
Mobil yang di kendarai Abiseka melesat cepat membelah jalanan ibu kota yang lumayan tampak ramai lancar. Ia tak memperdulikan suara klakson dari kendaraan-kendaraan di sekitarnya.Yang ia pikirkan saat ini adalah istri mungilnya yang ia tinggalkan secara tidak sengaja diruangan pribadinya.
Setelah memakan waktu yang cukup kilat dan saat sampai di lobby kantor, dengan langkah cepat Abiseka segera memasuki lift menuju ke lantai 15 dimana ruangannya berada.
Di depan pintu ruangannya, Abiseka gegas membuka pintu dan langsung melangkah masuk ke dalam ruang pribadinya dimana ia tadi meninggalkan Faiha yang tengah bersembunyi di bawah kolong ranjang.
"Kemana dia? Sayang...kamu dimana?" Abiseka menyisir ke seluruh sudut ruangan namun, tak ia dapati sang iatri dimana pun.
"Apa dia sudah keluar dan kembali ke pantry? Kira-kira dia marah ngak,ya? Mampuslah aku jika sampai dia merajuk, tamatlah riwayatmu boy."
Abiseka bermonolog sendiri menerka apakah istrinya akan marah karena kejadian tadi siang saat ia tanpa sengaja meninggalkannya seorang diri di kamar itu. Ia menatap miris adik kecilnya yang terancam rehat dari rutinitasnya. Bisa cenat cenut kepalanya, kepala atas dan bawah.
"Apa aku telpon langsung saja ya? Ini juga kan sudah hampir waktunya jam pulang kantor. Oke, aku telpon sekarang."
"Assalamuallaikum.Ya ada apa,mas?" Jawab Faiha dingin.
"Sayang, kok ngomongnya gitu sih? Kamu marah ya?"
"Enggak, biasa aja."
"Maaf yang tadi ya, mas ngak bermaksud buat ninggalin kamu. Mas emm...lupa."
"Apa, lupa? O...begitu, oke."
"Kita pulang bersama, mas akan menemanimu ke rumah bulek Lastri."
"Enggak usah juga ngak apa-apa kok, mas. Barangkali mas masih sibuk? Aku bisa sendiri."
"Sayang, aduh...beneran ini sih marah.Kalau begitu mas jemput kamu sekarang ya?"
"Jemput? Maksudnya, mas mau ke pantry ?"
"Ya iya dong. Memangnya mas mau cari kamu dimana lagi? Mas otw ya."
"Mas, jangan...aku tunggu di lantai basement saja seperti biasa, awas ya kalau mas nekat ke pantry."
"Asiyap...nyonya Abiseka."
Dilantai Basement.
Faiha sudah berdiri dengan wajah cemberutnya, gadis itu masih merasa kesal pada suaminya yang super itu. Dilupakan begitu saja, pergi tanpa pamit setelah mereka baru saja melakukan ni na ni nu...bikin senewen.
Sebuah mobil Rools-Roys Phantom warna hitam berhenti tepat di hadapan Faiha. Heru baru saja akan keluar untuk membukakan pintu untuk nyonya mudanya itu. Namun, Abiseka melarangnya karena ia sendiri yang hendak melakukannya dan Heru menurut saja apa pun keinginan bosnya itu.
Abiseka pun bergegas turun lalu, menggiring istrinya untuk masuk kedalam mobil dengan penuh kelembutan dan tak lupa memberikan senyum termanis di wajah tampannya. Faiha tersipu malu namun, masih mempertahankan egonya karena ingin memberikan sedikit pelajaran pada suami pikunnya itu, punya istri.secantik dan seimut Faiha bisa-bisanya dilupakan. Terlalu kalau kata bang roma.
Pasangan yang sebenarnya dalam fase kebucinan itu kini duduk di kursi belakang saling diam. Sebenarnya hanya Faiha yang seakan tak ingin berinteraksi dengan Abiseka. Bahkan Faiha duduk sengaja menjauh, mereka persis seperti anak sekolah yang sedang marahan dan duduknya pun saling menjaga jarak.
"Sayang, sini duduknya deketan dikit! Kayak naik angkot saja duduknya jauh-jauhan." Namun, tak mendapat respon apa pun dari sang istri yang masih dalam mode merajuk.
"Enggak ah, disini saja. Enak dekat jendela bisa melihat pemandangan indah dari pada lihat mas yang nyebelin." Faiha langsung membuang muka melihat kearah kaca jendela mobil di sampingnya.
__ADS_1
Heru yang sejak tadi diam-diam mencuri dengar tergelitik dan ingin rasanya ia terbahak melihat wajah tegang namun tampak mengenaskan dari boss supernya itu. Super tampan, super hebat dalam berbisnis, super kuat (kuat ngapain hayo?), super tegas + galak dan banyak lagi kehebatan yang dimiliki oleh seorang Abiseka Jayendra.
Tapi, saat ini lihatlah betapa semua ke superannya itu tak ada artinya jika sudah di hadapan istri mungilnya tersebut.Sungguh aneh tapi nyata itulah kenyataannya.
"Sayang, sudah dong ngambeknya. Tadi kan, mas sudah minta maaf. Sini sini, ada Heru...malu dong sayang di lihatnya." Heru yang mendengar namanya ikut disebut pun refleks melihat kearah kaca spion.
"Halah si boss, bisa ae...orang lain dijadiin tameng. Dasar suami bucin. Dulu saja sok-sok-an galak dan nolak. Sekarang sudah seperti itik yang takut kehilangan induknya mengekori terus tak mau lepas. Bak amplop dan perangkonya yang selalu menempel erat."
Monolog Heru tentang kejaiman sang boss, sok puitis juga si jombloan yang satu ini.
Akhirnya dengan mengerahkan seluruh kemampuan rayu merayunya, Abiseka bisa meluluhkan hati istri mungilnya, bahkan kini mereka sudah lengket tak terpisahkan.Faiha tengah bergelayut manja di dada bidang suami tampannya. Sedangkan Abiseka mencium kening dan mengelus lembut rambut Faiha yang halus dan wangi karena siang tadi baru saja keramas setelah selesai berolahraga plus di siang bolong.
"Rambutmu wangi sekali, sayang. Jadi–mmppm."
Faiha langsung membekap mulut Abiseka karena tak ingin suaminya itu melanjutkan perkataannya,ia tahu apa yang selanjutnya akan di ucapkan.
"Masss–bisa diam ngak sih? Itu, ada pak Heru...ck, malu tahu." Faiha mencebik sebal.
"Apa? Barusan kamu memanggil Heru, Pak. No no no...panggil Heru saja, tidak usah pake embel-embel Pak segala. Kamu itu Ny.Abiseka Jayendra bukan bawahan si Heru."
"Baiklah, asalkan kamu bahagia suamiku yang paling tampan."
CUP
"Terima kasih, sayang.I love you." Mengcup singkat bibir cherry sang istri. Faiha yang tak siap pun sontak kaget dan refleks menepuk dada bidang Abiseka.
"Mas, ish...mesum ah.Tuh–!" Menunjuk kearah depan dengan menggerakkan dagunya.Siapa lagi yang dimaksud kalau bukan si Heru sang asisten setia.
"Maaf, boss. Kita sudah sampai di rumah."
Heru keluar terlebih dahulu. Lalu, membukakan pintu untuk boss nya. Laki-laki muda itu begitu gesit dan cekatan. Dengan sigap ia berjalan memutar ingin membukakan pintu untuk sang nyonya muda.
"Stop–biar aku yang membukanya. Kamu langsung pulang saja. Ingat, besok jangan sampai telat. Kita akan mengadakan meeting pagi. Persiapkan sebaik mungkin!"
"Siap boss."
"Hmm–"
Setelah mereka beristirahat sebentar,mandi dan menyiapkan oleh-oleh yang akan mereka bawa ke rumah bulek Lastri. Abiseka dan Faiha berpamitan pada semuanya.
"Ma,Pa kami berangkat ya." Faiha mencium punggung tangan papa Aryan dan mama Malika tak lupa bercipika cipiki dengan sang ibu mertua.
"Iya, sayang. Abi...hati-hati bawa mobilnya. Jangan ugal-ugalan!" Memperingati sang putra.
"Ya ampun, ma. Aku ini bukan anak remaja yang baru belajar menyetir dan aku juga bukan seorang pembalap liar.ngadi ngadi nih, mama."
Plakk
Mengeplak bahu Abiseka."Dasar anak ngeyel, angel nek di kandani."
"Aduh, penyiksaan anak kandung ini."
__ADS_1
"Penyiksaan anak?bukan anak tapi, bocah tua nakal." Mama Malika terkekeh geli sendiri. Abiseka mencebik sebal lalu merangkul mesra Faiha melangkah pergi.
"Da da sayang–"
Tak memakan waktu lama hanya sekitar 15 menit-an mereka pun sampai di depan rumah bulek Lastri.
Tok tok tok
"Assalamuallaikum Bulek...ini Faiha."
Ceklek
"Wa'allaikumsalam. Faiha,nak Abi...ayo, masuk!" Bulek Lastri langsung tersenyum bahagia melihat kedatangan putri dan menantunya.
"Terima kasih, bulek."
Suasana tampak sepi." Anwar sama Hani, mana? Kok tumben sepi, bulek."
"Ada, mereka di kamar sedang mengerjakan tugas sekolahnya."
"Bagaimana kalau kita makan malam bersama? Kalian pasti juga belum makan,bukan?" Bulek Lastri mengajak keduanya untuk makan bersama.
"Boleh, bulek...sudah lapar banget ini." Abiseka mengusap-usap perutnya.Faiha dan bulek Lastri tersenyum melihat tingkah Abiseka yang sama sekali tidak jaim.
Bulek Lastri kemudian memanggil Anwar dan Hani untuk makan malam. Dan kini mereka berlima makan dengan penuh suka cita walaupun dengan hidangan ala kadarnya dan Abiseka pun tak mempermasalahkannya.Laki-laki itu sudah bisa beradaptasi dengan keluarga dari sang istri yang berkehidupan sangat sederhana.
"Maaf ya nak Abi, bulek hanya bisa menghidangkan makanan sederhana dan mungkin nak Abi juga belum pernah memakan masakan kampung seperti ini."
"Oh, enggak kok bulek, ini enak sekali. Saya malah malu ingin minta tambah." Jawabnya sambil cengengngesan.
"Benarkah? Ya silahkan silahkan kalau nak Abi suka, bulek senang sekali."
Faiha melayani sang suami dengan telaten.Bulek Lastri menatap keduanya dan mengulum senyum.
"Bagaimana bulan madu kalian. Lancar kan? Semoga secepatnya akan ada kabar baik dan kami akan segera dapat menimang cucu."
"Kabar baik apa, bu?" Hani yang masih polos tak mengerti apa yang di katakan oleh ibunya. Namun, gadis belia itu tak mendapatkan jawaban dari sang bunda.
"Alhamdulillah lancar dan sukses, bulek. Kami sudah berusaha sebaik mungkin. Bahkan kami sampai tidak keluar dari dalam kamar, ya itu...memproduksi–"
"Hehehe–bulek, nanti Faiha menginap boleh, kan?"
Mengalihkan pembicaraan yang terkesan absurd, ada Anwar dan Hani yang masih polos belum terkontaminasi oleh hal-hal yang dilakukan oleh orang dewasa.
"TIDAK BOLEH!"
Bersambung
Maaf, telat update lagi. Badan lagi ngak bisa diajak kompromi. Bocil juga baru pada kena flu. Maaf juga kalau alurnya masih lambat.
Selamat membaca.
__ADS_1