Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
87.Kelahiran Baby Twins


__ADS_3

Waktupun cepat berlalu, kini Faiha tengah menunggu waktunya persalinan. Menurut perkiraan dokter, hpl nya kurang lebih dua minggu-an lagi. Namun, Faiha merasakan perutnya semakin kencang dan keras. Bahkan sudah tampak turun kebawah yang artinya sang jabang bayi sudah bersiap di posisinya.


Saat ini Faiha sedang berada dikamarnya. Sejak pagi ia hanya rebahan diatas tempat tidur sambil membaca novel online di handphone nya. Sesekali ia terlihat meringis kesakitan sambil mengelus-elus perut buncitnya.


"sshh–kok, perutku rasanya sakit sekali ya? Mulas sekali." Sepertinya Faiha sudah mulai mengalami kontraksi.


Tok tok tok


"Fai–Faiha, boleh mama masuk?"


"Iya, masuk saja ma tidak dikunci!"


Krieet


Mama Malika masuk dan langsung menghampiri Faiha.Wanita paruh baya itu pun terkejut ketika menatap wajah menantunya yang tampak pucat dengan beberapa butiran keringat yang menetes di dahinya.


"Sayang, kamu kenapa. Apa ada yang sedang kamu rasakan, bilang sama mama!" Mama Malika mulai panik melihat Faiha yang tampak begitu kwsakitan.


"M–ma, sakit. Perutku sakit–." Tubuh Faiha bahkan gemetaran.


"Iya iya, tenang ya sayang. Mama akan telepon Abi sekarang."


Mama Malika langsung menghubungi putranya. Dalam sekali panggilan Abiseka mengangkatnya. "Abi, kamu sekarang dimana?"


"Dikantor ma, baru saja selesai meeting. Ada apa mama menelponku?"


"Kamu cepat pulang sekarang, istrimu sepertinya akan melahirkan atau kamu langaung menyusul kerumah sakit saja.Mama yang akan membawa Faiha rumah sakit, kalau menunggumu pastia akan memakan waktu lama.Sudah, begitu saja!"


Klekk


"Ma–mama, bagaimana keadaan Faiha sekarang?"


Tut tut tut


"Hah, sudah ditutup lagi."


tok tok tok


"Ya, masuk!"


Heru datang dengan membawa berkas-berkas yang akan ditandatangani oleh Abiseka. "Boss, ini dokumen-dokumen hasil rapat kita tadi dan besok pagi harus segera dikirim ke Wirakusuma Group."

__ADS_1


"oh, iya. Bawa saja. Kau ijut aku sekarang ke rumah sakit, istriku akan melahirkan!" Abiseka segera bergegas diikuti oleh Heru dibelakangnya.


"Baik boss."


Faiha sudah berada di rumah sakit, tepatnya diruangan bersalin. Mama Malika bergerak cepat dengan membawa sang menantu dibantu oleh supir pribadi keluarga Jayendra.


Mama Malika bergerak terus tak bisa tenang.Wanita paruh baya itu berjalan mondar mandir di depan pintu ruang persalinan. Mama Malika tidak berani menemani sang menantu karena jujur saja ia merasa tidak tega melihat Faiha yang terus menerus merintih menahan rasa sakit kontraksinya.


"MAMA–!"


Suara Abiseka mengalihkan perhatiannya dan saat Abiseka memberondong berbagai pertanyaan, membuat mama Malika kembali dilingkupi rasa was-was tentang keadaan menantu dan cucu-cucunya.


"Ish, bikin kaget saja kamu ini. Faiha sudan berada didalam ruang persalinan" Mama Malika tersentak kaget dengan suara Abiseka yang berteriak keras di suasana rumah sakit yang cukup tenang.


"Hush–jangan teriak-teriak, ini rumah sakit bukan stadion sepak bola. Sudah, kamu masuk sana temani Faiha yang tengah berjuang melahirkan anak-anakmu!" Mama Malika menarik tangan Abiseka lalu mendorong tubuh sang putra agar segera masuk kedalam ruang bersalin.


"Ma, aku takut." Abiseka malah mematung ragu untuk masuk kedalam. Antara gugup dan takut, sesekali telinganya mendengar pekikkan suara rintihan sang istri.


"Ini anak, apanya yang harus ditakutkan. Faiha itu istri kamu dan sekarang tengah berjuang melahirkan buah cinta kalian. Bikinnya aja ngak takut, sudah...sana, jadilah laki-laki sejati."


"Mama, ngomong apa sih. Malu tahu ada Heru." Dan akhirnya Abiseka pun membuka pintu ruangan tersebut setelah sebelumnya ia menghirup nafas panjang dan mengumpulkan segenap keberaniannya.


"Loh, Heru...kamu ngapain ikut?" Mama Malika menatap datar asisten pribadi putranya itu.


"Em, anu. Itu boss yang menyuruh saya untuk ikut nyonya." Jawabnya jujur. Memang Abiseka yang mengajaknya untuk ikut ke rumah sakit.


"Begitu, baiklah. Oh ya...kamu tunggu didepan, kalau bu Lastri datang tolong kamu antarkan beliau kesini."


"Baik nyonya." Sesuai perintah sang ibu ratu,Heru pun bergegas pergi menuju ke area depan rumah sakit.


Tak beberapa lama, datanglah bulek Lastri dan Anwar diantar oleh Heru tentunya.Dua wanita paruh baya itu pun saling berpelukan dan berdebar menunggu kabar dari dalam ruang persalinan. Lalu, tak berapa lama munculah Hani yang baru saja tiba dengan ditemani oleh mommy Diandra.


"Jeng Lastri, jeng Malika–!" Dan ketiga wanita yang masih terlihat cantik itu pun bercipika cipiki, berpelukkan dan salkng menguatkan.


"Bu, mbak Faiha apakah sudah melahirkan?" Itu Hani yang bertanya pada ibunya.


"Sepertinya belum, Han. Ayo, kita duduk saja dan berdo'a bersama agar persalinannya di beri kelancaran!"


Semuanya mengangguk dan segera mengambil posisi duduk masing-masing di ruang tunggu yang terletak didepan ruang bersalin tersebut.


"Oe oe oe oe–"

__ADS_1


"Ma, itu suara bayi nya mbak Faiha, kan. Sudah lahir." Hani langsung bangkit dari duduknya dan mendekat kearah pintu.


"Iya, benar‐ bayinya sudah lahir." Mama Malika tertegun dan sedetik kemudian wajahnya berbinar penuh kebahagiaan.


Saat ini mereka semakin berdebar-debar menunggu suara tangisan bayi kedua.Dan benar saja, tak sampai lima menit suara lengkingan tangis bayi yang begitu keras mengagetkan semuanya sekaligus memberi rasa lega dihati mereka.


"Oe Oe Oe Oe–"


"Alhamdulillah ya Allah." Untaian kalimat rasa syukur yang diucapkan oleh semua yang menunggu kelahiran baby twins.


"Selamat ya Jeng Lastri, jeng Malika!" Ketiga wanita paruh baya itu kembali saling berangkulan berucap syukur atas kelahiran cucu-cucu pertama mereka. Mommy Fiandra jadi semakin iri ingin segera dapat menimang cucu nya juga.Tapi, sayang sepertinya ia harus bersabar menunggu cukup lama.


Drtt drttt drrt


"Iya, mas...ada apa?" Tiba-tiba ponsel Hani yang berada didalam tas selempangnya terasa bergetar dan ketika ia melihat id si penelpon, ternyata itu dari suaminya.


"Kamu ada dimana, honey?" Suara Andre terdengar lesu


"Aku sedang berada dirumah sakit, mbak Faiha sudah melahirkan baby twins. Apa mas mau menyusulku kesini? Ada mommy juga, kok."


"Honey, bisakah kamu datang ke Apartemen sekarang juga. Mas...uhuk uhuk, rasanya badan mas tidak karuan."


Mendengar suara sang suami yang seperti sedang tidak baik-baik saja, sontak membuat Hani panik dan was-was akan keadaan suami tercintanya. Mommy Diandra yang pertama menyadari hal itu.


"Ada apa Han?apa ada sesuatu yang terjadi, wajahmu kenapa panik begitu?" Mommy Diandra menghampiri sang menantu dan bertanya tentang apa yang terjadi hingga membuat Hani tampak begitu gundah gulana.


"Mas Andre, Ma. Sepertinya mas Andre sedang sakit. Hani mau ke Apartemen melihat keadaannya ya, Ma. Boleh kan?" Hani sampai memohon agar diizinkan untuk menemui Andre.Karena selama ini Mommy Diandra begitu ketat mengawasi keduanya.


Mommy Diandra sempat ragu. Namun, melihat Hani yang begitu memohon akhirnya ia pun tidak tega dan mengizinkan Hani menemui Andre." Hm–baiklah, sana buruan pergi lihat keadaan suami manjamu itu!"


"Mommy, ih...aku pergi dulu ya, mom. Nanti akan aku kabari bagaimana keadaan mas Andre. Bu, tante. Hani pamit dulu ya nanti akan datang lagi kesini."


Setelah pamit undur diri, Hani pun segera melesat pergi menuju ke Apartemen sang suami. Hanya Heru yang menatap curiga akan kepergian Hani yang begitu terburu-buru ingin menemui Andre.


"Halah, itu paling cuma akal-akalannya tuan Andre saja. Feeling ku sih kali ini mereka akan berhasil bercocok tanam. Tuan Andre memang cerdik bisa membaca situasi." Gumam Heru dalam hati.


Sepanjang perjalanan menuju ke Apartemen suaminya, Hani tak henti-hentinya merapalkan do'a semoga keadaan sang suami baik-baik saja. "Ya, Allah. Semoga mas Andre tidak kenapa-napa."


"Honey–akhirnya kamu akan segera mwnjadi milikku seutuhnya. Masa bodoh dengan mommy dan yang lainnya." Senyum bahagia terpancar diwajah tampannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2