Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
61. Calon baby kita


__ADS_3

Mentari pagi ini bersinar cerah, semua mahkluk di bumi menyambutnya dengan suka cita.Begitupun suasana di aebuahh rumah sederhana yang didalamnya terdapat empat orang anggota keluarga. Ya, aktivitas pagi hari dikediaman bulek Lastri tampak seperti biasanya. Kedua putra putrinya saat ini sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah.


Namun, Faiha belum tampak keluar dari dalam kamarnya. Membuat bulek Lastri khawatir. Bulek Lastri pun segera beranjak menuju ke kamar Faiha. Perlahan ia memutar knop pintu lalu masuk kedalam dan tampaklah sosok mungil yang masih terlelap meringkuk di atas tempat tidurnya.


"Faiha, apa kamu baik-baik saja?" Mendekat lalu duduk di sisi tempat tidur, bulek Lastri mengecek kondisi sang keponakan apakah demam atau tidak.Dan tetap seperti kemarin suhu tubuhnya normal-normal saja. Lalu,apakah benar dugaannya jika saat ini Faiha tengah hamil.


"Nak, bangun sayang! Apakah kepalamu masih terasa pusing, Hmm...?" Membelai surat hitam sang keponakan.


"Eumm–iya bulek, tubuhku rasanya lemas sekali dan kepala juga kliengan ngak kuat bangun. Maaf ya bulek, Fai tidak membantu memasak untuk sarapan." Faiha berusaha untuk bangkit namun, tubuhnya seakan tak bisa diajak bekerjasama. Berat dan lunglai.


"Apa bulek telepon suamimu saja?"


Faiha menggeleng " Buat apa menelponnya, bulek. Dia saja sudah tidak menginginkan aku untuk menjadi istrinya lagi. Tidak usah,nanti malah mengganggu boss besar itu." Yang Faiha maksud ialah Abiseka.


"Sudah, bulek ngak usah khawatir, beristirahat sebentar juga nanti Fai akan lebih baik." Kembali merebahkan tubuhnya mencari posisi yang nyaman.


Wanita yang sudah seperti ibu kandung Faiha itu pun akhirnya menuruti keinginan sang keponakan. Setelah merapikan selimut yang menutupi tubuh Faiha. Kemudian bulek Lastri meninggalkan Faiha untuk tidur kembali.


"Hallo, Assalamuallaikum jeng Malika."


"Wa'allaikumsalam. Eh, jeng Lastri. gimana kabarnya menantuku?"


"Nah–untuk itulah saya menelpon. Sepertinya Faiha memang benar-benar tengah berbadan dua. Sejak pagi tadi anak itu sama sekali tidak bisa bangun. Ya, gejalanya sih benar seperti wanita yang tengah hamil muda."


"Lalu, bagaimana ini jeng Malika.Apa sebaiknya saya mengabari Nak Abi? Biar suaminya yang mengantarkannya ke klinik untuk di periksa. Tapi, saya jadi bingung ini. Masalahnya Faiha melarang saya untuk memberitahu nak Abi."


Bulek Lastri langsung mengabari keadaan Faiha pada mertua dari keponakannya itu. Tentu saja mama Malika yang mendengar keadaan sang menantu merasa khawatir.


"Apa iya ya, jeng. Kalau Faiha hamil? Oh, tolong jangan beritahukan hal ini pada Abi. Biar masalah Abi itu akan menjadi urusanku ya, jeng."


Mama Malika memohon pada bulek Lastri agar Abi jangan sampai tahu dulu keadaan Faiha jika benar gadis itu telah hamil. Dan dua wanita paruh baya itu pun sepakat tidak akan memberitahukan perihal Faiha pada Abiseka.


Menjelang siang Faiha baru terbangun dari tidurnya. Perutnya keroncongan minta di isi, karena pagi tadi ia tidak sarapan. Perlahan ia pun beranjak turun dari atas tempat tidur. Meskipun kepalanya masih terasa pening.


Faiha juga terbangun lantaran mendengar suara dering ponselny yang tergelwtak diatas meja riasnya.Sekilas ia melihat nama si penelpon yang tertera di layar dan ternyata adalah suaminya.


"Ngapain dia telpon? Tapi, aku kangen.angkat tidak ya?" pikiran dan hatinya berkecamuk antara iya dan tidak untuk menanggapi panggilan dari suaminya.


"Ya, ada apa?"

__ADS_1


"Assalamuallaikum. Sayang, kok ngomongnya gitu sih? Ngak kangen sama mas, mas aja sangat rindu sama kamu,sayang."


"Wa'allaikumdalam.hmm...ada apa? Cepetan ngomong, aku mau mandi!" Jawabnya lagi masih bernada ketus.


"Iya istriku tercinta. Sudah siang gini kok baru mandi,sih? Apa mau mas mandiin seperti biasanya itu loh?" Menggoda istrinya yang masih dalam mode merajuk.


"Ck,ngak mau. Kalau tidak ada yang penting aku tutup sekarang nih!"


"Ja–jangan sayang, baiklah...ada hal yang sangat penting yang harus kita selesaikan dan lebih baik bicarakan bertemu diluar saja. Bagaimana? Tidak enak kalau di rumah bulek Lastri karena ini menyangkut mama dan juga bulek Lastri. Mas akan menjemputmu sekarang, oke."


"Sayang–ayo jawablah!"


"Hem–iya."


"Oke, l miss you baby. Tunggu mas ya!"


Setelah bertelpon ria dengan istri tercintanya, Abiseka tampak begitu bersemangat seperti baru mendapatkan mood booster. Dengan riang gembira, langkah kakinya pun seakan seringan kapas. Hatinya begitu berbunga-bunga karena sebentar lagi akan bertemu dan bisa bermanja ria.pada istri cantiknya.


Sesampainya di lobby kantor, Abiseka langsung bergegas menghampiri mobilnya yang baru saja berhenti di pelataran depan gedung Jayendra Group.


"Tuan–anda mau pergi kemana?"


Heru yang melihat boss nya yang berjalan dengan terburu-buru itu, segera mengejarnya sebelum Abiseka masuk kedalam mobil.


"Baiklah boss, selamat bersenang-senang."


Sementara itu, Faiha sudah siap untuk pergi dengan tampilan sederhana dengan Make up natural. Meskipun begitu, Faiha tetap terlihat cantik, imut dan menggemaskan seperti gadis remaja. Pantas saja Abiseka di bilang suami tua nya Faiha dan yang menjulukinya adalah mama Malika.


"Kamu mau kemana Fai? Bukankah kata kamu tadi masih pusing dan lemas?"


"Alhamdulillah sudah mendingan kok, bulek. Emm...Faiha izin pergi sebentar ya bulek.Itu, mas Abi katanya ada suatu hal penting yang harus dibicarakan. Boleh,kan bulek?"


"Tentu saja boleh lah, sayang. Masa' pergi sama suami sendiri tidak boleh. Oh ya, memangnya kalian mau pergi kemana kalau boleh bulek tahu?"


Bulek Lastri penasaran juga. Ya karena saat ini wanita paruh baya itu sedang bersekutu dengan sang besan, siapa lagi kalau bukan mama Malika.


Tok tok tok


"Assalamuallaikum."

__ADS_1


kriett


"Wa'allaikumsalam. Nak Abi, ayo masuk! Faiha sedang bersiap-siap."


Abiseka duduk di sofa ruang tamu menunggu Faiha. Bulek Lastri menatap menantunya itu penuh selidik. Karena dia adalah mata-mata dari mama Malika maka, ia harus selalu bersikap kepo.


"Oh ya,ngomong-ngomong...kalian mau pergi kemana?kata Faiha ada sesuatu yang ingin kalian bicarakan."


"Tidak ada yang serius kok, bulek. Aku hanya ingin mengajak Faiha jalan-jalan. Sudah lama kami tidak quality time berdua. Kan kami masih dibilang pengantin baru juga.Jadi, ya begitulah...maunya selalu ingin berdekatan." Jawabnya tak nyambung karena tidak ingin terjebak dalam permainan sang mama dan mertuanya itu.


"Emm–begitu. Bagus juga sih. Tapi, kenapa nak Abi mengirimkan surat cerai pada Faiha?"


"Ya ampun, sudah dibilang kalau bukan gue yang ngirim tu surat. Masih ngak percaya aja. Ah...gue tahu, mereka pasti ingin mengerjai kami lagi. No way." Monolog Abiseka dalam hati, ia telah bertekad tidak akan lagi terjebak dan akan membalasnya.


"Mas–eh, Tuan sudah datang?"


"Sayang–kenapa manggil mas gitu sih?"


"Kenapa memangnya? Ngak boleh? Ya sudah, aku ngak jadi ikut aja deh." Bukannya menjawab, Faiha malah balik bertanya dan dalam mode merajuknya. Dan akhirnya Abiseka mengalah tak membahasnya lagi. Dari pada tak jadi pergi dan tak bisa berduaan dengan istri tercintanya. Lebih baik manut saja lah.


"Iya iya, maaf. Ayo kita berangkat sekarang!" Bulek...kami pamit ya."


"iya, hati-hati."


Sepanjang perjalanan tak ada interaksi sama sekali diantara keduanya. Hening tanpa suara. Hingga Abiseka yang tak betah akhirnya yang memulai perbincangan.


"Sayang, kata bulek Lastri kamu sedang sakit. Apa kita ke klinik atau kerumah sakit terlebih dahulu untuk memeriksakan kesehatanmu."


"Ngak usah, paling.cuma masuk angin. Sudah tidak mual-mual lagi kok. Ngak usah sok perduli. Padahal dia yang tak sabar ingin bercerai...ck, dasar laki-laki."


Abiseka tak menanggapi gerutuan sang istri. Hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan istri mungilnya itu yang belum mengetahui kebenarannya. Bagaimana reaksinya jika Abiseka menceritakan kebenarannya tentang kedua orang tua mereka yang berkomplot ingin mengerjai mereka.


"Oke sayang, sudah jangan ngambek ah! Kamu mual-mual...apa jangan-jangan sudah ada calon baby kita di perutmu itu, sayang?"


Uhuk uhuk


"A‐apa...maksud mas, aku hamil?" Faiha tersentak kaget sampai tersedak salivanya sendiri mendengar perkataan Abiseka.


Bersambung

__ADS_1


Ngak apa-apa ya guys agak telat up nya. Oke, selamat membaca.


Terima kasih atas supportnya. 🙏❤😊


__ADS_2