
"Pak Heru–"
Semua terkejut dengan kemunculan sang asisten Ceo.Mereka langsung bersikap hormat dan santun dengan menganggukkan kepala.
"Apa ada yang bisa kami bantu,Pak?" Ardi lah yang berani menyapa Heru.
"Saya hanya ada perlu dengan no–em maksud saya Faiha. Kamu dipanggil ke ruangan boss sekarang juga.Itu saja...Yang lainnya boleh meneruskan kegiatan kalian."
"Baik, Pak.:
Setelah kepergian Heru, semua rekan kerjanya menatap Faiha penuh tanya.
"Fai, apa kamu telah melakukan suatu kesalahan? Tidak biasanya loh big boss memanggil langsung karyawan rendah seperti kita langsung ke ruangannya.Aneh sekali,kan?"
"Ka–kalau itu saya ngak tahu, mbak. Sudah, lebih baik saya harus segera kesana.Duluan ya semua, maaf ngak bisa makan siang bareng."
"Faiha, jangan lupa berdo'a sebelum masuk! Semoga kamu selamat." Lia berteriak lantang pada Faiha yang sudah melangkah jauh. Dan Faiha hanya melambaikan tangannya.
"Maaf, permisi mbak. Saya mau bertemu dengan Tuan Abiseka tadi beliau memanggil saya."
Sekretaris Abiseka yang bernama Dini itu memang tidak mengetahui jika sang boss memanggil salah satu karyawan untuk menghadapnya. Yang membuat Dini merasa aneh adalah Faiha yang hanya seorang karyawati bagian OG di panggil secara pribadi oleh sang Ceo. Benar-benar di luar nalar. sekilas Dini menatap sinis pada Faiha namun, kemudian mengetuk pintu ruangan Abiseka.
tok tok tok
"Masuk!"
"Maaf, apa Tuan memanggil salah satu karyawan bagian OG? Namanya Faiha."
"Hmm–suruh dia masuk!" Menjawab tanpa menoleh pada sang sekretaris, tengah sibuk menandatangani berkas-berkas dihadapannya.
"Kamu boleh masuk!" Bicara dengan tatapan merendahkan. Faiha hanya tersenyum saja.
"Baik, terima kasih mbak."
"Mbak mbak, memangnya aku mbakmu apa. Panggil bu Dini, bisa kan? Siapa kamu bicara seperti aku ini temanmu saja."
Baik mbak, eh bu Dini. Maaf, apakah saya sudah boleh masuk sekarang. Atau anda masih ada unek-unek yang mau di lampiaskan pada saya? Saya akan dengan sabar mendengarkannya." Faiha berkata dengan ekspresi datarnya.
"Sudah sana cepat masuk, dasar OG tidak tahu diri. Rasakan kau nanti bakal di tendang boss dari sini.Bersiaplah jadi kere kau." Faiha hanya tersenyum menanggapi sumpah serapah sekretaris suaminya itu.
Setelah masuk dan menutup pintu, Abiseka pun langsung mengdongak dan melihat sang istri yang tersenyum manis padanya.
__ADS_1
"Selamat siang Tuan, apa anda memanggil saya?"
"Hentikan ucapan anehmu itu. Kemarilah sayang, mas kangen!" Abiseka bangkit dari kursi kebesarannya bergegas melangkahkan kaki mennyambut kedatangan istri mungil yang begitu di rindukannya.
"Kangen?apa ngak salah, bukankah baru beberapa jam yang lalu kita bersama, bukan. Kamu kok jadi lebay banget sih, mas?"
"Bukan lebay sayang tapi, bucin. Aku sudah jatuh sejatuh jatuhnya dalam pesona cintamu istriku." Aih, seorang Abiseka bisa sepuitis van seromantis itu pada seorang wanita. Sungguh tidak bisa di percaya.
Tubuh kekarnya langsung memeluk tubuh mungil Faiha. Sambil sebelah tangannya mengunci pintu ruangannya.
Ceklekk
"Loh, kok di kunci sih? Mas, jangan aneh-aneh deh. Di luar ada sekretarismu, kan." Protesnya ketika mendengar suara pintu yang telah di kunci oleh Abiseka.
"Supaya ngak ada yang akan mengganggu kita, sayang. Yuk, mas kangen itu–"
"What? apa mas sudah tidak waras, kita akan melakukan itu di sini...di ruangan ini? Gila apa, ngak enggak mau aku.Jadi, mas memanggil aku kesini cuma mau minta jatah?" Menepuk keningnya sendiri, tak habis.pikir dengan keinginan gila suaminya itu.
"Nanti saja di rumah, nanti malah jadi gosip.Apalagi bu Dini tadi sepertinya mulai menarruh curiga padaku.Lebih baik aku kembali ke pantry sekarang sebelum terjadi hal-hal di luar kendali mas." Faiha bisa melihat tatapan penuh damba juga tengah menahan sesuatu dan Faiha mengerti apa yang di inginkan.oleh Abiseka. Apa lagi kalau bukan bercinta.
Abiseka melepaskan pelukannya, lalu melangkah menuju ke meja kerjanya. Faiha menghela nafas lega.
"Ah, syukurlah. Selamat-selamat–"
"Dini, kau pergilah makan siang, oh ya. Sekalian pesankan makan siang untukku dari restautan biasa, pesan untuk dua porsi!" Setelahnya ia kembali menghampiri Faiha yang masih berdiri mematung.
Kepala sudah berdenyut menyaksikan ulah sang suami yang cukup beresiko.Mengusir Dini secara halus, di saat ia tengah berada di ruangan Ceo tentu saja akan menambah kecurigaan wanita tersebut yang memang tampak tak menyukainya.
"Mas, janganlah sekarang! tahanlah sampai sore saja, aku ngak mau ambil resiko jika ada yang ngegap aku ketika keluar dari ruangmu ini.Sabar ya, suamiku yang ganteng!"
"Enggak, Maaf sayang. Sepertinya aku sudah tidak bisamenahannya. Adikku sudah terbangun sejak tadi minta di manjakan oleh pemiliknya. Ayolah–!"
Grepp
Tubuh mungil Faiha langsung di angkat ala pengantin baru.Lalu, Abiseka membawanya masuk kedalam sebuah ruangan yang tampak terdapat satu buah ranjang berukuran sedang. Tampak cukup nyaman untuk di tiduri atau sekedar melepas rasa kantuk atau sekedar mengistirahatkan tubuh yang lelah.
Sepertinya ruangan itu tempat Abiseka beristirahat untuk sekedar melepas rasa lelah ketika bekerja. Faiha baru pertama kali ini masuk kedalam kamar tersebut.
"Ternyata mas punya kamar rahasia ya? Apa jangan-jangan mas juga suka membawa kekasih mas kesini dan–"
"Kamu ini ngomong apa, sayang. Ngak ada itu, hanya kamu dan ini pertama kalinya mas membawa.seorang wanita masuk ke ruangan ini.Itu adalah istri mas sendiri...yaitu kamu, sayang."
__ADS_1
"Be–benarkah?" Faiha semakin gugup ketika Abiseka merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan sang suami langsung mengukung tubuhnya. Saat ini manik mata keduanya saling beradu pandang, begitu dekat hanya berjarak beberapa centi saja. Bahkan mereka bisa.saling merasakan hembusan nafas satu sama lain.
"Mas–aku takut nanti ada yang menangkap basah kita."
"Tidak akan, sayang. Santailah dan buatlah dirimu senyaman mungkin. Nikmatilah, jangan tegang nanti kamu malah kesakitan!" Tangan besar Abiseka mulai membuka satu persatu kancing kemeja Faiha dengan mata yang masih menatap intens wajah sayu sang istri.
"ssttt–jangan menginterupsi, kali ini biar mas yang akan memanjakanmu. Rasakan dan nikmatilah, sayang."
Pergumulan pun di mulai, Abiseka benar-benar bergerak lembut memanjakan disetiap jengkal tubuh molek Faiha. Sedangkan Faiha hanya bisa pasrah dan tanpa sadar mengeluarkan suara indahnya, sehingga membuat Abiseka semakin bersemangat dan tak tahan untuk segera menuntaskan hasratnya.
Segera ia pun memulai ke bagian inti percintaan mereka. Dan terjadilah penyatuan yang indah dari tubuh keduanya. Hanya suara er***** dan le******** yang menggema di ruangan tersebut. Mereka pun juga tengah menikmati santap siang panas versi pasangan suami istri yang sah.Sah loh ya.Jadi, no problem lah.
Sementara itu depan pintu ruangan Ceo. Tampak seorang pengantar makanan dari restauran yang di pesan Abiseka tadi, tengah berdiri dan bingung harus melakukan apa. Sudah hampir setengah jam laki-laki itu berdiri dan tak tampak seorangpun di sana.
"Mas, mau mengantar pesanan Tuan Abiseka?"
"Iya bu Dini.Maaf, sejak tadi saya mengetuk pintu dan sama sekali tak ada respon dari dalam. Apa Tuan Abiseka sedang tak ada di tempat? Lalu, ini pesanan makan siang beliau bagaimana?"
"Masa' sih? Sebentar ya!" Dini yang baru saja kembali dari istirahat makan siangnya merasa aneh juga. Tiidak biasanya sang boss pergi tanpa sepengetahuannya.
Dini memutar knop pintu dan ternyata masih terkunci dari dalam. Menambah kecurigaannya akan sesuatu.
"Kalau begitu taruh di meja saya saja.Mas nya boleh pergi.Terima kasih."
"Baik, bu.sama-sama."
Tanpa menunggu waktu lagi, Dini langsung menghubungi pantry untuk memastikan satu hal.
"Apa Faiha ada?"
"Maaf, bu Dina. Sejak tadi Faiha sama sekali belum kelihatan.Mungkin dia tengah makan siang di kantin. Sebab tadi dia tak jadi ikut kami karena di panggil oleh big boss. Memangnya ada apa ya, bu?"
"Oh, tidak ada apa-apa."
Semakin curigalah si Dini. Ia menatap pintu yang masih terkunci itu dengan pikiran tak tenang.
"Apa iya sih, si OG itu masih berada di dalam dan sedang melakukan...ah, enggak mungkin deh?"
"Apa yang tidak mungkin, Dina?"
Dina pun refleks menoleh ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya ia melihat sosok yang tengah berdiri di belakangnya dengan tatapan penuh selidik.
__ADS_1
Bersambung