
Fajar telah menyingsing, Faiha terlihat segar karena pagi-pagi sekali ia sudah mandi. Melahirkan dengan cara normal membuat fisiknya lebih cepat pulih. Tampak Abiseka masih terlelap di sofa. Ya, sejak kemarin hingga saat ini daddy dari baby Avaro dan Alesha belum pulang kerumah. Abiseka bersikeras ingin menemani dan menjaga sang istri tercinta dan juga tak mau jauh dari baby twins.
"Mas,bangun. Sudah pagi!"
"Hemm–" Bukannya terbangun, Abiseka hanya bergumam pelan.
Faiha menggeleng lalu, berusaha membangunkan kembali sang suami.
"Bangun daddy nya Avaro dan Alesha.Lihatlah nak, daddy kalian pemalas sekali ya."
Sontak Abiseka langsung membuka matanya ketika mendengar kata-kata daddy dan sang istri yang memanggil nama baby twins. Tentu saja hal itu seketika membuat Abiseka tersadar dan terbangun dari tidir lelapnya.
"Baby twins, mana...mana mereka?" Abiseka mengedarkan pandangannya mencari keberadaan bayi -bayinya. Namun, ia sama sekali tak bisa menemukan kedua bayi tampan dan cantiknya.Sepertinya Abiseka masih belum sadar sepenuhnya.
"Apa sih, mas. Aku tanya apa mas tidak berangkat ke kantor.Lihat sudah jam berapa ini, mas."
Abiseka mengucek matanya dan melihat kearah jam dinding namun, ia malah kembali merebahkan tubuhnya dengan nyaman diatas sofa.
"Ya, ampun. Mas, malah tidur lagi dia. Eh...pak Heru sudah datang, mau menjemput mas Abi ya?"
"Heru, ngapain kamu pagi-pagi datang kesini...huh?" Abiseka langsung bangkit dan mengomel pada asisten pribadinya yang ternyata tidak ada, Faiha hanya mengerjai sang suami agar lekas bangun.
Faiha tersenyum menahan tawa, melihat suaminya yang kesal karena mengira sang asisten pagi-pagi sudah datang untuk menjemputnya. Padahal Abiseka masih ingin berlama-lama bersama dengan istri dan si kembar.
"Sayang, kamu mengerjai mas ya?" Wajah Abiseka sudah cemberut dan Faiha susah payah menahan tawanya.
"Maaf ya, suamiku tercinta.mukanya jangan mrengut gitu dong nanti gantengnya hilang!" Faiha menghampiri Abiseka dan menangkup kedua belah pipi sang suami dengan gemasnya.
Dan bukannya Abiseka namanya jika tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan.Pinggang ramping Faiha langsung ditarik oleh Abiseka kedalam dekapannya, lalu mendaratkan ciuman keseluruh permukaan wajah imut istrinya.
Cup cup cup
"Mas ih, jahil banget sih. Sudah, sana mandi...nanti kalau belum mandi juga tidak akan aku izinkan menyentuh baby Avaro dan baby Alesha, loh." Faiha mendorong tubuh kekar Abiseka dan meyuruhnya untuk mandi, karena sebentar lagi baby twins akan diantarkan agar Faiha bisa menyusui kedua bayi tersebut.
"Jangan gitu dong, sayang. Mas kan daddy nya baby twins,masa' ngak boleh menyentuhnya."
"Bercanda, Mas. Uluh...uluh, manja sekali sih suami gantengku ini. Ayo, mandi ya daddy Abi. Sebentar lagi baby Avaro dan baby Alesha mau ketemu daddy yang ganteng bukan daddy yang bau acem." Faiha menutup lubang hidungnya seolah-olah mencium bau badan Abiseka yang belum mandi.
Mendengar baby twins akan segera datang, refleks Abiseka pun langsung melesat masuk kedalam kamar mandi. Faiha menggeleng, tersenyum melihat kelakuan konyol sang suami.
Sepuluh menit kemudian,.Abiseka telah menyelesaikan mandi kilatnya. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan bayi-bayi nya.
Tok tok tok
"Ya, silahkan masuk!" Faiha mempersilahkan perawat yang datang membawa baby twins untuk disusui oleh ibunya.
"Selamat pagi, bu Faiha, pak Abiseka. Ini waktunya baby twins untuk mimik asi." Dua orang perawat mendorong box bayi membawanya kehadapan Faiha.
"Hai, cinta-cintanya mommy. Sudah haus ya, mau mimik susu?"Faiha langsung mengambil baby Avaro terlebih dahulu karena bayi laki-laki itu sudah mengecap-ecap bibir mungilnya.
__ADS_1
"Tolong daddy gendong baby Alesha dulu ya!"
"Siap mommy Fai." Abiseka langsung berdiri tegak dan melakukan gerakan hormat pada sang istri. Setelahnya ia meraih baby Alesha kedalam dekapannya.
"Halo princess nya daddy yang paling cantik, tunggu mas Avaro selesai ***** dulu ya. Habis itu gantian dedek Alesha." Mengajak berbicara walaupun ia tahu kalau bayi itu belum mengerti apa yang diucapkannya. Bahkan penglihatan bayi yang baru terlahir kemarin sore itu masih buram.
Hampir lima belas menit-an baby Avaro menyusu, dan baby Alesha mulai terlihat resah. Bayi mungil nan cantik itu menggeliat-geliat pelan di gendongan sang daddy. Bahkan bibir mungilnya sudah bergerak-gerak seperti hendak mencari makanan favoritenya yaitu asi mommy Faiha.
"Mommy, apa Mas Avaro sudah selesai menyusunya? Ini, lihatlah...dedek Alesha sudah sangat kehausan sekali." Abiseka mendekatkan putri kecilnya pada sang istri yang masih memangku putra mereka.
"Iya, sebentar. Ini Avaro sepertinya sudah kenyang, tuh...sudah dilepas *****-nya." Faiha memperlihatkan wajah baby Avaro yang sudah melepaskan bibirnya dari P***** sang bunda.
Namun,Abiseka malah fokus menatap sesuatu yang selama ini juga menjadi favorite nya. Dan sepertinya sekarang ia harus rela berbagi dengan kedua anaknya. Abiseka menatap nanar buah sekal yang selama ini hanya menjadi miliknya itu.
"Mas–kok malah bengong?"
Plakk
"Hayo, lagi mikirin apa? Jangan macam-macam ya daddy. Kesinikan baby Alesha-nya!" Setelah meletakkan baby Avaro kedlam box nya. Kemudian Faiha meminta baby Alesha untuk disusui nya.
"Sayang, itu tidak akan habis kan?" Abiseka menunjuk kearah sumber makanan bagi baby twins sambil jangkun nya naik turun susah payah menelan salivanya.
Faiha mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"
"Itu, susumu tidak akan kempes kan? Nanti mas ngak bakal kebagian dong." Menoel-noel pipi gembil baby Alesha yang sedang asik mimik dan Abiseka pun mencuri-curi kesempatan dengan menyentuh P*******a Faiha.
"Ish, Mas ngomong apaan sih. Saru tahu. Sudah sana, jangan lihat-lihat. Nanti mas kepingin juga." Faiha berbalik badan membelakangi Abiseka.
"Hmm–Faiha hanya menjawab dengan gumaman, ia ingin berkonsentrasi menyusui putri kecilnya.
Ya, begitulah kegiatan pagi hari pertama setelah pasangan Abiseka dan Faiha menjadi orang tua baru dari dua bayi kembar mereka yang tampan dan cantik, imut dan menggemaskan.
At Nirvana Residence
Seorang pria tampan dengan tampang bule nya. Tengah asik berkutat di kitchen set nya.Ya, siapa lagi kalau bukan Andre Medoza. Pagi-pagi sekali laki-laki itu telah bangun. Tiba-tiba ia ingin membuatkan sarapan spesial untuk sang istri tercinta dan juga sebagai permintaan maaf karena semalaman ia terus menyerang Hani sampai istrinya itu terkapar kelelahan.
"Yup, sarapan siap. Sebaiknya aku bangunin Hani sekarang, kasihan. Dia pasti sangat kelaparan karena sejak kemaren sore belum makan."
Andre melangkahkan kakinya masuk kembalii kedalam kamarnya. Dan melihat Hani yang tengah duduk di tepi tempat tidur.
"Honey, kamu sudah bangun? Ayo, mandilah setelah itu kita sarapan. Mas sudah membuatkan sarapan spesial penuh cinta untukmu loh, honey." Andre mendekat dan langsung berjongkok dihadapan Hani. Menatap sang istri dengan tersenyum hangat.
"Iya mas, sebentar. Auwwh...ssh–" Hani meringis menahan sakit pada area intinya. Ia bahkan jatih terduduk kembali saat ingin berdiri.
Melihat istrinya yang kesakitan, sontak membuat Andre jadi merasa bersalah. Akibat kebuasannya, istri kecilnya jadi kesakitan seperti itu. " l'm so sorry, Honey. Mas, telah membuatmu sampai kesakitan seperti ini."
"Akhh–Mas, mau apa?" Tubuh Hani tersentak kaget ketika terasa melayang karena Andre langsung membopongnya ala bridal style masuk kedalam kamar mandi. Tiba-tiba Hani merasa was-was kalau suaminya itu akan meminta jatah lagi.
"Mas akan membantumu untuk mandi. Hey...kenapa wajahmu seperti itu? Mas ngak akan macam-macam kok, kamu takut mas minta nambah ya. Mas sih kepingin sekali tapi, mas tak akan setega itu. Masih sakit ya?"
__ADS_1
"Hem, masih terasa perih. Habis punya mas, besar sekali sih. Eh—"
Hani mengangguk lalu, menundukkan wajahnya malu sadar akan perkataan ambigunya dan juga teringat pergumulan panas mereka semalam. Kini, wajah imutnya pun merona dan kedua belah pipinya terasa panas.
Lima belas menit kemudian, pasangan suami istri itu keluar dari kamar mandi. Masih dengan Andre yang menggendong Hani. Andre begitu telaten mengurus sang istri dari membantunya berpakaian sampai mengeringkan dan menyisir rambut Hani.
"Done–pagi ini kamu terlihat semakin cantik, honey. Setelah kita–"
"Mas, stop dong ah...jangan membahas hal itu. Aku kan malu!" Andre mendudukkan tubuh Hani disalah satu kursi meja makan. Diatas meja sudah tersaji hidangan sederhana hasil karya Andre.
"Ayo, kita makan sekarang. Kamu pasti sudah sangat lapar , kan?" Hani mengangguk patuh dan mulai menyantap makanan dihadapannya.
Drrtt drrttt ddrttt
Suara getar handphone milik Hani yang tergeletak atas meja membuat Hani menghentikan kunyahannya. Ia pun segera meraih ponselnya dan melihat id si pemanggil dan betapa terkejutnya ia saat tahu siapa si penelpon itu. Yang tak lain adalah mommy Diandra yang melakukan panghilan vc.
"Mommy, Mas. Bagaimana ini?"
"Angkatlah!"
"Ya, hallo...assalamuallaikum, mom." Hani memasang wajah cerianya.
"Wa'allaikumsalam. Hani sayang, kenapa semalam kamu tidak pulang? Mommy sangat mencemaskanmu. Kamu baik-baik saja kan?"
"Emm–iya, aku baik-baik saja kok, mom. Semalam aku tidak tega meninggalkan mas Andre sendiria.Kasihan mas Andre masih demam."
"Benarkah? Mana suamimu itu, coba mommy mau bicara!"
Hani pun menyerahkan ponselnya pada Andre. Dan duarr...Andre pun langsung mendapatkan semprotan pedas dari sang mommy.
"Andre, mama lihat sepertinya kamu baik-baik saja. Malah sebaliknya...wajah Hani yang tampak pucat, tidak.seperti kemarin yang fresh dan ceria. Kamu apakan menantu mommy, huh?"
"Ya ampun, mommy. Sama anak sendiri curigaan banget sih. Hani mungkin kelelahan dan kurang tidur karena semalaman merawatku. Jangan su'udzon dulu lah, mom."
"Benarkah?hemm...baiklah, awas saja ya kalau sampai mommy tahu kamu ngebobol Hani, mommy sunatin lagi nanti."
"Astaqfirullah, tega banget sih mom,.sudah ya aku tutup . Kami mau mealanjutkan sarapan dulu."
Klekk
Tanpa menunggu jawaban.dari mommy Diandra. Andre langsung memutus panggilan tersebut.
"Mama pasti curiga deh, mas. Bagaimana kalau sampai ketahuan kalau kita sudah...itu."
"Biarkan saja, kamu tidak usah pulang kerumah mommy lagi. Tempat tinggalmu disini, bersama mas. Mas, masih ingin mengulanginya lagi."
"Mas sudah ketagihan sama je*****mu itu, honey." Menunjuk kearea bawah sang istri sambil mengedipkan matanya genit.
"Hah, A–apa?"
__ADS_1
Bersambung