
"Sebenarnya ada lima rumah lagi milikku namun di desa sebelah rencananya mau aku gunakan untuk farrell dan karyawannya saja, jadi sebaiknya kita bekerja di salah satu paviliun tamu saja, mari kita kembali ke rumah saja" ucap Linda sambil tersenyum hangat ke mereka berdua.
"Lebih luas dan lebih bagus Paviliun tamu mu dari ini" ucap Mister Grahan sambil mengikuti Linda dan Mister Alexander yang sudah keluar lebih dulu dan dia kembali mengunci pintu rumah itu.
Mereka bertiga langsung ke paviliun tamu nomor lima meskipun di sebut paviliun namun itu bentuknya adalah bangunan dua tingkat dan masing masing seluas tiga ratus meter persegi lantai satunya demikian juga lantai duanya karena memang di bangun Full.
"Ini jauh lebih baik dan tidak memalukan, lantai satu kita gunakan untuk pertemuan saja dan lantai dua untuk ruang kerja, bukankah semua bangunan ini sama" ucap Mister Grahan.
"Benar semuanya sama seperti paviliun satu dan dua, baiklah aku akan ambil dulu kuncinya dan juga laptopnya tapi apakah tidak Paviliun satu saja ya, maksud ku jika tamu sampai kebelakang sini aku sedikit risih karena mereka akan melihat garasi ku itu" ucap Linda sambil menunjuk ke garasi mobil mobil mewahnya yang sengaja disembunyikan di belakang rumahnya.
"Iya juga, ya sudah aku di sini saja, dan Grahan kau pakai nomor empat saja" ucap Mister Alexander.
"Iya Linda kau bawakan laptopnya ke paviliun nomor satu kami akan memindahkan barang barang kami" ucap Mister Grahan.
"Iya, tapi apakah ibu tidak keberatan pindah kesini" ucap Linda sambil tersenyum hangat.
"Kau ini sangat plin plan, jadi bagaimana lagi pula semua penduduk desa juga tahu jika kami orang tua angkat mu sejak kau bayi" ucap Mister Alexander sambil duduk di kursi teras Paviliun tamu nomor lima itu.
"Iya iya, aku tidak tega saja sama ibu, ya sudah kalian di serumah saja dengan ku, masih ada puluhan kamar kosong juga jika ingin pintu sendiri ya di paviliun tamu ini" ucap Linda sambil tertawa ringan.
"Kau ini benar benar ya, biar kedua ibumu saja yang memutuskan, sebentar aku hubungi dia dulu" ucap Mister Grahan sambil mengambil ponselnya dan langsung menghubungi istrinya untuk datang ke paviliun tamu nomor lima tempat mereka berada saat ini.
__ADS_1
Linda hanya bersiul saja dan duduk di kursi teras itu juga dan tidak lama kemudian kedua ibu angkatnya itu datang ke paviliun tamu nomor lima menemui mereka.
"Istriku, jadi begini, kami membutuhkan kantor untuk kami bekerja dan menerima tamu, kami berencana menggunakan paviliun tamu nomor satu karena rumah sebelah kita itu bangunannya sudah rapuh dan memerlukan banyak perbaikan, dan Linda bingung antara kita tinggal di dalam rumahnya atau mengisi Paviliun yang ini" ucap mister Grahan.
"Linda ibu lebih suka di paviliun tamu yang ini saja, karena dekat dengan kolam renang dan bangunan ini tidak terlalu luas tapi jika di dalam rumahmu itu ibu bisa bisa kecapaian karena terlalu luas" ucap Miss Elvira sambil tersenyum hangat.
"Benar Linda, ibu di paviliun tamu nomor empat saja" ucap Miss Lissa.
"Benar Linda, jadi Paviliun ke satu sudah Fiks untuk kantor sementara kita, lagi pula letaknya lebih dekat dengan pintu gerbang mu jadi tidak akan ada tamu yang melihat garasi mu" ucap Mister Alexander
"Ya sudah jika demikian, ayo kita bereskan, aku akan mengambil peralatan kantor seadanya dulu dan jika ada yang kurang maka nanti kita beli saja" ucap Linda sambil berdiri.
Linda hanya tersenyum saja dan langsung berjalan ke rumahnya kembali tapi tidak melalui ruang tamu melainkan melalui garasi belakang karena gudang penyimpanan milik nya ada di bagian belakang garasi itu.
Linda mengeluarkan dua laptop Apple terbaru dan dua printer portabel lalu membawanya ke Paviliun tamu nomor 1 atau Paviliun tamu paling depan kemudian kembali lagi dengan mengambil meja kerja yang knock down sehingga masih bisa dia angkat sendiri meskipun harus membuatnya bolak balik ke gudang penyimpanan di belakang rumahnya itu dia melakukannya dengan senang hati karena tidak ingin ayah angkatnya kecapean jika harus mereka yang mengambilnya.
Mereka sampai dua jam lebih untuk memindahkan barang barang itu beruntung Kakek Muchtar pas datang sehingga mereka akhirnya meminta bantuan warga desa untuk mengosongkan kamar kamar di paviliun tamu nomor satu itu.
Hal ini selain menjadi bantuan berharga ini juga keuntungan tersendiri untuk Linda karena penduduk desa jadi tahu jika mister Alexander dan Mister Grahan beserta istrinya tinggalnya tidak serumah dengannya.
"Linda apakah kau tidak memiliki monitor extra, akan lebih mudah untukku jika ada dua atau tiga monitor" ucap mister Grahan sambil merakit meja kerja dan mereka merubah kamar kamar tidur sebagai ruang kerja mereka. Sedangkan tempat tidurnya sudah di pindahkan ke gudang penyimpanan.
__ADS_1
"Itu di dus sudah aku bawakan" ucap Linda sambil berjalan mendekati tumpukan dus dan mengambil satu dus yang merupakan triple monitor portable untuk laptop sehingga bisa mudah di bawa kemana mana.
"Nah dengan ini enak kerjaku, semuanya bisa lebih cepat" ucap Mister Grahan sambil menyimpan laptop di atas meja yang selesai di rakitnya lalu memasang triple monitor portable itu dan langsung menghidupkan Laptop untuk mencobanya.
"Sangat sempurna" ucap Mister Grahan sambil membuka dus keyboard dan mouse lalu memasangnya.
"Kenapa ini tidak di pasangkan sekalian" ucap Linda sambil menyerahkan satu dus yang merupakan kipas tatakan laptop ke mister Grahan.
"Aku kira kau tidak memilikinya" ucap Mister Grahan sambil memasangkan kipas tatakan laptop tersebut.
"Kalian bekerja berdua lambat sekali aku sudah selesai instalasi laptop ku dan ruang kerjaku sudah beres juga" ucap Mister Alexander yang menjumpai mereka berdua.
"Kami juga sudah selesai, sudahlah kalian lakukan yang lainnya aku mau langsung mengerjakan projects proposal pembangunan desa impian." Ucap Mister Grahan sambil fokus dengan laptopnya.
"Linda, Pak Felix sudah dalam perjalanan kesini membawakan kontrak sewa lahannya dan katanya biaya sewanya juga sudah di transfer ke rekening yang kau berikan sejam yang lalu." Ucap mister Alexander sambil berjalan di belakang Linda menuju ke teras Paviliun.
"Wah aku belum melihatnya, sebentar aku lihat dulu" ucap linda sambil mengambil ponselnya dan membuka email email yang masuk ke ponselnya itu lalu melihat aplikasi mobile banking nya.
"Iya sudah masuk tapi ini sewa berapa lama karena masuknya lima miliar rupiah ke rekening ku" ucap Linda sambil menyimpan kembali ponselnya itu di atas meja teras.
"Entahlah nanti lihat saja kontraknya, seharusnya dia juga sebentar lagi sampai, lalu kau kapan membeli ponsel untuk warga desa ini" ucap Mister Alexander.
__ADS_1