
Si polos Hani pun mengangguk denga ekspresi imutnya. Benar-benar masih bocah.
"Bagaimana kalau yang dikatakan oleh om Ferdy itu benar dan akan segera terjadi. Dan menjadi kenyataan...hem?"
"O‐om Andre m‐mau apa?"
Ting tong
Andre tak mengindahkan suara bell itu. Ia malah semakin maju dan menyudutkan Hani yang sudah tidak bisa bergerak mundur lagi karena telah terpentok sofa dan–.
Brukk
Hani jatuh tepat di atas sofa dan tubuh besar Andre mendarat di atas tubuh mungil sang gadis. Hal itu terjadii karena tangan Hani refleks menarik kemeja Andre hingga kejadian itu tak terhindarkan. Suasana seketika menjadi canggung, sebab kedua bibir mereka pun saling bertabrakan dan terjadilah sebuah insiden cium mencium antara dua insan yang berbeda generasi tersebut.
Cup
"Kyaaa–my first kiss!"
"Ya ampun, apa yang telah aku lakukan? Sial...mengapa jadi kebablasan begini. Bibirnya manis." Andre terpaku dan malah menatap intens gadis yang berada di bawah kungkungannya.
"Om–om telah mencuri ciuman pertamaku." Hani menoleh kesembarang arah menghindari tatapan Andre yang membuat dadanya berdebar-debar.Karena Andre tak juga beralih dari atas tubuhnya.
Ting tong
"om, itu ada yang memencet bell."
"Auw–kenapa kamu mencubitku?" Andre terjengkit merasakan sebuah cubitan kecil di pinggangnya dan siapa lagi Hani lah pelakunya karena gadis itu kesal.
"Itu, apa om tidak mendengarnya.Sepertinya ada yang datang apa om sedang menunggu seorang tamu?" Hani mengalihkan topik pembicaraan, ia merasa kikuk dan malu.
Andre pun beranjak untuk melihat siapakah gerangan yang datang. Setelah melihat siapa orang itu dengan tak bersemangat ia membukakan pintunya.
"Lama sekali sih, Ndre. Memangnya kamu lagi apa?" Sang tamu dengan santainya langsung masuk dan bercelotehin dan itu belum menyadari akan kehadiran Hani.
"Aku yang seharusnya bertanya,ada apa tiba-tiba datang tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Kan aku sudah katakan bahwa aku tidak bisa menerima sembarang tamu apalagi jika seorang perempuan.Kau harusnya sudah mengerti akan hal itu."
Andre memang tripikal laki-laki yang menjunjung tinggi nilai kesopanan. Padahal tadi dia sendiri juga yang sudah bertindak sembarangan terhadap anak gadis orang.
"Kok gitu sih kamu, Ndre. Kamu bilang kita masihlah berteman seperti dulu."
"Sudahlah Ziva, sekarang katakan ada perlu apa dan sorry aku sedang sibuk. Jika tidak ada yang terlalu penting bisakah kita bertemu dilain waktu karena masih ada yang mau aku kerjakan." Andre bahkan tidak mempersilahkan si tamu untuk duduk. Ya, tamu itu adalah Zivanya wanita cantik yang sebenarnya sudah menghilang dari beberapa tahun yang lalu. Pertemanan mereka seperti hilang kontak dan saat ini komunikasi dan interaksi diantara mereka kembali terjalin.
Sejenak Zivanya tertegun akan ucapan Andre yang seakan tak suka dengan kedatangannya.
"Maaf, tante ini siapanya om Andre ya?" Zivanya sontak menoleh kearah Hani dan ia baru menyadari ada orang lain selain dirinya dan Andre dan yang membuatnya terkejut adalah sosok itu ternyata seorang gadis belia.
"Loh, seharusnya aku yang bertanya. Kamu itu siapa dan untuk apa berada di apartemen ini, apa jangan-jangan–?" Zivanya menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Ande bisa menebak apa yang ada di pikiran Zivanya. Pasti wanita itu berpikir kalau Hani dan dirinya memiliki suatu hubungan yang spesial.
"Jangan bilang kalau gadis ini adalah sugar baby mu. Wah...aku benar-benar tak menyangka kalau ternyata kamu laki-laki seperti itu ya, Ndre." Benar saja, Zivanya mengira kalau Andre adalah seorang sugar daddy dan Hani sugar baby nya.
Hani yang tak mengerti maksud dari perkataan wanita dewasa yang saat ini tengah menatapnya aneh, entahlah sepertinya Zivanya tidak menyukainya dan tatapannya seakan merendahkan Hani.
"Maksud ucapan tante apa ya? Sugar daddy dan sugar baby itu artinya apa aku tidak–" Pertanyaan Hani benar-benar polos, Hani memang gadis pemberani namun, aslinya ia tak mengerti tentang hal-hal seperti itu.
"Hani–kamu masuklah kedalam kamar sebentar! Ada yang ingin aku bicarakan dengan Zivanya."
__ADS_1
Hani pun menurut dan beranjak menuju ke kamar Andre. Zivanya hanya bisa menatap kepergian Hani dengan hati yang terasa sesak dan pikiran tak tentu.
Ya, sejak mengetahui jika Abiseka telah menikah, Zivanya menyerah dan tak lagi mengejarnya. Karena merasa tak memiliki lagi kesempatan untuk memiliki Abiseka maka, Zivanya ingin beralih mendekati Andre.Namun, sepertinya Andre sama sekali tak memiliki perasaan apa pun pada wanita itu. Al hasil sekerqs mungkin ia menjaga jarak dengan Zivanya.
"Jadi benar kalau kamu dan gadis itu–"
"Iya, Hani adalah kekasihku dan tolong kamu jangan menggangguku lagi, carilah laki-laki lain yang lebih baik dan bisa mencintaimu dengan tulus. Maaf, Zivanya."
"Oh oke, kamu tidak perlu meminta maaf karena akulah yang tidak tahu kalau ternyata kamu telah memiliki seseorang yang spesial. Selamat ya, sekali lagi maaf kalau kehadiranku mengganggu kalian. Kalau begitu aku pamit. Terima kasih selama ini kamu telah berbaik hati padaku. Bye–."
Tanpa menunggu jawaban dari Andre, Zivanya langsung melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dari Aparteman Andre. Sedangkan Andre sama sekali tak bereaksi apapun karena menurutnya itu lebih baik dari pada wanita itu masih berharap padanya.
Krieet
"Om–apa tante yang tadi adalah pacar om Andre? Kalau begitu aku minta maaf ya karena sudah membuatnya jadi salah paham. Aku tidak tahu kalau om sudah memiliki kekasih hati. Kalau begitu lebih baik aku pulang saja ya, om. Permisi."
Srett
"Kamu mau kemana, hemm?"
Tangan Andre menarik lengan Hani begitu kencang sampai tubuh mungilnya berbenturan dengan dada bidangnya. Otomatis langkahnya langsung terhenti ketika baru saja ingin melewati pintu kamar. Hal itu sontak saja membuat Hani tersentak kaget dan refleks mendorong badan kekar Andre melepaskan diri namun, apa yang diperbuatnya sama sekali tak berefek apapun dan Hani hanya bisa terdiam tak berani memberontak lagi.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk pulang?"
"Ya–enggak ada sih. Kan aku juga punya perasaan kali, om.Permisi om aku mau lewat!"
"Kan tadi aku bertanya, siapa yang mengizinkamu untuk pulang sendiri? Memangnya aku sekejam itu apa membiarkan seorang gadis keluyuran dijalan sendirian.Ayo...aku akan mengantarkanmu pulang."
"Ba–baik om." Hani tergagap karena dadanya sampai terasa jedag jedug seperti genderang yang ditabuh keras.
Pagi-pagi sekali Faiha sudah terbangun tiba-tiba ia merasa kan gejolak di perutnya sampai ia pun tak bisa menahan rasa mual yang menderanya. Faiha segera melompat turun dari atas tempat tidur dan berlari masuk ke kamar mandi untuk mengeluarkan sesuatu yang sudah tak bisa lagi di tahannya.
Abiseka terbangun karena mendengar suara Faiha yang sedang muntah didalam kamar mandi. Abiseka menghampiri sang istri dan betapa terkejutnya ia melihat tubuh Faiha yang sudah lemas tak berdaya. Tangannya berpegangan pada pinggiran wastafel sambil terus muntah dan hanya semacam cairan bening berwarna kuning yang dikeluarkannya.
"Sayang, kamu kenapa?" Abiseka memijit-mijit tengkuk Faiha dan sebelah tangannya menahan tubuh lunglai sang istri.
"Mas–rasanya sangat tidak enak, Pahit–."
"Jangan-jangan beneran ini kamu hamil sayang. Gimana, apa masih terasa mual, pusing juga?" Menyibak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik sang istri.
"Hemm– " Faiha hak bisa menjawab ia menutup mulutnya dengan telapak tangan masih merasa mual.
Tanpa berkata apapun lagi Abiseka langsung menggendong sang istri dan merebahkannya diatas tempat tidur.
"Mas kebawah dulu ya, sayang. Jangan turun dari ataa tempat tidur nanti mas takut kamu terjatuh!" Faiha tak menjawab ia meringkuk di balik selimut.
Abiseka berlari cepat menuju ke kamar sang mama dan langsung menggedor-gedor pintunya.
Dug dug dug
"Ma–mama buka pintunya ma!"
Ceklekk
"Ada apa sih, Bi pagi-pagi buta sudah mengganggu orang tua yang masih tidur?"
"Sudah pagi gini juga, ayo ma cepat kekamarku tolongin istriku!" Menarik dan menggeret sang mama berjalan menuju ke kamarnya.
__ADS_1
"Faiha? Apa yang telah teejadi padanya? Heh...bocah nakal, kamu apakan lagi istrimu.Jangan-jangan kamu memaksanya ya? Sudah tahu istri baru hamil muda. Awas saja ya kalau sampai menantu dan cucu mama kenapa-napa."Mama malika pun langsung panik mengetahui telah terjadi sesuatu pada sang menantu.
"Ish–sudah jangan banyak protes, ayo cepetan ma kasihan Faiha sejak tadi muntah-muntah terus."
Mama Malika pun akhirnya paham apa yang sebenarnya terjadi pada menantu kesayangannya itu. wanuta paruh baya itu pun teraenyum bahagia.
"Faiha sayang, apa masih mual?" Mengelus lembut kepala sang menantu.
"Pusing ma–." Faiha berkata sangat lirih namun masih bisa didengar oleh mama Malika.
Mama Malika semakin menyunggingkan senyum bahagianya membuat Abiseka memicingkan matanya menatap kesal pada sang mama.
"Mama ini malah senyam senyum bukannya ditolongin Faiha-nya."
"Berisik kamu, sudah...tungguin istrimu. Mama kedapur dulu mau membuatkan wedang jahe sama jeruk lemon buat Faiha. Jagain yang benar jangan petakilan!"
"Apaan sih mama, memangnya aku reog pake petakilan segala. Ck–."
Beberapa menit kemudian mama Malika kembali sambil membawa segelas minuman yang dibuatnya. Abiseka langsung mendudukkan Faiha, meraih gelas yang di berikan sang mama lalu mendekatkannya ke mulut Faiha. Perlahan Faiha meneguknya sesikit demi sedikit dan benar saja ras mualnya sudah mulai berkurang.
"Bagaimana sayang, apa sudah lebih baik?"
"Hem–iya ma, sudah tidak mual lagi.Terima kasih ya ma."
"Iya sayang, sama-sama. Itu sudah menjadi kewajiban mama sebagai seorang nenek pada calon cucunya. Jangan nakal ya nak, kasihan mama! Kalau begitu mama kembali ke kamar dulu ya. Istirahatlah! tidak apa-apa, yang terjafi pada dirimu itu normal-normal saja bagi wanita yang baru hamil muda." Mama Malika berkata lembut sambil mengelus perut Faiha.
"Mas–bagaimana ini? Aku takut."
"Takut kenapa sayang?'
Setelah mama Malika pergi, Faiha jadi merasa takut kalau seandainya rasa mual yang menderanya bukanlah efek dari kehamilan akan tetapi karena ia hanya masuk angin saja.
"Aku takut kalau tidak hamil dan mungkin saja aku cuma masuk angin dan kecapean, habis mas sih semalaman minta terus." Wajah Faiha yang tadinya sendu tiba-tiba berubah kesal mengingat akan perbuatan suami mesumnya yang selalu tak puas menghajarnya. Menghajar di atas temoat tidur maksudnya.
"Sudah jangan takut, lebih baik sekarang kita test saja. Sebentar...mas ambilkan testpack nya!"
"Mas mau ngapain?" Faiha menoleh ke belakang ketika akan memasuki kamar mandi karena Abiseka terus mengekorinya.
"Ya mau menemanimu lah, sayang. Mas takut nanti kamu kenapa-napa didalam."
"Aku ngak akan kenapa-napa, sudah mas tunggu saja di sini jangan ikut masuk. ish...malu tahu."
Brakk
"Astaqfirullah. Sayang...kamu bikin mas kaget saja." Abiseka mengelus dadanya karena kaget dengan pintu yang tertutup dengan sangat keras.
Ceklekk
"Bagaimana sayang hasilnya?"
"Ini mas–!"
Beesambung
Kira-kira hasilnya positif atau negatif ya? Semoga Abiseka junior segera hadir.
Lalu bagaimana kelanjutan kisah si sugar daddy Andre dan sugar baby Hani yang hanya sebuah bohonngan lainnya.Sepertinya mereka mengikuti jejak pasangan super Abiseka dan Faiha nih. Tetap ikuti kelanjutannya ya.
__ADS_1
Terima kasih yang masih setia mengikuti kisah ini. Selamat membaca.