
Pagi-pagi sekali Faiha sudah rapi sedangkan sang suami masih belum menyelesaikan ritual mandinya. Faiha tampak segar, semalam ia meminta untuk benar-benar beristirahat, tidur dengan benar tanpa ada olahraga malam seperti biasanya.
Ceklekk
"Mas, ini sudah aku siapkan stelan pakaian kerja mas."
"Terima kasih, sayang. Bantu pakaikan dong...honey!" Penyakit manjanya mulai kambuh di pagi ini.
"Dasar manja, iya sebentar." Faiha pun bergegas menghampiri Abiseka setelah sebelumnya mengambilkan pakaian yang ia letakkan di atas tempat tidur.
"Hati-hati, jangan sampai meyentuh adik mas ya. Nanti dia bisa mengamuk dan tak bisa di kendalikan." Faiha mengernyit bingung apa maksud dari adik suaminya dan pakai acara mengamuk segala. Adik, sontak Faiha membelalakan matanya sadar akan yang dimaksud adik itu.
"Ish, dasar...pagi-pagi dah piktor, ya sudah pakai celananya sendiri saja. Ngak mau ambil resiko takut ada yang minta macam-macam." Menyerahkan ****** ***** kepada Abiseka agar di pakainya sendiri.
"Hahaha–cuma semacam aja kok, sayang. Dia minta bertemu dengan pasangannya lalu sayang-sayangan?" Abiseka malah mentertawakan istri mungilnya yang susah memasang muka sebalnya.
"Oke-oke, celananya mas pakai sendiri. Nanti kalau lebablasan bisa kesiangan nanti kita ke kantornya. Bisa di atur nanti kalau soal itu."
"Apa yang mas sedang rencanakan ya? Awas jangan berpikir yang aneh-aneh lagi." Faiha memberi peringatan pada suami yang sedang dalam masa kebucinannya.
"Yup–selesai, gantengnya suamiku ini."
Cup
Abiseka sangat bahagia mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang begitu menghangatkan hatinya. Jadi begini rasanya memiliki seorang istri. Kenapa tidak.sedari dulu saja dia menikah kalau tahu rasanya akan senikmat ini. Itulah yang ada di dalam hatinya. Seketika ia mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibir sang istri.
Tentu saja Faiha terkejut namun,.kemudian ia tersenyum hangat pada Abiseka. "Mas merusak lipstikku."
"Maaf sayang, sini biar mas pakaikan lagi lipstiknya!"
"Tidak usah, biar aku pakai sendiri nanti.Sekarang ayo kita kebawah. Semuanya pasti sudah menunggu kita untuk sarapan!"
"Selamat pagi, Eyang,Papa, Mama. Maaf kami telat ya." Ketika mereka sudah sampai di ruang makan, ternyata semua anggota keluarga telah menunggu mereka.
"Pagi, sayang.Ayo, kita langsung makan. Loh, kalian.kenapa sudah rapi? Apa kalian akan berangkat ke kantor hari ini juga?" Mama Malika tidak tahu kalau putra dan menantunya sudah akan masuk kerja kembali. dia pikir pasangan pengantin baru itu masih ingin rehat sejenak setelah kembali dalam perjalanan yang cukup jauh.
"Iya Ma, hari ini kami akan kekantor dan memulai aktifitas seperti biasanya. Sudah cukup liburannya, pekerjaan Abi di kantor juga sudah mebumpuk."
"Kalau kamu sih, mama juga paham.Tapi, Faiha...Apa Andre yang menyuruh Faiha untuk segera masuk kerja? Nanti mama akan bicara langsung sama anak itu."
"Mas–" Faiha menatap Abiseka mengkode agar segera melakukan sesuatu sebelum mama Malika bertindak lebih jauh. Bisa gawat utusannya kalau sampai ibu mertuanya benar-benar menemui Andre.
"Ma, tolonglah jangan terlalu ikut campur dalam urusan pribadi Faiha. Tidak enak juga sama Andre seakan terlaku di tekan oleh mama."
"Iya Ma, tolong ya ma jangan lakukan itu. Nanti Faiha yang tidak enak sama mas Andre."
"Ehemm–sejak kapan kamu memanggil Andre, Mas?" Abiseka tak suka Faiha memanggil Andre.dengan sebutan mas sama seperti dirinya. Sungguh ia tidak rela.
"Eh, maksud aku Tuan Andre. Ngak sopan ya memanggil boss sendiri seperti itu." Faiha tertawa meringis mendapatkan lirikan maut dari sang suami. Faiha langsung memperbaiki perkataannya dari pada si macan kumbang merajuk bisa gawat,kan.
"Ya sudah, mama ngak akan menemui Andre dan.bicara mengenai Faiha.Maafkan mama ya, sayang. Mama ngak ada maksud apa-apa."
__ADS_1
"Iya, Faiha tahu kok, Ma."
"Menantu mama memang yang paling manis, terima kasih sayang sudah mau menjadi istri dari putra mama yang agak aneh ini."
"Mama!"
Di dalam mobil Abiseka masih saja bersikap manja, membuat Faiha sedikit risih. Masalahnya bukan hanya mereka yang ada di dalam mobil, ada Heru asisten suaminya yang tadi datang menjemput mereka seperti biasanya. Heru bahkan begitu di buat penasaran dengan tingkah konyol yang tak pernah dia lihat sebelumnya dari boss nya itu.
"Ya ampun, ternyata boss kaku dan.dingin bisa berubah.180 %. Lihatlah sekarang, apakah dia benar'-benar sosok Abiseka Jayendra Ceo Jayendra Group yang terkenal tegas dan mahal senyum.Boss bahkan bisa tertawa lepas seperti itu. Amazing." Heru sesekali melirik dari kaca spion memperhatikan tingkah boss manjanya dengan sang istri.
"Heru, apa sedang kau lihat...hem? Fokus kedepan, perhatikan jalan bukannya mencuri-curi pandang ke arah istriku. Apa kau berniat ingin menggoda istri dari bossmu sendiri, hah? Apa kau sudah bosan bekerja padaku, iya?"
"Ten–tu saja tidak lah boss, mana berani saya memandang ibu boss apalagi berniat ingin menggoda nona Faiha.Maafkan saya boss." Jawabnya gelagapan nasibnya hampir saja di ujung tanduk, alamat jadi pengangguran.
"Mas, jangan seperti itu.Nanti gantengnya hilang loh, kalau marah-marah terus. Tambah tua...nih, keriput bisa muncul di wajah tampan mas."
"Sayang, kamu kok membela si Heru sih. Aku ini suamimu. Kenapa mendo'akan aku cepat tua?"
Wajahnya cemberut terlihat sangat lucu. Bahkan Heru yang mencuri lihat sampai menahan tawanya.
"Bercanda suamiku sayang, pokoknya dimataku hanya mas Abi yang paling ganteng sedunia. l love you." Mengelus lembut pipi Abiseka.
"Ka-kamu barusan bilang apa?coba ulangi lagi. Mas mau mendengarnya." Bak tertimpa durian runtuh, hati Abiseka begitu bahagia mendengar ungkapan cinta yang perrama kali terucap dari bibir sang istri.
"l LOVE YOU...suamiku."
"l love you too, istriku." langsung mendekap Faiha dan ingin menciimnya.
"Halah si boss mau main sosor aja, ngak lihat ada jomblowan di sini apa.ck...dasar boss bucin." Heru bergumam pelan. Namun, sialnya Abiseka masih dapat mendengarnya.
"Kamu bilang apa barusan?" Menatap tajam sang asisten.
"Oh, bukan apa-apa boss. Tadi saya cuma berbicara sendiri saja kok."
"Maaf boss, ini nona Faiha apa di turunkan di tempat biasa? Maksud saya di lantai basement kantor."
"IYA!"
"TIDAK!"
Jawab suami istri itu bersamaan dengan jawaban yang berbeda. Membuat Heru garuk-garuk kepala bingung harus menuruti perintah yang mana.
"Gimana ini boss, saya jadi bingung."
"Turunkan saya di tempat biasa saja, pak Heru! Saya tidak ingin membuat seluruh karyawan heboh dan akan menjadi bahan gosip nantinya."
"Sayang, ngak apa-apa. Siapa juga yang berani berbuat demikian. Bakal langsung mas pecat." Abiseka langsung ngegas.
"Mas, aku belum siap.Pelan-pelan saja dulu, oke." Menatap dengan puppy eyes membuat Abiseka langsung meleleh.
"Baiklah, Heru...turunkan nona di tempat biasa!"
__ADS_1
"Siap boss."
"Assalamuallaikum. Hai...apa kabar semua?"
Semua menoleh ke arah pintu dan semua langsung dibuat terkejut dengan kedatangan Faiha.
"Faiha, kamu dah balik?ayo ayo, sini duduk ceritain dong gimana acaranya?" Sebelumnya Faiha memang memberi tahu alasan izin cutinya dengan mengatakan akan mengadakan acara resepsi pernikahan kedua dikamoung suaminya kalau kata orang jawa bilang namanya ngunduh mantu. Sebenarnya mereka berpikir agak tidak masuk diakal sih, Faiha kan teemasuk karyawan baru, kok...bisa mendapatkan izin cuti? Aneh sekali, bukan.
"Alhamdulillah berjalan lancar.Semua baik-baik saja, kan selama tidak ada saya?"
"Beres, aman terkendali Fai. Pekerjaanmu juga sudah terhandle dengan baik, kok. Santuy aja." Itu Lia yang bicara.
"Terima kasih ya, semua."
"Terima kasih sama tu si Ardi, semua bagianmu di yang mengerjakannya.the power of love memang amazing ya." Gantian Susan yang menggoda si Ardi yang sejak tadi hanya memasang wajah merana.Hatinya masih ambyar.
"Terima kasih ya, mas Ardi."
"Iya, sama-sama dek, Fai. Ngak usah sungkan. Mas seneng melakukannya."
"Cie cie...masih manggil dek aja, ingat istri orang woi!' Lia memang yang paling berani berkata frontal yang tak sungkan untuk di uvapkannya.
"Apa sih, lo. Ngak boleh orang seneng dikit aja. Memang salah kalau gue manggil dek Fai. Memang Faiha sudah gue anggap adik sendiri. iri ya?"
"Ck–iri, sorry ya."
Tak lama terdengar suara panggilan telpon di ruang pantry. Dan Susan yang paling senior segera mengangkatnya.
"Ya, ada yang bisa saya bantu. Bu."
"Tuan Abiseka diantarkan secangkir kopi dan beliau meminta agar Faiha yang membuatkannya! Mengerti, kan?" Ternyata yang memanggil adalah sekretaris Ceo.
"Baik Bu, segera diantarkan."
"Ar, boss minta kopi dan Faiha yang diminta untuk membuatkannya.cepat laksanakan, nanti keburu keluar tanduknya!"
"Asiyapp, Mbak."
Faiha pun segera membuatkan secangkir kopi untuk suaminya dan Ardi yang akan mengantarkannya.
Jam istirahat siang.
"Fai, ayo cepetan. Kita makan soto aja ya. Dah lama kita ngak makan siang bareng!"
"Oke mbak."
Baru saja mereka melangkah untuk keluar, tiba-tiba pintu pantry ada yang membuka dari luar.
"Eh–?"
Bersambung
__ADS_1