Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
27. Prahara pinggang yang keseleo


__ADS_3

Namun, bebrapa detik kemudian terdengar suara yang cukup keras dari dalam kamar mandi.


Kedebugh...Aaaaaa!"


"Apaan tuh?"


Abiseka yang tengah mengeringkan rambutnya dan bahkan baru saja akan mendudukkan bokongnya di atas ranjang terjengkit kaget mendengar suara keras seperti benda jatuh yang di iringi oleh suara terialkan memekikkan dari Faiha.


"Kenapa lagi tu cewek?" Buru Abiseka melangkahkan kakinya kembali ke arah kamar mandi,ia bahkan maaih mengenakan bathrobe Sesampainya di depan pintu, ia agak ragu untuk membukanya. Takut melihat sesuatu yang tidak boleh di lihatnya. Ya, barang kali saja Faiha tak mengenakan apapun. Kan, berabe bisa ternoda mata sang perjaka tua.


Akhirnya ia mengetuk pintunya terlebih dahulu.


Tok"


"Faiha–suara apa barusan? Apakah terjadi sesuatu?cepat buka pintunya!" Abiseka mengeraskan suaranya agar Faiha bisa mendengar panggilannya.


"Ti-tidak bisa...aduh sakit, pintunya tidak di kunci. Tolong saya,Tuan.Saya terjatuh–"


Suara Faiha yang merintih kesakitan membuat Abiseka refleks langsung memutar handle pintu, matanya terbelalak kaget melihat Faiha yang tengah rebahan di atas lantai kamar mandi yang basah.


"Kamu kenapa lagi sih? Kalau mau tidur bukan disini tempatnya.Abiseka malah terkekeh geli mengejek Faiha yang memang tengah merasa kesakitan di area pinggul dan bokongnya dan sempat-sempatnya suaminya itu bercanda di situasi segenting ini.Sontak wajah Faiha yang tadinya memasang wajah memelas, detik itu juga berubah geram dan kesal pada suami yang ternyata suka usil itu.


"Ish–orang beneran jatuh malah di ledekin. Bantuin apa gimana gitu.Sudah sana Tuan keluar saja, saya bisa sendiri" Berdecak sebal Abiseka malah mentertawakannya.


"Yakin bisa bangun sendiri?" Menatap lekat tubuh Faiha yang belum bergerak sedikitpun.


"Hemm–sudah, silahkan anda keluar saja.Saya mau mandi! Awww...aduh boyokku, lorone." Ketika akan menggerakkan tubuhnya untuk bangkit dan seketika rasa nyeri itu makin terasa menyiksa. Bahkan untuk bangun pun ia tak mampu.


Mendengar rintihan kesakitan Faiha, membuat Abiseka yang sudah melangkah keluar akhirnya kembali menoleh dan berbalik arah masuk kembali. Fan dengan sigap langsung mengangkat tubuh Faiha lalu membopongnya keluar dari kamar mandi. Dengan perlahan ia merebahkan tubuh mungil Faiha di atas ranjang. Sedangkan Faiha hanya diam tak memprotes sedikitpun, ya karena saat ini ia memang sangat membutuhkan bantuan dari orang lain.


"Apamu yang sakit?" Abiseka bertanya sambil memindai tubuh Faiha.


"Ini–Faiha menunnjuk pinggul bagian kanannya."

__ADS_1


"Oh–"


"Cuma oh gitu?"


"Lah, trus aku harus bilang wow, gitu. Itu namanya aku mengejekmu dan tak berperikemanusiaan.Lalu, apa yang bisa aku lakukan untukmu.Apa aku panggilkan tukang urut saja, barang kali pinggangmu itu ada yang keseleo atau jangan-jangan malah patah."


Demi apa pun, Faiha sangat-sangat dongkol pada pria menyebalkan yang telah berstatus sebagai suaminya itu. Rasanya Abiseka tak akan pernah puas untuk membuat prahara dengannya. Apakah sebegitu rendah dirinya di hadapan laki-laki itu. Faiha hanya bisa mengelus dadanya yang terasa nyeri, memendam amarah di dalam hati tinggal menunggu waktu untuk di ledakkan.


"Terserah—" Membuang muka malas melihat wajah tampan namun, menjengkelkan sang suami.


"Baiklah, karena aku adalah suami yang baik hati dan bertanggung jawab. Aku akan memanggil tukang pijat untuk istri tercintaku ini. Sebentar!" Meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas di samping ranjang. Lalu, ia menghubungi seseorang.


"Hallo‐,Ma."


"Iya, ada apa Bi? Kenapa tiba-tiba kamu menelpon, apa ada sesuatu yang terjadi pada menantu Mama?"


"Ma, sebenarnya anak Mama itu Faiha atau Abi,sih?"


"Dua-duanya lah,sayang. Jangan merajuk gitu dong, nanti gantengnya luntur loh." Mama Malika cekikikan di seberang sana.


"Iya iya, maaf. Mama cuma bercanda. Gitu saja di masukkan ke hati. Sensi banget sih, apa Faiha belum –"


"Stop. Jangan diteruskan Ma.Baiklah, Abi menelpon karena mau meminta tolong sama Mama. Mama bisa kan, panggilkan tukang urut atau tukang pijat apalah? Faiha pinggulnya sakit."


"APAA– Faiha sakit?" Apa yang telah kamu lakukan pada menantu Mama, Hah? Sampai membuatnya kesakitan. Pasti kamu mainnya kasar ya?" Suara melengking Mama Malika sampai membuat kuping Abiiseka berdengung. Begiitu nyaring bak toa masjid.


"Jangan lebay deh, Ma. Sudah pokoknya mama suruh tukang pijit datang ke hotel. Cepetan ya, Ma. Apa Mama mau menantu kesayangan Mama sakitny semakin.parah kalau cuma mengoceh terus."


."Oke oke, Mama akan segera datang dengan membawa tukang pijat. Awas kamu ya, kalau sampai Faiha kenapa-napa."


Klekk


Setelah menelpon Mama Malika. Abiseka berjalan ke arah lemari dan mengambil baju ganti. Lalu, membawanya masuk ke kamar mandi untuk di kenakannya. Faiha hanya memperhatikan gerak geriknya.

__ADS_1


"Apa kamu benar-benar tak ingin melepas gaun itu? Kelihatannya cukup menyiksa, terlihat jelas di wajahmu kalau kamu tidak nyaman. Mau aku bantu melepaskannya?" Tetap dengan wajah datarnya.


"Tidak usah, terima kasih. Nanti saja sama tukang pijit kalau sudah datang."


"Yakin? Kalau tukang pijitnya laki-laki gimana? Tetap mau kamu orang itu yang menanggalkannya dan melihat tubuhmu itu?"


"Iya juga ya, kalau benar apa yang dia katakan. Itu artinya...Hii, kok rasanya jadi ngeri ya." Monolog Faiha, mencerna akan ucapan Abiseka.


Melihat wajah pias Faiha, timbulah penyakit keusilannya. Ia menarik sudut bibirnya merencanakan sesuatu untuk mengerjai istri mungilnya.


"Bagaimana? Kalau aku sih fine fine aja, ngak masalah. Mau tukang pijit bahkan jika, Ferdy atau Andre yang melakukannya aku sama sekali tidak perduli."


Melirik sinis dan jengah, suaminya memang super error, aneh dan sangat menyebalkan tak ada duanya. Faiha pun tak mau kalah, gadis itu membalasnya dengan telak sampai Abiseka bungkam tak berkutik.


"Wah, boleh juga tuh. Ide yang bagus. Bisa tolong panggilkan mereka, Tuan. Salah satunya saja juga boleh. Kapan lagi bisa di tolong oleh cowok-cowok ganteng berkelas seperti mereka,kan. Ayo Tuan, tolong hubungi mereka ya. Tuan Ferdy atau Tuan Andre saya ngak akan menolaknya,kok." Di dalam hati Faiha terbahak-bahak melihat kejengkelan di wajah tampan Abiseka.


"Ih–siapa kamu main perintah.seenaknya? Tidak sudi aku memanggil mereka hanya untuk itu–nanti bisa-bisa kepalamu jadi bertambah besar lagi." Terkekeh geli membayangan kepala Faiha yang membesar sedangkan tubuhnya kecil mungil.


"Maksud Tuan apa, pasti di dalam hati anda tengah mengejek dan menghina saya. Benar kan?" Memicingkan mata bulatnya.


"Lah itu kamu tahu, syulurlah kalau kamu sadar diri.Kedua sahabatku itu tidak sepadan dengan dirimu. Bercerminlah! Siapa kamu dan siapa mereka."


Tak ingin memperpanjang masalah yang tak penting. Saat ini Faiha terlalu lelah dan malas untuk berdebat dengan Abiseka. Ia lebih memilih diam tak mau menanggapi segala ocehan yang sangat tak enak di hatinya. Biarlah laki-laki itu mengoceh apa pun, yang penting boss arogannya itu bahagia. Faiha sudah masa bodo.


"Kenapa diam? Aku tahu, pasti kamu sudah tahu bahwa itu tidak mungkin.Hh–"


Ting tong"


"Itu pasti tukang pijitnya."


Abiseka bergegas membukakan pintunya. Dan betapa terkejutnya ia melihat beberapa orang yang sangat di kenalnya berjejer di depan pintu.


"Mau apa mereka datang ke sini? Apa maksudnya ini, Ma?"

__ADS_1


Bersambung


Maaf ya, update nya telat terus. Maklum emak-emak.Rempong sama bocil,-bocil. Insyaallah akan diusahakan bisa up tiap hari. Terima kasih yang sudah berkenan membaca.


__ADS_2