Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
30. Merealisasikan


__ADS_3

"Nah, itu. Sang pengawas sudah datang untuk mensidak kita."


Abiseka bergegas menuju pintu untuk membukakannya.Sedang Faiha memperhatikan dari atas tempat tidur.


"Sidak? seperti pejabat saja pake sidak-sidakan." Faiha bergumam dalam hati.


"Sayang–bagaimana keadaanmu, apakah sudah mendingan sakitnya?" Nyonya Malika langsung berhambur menghampiri menantu kesayangannya tak menghiraukan kebeeadaan sang putra yang baru saja membukakan pintu untuknya. Abiseka menatap sang mama sebal.


"Alhamdulillah sudah mendingan,Ma. Hanya terasa agak nyeri sedikit."


"Syukurlah kalau begitu.Loh...Bi, ngapain kamu malah bengong di situ?duduk sini, mama Mau bicara serius sama kalian berdua!"


"Lah, Mama hanya ingat menantu kesayangan mama saja. Putra sendiri seakan tak terlihat." Jawab Abiseka dengan wajah yang sudah di tekuk sedemikian rupa alias full cemberut. Namun, ia tetap patuh dan bergegas mendekat duduk di tepi ranjang tepat di samping mama Malika.


"Apa yang ingin mama bicarakan?"


"Begini,nak...Apa kalian sudah merencanakan untuk bulan madu?Kamu maunya kemana,sayang?" Bertanya dengan lembut pada Faiha.


"Emm–itu, sih...bagaimana ya, ma?kalau Faiha ter–"


"Kami belum berpikir untuk berbulan madu dulu, Ma.Lagi pula Abi sedang di sibukkan dengan proyek baru di Bali.Jadi, lain waktu saja kami melakukannya itu bisa di atur." Abiseka memotong ucapan Faiha menjelaskan alasan kenapa ia dan Faiha belum bisa pergi berbulan madu.


Nyonya Malika agak kecewa. Itu artinya penerus keluarga Jayendra tidak akan hadir cepat. Padahal ia dan sang suami begitu mendambakan hadirnya seorang cucu dari putra semata wayangnya itu. Menikahnya Abiseka dan Faiha menjadi harapan satu-satunya mereka akan segera mendapatkan pewaris Jayendra Group selanjutnya. Abiseka jelas mengerti arti wajah sendu mamanya.


"Ma, jangan seperti itu dong! Kasihan Faiha juga kalau langsung di suruh bulan madu.Lihat saja, jalannya saja masih kayak keong tertatih tatih gitu." Abiseka malah mengkambing hitamkan sakitnya Faiha agar mama Malika mengerti.


Benar saja, berkat perkataan Abiseka wanita paruh baya itu pun langsung berubah khawatir pada Faiha.Mama Malika jadi merasa tak enak hati telah memaksa menantunya untuk pergi berbulan madu secepatnya. Padahal menantu kesayangannya itu pun bahkan belum pulih benar.


"Sayang, maafkan mama ya. Oke, kalian bisa berbulan madu jika kamu sudah bener-benar sembuh total. Lagi pula nanti kalian tidak akan total dalam melakukannya. Abi, kamu juga harus jaga kesehatan. Harus vit terus kalau perlu minum suplemen biar strong. Ingat, istrimu ini masih sangat muda pastilah fisiknya lebih kuat dan bisa mengimbangimu kalau kalian sedang proses mem–"


"Mmppp–"

__ADS_1


Membekap mulut sang mama dengan telapak tangan besarnya. Sampai mama Malika gelagapan tak bisa bernafas. Ia tidak ingin mamanya meneruskan celotehan absurd nya, bahkan wajah Faiha sudah semerah tomat. Tentu saja Faiha mengerti, ia bukanlah gadis remaja lagi.


Mama Malika mencubit perut Abiseka sangat keras sehigga tangannya pun terlepas. Lalu memelotot tajam pada Abiseka.


"Apa kamu sudah gila, hah? Mau bikin mama Mati, mama bahkan belum menggendong calon cucu mama.Dasar anak kurang ajar." Memukul-mukul lengan sang putra.


"Aduh–sakit ma, ampun.Habis mama ngomongnya ngelantur sih. Itu lihat, wajah menantu mama sampai merah begitu."


Nyonya Malika menoleh dan melihat wajah Faiha yang ternyata memang sudah memerah sempurna bak tomat masak. Mama malika tersenyum tangannya terulur mengelus lembut sebelah kanan pipi merona Faiha.


"Faiha sayang, kamu jangan malu dan takut.Untuk pertama kalinya memang akan sangat tidak nyaman akan tetapi mama yakin seterusnya kamu akan mulai bisa.menikmatinya. Oke sayang, hanya itu pesan mama."


"Dan untuk kamu Abi, lembutlah memperlakukan istrimu karena itu adalah pertama kali untuknya. Ingat, jangan kasar dan terburu-buru. Perlakukanlah istrimu dengan lembut dan penuh kasih sayang."


Blush


Wajah Faiha kembali memanas. Mama Malika begitu blak-blakan membahas hal yang sangat privasi bagi pasangan suami istri baru seperti mereka.


"Ma, apa mama tidak lelah? Sebaiknya mama lekas kembali ke kamar kasihan papa nanti tak bisa.todur kalai tidak ada mama." Abiseka mengusir mamanya secara halus, ia sudah tidak tahan mendengar ocehan dan segala wejangan yang malah membuat malu.


Cup


"Dasar tidak sopan. Mengusir mamanya sendiri.Awas kamu ya macam-macam, kasihan Faiha." memberi tatapan mematikan pada sang putra.


"Hemm–ngerti ma, sudah cepat.Nanti papa keburu nyusul ke sini malah tambah ruwet nanti."


Jika papa Aryan sampai ikutan datang dan bergabung dengan obrolan mereka. Sudah dapat di pastikan akan bertambah panjang urusannya dan bikin kepala pening. Karena kedua orang tuanya begitu ngebet ingin segera menimang cucu. Padahal di pernikahannya dengan Faiha itu adalah hal yang mustahil. Pernikahan mereka hanyalah sebuah sandiwara. Dan entah sampai kapan masanya akan berakhir.


"Tuan, beneran saya boleh tidur di sini? Kalau tuan keberatan dan merasa tidak nyaman tidur di sofa, biar saya saja yang tidur di sofa. Mama Malika juga sudah pergi,kan."


Mencoba bertanya kembali karena sejak kepergian mama Malika, Abiseka diam saja dan malah duduk di sofa.Jadi, Faiha berpikit kalau Abiseka merasa tak nyaman kalau harus satu ranjang dengannya.

__ADS_1


"Siapa juga yang mau tidur di sofa ini. Memang kamu kira nyaman apa tidur di tempat sesempit ini.Memang sih harusnya kamu yang lebih pantas tidur di sofa.Tapi, karena aku ini orang yang baik, jadi ya aku izinkan kamu untuk tidur di atas ranjangku. Hanya semantara.Ingat itu!"


"Baik Tuan, saya sudah mengerti dan terima kasih atas kebaikan hati anda. Selamat malam."


Faiha mencoba bersikap biasa dan setenang mungkkn, padahal di dalam lubuk hatinya terasa begitu sakit akan penghinaan untuk yang kesekian kalinya.Ia malas untuk meladeni laki-laki egois yang berstatus sebagai suaminya itu.


"Hei–siapa yang menyuruhmu untuk tidur? Masih ada yang ingin aku bicarakan."


"Iya, apa yang ingin anda katakan,Tuan?" Faiha membuka kembali matanya yang baru saja terpejam. Ia fokus mendengarkan perkataan Abiseka.


"Begini, Setelah kamu sembuh, kamu akan tetap beranhkat kerja. Karena kamu masih berhutang banyak padaku. Untuk urusan mama, itu bisa di atur bagaimana nanti. Ada Andre yang akan membantu."


"Tuan Andre? Membantu bagaimana?"


Tanya Faiha, ia bingung kenapa masih melibatkan pria bule itu. Jujur, Faiha merasa grogi jika berhadapan langsung dengan pria sebaik dan setampan Andre.


"Kamu ini,ya. Masih ngak mudeng juga.Si Andre kan memang dari awal sudah terlibat dalam permainan kita. Apa kamu lupa kalau di mata mama kamu adalah karyawan di perusahaan Andre. Jadi, mau tidak mau ya dia akan terus ikut terlibat dalam sandiwara pernikahan ini."


"Apa tidak akan jadi bertambah rumit jika, Tuan Andre terus ikut dalam permainan sandiwara ini. Kalau sampai mama Malika dan yang lainnya tahu semua kebohongan ini , bagaimana? Bikin mumet saja. Menyesal aku telah menerima tawarannya dulu. Ah, andai waktu bisa di putar ulang kembali. Fiuh–"


"Woii–kamu mengerti tidak?malah melamun. Kenapa sikapmu aneh kalau berbicara mengenai Andre? Apa jangan-jangan benar ya kamu menyukainya."


"Ya ampun, Tuan.Saya bukan cewek yang suka tebar pesona apalagi sampai berpikiran ingin mendekati laki-laki seperti Tuan Andre yang bahkan tak pantas untuk saya.Karena saya masih tahu diri dan sadar siapa saya." Tidak terima di curigai berniat ingin mendekati salah satu sahabat Abiseka.


"Sudah‐kita akhiri pembicaraan yang ngak penting ini. Minggir, jangan terlalu ketengah nanti kamu berbuat macam-macam padaku,lagi."


"Au ah, gelap!"


"Apa barusan kamu bilang? Saya gelap? Apa mau kita realisasikan saja keingjnan mama dan papa untuk memberikan mereka cucu. Sepertinya kamu sengaja menantang aku,ya."


"Eh–eh, sama sekali tidak. Siapa juga yang nafsu sama cowok dingin kayak situ. Hi...ngeri." Faiha membalikkan tubuhnya menyamping dan membelakangi Abiseka yang kini sudah rebahan di sebelahnya. Namun, tiba-tiba.

__ADS_1


"Aaaakh–"


Bersambung


__ADS_2