
"Mily, tunggu beberapa bulan saja lagi ya, keuangan pribadi ku sudah cukup menipis." Ucap Linda.
"Menipis apanya yaaaaa, bukankah malah nambah." Ucap Mily sambil melirik Linda.
"Iya kan kau tahu sendiri, biasanya dalam satu tahun berapa dan sekarang berapa, lagi pula setelah penyatuan semua perusahaan juga kan kita bisa mengambil satu kantor saja di semua negara, jadi biayanya juga terlalu besar bukan." Ucap Linda.
"Oke Miss." Ucap Mily.
"Kalian berdua itu ya selalu saja bahas bisnis ini bisnis itu, sudahlah sekali kali kosongkan pikiran soal kerjaan." Ucap miss Elvira.
"Iya Bu." Ucap Linda sambil menengok ke arah Miss Elvira.
"Miss, kenapa ya orang orang disini jika naik motor seperti itu, dia di kiri tapi lampu sen nya ke kanan terus." Ucap Mily.
"Ya sudah kau jaga jarak saja dari pengendara motor itu, kita kan ngak tahu dia mau kemana nantinya." Ucap Linda.
"Ini lagi orang aneh banget, pakai motor tapi pakai hazard, Hadeeeeeh bisa stress aku jika setiap hari ketemu mereka." Ucap Mily.
"Kau baru sehari saja menyetir sudah begini, bagaimana mereka yang setiap hari coba, itulah kenapa aku ingin kita di desa saja, bekerja disana, dan tinggal disana." Ucap Linda sambil mengambil ponselnya karena ada sebuah pesan masuk.
"Linda, maaf sepertinya aku besok tidak ke Desa Impian, karena masih ada urusan yang harus aku kerjakan." Tulis Farrell melalui pesan singkat.
"Iya, memangnya kau dimana sekarang." Tulis Linda membalas pesan singkat itu.
"Aku masih di Bandung dan akan berangkat ke Jakarta, sepertinya besok sore aku baru kembali." Tulis Farrell.
"Iya, hati hati di jalannya ya." Tulis Linda membalas pesan singkat itu.
"Love you Linda." Tulis Farrell kembali melalui pesan singkat.
"Iya, makasih ya." Balas Linda melalui pesan singkat dan menyimpan kembali ponselnya itu ke dalam tasnya
"Farrell izin lagi, katanya hari ini mau ke jakarta dan besok baru kembali." Ucap Linda.
"Apakah Miss Linda percaya?." Tanya Mily.
"Tidak, bukankah wanita tadi sudah janjian dan akan bertemu malam nanti." Ucap Linda sambil menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Ya kita berdoa saja, tidak ada hubungan apa apa di antara mereka, tapi kenapa Miss Linda tidak menegurnya soal video yang aku rekam tadi." Ucap Mily.
"Mily pelankan mobilnya." Ucap Linda sambil menepuk pelan tangan Mily.
"Iya miss, memangnya ada apa." Ucap Mily sambil memelankan laju mobilnya.
"Itu bukannya mobil Farrell ya." Ucap Linda sambil menunjuk ke mobil yang ada di depan sebelah kanan mereka dan terhalang satu mobil saja.
"Sepertinya iya Miss, baiklah waktunya menjadi detektif." Ucap Mily sambil tersenyum lebar.
"Kau ini ada ada saja." Ucap Miss Lissa.
"Ibu, ini seru, kita ikuti dia saja, miss coba tanya dia lagi dimana, kalau dia bilang di jalan berarti jujur." Ucap Mily.
Linda kemudian mengambil ponselnya dan langsung mengirimkan pesan singkat ke Farrell yang isinya hanya menanyakan keberadaan Farrell saja.
"Sayang, Aku masih di kantor, masih siap siap." Tulis Farrell membalas pesan singkat dari Linda.
"Oh oke." Balas Linda melalui pesan singkat juga.
"Dia bilang masih di kantor." Ucap Linda sambil menyimpan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
"Sangat yakin Bu, Mily ikuti saja dia kemana." Ucap Linda.
"Baiklah beres, dia tidak akan bisa kabur dari ku." Ucap Mily yang masih berusaha menjaga jarak dengan mobil Farrell.
Mily terus mengikuti mobil Farrell namun ternyata mobil itu memasuki sebuah mall dan Mily pun tetap mengikutinya.
Mobil Farrell berhenti di depan lobi yang merupakan tempat parkir valet dan nampak jika Farrell dan seorang wanita turun dari mobil itu.
Linda pun kemudian merekamnya dengan ponselnya sampai keduanya masuk ke dalam Mall itu.
"Mily ayo kita pulang." Ucap Linda sambil melihat rekaman video yang dibuat olehnya.
"Baik Miss, kirain mau melabrak mereka berdua." Ucap Mily sambil menjalankan kembali mobilnya dan keluar dari area mall itu.
"Buat apa kita melabraknya, biarkan saja, nanti juga aku pasti tahu siapa wanita cantik itu." Ucap Linda yang kini bersandar di kursinya.
__ADS_1
"Kalau Bradley berani seperti itu, wah sudah aku hukum dia." Ucap Mily.
"Iya itukan kalau kau, aku kan bukan kau." Ucap Linda.
"Linda itu tadi bukankah wanita yang sama dengan yang rekaman video Mily." Ucap Miss Lissa.
"Iya Bu benar, itu wanita yang sama." Ucap Linda yang terdengar lemas.
"Linda, bukankah jika kau tadi menemui Farrell semuanya akan jadi jelas?." Tanya Miss Lissa.
"Ibu, itu tempat ramai, dan aku tidak ingin membuat keributan di tempat ramai, jika ada yang memviralkannya kan bahaya untuk bisnis ku." Ucap Linda.
"Iya itu benar Miss, jangan sampai nanti media sydney ikut melihatnya, bisa bisa kita susah dapat kontrak baru." Ucap Mily.
"Kalian benar, lagi pula tidak sepadan keributan yang di buat dengan dampak akibat yang di dapatkan, Linda nanti saja jika pas kalian sedang berdua, kau menanyakannya." Ucap Miss Elvira.
"Namun pesan ibu kau jangan emosi ya, ibu tahu ini berat untuk mu namun biar gimana juga kita tidak mengetahui isi hati Farrell, jangan sampai gara gara masalah dugaan malah membuat kalian berpisah." Ucap Miss Lissa.
"Iya Bu, Linda juga mungkin nantinya akan menanyakan perihal wanita itu, ya semoga saja benar itu masih saudaranya." Ucap Linda sambil menarik nafas dalam dalam.
"Kakek dan ayah jangan sampai tahu hal ini ya Bu. Aku tidak ingin mereka kepikiran soal masalah seperti ini." Ucap Linda.
"Iya lebih baik sementara hanya kita kita saja yang mengetahui masalah ini, Nenek tidak mau kakek tahu dan memperkeruh suasana." Ucap Nenek Evi.
"Mily percepat sedikit mobilnya mumpung jalanan lancar." Ucap Linda.
Mily hanya mengangguk dan menambah kecepatan mobil dari yang hanya tiga puluh kilometer per jam menjadi enam puluh kilometer per jam karena kini memang jalan nya cukup lancar.
"Ngomong ngomong tadi apakah kamu membeli dengan jaket kulitnya juga gak." Ucap Miss Elvira.
"Ada Bu, kan semua yang ada di toko itu Linda beli." Ucap Linda.
"Di desa impian kalau malam sangat dingin dan sepertinya jika menggunakan jaket kulit akan sedikit lebih hangat untuk kami." Ucap Miss Elvira kembali.
"Nanti Ibu pilih saja dulu mana yang ibu sukai, sisanya baru kita kirimkan ke Sydney." Ucap Linda.
"Iya Linda, namun sayang sekalinya, produk sebagus itu sampai kurang peminatnya." Ucap Miss Lissa.
__ADS_1
"Itu kan produk hobi Bu, jadi sangat wajar jika hanya kalangan terbatas yang menyukainya." Ucap Linda.