From Sydney With Love

From Sydney With Love
Ponsel untuk warga desa


__ADS_3

"Iya soal itu, enaknya kita beli sendiri atau minta di belikan oleh Farrell atau Pak Felix ya" ucap Linda sambil tersenyum.


"Penduduk desa ini tidak terlalu banyak kurang dari lima ratus orang bukan, jika menurut ku lebih baik kita beli sendiri saja, memangnya tidak ada perusahaan pabrikan telepon seluler yang kau beli di Indonesia ini, ku lihat sekarang kau benar benar berusaha mengakuisisi perusahaan perusahaan di Indonesia ini" ucap Mister Alexander.


"Benar, disini kita tidak bisa hanya mengandalkan periklanan saja, semakin baik jika kita memiliki semua bidang usaha untuk menstabilkan perusahaan periklanan kita, meskipun modal yang aku keluarkan besar namun aku yakin dengan kedua orang kepercayaan ku bisa menjalankannya" ucap Linda sambil tersenyum lebar ke Mister Alexander.


"Linda, coba hubungi Mily siapa tau sudah ada salah satu perusahaan yang merupakan pabrikan ponsel yang kau miliki dari sekian banyak perusahaan yang kau miliki" ucap Mister Alexander.


"Iya kemarin dia aku suruh mendata semuanya sebentar coba aku lihat datanya dulu, aku saja sampai lupa mana saja yang sudah aku miliki" ucap Linda sambil mengambil ponselnya dan langsung membaca email yang sebelumnya di kirimkan oleh Mily.


"Ada, ternyata salah satu punya Farrel malahan, dia memiliki pabrik perakitan telepon seluler juga ternyata, coba aku hubungi dia dulu" ucap Linda sambil tersenyum dan langsung menghubungi farrell melalui panggilan telepon.


"Linda, ada yang bisa aku bantu?" ucap Farrell menjawab panggilan telepon itu.


"Farrell, perusahaan perakitan telepon seluler kita berlokasi dimana?" Ucap Linda.


"Lokasinya di Pulau Batam, karena memang hanya disana yang bisa, apakah kau akan mengunjunginya" ucap Farrell.


"Tidak perlu untuk itu, namun aku ingin membeli lima ratus telepon seluler terbaru dan tercanggih pastinya dan lima ratus dua puluh kartu simcardnya" ucap Linda.


"Linda, nanti malam aku bawakan saja ke rumah mu, aku masih menunggu bawahan Mister Alexander dan Mister Grahan soalnya, kebetulan jika hanya Lima ratus unit ada di gudang kita dan untuk kartu simcardnya sebaiknya ke Felix saja itu kan dari perusahaan mu juga yang di kelola oleh Felix" ucap Farrell.


"Oke, ingat jangan terlalu malam ya datangnya dan notanya kirimkan dulu saja sekalian Nomor rekeningnya" ucap Linda.


"Oke aku jam delapan malam sudah sampai sana kok, sekalian membawakan lima ratus unit ponselnya" ucap Farrell.


"Okay, trims Farrell" ucap Linda sambil memutuskan panggilan telepon itu lalu menyimpan kembali ponselnya di atas meja teras.

__ADS_1


"Bisakah aku minta tolong hubungi Felix agar membawakan sekalian lima ratus dua puluh simcardnya" ucap Linda sambil melihat ke Mister Alexander.


"Sebentar" ucap Mister Alexander sambil mengambil ponselnya.


"Pa Felix apakah anda masih jauh" ucap Mister Alexander.


"Mister Alexander Saya sudah dekat, paling lima belas menit lagi saya sampai, apakah ada yang bisa saya bantu untuk anda" ucap Pak Felix.


"Bisa anda hubungi orang kantor anda untuk membawakan lima ratus dua puluh simcard telepon seluler dan jangan lupa sekalian notanya" ucap Mister Alexander.


"Baik Mister Alexander, saya akan hubungi anak buah saya biar naik motor saja jadi lebih cepat, apakah perlu saya mengirimkan nomor nomor yang bagus" ucap Pak Felix.


"Ya yang dua puluh untuk kami, agar bisa dengan nomor Indonesia jadi bawakan saja nomor yang bagus untuk kami" ucap Mister Alexander.


"Baik Mister Alexander, jika demikian yang dua puluh biar menggunakan data perusahaan saja jadi tinggal di gunakan dan semua biaya di tanggung oleh kantor" ucap Pak Felix.


"Linda apakah tidak salah, simcardnya lima ratus dua puluh sedangkan ponselnya hanya lima ratus unit" ucap Mister Alexander.


"Tentu saja tidak tunggu sebentar ya" ucap Linda sambil berdiri dan langsung melangkah menuju rumahnya.


Linda di dalam rumahnya langsung mengambil dua puluh unit telepon seluler yang merupakan jenis dan type dengan yang dia gunakan dan membawanya ke Paviliun yang sudah menjadi kantor sementara itu.


"Ini aku masih punya, waktu itu aku membelinya seratus unit" ucap Inda sambil menyimpan dua puluh dus telepon seluler terbaru dan tercanggih dengan harga satuan di atas dua puluh juta rupiah.


"Linda kau ini, apakah kau sudah lama merencanakan semua ini sehingga di rumahmu bisa ada banyak barang seperti ini" ucap Mister Alexander.


"Iya, itu benar, karena memang aku ingin kita berkumpul disini, dan semuanya memang sudah aku siapkan untuk kita" ucap Linda.

__ADS_1


"Lalu dua puluh unit untuk siapa saja" ucap Mister Alexander.


"Kita dan kakek nenek tentunya, jika kita menggunakan nomor Australia terus maka akan mahal untuk biaya komunikasi kita di sini, jadi seorang akan mendapatkan dua unit, biarkan saja nomor Australia kita khusus untuk kepentingan bisnis di sana, sedangkan untuk bisnis di Indonesia kita pakai nomor Indonesia saja" ucap Linda.


"Ya itu memang lebih baik, lagi pula dua puluh nomor untuk kita informasi dari Felik itu fasilitas kantor jadi bebas biaya" ucap Mister Alexander.


"Ya asal jangan sampai di potong dari keuntungan ku saja" ucap Linda sambil tertawa ringan.


"Kau ini" ucap Mister Alexander.


"Oh iya Farrell nanti datang jam delapan malam, jadi nanti abis shalat isya aku akan menyampaikan ke para penduduk desa untuk berkumpul di balai desa saja, karena mereka membutuhkan penjelasan untuk menggunakannya, hal ini kan baru untuk mereka" ucap Linda.


"Linda, sebaiknya kau menghubungi Farrell lagi untuk membawa orangnya agar mereka saja yang menjelaskan ke penduduk desa karena memang itu bidang mereka bukan" ucap Mister Alexander


"Iya sebentar aku hubungi lagi dia" ucap Linda sambil mengambil ponselnya yang sejak tadi tergeletak di atas meja teras.


"Farrell, maaf aku kelupaan, tolong bawa orang untuk mengajarkan penduduk desa tentang menggunakan telepon seluler, karena ini hal baru untuk mereka" ucap Linda.


"Linda jadi lima ratus unit telepon seluler itu mau kau bagikan untuk penduduk desa?" Tanya Farrell.


"Iya, kan disini sudah ada sinyal jadi sudah sewajarnya mereka semua memiliki telepon seluler" ucap Linda.


"Oke, nanti biar orang ku saja yang menjelaskannya kepada penduduk desa, lalu tempatnya dimana apakah di rumahmu atau ada tempat lain" ucap Farrell.


"Langsung saja bawa ponselnya ke balai warga letaknya di areal masjid kok" ucap Linda.


"Oke nanti aku langsung kesana saja" ucap Farrell.

__ADS_1


"Oke Terima kasih" ucap Linda sambil memutuskan panggilan telepon itu dan meletakan kembali ponselnya di atas meja teras.


__ADS_2