
Mata Abiseka dan Faiha terbelalak kaget dengan ucapan mama Malika. Ternyata sandiwara mereka akan terus berlanjut, Apalagi Mama Malika dan Eyang Retno tampak begitu antusias dan bersemangat ingin menikahkan mereka berdua.
Niat Abiseka sebenarnya hanya ingin menghindari dari perjodohan yang di renncanakan oleh orang tuanya. Dan juga karena ia masih belum menemukan tambatan hatinya.
"Ma, apa-apaann sih. Aku dan Faiha saja belum membicarakan soal pernikahan kami, tidak secepat ini juga lah, Ma." Abiseka merasa terjebak oleh permainnannya.sendiri.
Sedangkan Faiha bingung harus menanggapinya seperti apa.Abiseka hanya mengatakan kalau ia hanya diminta untuk menjadi kekasih bohongan.Lalu, kini apa yang terjadi ia malah semakin terjerumus masuk kedalam kehidupan keluarga Jayendra.
"Aduh bagaimana ini? Kenapa jadi semakin ruwet. Apakah aku benar-benar akan menikah dengan laki-laki menyebalkan ini. Menyesal aku menerima tawarannya." Monolog Faiha yang semakin bingung dengan kenyataan yang tak sesuai rencana.
"Nak Faiha, sudah siap kan jika kami akan datang kerumah untuk melamarmu?" Nyonya Malika.
"Eh—itu Nyonya, saya belum membicarakan masalah pernikahan dengan keluarga saya. Jadi, saya meminta waktu untuk memberitahu dan berembug dengan bulek saya."
"Bulek?Kamu di Jakarta tidak tinggal dengan orang tuamu.Papa dan Mama mu apakah tinggal di kota mana?"
Raut wajah Faiha berubah sendu, ia jadi teringat dengan kedua orang tuanya yang telah meninggal sejak ia berumur 10 tahun. Sejak saat itu hanya buleknya lah sebagai pengganti kedua orang tuanya.
"Bapak dan Ibu saya sudah meninggal dunia 11 tahun yang lalu karena kecelakaan dan sekarang saya tinggal bersama bulek Lastri adik dari bapak saya, Nyonya." Jawab Faiha tertunduk lesu.
Nyonya Malika jadi merasa bersalah terhadap gadis bertubuh mungil yang tampak sedih karena mengingat akan masa lalunya yang kelam. Pasti Faiha begitu terpukul pada saat kejadian itu menimpanya.
"Maafkan Mama ya, cantik. Mama tidak tahu." Mengusap lembut punggung Faiha dan tangan yang satunya menggenggam tangan gadis itu.
"Iya, tidak apa-apa Nyonya. Itu sudah menjadi takdir dan kami sekeluarga sudah mengikhlaskannya. Maaf jika, saya belum bisa menjawab dan mengabulkan permintaan anda."
"Sudah–sudah, jangan bersedih lagi. Baiklah, kami akan memberikan kamu waktu untuk memberitahukan soal rencana lamaran kami pada bulekmu,ya.Dan satu lagi, mulai saat ini jangan panggil Nyonya. Panggil Mama...Mama Malika dan juga Eyang Retno,oke!"
Faiha mengangguk patuh. "Iya, Ma–ma."
"Good, itu baru menantu Mama yang cantik." Mengelus pipi Faiha dan tersenyum penuh kasih sayang.
__ADS_1
Abiseka hanya teebengong menyaksikan interaksi sang Mama dengan Faiha. Ada rasa yang tak ia mengerti entah apa itu.
"Heh–menantu? " Abiseka menautkan kedua alisnya dan menatap dingin pada Faiha.
"Ayo, kamu ikut aku!" Menarik tangan Faiha hingga gadis itu pun refleks bangkit dari duduknya.
"Maaf Ma, Eyang.Ada yang ingin kami bicarakan, berdua saja." Abiseka menekankan kata berdua saja agar sang Mama mengerti dan tidak kepo.
Abiseka membawa Faiha ke taman belakang. Mereka lalu duduk di sebuah gajebo yang letaknya di atas sebuah kolam yang berisikan berbagai macam.ikan hias.
"Ada apa ya,Tuan. Apakah saya telah melakukan kesalahan.Saya..."
"Diam dan dengarkan! siapa yang menyuruhmu berbicara lebih dulu. Kamu tidak berhak mengatakan apa pun, tugasmu hanya patuh pada semua perintahku. Apa maksudmu dengan menceritakan perihal keadaan keluargamu. Kamu mau mencari simpati keluargaku ya?"
"Bukan begitu, Tuan. Habis saya bingung harus menjawab apa. Mama Malika sangat baik dan rasanya tidak sopan jika tidak menjawab pertanyaannya. Dan yang saya katakan semua adalah hal yang sebenar-benarnya. Lalu, dimana salah saya." Faiha menjelaskan kalau ia sama sekali tidak mempunyai maksud tertentu dengan mencari simpati dari keluarga kaya tersebut.
Mendengar Faiha memanggil Mama membuat Abiseka tak suka. Ia menganggap Faiha tak pantas.
Faiha jadi merasa di rendahkan oleh laki-laki sombong yang berada di dekatnya itu. Mentang-mentang kaya dan berkuasa lalu, dia bisa semena-mena menghina orang miskin seperti dirinya. Faiha benar-benar semakin tak menyukai bossnya itu.
"Oke, baiklah Tuan Abiseka Jayendra yang terhormat. Maafkan saya jika telah melampaui batas seperti apa yang anda tuduhkan. Saya juga sadar diri dan tak pernah sedikitpun mempunyai keinginan untuk masuk dalam keluarga anda. Untuk itu, lebih baik kita hentikan sampai disini saja. Saya akan membatalkan perjanjian itu dan saya juga berjanji tidak akan muncul di hadapan anda ataupun keluarga anda yang sangat terhormat ini."
"Apa? Membatalkan perjanjian. Apa kamu sudah lupa kalau semua hutang-hutang keluargamu telah aku bayar bahkan sertifikat rumahmu sudah kembali padamu,bukan.Lalu, apakah kamu bisa mengembalikan semuanya dan juga pinalty dari kontrak kerja dinperusahaan yang telah kamu tanda tangani.Bagaimana...coba katakan padaku!" Abiseka mulai mengintimidasi Faiha hingga membuat gadis itu pun menciut.
Dengan penuh keberanian,Faiha menatap mata sang boss arogannya itu.
"Aku akan mengembalikan semua uang yang telah Tuan keluarkan. Dan saya akan tetap bekerja di perusahaan sampai bisa melunasinya. Asalkan sandiwara ini di akhiri."
"Enak saja kamu memutuskan hal itu, memangnya siapa kamu. Sudahlah, seumur hidupmu pun belum tentu kamu bisa membayarnya.Untuk sekarang biar berjalan apa adanya dulu. Kalau memang tak ada jalan keluar ya terpaksa kita menikah dan melanjutkan sandiwara ini ketahap selanjutnya."
"Apa? Menikah beneran sama si kanebo garing ini. No way. Kayak ngak ada cowok lainnya saja.ih...siapa yang sudi jadi istrinya, yang ada bisa makan hati setiap hari." Faiha bergidik ngeri sendiri membayangkannya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari kalau perbincangan mereka tengah di awasi oleh Nyonya Malika dan Eyang Retno yang mengintip dari balik tirai.
"Mom, sepertinya mereka sedang bertengkar deh. Atau jangan-jangan si Abi berbuat kasar pada Faiha. Bisa gawat kalau sampai Faiha menolak Abi dan membatalkan rencana pernikahan ini. Bagaimana ini, mom?"
"Sudahlah, jangan berperasangka yang jelek dulu. Biasa kan kalau pasangan yang akan memasuki ke jenjang perkawinan akan mengalami pergolatan batin seperti itu. Biarkanlah saja mereka nanti juga akan baikan denagan sendirinya. Maklum anak muda."
Nyonya Malika masih merasa was-was. Ya, karena ia tahu bagaimana sifat dan perangai buruk putranya itu. Bisa-bisa Faiha benar-benar akan meninggalkannya. Lalu, apa ada gadis lainnya yang mau dengan putranya yang...ah, Nyonya Malika jadi pusing jika memikirkannya. Bahkan umur Abiseka sudah telat untuk berumah tangga.
"Hhh...Baiklah Mom, kita pasrahkan saja pada yang di atas semoga semuanya baik-baik saja. Ish...si Abi, awas saja kalau sampai membuat Faiha menangis."
Acara intip mengintip mereka pun harus berakhir karena Abiseka dan Faiha sudah melangkah menuju ke dalam rumah.
Mereka semua berpura-pura sedang mengobrol di ruang keluarga dan ternyata Tuan Aryan telah bergabung bersama mereka.
"Ma, Pa dan Eyang. Faiha mau pamit. Buleknya sudah menyuruhnya untuk pulang." Menatap dingin kearah Faiha.
"Iya, Nyo...eh, Mama, Eyang dan Pa–pa.Kalau begitu Faiha pamit dulu.Permisi, Assalamuallaikum. Faiha sungguh canggung dan tak enak memanggil mereka dengan sapaan seakrab itu. Ia merasa tak pantas.
Setelah bersalaman dengan semuanya, Faiha pun undur diri. Namun, baru saja ia berjalan beberapa langkah suara Tuan Aryan menghentikan langkah Faiha.
"Kenapa kamu hanya diam saja,Bi. Sana antar calon istrimu pulang. Ingat, antar sampai depan rumah. Kamu ini laki-laki, bukan."
Abiseka mendengus kesal di dalam hati, mana berani ia menentang sang Papa.Laki-laki berkharisma itu pun tak berkutik bila berhadapan langsung dengan Aryan Jayendra. Dan dengan berat hati ia pun mengantar Faiha pulang.
"Iya iya, Pa. Ayo cepat! Lamban sekali sih jalanmu, dasar kaki pendek."
"ABISEKA JAYENDRA!!"
Bersambung
Hai-hai, saya kembali lagi dengan cerita terbaru semoga kalian suka ya. Jangan lupa like dan komennya . Terima kasih.
__ADS_1