From Sydney With Love

From Sydney With Love
Berbelanja Bersama 3


__ADS_3

“Jika begitu aku disana saja juga deh” ucap Mily sambil melangkah menuju kedua ibu angkat dan juga nenek Evi diikuti oleh Linda.


“Linda, kami sudah menentukan cincin untuk suami kami tinggal kau bayar saja” ucap Miss Lissa.


“Ibu, tunggu punya Mily dulu ya, jika Mily sudah memilih untuk Bradley baru aku bayar” ucap Linda sambil ikut melihat cincin cincin berlian yang ada di etalase namun tidak ada yang membuatnya tertarik.


“Aku ambil ini saya sepasang” ucap Mily sambil memberikan dua cincin yang dia coba ke wanita penjaga toko perhiasan itu.


“Oke jika sudah semuanya aku akan membayarnya” ucap Linda sambil melangkah ke kasir dan yang lainnya pun langsung mengikutinya.


Linda kemudian membayar semua tagihan itu dan mereka kemudian membawa barang yang mereka beli, dan Linda pun hanya membawa perhiasan yang menjadi miliknya.


“Linda, ibu lapar, ayo kita makan” ucap Miss Elvira sesaat setelah mereka keluar dari dalam toko perhiasan itu.


“Ibu mau makan apa?” tanya Linda yang sudah mengetahui toko toko di Mall itu.


“Ibu ingin makanan barat saja, sudah lama tidak makan steak di hotplate” ucap Miss Lissa.


“Sama ibu Juga” ucap Miss Elvira.


“Ya sudah ikuti aku, kebetulan aku restoran yang dua menu, menu barat dan menu indonesia, jadi aku dan nenek bisa memakan masakan Indonesia saja” Ucap Linda sambil melangkah menuju restoran tujuannya.


Restoran itu berada di Rooftop sehingga mereka menggunakan lift untuk kesana, dan restoran itu juga memiliki dua tema yakni tema taman dengan tema klasik, sehingga suasananya sangat nyaman.


Linda dan rombongannya itu pun memilih tema klasik karena satu satunya ruangan yang bisa di booking semua hanyalah yang tema klasik saja, satu persatu mulai memesan makanan mereka karena memang mereka sudah sangat lapar akibat berkeliling Mall berjam jam.


“Miss Linda, ponselmu” ucap Mily yang melihat ponsel Linda yang di letakan di atas meja bergetar sedangkan Linda sendiri sedang melihat lihat lukisan lukisan yang ada di ruangan itu setelah mereka selesai menikmati makan siang mereka meskipun belum masuk waktu makan siang.


“Iya” ucap Linda sambil mendekati meja itu lagi dan ternyata itu hanya pesan masuk dari pemilik toko kulit yang mengirimkan nota dan Linda pun langsung mentransferkan sisa yang harus dia bayar lalu mengirimkan bukti transfernya ke pemilik toko kulit.

__ADS_1


“Mily, nanti biarkan Kakek, kedua ayah ku dan Farrell memilih dulu olahan kulit itu ya, baru kau packing dan kirimkan ke Sydney” ucap Linda sambil menyimpan kembali ponselnya itu.


“Oke Miss beres, nanti Bradley aku saja yang memilihnya.” ucap Mily.


“Linda kenapa kau membeli semua produk toko itu” ucap Miss Lissa.


“Ibu, kasian yang ada di Sydney, mereka belum pernah aku belikan produk olahan kulit asli kota Garut, kan ibu sudah lihat kualitasnya tidak kalah dengan produk bermerk terkenal” ucap Linda.


“Jadi seperti itu, Ibu kira kau mau buka toko di desa impian” ucap Miss Elvira.


“Tidak Bu, namun Miss Linda akan membuka pabrik pengolahan kulitnya saja, nanti produknya kita jual untuk pasaran di luar negeri terutama Australia” ucap Mily yang mendahului menjawab.


“Itu sangat bagus, ibu yakin akan sangat laku keras disana.” ucap Miss Lissa.


“Iya Bu, karena jika produksi disini terus kita jual di sini juga kasihan nanti para pedagang di indonesia ini, kita menguasai periklanan yang bisa kita gunakan untuk produk kita namun mereka kan tidak” ucap Linda.


“Iya, Ibu setuju karena biar bagaimana pun mereka juga harus untung, rejeki sudah di atur dan kebetulan memang rejeki kita di luar negeri.” ucap Miss Elvira.


“Wah bagus tuh Nek, jadi aku tidak perlu lagi mencarinya” ucap Mily.


“Iya nanti kita gunakan saja pergudangan itu sebagai salah satu pabrik pengolahan kulit, karena menurutku satu atau dua lot sudah cukup” ucap Linda.


“Merk apa yang akan kau pakai” ucap Miss Elvira.


“Entahlah, jika ibu ada saran boleh ibu sampaikan” ucap Linda


“Bagaimana jika LF Leather” ucap Miss Elvira.


“LF Leather?” ucap Linda.

__ADS_1


“Iya Linda and Farrell Leather” ucap Miss Elvira.


“Ibu ini ada ada saja tidak ah aku tidak mau” ucap LInda.


“Kenapa tidak kulit impian saja seperti nama desa” ucap Nenek Evi.


“Nek, nama itu sudah ada yang pakai” ucap Linda.


“Bagaimana jika pakai nama perusahaan kita saja” ucap Mily.


“Iya sepertinya itu lebih aman, dari pada kita bentrok dengan hak cipta yang kita tidak tahu sudah di pakai di negara mana, toh nama perusahaan kita sudah kita daftarkan di semua negara jadi tidak akan ada yang berani memakainya” ucap Linda.


“Jika nanti sudah ada pabrik pengolahan kulit kita bisa membuat barang berkualitas terbaik dengan harga murah dong” ucap Miss Elvira.


“Iya itu pastinya, karena Linda ingin produk kita tetap murah, sehingga lebih banyak terjual dulu di tahun pertama, kita akan mulai menaikan harga di tahun tahun berikutnya saja” ucap Linda.


“Iya betul miss, karena jika kita langsung pasang harga tinggi hanya kalangan terbatas saya yang akan memakainya,  nanti biaya periklanannya susah untuk tertutup” ucap Mily.


“Iya kalau Nenek yang nggak paham hanya bisa mendoakan saja semoga semuanya lancar ya” ucap Nenek Evi.


“Aamiin Ya Rabbal Alamin, makasih Nek” ucap Linda.


“Oh ya, Miss saya hampir lupa soal rumah sakit itu, tadi saat kita keluar dari desa sampai ke kota ternyata tidak ada rumah sakit ya, apa tidak sebaiknya anda membangun satu saja untuk penduduk desa lainnya” ucap Mily.


“Mily, bicarakan saja dengan pihak manajemen rumah sakitnya apakah mereka sanggung mencari tenaga kerjanya atau tidak, jika sanggung maka bicarakan dengan Ayah Grahan saja toh tanah ku yang di pinggir jalan utama masih banyak yang kosong.” ucap Linda.


“Itu Nenek sangat sangat setuju, pembangunan rumah sakit akan sangat membantu penduduk desa lain, karena saat ini jika mereka sakit pilihannya hanya ke puskesmas, jika Linda bisa membangunnya maka Nenek akan sangat senang sekali” ucap Nenek Evi.


“Benar Linda ibu juga sangat setuju, dari pada membuka klinik kecil di desa impian lebih baik bangun yang besar di pinggir jalan” ucap Miss Lissa.

__ADS_1


“Dengan adanya rumah sakit yang bagus, maka penduduk desa lain bisa mendapatkan fasilitas berobat yang bagus, jadi ibu juga setuju” ucap Miss Elvira mengemukakan pendapatnya.


“Mily, nanti kau minta saja ayah Grahan untuk membuat desainnya, dan nanti kau perintahkan juga dirut rumah sakit untuk mencari para pekerjanya, jika perlu tarik dari rumah sakit lama setengah tenaga kerja, jadi lebih berpengalaman untuk rumah sakit barunya dan untuk setengah lagi bisa dari yang baru lulus.” ucap Linda membuat keputusan akhir karena dia tidak ingin mengecewakan keinginan dari Neneknya dan juga kedua ibu angkatnya itu.


__ADS_2