleh sekretaris pribadinya untuk pulang ke Sydney dari bandara internasional Soekarno Hatta dan keberangkatannya masih cukup lama yaitu delapan jam lagi dan jika perhitungan waktunya sesuai maka dia akan sampai dua jam sebelum keberangkatannya.
Linda terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rata rata delapan puluh kilometer per jam dan dia tidak beristirahat sama sekali karena lebih baik beristirahat di bandara menurutnya dari pada di rest area.
Enam jam berlalu dan Linda pun sudah memarkirkan mobilnya dia kini sudah di berada di bandara internasional Soekarno Hatta menunggu keberangkatan pesawatnya.
"Linda" ucap Farrell yang melihat Linda nampak berbeda dari yang dia lihat sebelumnya, kini Linda berpenampilan dengan sangat rapi karena memang Linda berencana langsung menuju kantornya di Sydney.
"Farrell senang bertemu dengan mu" ucap Linda dengan ramah sambil berdiri menyambut Farrell.
"Senang bertemu dengan mu juga, hendak kemana?" Ucap Farrell sambil tersenyum hangat ke Linda.
"Saya hendak kembali ke Sydney karena ada pekerjaan yang harus saya lakukan, bagaimana dengan anda" ucap Linda dengan ramah.
"Sama jika demikian berarti penerbangan kita sama, oh ya mana tiketmu aku lihat, aku mau meminta agar bisa duduk di sebelah mu" ucap Farrell dengan sangat sopan.
Linda mengeluarkan tiketnya dari dalam tasnya dan memperlihatkan kepada Farrell, Farrell menerima Tiket pesawat Linda dan nampak sedikit terkejut karena tiket pesawat Linda merupakan tiket kelas pertama sedangkan tiketnya hanya kelas bisnis.
"Linda bisakah kau menungguku sebentar saja disini" ucap Farrel sambil tersenyum hangat dan mengembalikan tiket pesawat Linda lalu bergegas meninggalkan Linda sebelum Linda sempat menjawabnya.
"Farrell ini, kenapa dia? Setelah melihat tiketku menjadi panik" ucap Linda dalam hatinya sambil menyimpan kembali tiketnya dan melihat jika Farrell meninggalkannya.
Lima belas menit berlalu dan Farrell sudah kembali menemui Linda.
"Maafkan aku membuat mu menunggu, jadi bisakah kita sekarang makan bersama" ucap Farrell dengan ramah dan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Farrell maaf, Sepertinya momennya tidak tepat lihatlah penerbangan kita sudah mendekat jam nya dan aku tidak terbiasa terburu buru dalam sesuatu hal, bukankah penerbangan kita dengan tujuan yang sama, bagaimana jika kita makannya di dalam pesawat saja kan sama makan berdua juga" ucap Linda dengan ramah sambil menunjuk papan pemberitahuan digital.
"Linda masih satu jam lebih, bagaimana jika kita minum kopi saja di situ" ucap Farrell sambil menunjuk ke arah coffee shop yang ada di dekat mereka.
"Baiklah meskipun aku tidak minum kopi aku akan menemani mu untuk menebus janjiku" ucap Linda sambil berdiri dan melangkah menuju coffee shop.
Farrell langsung mengejar Linda dan berjalan berdampingan dengan Linda.
Mereka duduk di satu meja yang sama berhadap hadapan dan hanya ada dua kursi disana.
"Linda yakin kau tidak mau minum kopi, atau mungkin mau minum yang lain" bujuk Farrell sambil menyodorkan daftar menu.
"Saya coklat panas saja" ucap Linda sambil memberikan kembali daftar menu.
"Satu coklat panas dan satu americano coffee" ucap Farrell ke wanita pelayan yang mendatangi meja mereka.
"Semuanya jadi seratus ribu, maaf pembayaran di awal" ucap wanita pelayan itu dengan ramah.
"Sebentar saya akan menyiapkan pesanan anda berdua" ucap wanita pelayan sambil berjalan ke belakang meja bartender untuk menyiapkan pesanan mereka.
"Linda apakah kau akan kembali menetap di Australia" ucap Farrell dengan ramah sambil memandangi Linda.
"Tidak, saya hanya karena urusan kerjaan saya saja" ucap Linda dengan sangat ramah.
"Apakah ada projects perbaikan kendaraan disana?" Ucap Farrell dengan nada suara terkejut.
"Tidak tidak, aku membenarkan mobil dan motor hanya hobi, aku membohongimu waktu itu dengan bilang aku punya bengkel" ucap Linda sambil tertawa ringan.
"Tapi kau sangat ahli dalam hal itu, beberapa hari lalu aku ke bengkel resmi Nissan memeriksakan Nissan Navara ku dan kata orang bengkel resmi mobil ku sudah sehat seratus persen dan katanya siapapun yang mengerjakan perbaikan adalah master mekanik" ucap Farrell bersungguh sungguh.
__ADS_1
"Aku memang sudah terbiasa sejak dulu memperbaiki kendaraan ku sendiri karena biaya perbaikan mobil di Australia lumayan mahal jadi untuk berhemat ya aku memperbaikinya sendiri saja, dan kebetulan di desa kakek nenek tidak ada mekanik jadi aku membantu mereka saja" ucap Linda dengan sangat ramah.
"Jika aku boleh tahu apa yang akan kau kerjakan di sana jika bukan memperbaiki mobil" ucap Farrell dengan sangat penasaran.
"Aku diminta bertemu seseorang saja dan katanya harus menandatangani sesuatu, lalu bagaimana dengan mu?" ucap Linda dengan ramah.
"Aku juga mau bertemu seseorang terkait urusan usahaku" ucap Farrell dengan sangat ramah sambil melihat wanita pelayan tadi mendatangi mereka dan meletakan pesanan mereka.
"Terima Kasih" ucap Linda ke wanita pelayan itu dengan ramah sambil tersenyum hangat.
"Farrell apakah kau mau membuat supermarket di Sydney" ucap Linda sambil mendekatkan cangkir coklatnya.
"Tidak, justru aku mau menjual salah satu perusahaan ku yang ada di Bandung, oh ya bagaimana jika kita kerjasama" ucap Farrell dengan ramah.
"Kerja sama seperti apa?" Tanya Linda dengan sangat penasaran.
"Bagaimana jika kita membuat bengkel mobil saja, kau yang jadi kepala mekaniknya" ucap Farrell sambil tersenyum lebar.
"Farrell aku akan memikirkannya, nanti jika aku berminat aku kabari ya" ucap Linda sambil tersenyum ramah
"Farrell ini benar benar mengira aku kerja sebagai mekanik sepertinya" ucap Linda dalam hatinya.
"Seandainya kau tahu jika aku ingin mengenalmu lebih jauh, aku tahu kau tidak sesederhana yang terlihat" ucap Farrell dalam hatinya sambil meminum kopinya sedikit dan memandangi wajah Linda dengan ramah.
Beberapa menit berlalu dan mereka hanya diam, saling berpandangan satu sama lainnya sampai terdengar pemberitahuan jika penumpang tujuan Sydney sudah dipersilahkan untuk naik ke pesawat.
"Linda mari kita bersama sama kan kita duduknya bersebelahan" ucap Farrell dengan sangat ramah sambil berdiri dan menunggu Linda.
"Oke" ucap Linda dengan ramah sambil berdiri dan melangkah menuju pintu untuk menaiki pesawat.
__ADS_1
"Linda, apakah ada yang ingin kau beli terlebih dulu sebelum kita menaiki pesawat" ucap Farrell mencoba mencairkan suasana.