
"Alhamdulillah Linda sangat senang mendengarnya, Linda sendiri sudah lupa dengan uang itu" ucap Linda sambil tertawa ringan.
"Kau ini sama uang sebanyak itu bisa sampai lupa" ucap kakek muchtar.
Mereka sampai di masjid desa itu dan langsung masuk lalu melaksanakan shalat Ashar berjamaah bersama seluruh penduduk desa dan juga para pekerja proyek.
"Linda kau kenapa?" Ucap Nenek Evi yang melihat jika Linda hanya bengong sambil melihat penduduk desa dan para pekerja proyek selesai melaksanakan shalat berjamaah.
"Nek, masjid ini sudah waktunya untuk di besarkan, kelak jika perkantoran Linda sudah jadi maka akan tetap sangat ramai masjid ini" ucap Linda sambil tersenyum hangat ke neneknya itu.
"Linda nenek hanya bisa berdoa saja semua yang kau lakukan berjalan lancar" ucap Nenek Evi.
"Aamiin Yra, terima kasih Nek, ayo kita pulang" ucap Linda.
"Linda masjid desa dulu sangat kecil dan sepi karena hanya shalat maghrib saja yang ramai, namun setelah kau datang, masjid ini menjadi besar dan ramai seperti ini, nenek sangat bahagia akan hal ini" ucap Nenek Evi sambil berjalan pulang bersama Linda.
"Nek semua sudah ada waktunya, ya untungnya hampir semua penduduk desa kita ini bekerja kepada Linda jadi mau mendengarkan apa yang Linda katakan" jawab Linda sambil terus berjalan bersama neneknya itu tanpa mengetahui jika Farrell dua meter di belakangnya berjalan bersama kakek Muchtar.
"Linda, apa lokasi masjid tidak di rubah saja, dan di buat di tengah tengah antara perkantoran mu dan rumah baru kita, jadi semuanya akan lebih dekat, jika tetap disini maka akan cukup jauh dari perkantoran mu dan juga peternakan mu itu" ucap Nenek Evi sambil tersenyum hangat ke Linda yang berjalan di samping kanannya.
"Nenek, jika lokasi masjid di pindahkan maka kita harus menyampaikannya ke kakek dulu, takutnya penduduk desa tidak setuju dengan hal ini" ucap Linda sambil membuka sandalnya karena mereka sudah sampai.
"Linda, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu" ucap Farrell yang melihat Linda hendak masuk kedalam rumah bersama neneknya.
"Farrell di dalam saja ngobrolnya" ucap Linda sambil terus masuk ke dalam rumah kakeknya itu lalu duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Farrell dan kakek Muchtar juga langsung masuk namun jika Farrell langsung duduk di ruang tamu itu kakek Muchtar tidak ikut duduk melainkan masuk kedalam kamarnya.
"Farrell ada apa?" Tanya Linda dengan ramah sambil memandangi wajah Farrell.
"Linda, mengenai kantor lama yang akan di gunakan oleh Bradley apakah tidak sebaiknya di buatkan kantor sendiri di pinggir jalan raya karena truck truck sparepart lebih berat dari pada trus ternak, aku takutnya jalan nanti akan cepat rusak, dan juga ketinggaian truck merubah gapura desa jadi biaya exstranya lebih banyak" ucap Farrell.
"Iya kau bilang saja ke ayah Grahan, minta di buatkan spesifikasi dan desainnya, bangunlah di tempat yang kau inginkan, nanti bekas bangunan desa ini juga akan kita rubah karena aku ingin mendirikan masjid yang bisa menampung ribuan orang saja" ucap Linda dengan ramah.
"Linda kenapa semua permintaan ku selalu kau kabulkan, apakah kau sudah mulai mencintaiku" ucap Farrell sambil memandang wajah Linda.
"Farrell jangan konyol, aku berkata iya juga dengan penuh pertimbangan" ucap Linda sambil melihat jika neneknya datang dan duduk di sebelahnya.
"Iya,Nek dan Linda aku pamit dulu mau menemui mister alexander" ucap Farrell dengan sangat sopan sambil berdiri.
"Iya dan sampaikan jika aku ingin mendirikan masjid yang lebih besar jadi desain ulang ya desa impian ini, nanti aku akan ke kantor untuk melihat hasilnya" ucap Linda dengan ramah.
"Apa ada lagi yang akan kau bangun di desa kita ini? Tanya Nenek Evi dengan ramah.
"Iya Nek, Bradley suaminya Mily mengajak Linda untuk berbisnis sparepart mobil dan tadinya Linda akan memberikan mereka kantor yang sekarang untuk Bradley namun Farrell baru mengetahui jika dampak jangka panjangnya lebih mahal jadi mau kita buatkan saja khusus untuk dia di pinggir jalan utama saja, karena nanti akan banyak mobil truck pengangkut sparepart yang keluar masuk" ucap Linda dengan ramah menjelaskannya.
"Nenek doakan, Semoga semuanya lancar ya" ucap Nenek Evi dengan penuh kasih sayang.
"Linda ini semua uang mu, namun tidak lagi bagus seperti waktu kau berikan" ucap Kakek Muchtar sambil menyimpan satu kantong plastik hitam yang berisi uang tunai.
Linda langsung melihatnya dan menyimpan kembali di atas meja itu.
__ADS_1
"Kakek, masjidnya jika di pindahkan dan di ganti dengan lebih besar bagaimana" ucap Linda sambil tersenyum hangat ke Kakeknya itu.
"Linda masjid itu masih sangat bagus loh apa nga sayang dengan uang mu" ucap Kakek Muchtar dengan ramah dan tersenyum hangat ke Linda.
"Kakek, jika perkantoran ku sudah berjalan bisa sampai seribu orang lebih dan sekarang saja sudah sangat penuh, lagi pula Linda yakin jika untuk kebaikan maka rezeki akan terus mengalir" ucap Linda dengan ramah.
"Ya sudah bagaimana mana baiknya saja, nanti kakek akan sampaikan ke semua penduduk selesai shalat maghrib" ucap kakek Muchtar dengan ramah.
"Makasih Kakek dan Nenek, Linda pulang dulu ya, soalnya ada beberapa hal yang harus Linda urus dengan Mily" ucap Linda dengan sangat sopan sambil berdiri dan membawa kantong plastik hitam yang berisi uang ratusan juta itu.
"Iya" ucap kakek neneknya dengan kompak.
Linda meninggalkan rumah kakek neneknya itu namun tidak langsung ke rumahnya melainkan langsung ke kantornya yang berada di sebelah rumahnya itu.
"Mily, tolong hubungi pihak bank minta salah seorang dari mereka datang dan tukar uang ini dengan uang yang baru ya" ucap Linda sambil duduk di kursi kerjanya sedangkan Mily duduk di kursi tamu di meja kerjanya itu.
"Baik Miss" ucap Mily sambil mengambil kantong plastik hitam berisi uang tersebut lalu membawanya ke meja sofa.
Mily kemudian menghitung ulang uang itu dengan teliti agar tidak ada satupun yang terselip.
"Miss semuanya ada dua ratus lima puluh juta rupiah, saya ambil uang kantor dulu saja ya, besok biar saya hubungi orang bank kita untuk datang" ucap Mily yang sudah selesai menghitung semua uang di kantong plastik hitam itu.
"Iya, soalnya mau aku simpan di rumah jadi aku ingin semuanya tetap fresh kasian uang ku yang lain jika tercampur" ucap Linda dengan ramah sambil memainkan mouse dan keyboard laptopnya.
Mily langsung berdiri sambil membawa kantong plastik hitam itu dan mengambilkan uang senilai dua ratus lima puluh juta rupiah dari brankas dan memasukkannya kedalam kantong kertas.
__ADS_1
"Ini Miss, sudah fres loh" ucap Mily sambil meletakkan kantong kertas itu di atas meja kerja Linda.