
Hani yang tiba-tiba di tanya seperti itu bingung karena gadis polos itu pun tidak mengerti apa yang sedang di perbincangkan oleh kedua pria dewasa di hadapannya saat ini. Namun, jawaban dari Hani membuat keduanya melongo tak menyangka.
"Siapa? Hani mau kok kalau di persunting sama om Andre."
"Eh–."
Kedua pria tampan itu pun tercengang mendengar jawaban dari si gadis belia bertubuh mungil tersebut. Apa Hani mengerti apa yang dikatakannya barusan. Gadis itu tidak keberatan jika dinikahi oleh Andre. Abiseka dan Andre saling berpandangan rasanya sangat canggung berhadapan dengan seorang gadis polos macam Hani. Jiwa mudanya masih menggebu-gebu apa lagi jika itu berkaitan dengan lawan jenis.
"Ekhem– Ndre, sebaiknya kita bicara diruangan lain!" Mereka berdua tak menanggapi ucapan absurd dari Hani. Kemudian Andre mengajak Abiseka ke ruang kerjanya. Meninggalkan Hani yang memasang wajah cemberutnya karena dicuekin.
"Jadi, jelaskan.Apa maksud lo pake jemput Hani kesekolahnya? Lo mau cari perkara baru apa gimana, Ndre.Kan gue cuma bercanda soal Hani, nah lo malah dibawa serius." Abiseka langsung merepet tak bisa.diam.
Andre menghela nafas panjang lalu, mendudukkan bokongnya di atas sofa yang sama tempat Abiseka duduk. "Ya sorry bro, gue sebenarnya sama sekali ngak ada niat untuk memanfaatkan Hani demi menghindari Zivanya yang ngejar gue terus-terusan."
"O–jadi lo cuma manfaatin Hani doang, wah, parah lo Ndre mempermainkan anak gadis orang. Kenapa sih lo ngak ngomong terus terang sama si Zivanya kalau lo ngak suka sama dia."
"Udah tapi, dia tetep kekeuh dan dia bilang ngak akan pernah menyerah sampe gue bertekuk lutut dihadapannya. Gila ngak tuh si Ziva? lo kan tahu sendiri dari dulu gue cuma menganggap Ziva hanya sebatas teman saja. Trus kalau sudah terlanjur begini, gimana dong?"
Pasrahnya, Andre jadi merasa tidak enak pada Abiseka terutama Faiha. Ia tak bisa membayangkan jika Faiha membencinya karena ia telah mempermainkan Hani.
"Ah lo sih Ndre yang ngak tegas. Malah ngejadiin Hani sebagai tameng buat menyingkirkan si Ziva. Lebih baik lo hentikan apapun rencana lo, apalagi melibatkan Hani. Gue ngak mau ikut terkena imbasnya. Faiha bisa ngamuk sama gue." Abiseka takut jika Faiha marah padanya.
"Lah kan lo juga yang mulai, Bi. Yang pertama ngejadiin Hani umpan ke gue siapa? Lo sendiri kan. Jadi, ya tolonglah gue sekali ini aja sampe si Ziva pergi menjauh. Dan gue akan mengakhiri permainan ini." Memohon pada sang sahabat.
Tanpa mereka sadari, di balik pintu Hani tanpa sengaja mencuri dengan pembicaraan mereka.Gadis muda itu mengepalkan telapak tangannya, hatinya merasa sedih setelah mengetahui fakta yang sebenarnya.
"Jadi, om Andre cuma memanfaatkanku saja dan tante cantik itu bukanlah kekasihnya. Mas Abi juga, kenapa malah mendukungnya. Oke, baiklah. Akan aku ikuti permainanmu om. Tante cantik itu yang mengejarmu maka, akan aku buat kamu yang akan berbalik mengejarku, om Andre. Lihatlah apa yang akan aku lakukan." Hani bertekad akan membalikkan keadaan dan membuat perhitungan.
Abiseka mengacak rambutnya frustasi."Ya udah, terserah lo deh. Tapi, kalau sampe terjadi apa-apa lo harus bertanggung jawab ya! Kalau gitu gue balik dulu, sekalian Hani gue anterin pulang."
Baru saja Abiseka beranjak dari duduknya dan melangkah menuju pintu, tiba-tiba terdengar suara ketukan.
Tok tok
"Permisi om Andre, mas Abi."
Kriett
"Iya, ada apa Han?"
Andre yang membukakan pintu dan melihat Hani dengan wajah sendunya.
"Itu, masakannya sudah matang, silahkan om!" Hani berbalik badan dan meninggalkan Abiseka dan Andre yang saling pandang.
__ADS_1
"Ndre, kira-kira Hani dengar ngak ya? Gue kok jadi deg-deg kan gini ya?mampus gue kalau sampe dia ngadu sama Faiha." Menepuk keningnya sendiri.
"Ya mudah-mudahan sih tidak. Berdo'alah semoga semua akan baik-baik saja."
"Lo sih enak aja ngomong, lah nasib gue ini di ujung tanduk. Bisa ambyarr kehidupan percintaan gue." Jawabnya.
"Lebay lo, Bi.Dasar suami bucin." Berdecak sebal lalu, melangkahkan kakinya menuju ke meja makan.Terlihat Hani tengah mencangking tas ranselnya.Gadis itu bersiap untuk pergi.
"Loh, kamu mau kemana Han?" Andre menegur Hani.
Hani pun menoleh dan tersenyum. "Mau pulang om. Mas Abi, ayo kita pulang nanti ibu mencariku!" Berbicara dengan wajah datar.
"Oke, sorry ya Ndre. Gue kesini juga kan tujuannya memang mau menjemput Hani. Selamat menikmati hidangannya!"
"Apa tidak sebaiknya kalian makan dulu, ini kan masakanmu, Hani. Masa' cuma aku yang memakannya sendirian. Bi–"
Abiseka mengulum senyumannya menahan tawa ketika melihat wajah frustasi Andre. " Sorry bro, bukannya nolak.Tapi, dirumah ada.bidadari hati yang pastinya sudah menunggu sang pangeran. Yaitu gue." Terkekeh geli.
"Kalau begitu biar Hani nanti gue aja yang mengatar, Bi. Kamu makanlah dulu ya, Han. Ini kan kamu yang masak."
Hani menatap sang kakak ipar, meminta persetujuan. Dan Abiseka memberi kode dengan menggelengkan kepalanya pelan. Hani pun mengerti.
"Maaf om, lain kali saja ya. Untuk sekarang sepertinya aku harus pulang. Sekali lagi maaf ya om. Ayo, mas Abi!"
"Apa? Inget pesan gue ya. Hati-hati dalam bertindak. Awas aja kalau lo sampe menyakitin adek gue." Abiseka memberi peringatan keras pada sang sahabat.
Andre tak menyahut, ia hanya menggaruk tengkuknya canggung karena Hani tengah menatapnya. "Ish...kok gue jadi salah tingkah gini sih sama cewek abg macam Hani."
Setelah mengantarkan Hani kerumahnya, Abiseka pun segera bergegas pulang ke kediaman Jayendra. Faiha bahkan telah mengirimkan beberapa pesan yang menanyakan tentang adiknya. Abiseka langsung menghubunginya via sambungan telepon karena ia tidak bisa membalasnya dikarenakan sedang menyetir.
"Iya, hallo sayang. maaf, mas ngak bisa balas pesanmu ini baru di jalan. Hani baik-baik saja kok, mas sudah mengantarkannya pulang."
"Beneran? Mas Abi ngak bohong kan? Awas ya kalau ada yang mas sembunyikan dari aku."
"Serius–beneran ini, mas ngak bohong.kalau tidak percaya kamu telepon Hani dan tanyakan langsung bagaimana keadaannya."
"Ngak usah, kasihan...dia pasti capek. Mas langsung pulang kan?" Nada suara Faiha mulai terdengar manja.
"Iya sayangku manisku manjaku,ini mas juga sudah hampir sampai. Kangen ya, sudahtak tahan ingjn–"
"Oke, bye. Aku tunggu!" Faiha memotong perkataan Abiseka karena ia tahu suaminya itu pasti tengah berpikiran mesum.
"Sayang–sayang, yah ditutup."
__ADS_1
Pagi harinya seperti biasa sebelum beeangkat ke kantor, Abiseka akan meladeni sang istri yang tiba-tiba berubah manja. Bahkan Faiha bak perangko yang selalu menenpel pada amplopnya yaitu Abiseka.
"Mas, aku ikut ya?" Bergelayut manja dilengan Abiseka.
"Mas ini mau kerja sayang bukannya mau jalan-jalan atau main. Nanti sore saja ya setelah mas pulang dari kantor akan mas turuti semua keinginan baby-baby dan mommy nya, oke."
Faiha tak menjawab, wanita yang tengah berbadan dua itu malah memasang wajah sedihnya lalu mulai terisak karena keinginannya tak dikabulkan oleh sang suami. Mama Malika yang baru saja mengantar papa Aryan, mengernyitkan keningnya melihat anak dan menantunya seperti sedang marahan.
"Ada apa sih, Bi. Pagi-pagi sudah bikin istrimu menangis?" Mama Malika mengelus lembut kepala menantunya.
"Ini loh ma, masa' Faiha minta ikut ke kantor sih. Hari ini aku banyak pekerjaan ma. Ada meeting di luar juga sama klien. Nanti Faiha di kantor sama siapa, ngak mungkin juga kan aku membawa Faiha ikut rapat."
"Kenapa tidak? Siapa yang melarang, pasti kamu sendiri yang tidak ingin Faiha ikut."
"Bukan begitu ma. Tapi,—"
"Sudah, tidak ada tapi-tapi-an. Ajak istrimu ke kantor! Itu.pasti karena bawaan bayi-bayimu. Kamu mau nanti anakmu lahir ileran, ngeces terus-terusan karena keinginannya tak dituruti? Ngak kasihan kamu." Mama Malika menakut-nakuti putranya.
Faiha menatap penuh permohonan dengan puppy eyes-nya. Membuat Abiseka seketika luluh dan akhirnya si ibu hamil ikut suaminya pergi bekerja.
Ditengah perjalan, tepatnya ketika di perempatan jalan lampu merah. Faiha melihat penjual tahu sumedang yang tengah berkeliling menjajakan dagangannya. Dengan cekatan Faiha pun membuka kaca jendela mobil lalu berteriak memanggil si penjual.
"Pak, kesini...beli tahu nya!"
Abiseka yang baru menyadarinya pun tersentak kaget dan berniat menutup kaca jendelanya.
"Sayang, kamu mau apa? Itu pasti tidak steril. Nanti akan mas belikan restauran saja ya. Mas takut nanti kamu dan debay sakit perut."
"Mas, apa-apaan sih. Aku itu kepingin banget tahu Sumedang. Sepertinya enak sekali sambil ngeletus cabe rawit. Srupp...yummy." Faiha sampai keciplak membayangkan rasa tahu Sumedang ketika ia melahapnya. Tangannya mengusap-usap perutnya. "Kalian juga kepingin kan, nak? Huh...tapi, daddy kalian pelit."
Membuang muka mengerucutkan bibirnya lucu. Dan akhirnya lagi-lagi Abiseka hanya.bisa mengalah pada si ibu hamil tersebut. Faiha pun bersorak kegirangan.
"Yeyy‐hore, terima kasih ya daddy ganteng. Muach." Mencium pipi kiri Abiseka.
"Tetima kasih, pak." Setelah memborong tahu Sumedang sang pedagang merasa senang dan mendo'akan agar kehamilan Faiha di beri kelancaran dan keselamatan sampai waktunya dilahirkan nanti.
Lampu sudah berubah hijau dan Abiseka segera melajukan kembali kendaraannya. Namun, pekikan Faiha sontak membuat Abiseka kaget bukan main."
"Mas mas–itu, bukannya Hani ya? eh, dia sama siapa itu? Ikutin mas, ayo cepat!" Faiha melihat sang adik tengah berada di dalam sebuah mobil mewah. Tapi, Faiha kurang begitu jelas melihat pengemudinya.
"Sayang, mereka tidak satu arah sama kita. Nanti mas akan terlambat ke kantor. Coba kamu telepon Hani, tanyakan apakah itu benar dia. Jangan-jangan kamu cuma salah lihat." Abiseka sebenarnya tahu pasti siapa pemilik mobil tersebut. Namun, ia mencoba menutupknya dari Faiha.
"S*** lo, Ndre...malah semakin menjadi dia."
__ADS_1
Bersambung