
Waktu telah menunjukkan hampir tengah malam.Namun, belum juga keluar dari dalam kamar Faiha. Bulek Lastri masih setia menunggu di ruang tamu. Karena rasa kantuk sudah begitu menderanya, akhirnya wanita paruh baya itu pun memutuskan untuk tidak lagi menunggui menantunya yang bahkan tak ada tanda-tanda ingiin keluar.
"Hoamm–sudahlah, bagaimana pun mereka kan masih suami istri yang sah.Mau ngapain pun ngak akan berdosa. Mending tidur." Bulek Lastri melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya bersama sang putri, Hana.
Menjelang subuh, tidak seperti biasanya...Faiha masih bergelung manja dibalik selimut dan di pelukan hangat sang suami. Malah Abiseka yang bangun terlebih dahulu.
"Sudah jam lima pagi.belum bangun? kasihan istriku, pasti dia sangat kelelahan. dibangunkan tidak,ya?" Padahal yang telah membuat istrinya seperti itu ya dialah pelakunya. Abiseka ragu untuk membangunkan Faiha yang tampak begitu pulas tidurnya.
Perlahan ia pun melepaskan memindahkan tangan Faiha yang sejak semalam memeluknya, setelah itu ia pun turun dari atas trmpat tidur melangkah keluar kamar menuju ke kamar mandi. Abiseka tersentak kaget ketika berpas-pasan dengan bulek Lastri yang berada di dapur tak jauh dari kamar mandi.
"Astaqfirullah, bu–lek." Mengelus dadanya terkejut.
"Nak Abi, sudah bangun? Apa Faiha masih tidur?"
Bulek Lastri menayakan keberadaan sang keponakan yang tumben belum bangun tidak seperti biasanya gadis itu telat bangun.
"I–iya bulek, Faiha masih tidur.Kasihan mungkin karena kecape'an."
"Begitu–nanti tolong dibangunkan ya na, Abi. Takut kesiangan subuhnya!" Menyuruh menantunya untuk membangunkan Faiha.
"Iya bulek, sebentar...setelah saya ke kamar mandi." Abiseka pun gegas masuk ke kamar mandi melakukan kegiatan bersih-bersihnya aka mandi besar, kan semalem habis ni na ni nu.
Sementara itu didalam kamarnya, Faiha mulai memperlihatkan tanda-tanda akan bangun dari tidurnya.Gadis itu menggeliatkan tubuhnya dan ketika merasakan ada sesuatu yang hilang, mata bulatnya terbelalak kaget tak mendapati sang suami di sisinya.
Faiha menangis tersedu dengan menutupi.mukutnya dengan telapak tangan takut ada yang mendengar suara tangisnya.
"Apa mas Abi sudah pergi meninggalkanku?hiks...hiks...Kenapa ia pulang tanpa pamit padaku, jadi apakah ini adalah akhir dari segalanya dan semalam terakhir kalinya kami bersama." Bermonolog sendirian sambil sesegukkan.
Kriett
"Sayang, kamu kenapa? Apa ada yang sakit?"
Abiseka yang baru saja membuka pintu kamar dan mendapati istri mungilnya tengah menangis, segera menghampirinya dan memeluk tubuh mungil Faiha.
"Kenapa menangis heum...apa ada yang sakit? " Mendekap erat sambil mengelus punggung polos nan halus Faiha.
⁰Aku kira mas sudah pergi dan pulang. Jangan tinggalkan aku!" Tangisnya pun mereda ketika mengetahui kalau sang suami masih berada di rumah bulek nya.
Merenggangkan pelukannya, Abiseka tersenyum menyeringai melihat pemandangan indah yang terpampang nyata di hadapannya. Ya, Faiha tak menyadari bahwa tubuhnya polos tak tertutupi apa pun, bahkan selimutnya teronggok begitu saja jatuh ke pinggangnya.
"Apakah kamu sedang menggodaku lagi, sayang? Ini sudah pagi loh...nanti kamu akan telat–"
__ADS_1
"Akhh–ini sudah jam berapa, mas? Aduh, pasti bulek bakal memarahiku ini kalau sampai kesiangan. Aku bahkan belum mandi, nanti bisa telat subuhnya. Mas sih, kenapa tidak membangunkanku?" Cemberut mengerucutkan bibir mungilnya sungguh tampak menggemaskan.
"Astaga, sayang...kalau begini bisa-bisa kita akan keaiangan, kau akan membangunkan adikku lagi."
Faiha menautkan kedua alisnya bingung, belum mencerna arti ucapan suami mesumnya. Dan langsung terbelalak ketika menyadari akan maksud dari perkataan Abiseka.
"Ihh, mas mesum...Memangnya yang semalam apa belum cukup?" Menarik selimut dan menutupi tubuh polosnya.
"Ya kan, barangkali kamu masih kepingin gitu...mas sih, sama sekali ngak nolak loh." Mengedipkan matanya genit.
"Ngak mau, sudah kenyang...mau mandi, nanti kesiangan." Faiha beranjak turun dari atas tempat tidur meraih dasternya yang teronghok di lantai lalu, mengenakannya kembali. Abiseka melongo memperhatikan gerakan begitu sensual di penglihatannya dan Faiha menyadari hal itu.
"Mas, matamu itu loh...berkediplah! Pagi-pagi jangan piktor deh!" Wajah Faiha merona karena malu.
Abiseka terkekeh geli melihat ekspresi lucu wajah sang istri ketika sedang malu.
"Habis kamu menggemaskan sekali sih, sayang. Bikin lapar mas lapar dan ingin selalu memakanmu. Hemm...delicious."
"Astaga, memangnya aku makanan apa? Sudah ah, menuruti mas ngak akan ada puasnya." Faiha gegas melangkah keluar kamar, ia ingin segera mandi karena waktu subuh sudah mepet.
Setelah sarapan bersama, Abiseka pun ingin berpamitan pulang. Ia harus mengganti baju kerjanya karena harus ke kantor. Wajah Faiha sudah tampak sendu ketika suami tercinta akan meninggalkannya.
"Bulek, aku pamit. Titip Faiha, nanti aku akan kembali lagi." Menyalami sang ibu mertua.
"Mas pamit pulang dulu ya, sayang. Nanti sepulang dari kantor mas akan kesini lagi.Mas janji akan segera menyelesaikan kesalah pahaman ini dan memberikan pengertian pada mama dan yang lainnya. Jangan sedih ya, mas janji ngak akan pernah meninggalkanmu, oke...boleh kan kalau mas pergi bekerja? Demi masa depan dan juga untuk anak-anak kita nanti."
"Memangnya mas sudah siap mau punya anak?" Bertanya dengan wajah polosnya.
"Ya ampun, sayang. Apa kamu ngak sadar, umur mas ini sudah tidak muda lagi...tentu saja mas ingin sekali memiliki seorang anak, bahkan kalau bisa yang banyak sekalian, kembar tiga...mungkin, siapa tahu tuhan berbaik hati memberikan kita bonus anak langsung di kasih lebih. Lagi pula bikin anak itu kan menyenangkan. Betul kan, sayanh?"
Plakk
"Ihh–memangnya aku kucing apa, sekali melahirkan langsung banyak." Memukul lengan sang suami gemas akan kemesumannya.
"Ya sudah, mas beneran mau pamit ini...nanti kesiangan, soalnya ada meeting pagi dengan klien."
Faiha pun mengangguk dan mengizinkan Abiseka pergi. "Baiklah, tapi janji ya mas akan datang lagi dan menjemput aku."
"Iya sayangku manisku cintaku, sini...peluk sama cium dulu buat vitamin mas!" Faiha langsung berhambur masuk kedalam dekapan erat suami tercinta. Rasanya sungguh nyaman, Abiseka mengecup kening, kedua belah pipi chubby Faiha dan terakhir bibir cherry yang selalu membuatnya tergoda.
Cup cup cup
__ADS_1
"Oke, mas pergi ya. Jangan lupa makan nanti sakit lagi...l love you."
"I love you too, mas."
Mereka pun melepaskan pelukannya dan salkng melambakkan tangan memberikan kiss bye meara. Bulek Lastri tersenyum melihat sang keponakan yang tampak bahagia.
waktu tanpa terasa cepat berlalu dan sudah beberapa hari Abiseka tidak datang mengjnjungi Faiha. Saat ini gadis itu tengah melamun di teras depan rumah menunggu kedatangan suami tercinta. Namun, apa daya lelaki itu tak juga menampakkan batang hidungnya.
Hingga sebuah kendaraan bermotor berhenti didepan pekarangan rumahnya. Seorang petugas kurir menghampirinya.Faiha pun beranjak dari duduknya.
"Permisi mbak, apa ini benar tempat tinggal dari mbak Faiha Arsyana?"
"Ia betul, saya Faiha Arsyana...ada apa ya pak?"
"Ini mbak ada surat untuk mbak-nya." Lelaki itu pun menyeeahkan sebuah amplop beewarna coklat dan diterima oleh Faiha.
Faiha memperhatikan amplop tersebut. Ia lalu masuk kedalam dan mendudukkan bokongnya ke sofa. Perlahan ia pun membuka amplop tersebut dan ternyata isinya beberapa lembar surat. Matanya membola ketika membaca isi dari surat tersebut.
"Ce–cerai? Mas Abi mau menceraikanku?" Tubuh Faiha lunglai. Tiba-tiba dan tanpa kata, sang suami ingin bercerai dengannya.Sungguh ia masih tak mempercayainya.
"A–apa ini maksudnya?" Air matanya sudah tak terbendung lagi. Ia langsung mengusapnya ketika melihat kedatangan bulek Lastri.
"Faiha, kamu kenapa?"
"Ah, enggak kenapa-napa kok bulek. Bulek sudah selesai belanjanya?" Ya, bulek Lastri baru saja pulang berbelanja dari pasar tradisional.
"emm–bulek, Faiha mau pergi sebentar ya...ada perlu mau bertemu teman."
"Teman? Hmm...baiklah, hati-hati!" Bulek Lastri pun mengizinkan. Faiha masuk kekamarnya, meraih tas selempangnya lalu lekas beranjak pergi menuju ke suatu tempat. Ia ingin memastikan sesuatu.
JAYENDRA GROUP.
Angkot yang Faiha tumpangi berhenti di halte tepat di depan gedung kantor milik sang suami. Ia melangkahkan kakinya menuju kedalam ingin menemui suaminya. Namun, langkahnya langsung terhenti ketika melihat sebuah mobil yang sangat dikenalinya. Wajah Faiha langsung berbinar bahagia bisa melihat kembali wajah tampan suaminya.
Namun seketika wajahnya berubah pias ketika melihat seseorang yang juga ikut turun dari mobil sang suami.
"Kenapa mas Abi ada bersamanya? Apa ini jawaban dari datangnya surat cerai itu?" Kamu jahat, mas–" Hatinya sungguh kecewa dan rasanya begitu sesak.
Faiha pun langsung berlari menjauh dengan linangan air mata yang tak berhenti membasahi wajah cantiknya.
Bersambung
__ADS_1
Maaf ya, telat lagi telat lagi...selamat membaca ya, author mulai mode baper nih. Jangan nangis ya, Fai. Sunatin aja si Abi kalau nakal! 😁✌