From Sydney With Love

From Sydney With Love
Di Atas Bukit


__ADS_3

"Linda ayo kita lihat tanahnya, siapa tahu ada yang cocok untuk kami jadikan perumahan untuk kami, dan luasnya seperti luas rumah mu ya, oh ya seberapa luas itu rumahmu" ucap Mister Alexander.


"Luas Rumahku hanya lima ribu meter persegi saja, jika bangunannya hanya seluas seribu meter saja yang lantai satu jika lantai dua hanya lima ratus meter persegi" ucap Linda dengan ramah.


"Ah terlalu luas untuk aku, kita cukup dua ribu meter saja dengan luas rumah lima ratus meter persegi saja" ucap mister Alexander lagi.


"Ya sudah aku akan berpamitan terlebih dulu dengan kakek nenek, mumpung masih satu setengah jam sebelum shalat Ashar" ucap Linda sambil berdiri dan melangkah menuju ruang tamu.


"Kakek Nenek saya akan berkeliling dulu bersama dengan mister Alexander dan mister Grahan untuk mencari lokasi yang cocok untuk digunakan menjadi perumahan karyawanku" ucap Linda dengan ramah setelah duduk di sebelah neneknya.


"Pergilah dan jika menurut kakek tanahmu yang di belakang masjid saja yang kau bangun pasti Alexander dan Grahan akan cocok karena pemandangannya yang indah" ucap Kakek Muchtar dengan penuh kasih sayang.


"Linda bisakah kami juga ikut, kami sudah lama tidak berjalan kaki" ucap Nenek Wati dengan sangat ramah.


"Nenek, tentu saja boleh jaraknya juga hanya dua ratus meter saja dari sini." Ucap Linda dengan ramah.


"Ayo jika demikian kita rame rame saja melihatnya" ucap Linda dengan ramah.


Mereka berlima kemudian keluar dari dalam rumah dan bersama dengan Mister Alexander dan Mister Grahan serta Farrell mereka berjalan bersama menuju lokasi yang ingin Linda jadikan perumahan untuk semua bawahan nya yang nantinya akan mengurus bisnisnya di kota Bandung.


"Ini tanahnya yang menurut kakek ku cocok untuk kalian jadikan perumahan, bagaimana menurut kalian apakah kalian suka" ucap Linda dengan sangat ramah setelah mereka sampai di perkebunan luas dan ada di sebuah bukit di belakangnya.


"Linda bukit itu apa termasuk tanahmu" ucap Kakek Prayoga sambil menunjuk ke arah bukit.


"Benar, semua disini adalah milik saya, kecuali rumah rumah penduduk dan masjid yang tadi kita lewati" ucap Linda dengan ramah.

__ADS_1


"Linda, tanah mu ada seberapa luas?" Tanya kakek Prayoga dengan sangat penasaran.


"Wah jawabannya sama seperti yang Farrell tanyakan kepada saya, saya tidak tahu ada berapa ratus ribu hektare semuanya, tapi yang jelas selain perkebunan teh di wilayah sini semuanya milik saya" ucap Linda dengan ramah sambil tersenyum hangat ke kakek Prayoga.


"Linda kau masih muda dan memiliki perusahaan terbesar di Australia dan kau juga memiliki aset yang sangat besar dan banyak, sungguh berbeda dengan cucu kami ini, Farrell belajarlah dari linda dan berhentilah berbisnis yang tidak jelas" ucap Nenek Wati dengan ramah.


Farrell hanya menarik nafas dalam dalam karena memang dia mengakui jika hartanya sangat sedikit dibandingkan dengan Linda.


"Nek, semua ada garisnya, saya yakin setelah semua saham saya kuasai Farrell bisa bekerja dengan serius mulai sekarang, dan saya juga yakin Farrell sudah banyak belajar dari kesalahannya dimasa lalu" ucap Linda dengan ramah.


"Ya semoga saja" ucap Kakek Prayoga sambil berjalan ke arah bukit itu di ikuti oleh yang lainnya dan Farrell yang paling belakang berjalan bersama Mister Alexander.


"Farrell sudah jangan banyak berpikir, maksud kakek nenek mu itu hanya ingin kau semakin bersemangat bukan hendak membandingkan kau dengan Linda" ucap Mister Alexander dengan ramah.


"Iya mister Alexander saya paham juga dengan hal itu" ucap Farrell sambil tersenyum hangat.


"Linda ini sangat luas sekali" ucap Kakek Prayoga.


"Benar Kek, dari bawah memang tidak terlihat karena banyaknya pepohonan dan juga bukit ini cukup tinggi jadi tanah datar ini tidak terlihat" ucap linda dengan ramah.


"Linda jika disini saja bagaimana perumahannya" ucap mister Alexander dengan sangat bersemangat.


"Benar Linda jadi perkebunan mu hanya terpakai oleh jalan saja nantinya" ucap Mister Grahan dengan sangat bersemangat juga.


"Kalian berdua ini, melihat seperti ini saja kalian sudah seperti ini bagaimana melihat bukit lain milikku, bisa bisa kalian ingin menambah rumah" ucap Linda sambil tersenyum hangat.

__ADS_1


"Linda mereka berdua benar, disini saja perumahan untuk para karyawan mu itu" ucap kakek Muchtar dengan ramah.


"Kalian berdua beruntung ya kakek membela kalian, ya sudah aku nanti akan menghubungi kontraktor yang kemarenan membangun rumahku untuk membangun perumahan kalian" ucap Linda dengan sangat ramah.


"Linda jika pembangunan perumahan ini farrell saja yang mengerjakannya bagaimana" ucap Nenek Wati dengan ramah.


"Benar Linda, Farrell juga bisa kok, dari pada dia kesana kesini seperti tidak memiliki bawahan lebih baik dia aku patok disini saja" ucap Kakek Prayoga dengan ramah.


"Linda kakek juga setuju jika nak Farrell yang membangun perumahannya, setidaknya pembangunan perumahan ini bisa lebih terkontrol jika oleh yang sudah di kenal bukan" ucap Kakek Muchtar dengan penuh pertimbangan.


"Ya sudah jika demikian, Farrell apa kau bisa membuat perumahan di puncak bukit ini untuk karyawan ku" ucap Linda dengan ramah.


"Siap Bu Bos saya mampu dan saya pasti bisa" ucap Farrell sambil tersenyum ramah ke Linda.


"Sekali lagi kau panggil aku Bu Bos, maka aku akan mengirim mu untuk mendirikan perusahaan di afrika selatan" ucap Linda dengan tegas.


"Ingatlah aku tidak suka panggilan itu, meskipun aku pemilik saham terbesar perusahaan mu" tambah Linda lagi.


"Iya Linda maaf, aku hanya bercanda saja" ucap Farrell dan di ikuti ledakan tawa terbahak bahak semua yang ada di sana.


"Lihatlah kek, cucu kita akhirnya bertemu dengan lawannya, dan dia tidak bisa lagi berjago" ucap nenek Wati sambil tertawa terbahak bahak.


"Farrell sebaiknya kau ingat apa yang linda ucapkan, jika tidak maka kau aku kirim ke Afrika Selatan untuk membuat supermarket disana" ucap Kakek Prayoga sambil tertawa terbahak bahak.


Farrell hanya tersenyum dan menarik nafas dalam dalam melihat semuanya menertawakannya nianya mencandai Linda berakhir dengan dia yang ditertawakan oleh yang lainnya.

__ADS_1


"Baik, Farrell nanti aku akan kirimkan gambarnya untuk kau pelajari, karena aku sudah meminta orang ku untuk menggambarkan rumah hari tua ku" ucap Mister Alexander dengan sangat ramah.


"Hai tidak bisa seperti itu, aku juga sudah mempunyai gambar rumah hari tua ku jadi pakai desain ku saja" ucap Mister Grahan tidak mau mengalah.


__ADS_2