From Sydney With Love

From Sydney With Love
Menambah Aset Pribadi 2


__ADS_3

"Jika demikian mari kita ke sana" ucap Pak Acun dengan sangat bersemangat.


Linda hanya tersenyum dan langsung berdiri dengan mambawa tasnya, sedangkan semua sertifikat itu di bawa oleh Bu Acun lalu mereka melangkah menuju rumah Linda.


Linda langsung mempersilakan Pak Acun dan Bu Acun untuk duduk di ruang tamu rumahnya dan dia kemudian mengambil lima lembar kwitansi pembelian yang sudah di tempel materai olehnya.


"Pak Acun, ini kwitansinya dan sebentar saya transferkan terlebih dulu uang nya" ucap Linda sambil memberikan lima lembar kwitansi tersebut ke Pak Acun.


Pak Acun menerimanya dan langsung menulis di dua lembar kwitansi tersebut lalu menanda tangani semuanya karena dia tau Linda ingin ada tiga kwitansi kosong, Bu Acun juga ikut tanda tangan di belakang dua kwitansi yang tertulis tanpa di minta oleh Linda karena sebelumnya saat linda membeli tanah kebunnya juga seperti itu.


Linda kemudian mentransfer sejumlah empat miliar rupiah ke rekening pak Acun lalu memprint out buki transfer tersebut.


"Uang pembayarannya sudah saya transfer Sebentar ya Pak Bu, saya ambilkan dulu bukti transfer nya" ucap Linda sambil berdiri dan langsung masuk ke ruang kerjanya di rumah yang terletak di sebelah ruang tamunya dan terlihat jika Pak Acun dan istrinya kini memiliki wajah berseri seri.


Linda langsung memberikan bukti transfer tersebut ke Pak Acun dan Pak Acun Pun memberikan semua sertifikat hak milik atas tanah dan rumahnya serta semua berkas lainnya terkait tanah dan rumahnya itu, serta surat bebas sengketa yang sudah di siapkan sebelumnya oleh Pak Acun.


"Linda, terima kasih ya, jika boleh saya meminta waktu tiga hari untuk pindah nya ya" ucap Pak Acun yang masih dengan wajah gembira.

__ADS_1


"Pak, santai saja, jika memang pas bapak pindahan nanti saya nga di rumah, di titipkan saja ke kakek dan nenek saya kuncinya, lalu hasil panen kebun kebun bapak bagaimana?" Ucap Linda dengan ramah karena memang dia sudah mengetahui semua aset aset Pak Acun dan warga lainnya di desanya.


"Linda, saya serahkan semua hasil panen untukmu saja, beberapa hari lagi juga sudah bisa di panen, dan sekarang dengan semua tanah saya di beli oleh nak Linda semua kebun disini sudah menjadi milikmu" ucap Pak Acun sambil tersenyum lebar.


"Iya pak, lagian semuanya menjual tanahnya ke saya sejak beberapa tahun terakhir ini" ucap Linda dengan ramah.


"Oh Ya, kawan saya pemilik perkebunan di desa sebelah juga hendak menjual perkebunan milik nya, dan luasnya mencapai hampir enam ratus hektar, jika saya tidak salah dengar dia minta hanya dua puluh lima miliar rupiah saja, dan lokasinya di sebelum perkebunan teh sampai ke desa tetangga kita, jadi jika Linda membelinya dua desa ini menjadi milikmu semua Loh, bukankah ini tawaran yang bagus, siapa tahu Linda mau?" Ucap Pak Acun.


"Pak, begini saja, sekarang kan sudah hendak jam sebelas siang jika memang teman bapak bisa kesini sebelum dzuhur maka saya akan membayarnya hari ini juga, asal semua berkasnya lengkap seperti bapak termasuk dengan surat bebas sengketa nya juga ya Pak" ucap Linda dengan ramah dan dia juga sudah paham serta mengetahui lokasi tanah serta pemiliknya karena pernah bertemu sebelumnya.


"Baik jika demikian, kami permisi dulu, dan Linda kami sangat berterima kasih kepadamu sudah mau membeli aset kami, akhirnya kami bisa tinggal di dekat rumah anak perempuan kami" ucap Pak Acun sambil berpamitan.


"Sebanyak ini sertifikat hak milik atas tanah dan rumah di desa ini dan desa tetangga" ucap Linda sambil membuka lemari besinya dan melihat tumpukan sertifikat sertifikat yang sudah menjadi atas namanya dan dia langsung menyimpan sertifikat yang baru dia miliki itu ke tumpukan sertifikat yang belum dia balik nama.


Lima belas menit berlalu dan Pak Acun datang kembali bersama dengan Pak Amir dan istrinya yang merupakan pemilik tanah terluas di desa sebelah karena aset tanahnya bahkan sampai ke tiga desa.


Linda pun kemudian mempersilahkan ketiganya untuk duduk di sofa ruang tamunya dan dia juga sudah menyiapkan beberapa lembar kwitansi pembelian sebelumnya.

__ADS_1


"Pak Amir dan Bu Amir sudah lama kita tidak bertemu apa kabar, dan kenapa aset kalian hendak kalian jual" ucap Linda membuka obrolan.


"Alhamdulillah kabar kami berdua baik Linda, adapun alasan kami juga sama seperti Pak Acun, kami ingin pindah ke Jakarta, karena Linda kan tahu sendiri jika anak perempuan kami satu satunya itu kerja dan tinggal di Jakarta, dengan kami menjual semua aset kami maka kami akan memulai usaha baru di Jakarta kebetulan kami sudah memiliki rumah disana" ucap Pak Amir dengan sangat sopan.


"Bisa saya lihat surat suratnya, dan maaf disini hanya ada air mineral saja, silahkan di minum" ucap Linda dengan ramah.


"Ini semua berkas kepemilikannya, jadi yang saya hendak jual bukan enam ratus hektar melainkan dua ribu lima ratus hektar tanah dengan dua puluh rumah, dan masing masing rumah itu memiliki tanah seluas dua ribu meter, untuk bangunan nya saat ini sudah kosong dan letaknya juga bersebelahan, Linda juga pastinya sudah mengetahui rumah rumah yang saya maksudkan bukan, kan pernah saya perlihatkan tiga bulan yang lalu" ucap Pak Amir sambil memberikan sebuah tas kerja yang berisi semua surat surat kepemilikan atas asetnya.


Linda menerima tas kerja tersebut dan mengeluarkan isinya lalu membaca dan mempelajari isinya dengan teliti.


"Semua berkas pendukung juga sudah saya siapkan, seperti surat keterangan bebas sengketa dan persetujuan dari istri dan anak saya ada di sana, pajak pajak juga sudah saya lunasi semuanya kok" ucap Pak Amir yang melihat Linda memeriksa semua berkas aset nya itu.


"Pak Amir dan Ibu, semuanya sudah lengkap dan berapa yang bapak dan ibu inginkan untuk semua ini" ucap Linda dengan ramah sambil menyimpan kembali semua surat surat asli tersebut ke dalam tas.


"Sesuai dengan perhitungan angka pasaran saat ini semuanya bernilai satu koma dua triliun rupiah namun karena Linda yang membelinya maka sata lepas satu triliun rupiah saja anggap saja untuk membayar pajak saat nanti linda mengurus balik nama atas sertifikat sertifikat itu" ucap Pak Amir dengan sangat sopan.


"Bu Amir apakah ibu ada keberatan dengan penjualan ini atau dengan harganya" ucap Linda dengan sangat ramah sambil tersenyum hangat ke mereka semua.

__ADS_1


"Linda saya tidak keberatan sama sekali seperti yang kami tulis di surat keterangan persetujuan penjualan aset ini" ucap Bu Amir.


"Baik jika demikian, saya minta nomor rekening Pak Amir saja, biar dananya saya transferkan sekarang juga, soalnya sudah mau Dzuhur" ucap Linda dengan ramah sambil memberikan sebuah buku notes dan sebuah pena ke Pak Amir.


__ADS_2