Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
48. Istri yang tertinggal


__ADS_3

"Apa iya sih, si OG itu masih berada di dalam dan sedang melakukan...ah, enggak mungkin deh?"


"Apa yang tidak mungkin, Dina?"


Dina pun refleks menoleh ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya ia melihat sosok yang tengah berdiri di belakangnya dengan tatapan penuh selidik.


"Nyo–nyonya, itu...emm Tuan Abiseka tadi..." Jawab Dina dengan kegugupannya yang sangat kentara.


"Apa ada yang terjadi? Bossmu ada didalam, kan?" Mama Malika melangkah mendekati pintu ingin membukanya dan wanita paruh baya itu mengernyitkan keningnya.


"Kenapa pintunya terkunci?"


"Dina, apa Abi sedang tidak ada di ruangannya?"


"Anu–itu nyonya, Tuan Abiseka ada didalam tapi beliau sedang bersama dengan..."


"Maksudmu apa? Abi ada didalam, dengan siapa?" Mama Malika langsung tersulut emosi. Bisa-bisanya putranya itu main gila padahal baru saja usai berbulan madu dengan istrinya.


Tok tok tok


"ABI,BUKA PINTUNYA...ABI, KAMU ADA DIDALAM,KAN?"


"ABISEKA JAYENDRA–"


Sekretaris Abiseka yang bernama Dina pun sampai terjingkat kaget mendengar suara mama Malika yang menggelegar menggedor-gedor dengan kuat daun pintu ruangan sang putra.


Sementara itu didalam, Abiseka dan Faiha sudah selesai dengan rutinitas nikmatnya. Mereka bahkan sudah mandi dan tampak segar. Faiha memakai kembali seragam Office girl nya walaupun tampak sedikit kusut akibat perbuatan Abiseka. Tak lupa mereka mengeringkan rambutnya karena bisa saja akan ada yang menaruh curiga terutama pada Faiha yang lebih beresiko.


"Mas, itu ada yang mau mendobrak pintu. Ya Allah...itu bukannya itu suara mama Malika, bagaimana ini?" Faiha sangat mengenali suara wanita yang begitu berciri khas, keras dan lantang.


"Benar, itu mama.Sini sayang, kamu bersembunyi dulu dikolong tempat tidur. Nanti kalau situasi sudah aman kamu bisa keluar."


Tanpa berlama-lama, Faiha dengan.gerakan gesitnya langsung meluncur masuk ke kolong ranjang dengan posisi tubuh tengkurap. Abiseka sebenarnya tidak tega melihat istrinya harus bersembunyi seperti itu.Padahal Faiha tidak perlu melakukannya, toh mereka sudah menjadi pasangan suami istri yang sah jadi, wajar saja jika mereka melakukan hubungan intim.


Ceklek


"Ada apa sih, ma?menganggu orang sedang beristirahat saja." Abiseka membuka pintu dan berakting seakan baru saja bangun tidur.

__ADS_1


"Jam segini kamu tidur?tumben sekali, hmm...apa saat ini kamu sedang berakting? mama kok, jadi curiga ya. Soalnya kamu itu kan sedari remaja sama sekali tidak pernah dan tidak suka yang namanya tidur siang. Apa yang sedang kamu sembunyikan, Abiseka Jayendra?"Menatap penuh intimidasi.


"Beneran ma, Abi memang tadi mengantuk sekali.Mungkin karena selama beberapa hari ini kurang tidur jadi, ya entah mengapa siang ini aku sama sekali tak bisa menahan rasa kantuk.hoamm...ini aja masih ngantuk."


"Alasan palsu, mama masih tidak percaya sama omonganmu itu. Minggir, mama mau lihat kamar itu!" Mama Malika menerobos tubuh besar sang putra yang sejak tadi selalu menghalanginya untuk masuk.


"Ma, apa yang ingin mama lakukan? Tidak ada siapapun di didalam kamar itu."


"Apa? Siapa...memang mama bilang mau mencari seseorang? tingkahmu ini malah semakin membuat mama curiga. Mama akan buktikan dengan mata kepala sendiri. Apakah yang kamu katakan itu benar atau bohong."


Mama Malika memindai keseluruh sudut ruangan. Tampak tak ada orang lain disana, kemudian ia melangkah menuju ke kamar mandi yang juga masih berada dalam satu ruangan. Sama, kosong...tak ada siapa-siapa.


"Benar kan,Ma. Aku tidak berbohong. Lagian ngapain sih mama tiba-tiba datang ke kantor segala, mau mensidak Abi? mama ini lama-lama malah kayak satpol pp.Kerjaannya cuma mengawasi orang saja."


Plakk


"Dasar anak kurang ajar sembarangan saja. Ya sudah.Mama cuma mau bilang nanti pulang jangan lupa jemput istrimu. Temani Faiha kerumah bulek-nya untuk memberikan oleh-oleh, katanya."


"Loh, Faiha kok ngak ngomong sama aku kalau mau ke rumah bulek Lastri?"


"Asiyapp, ibu ratu."


Abiseka mengantarkan mama Malika sampai depan pintu ruangannya. Baru saja ia berbalik ingin masuk kedalam ruangannya, Dina sekretarisnya menginformasikan pada Abiseka kalau ada meeting dan mereka harus segera berangkat ke tempat pertemuan yang sudah di sepakati.


"Maaf Tuan, saya hanya mengingatkan kalau siang ini anda ada pertemuan dengan Tuan william dari Mahendra Group dan sepertinya kita harus segera berangkat." Jelas sang sekretaris yang bernama Dina itu.


Tak berapa lama munculah Heru dan akhirnya mereka bertiga pun melangkah pergi menuju ke sebuah Hotel tempat diadakannya meeting.


"Maaf boss, kita harus segera bergegas. Tuan William sudah dalam perjalanan menuju ke Hotel."


"Oke, ayo kita berangkat!"


Satu jam kemudian di ruangan Ceo, ada sosok perempuan bertubuh mungil yang tengah terlelap di kolong tempat tidur. Siapa lagi kalau bukan Faiha. Mungkin karena terlalu lelah dan mengantuk, gadis itu pun tak sadar kalau telah di tinggal pergi oleh suami bucinnya. Ya, Faiha istri yang tertinggal. Abiseka bisa-bisanya melupakan istri tercinta.


"Eumm–aku masih di sini, toh. Mas Abi kenapa tidak membangunkanku?" Faiha beringsut keluar dari kolong ranjang memindai kesekeliling kamar hingga kamar mandi dan tak mendapati keberadaan sang suami.


"Kalau aku keluar bahaya tidak,ya?apa mas Abi ada di ruang kerjanya? Faiha perlahan membuka pintu dan memunculkan kepalanya sedikit melirik kesekitar, kosong tak ada siapapun.

__ADS_1


"Syukurlah, Mas Abi ternyata tidak ada. Apa mungkin dia sedang pergi meeting?berarti bu Dina juga pasti ikut,kan. Sebaiknya aku harus segera keluar dari sini."


Ia keluar dengan mengendap-endap. Namun, tanpa ia tahu ada yang memperhatikan gerak geriknya yang tampak mencurigakan.


"Apa yang dilakukannya di dalam ruangan Ceo? Bukankah sudah sejak tadi dia di panggil oleh Tuan Abiseka. Lalu, kenapa baru keluar sekarang. Apa saja yang dilakukannya didalam sana? Sungguh mencurigakan...atau jangan-jangan Faiha itu–"


"Maaf ya semua, tadi aku ngak bisa makan bareng. Padahal aku pingin banget makan soto." Faiha sudah berada di pantry dan rekan-rekannya pun baru saja kembali dari mengerjakan tugasnya masing-masing.


"Fai, kamu dari mana saja? Sejak sebelum makan siang tadi kami tidak melihatmu lagi. Apa yang di katakan boss?Belum lama aku melihatmu baru keluar dari ruangan Ceo.Memangnya apa yang kamu dan Tuan Abiseka bicarakan sampai memakan waktu selama itu?"


DEG


"Oh, Ti-tidak kok. Aku sudah keluar dari ruangan boss sudah sejak jam makan siang tadi. Tuan Abiseka juga kan langsung pergi meeting. Jadi untuk apa aku berlama-lama di ruangan beliau." Berusaha mencari alasan yang masuk di akal.


"Lalu, yang aku lihat tadi siapa?"


"Hei Lia, mungkin matamu yang salah lihat atau sedang berhalusinasi. Tidak mungkin Faiha berbuat macam-macam sama si boss.Faiha bahkan sudah memiliki suami. Jangan ngadi ngadi kamu. Bikin fitnah itu dosa loh."


Lia memang tak salah lihat namun, rekan-rekannya yang lain sama sekali tidak mempercayai ucapannya. Mereka tahu bagaimana Faiha, gadis itu sangat manis dan selalu bersikap baik pada siapa saja. Akhirnya, Lia hanya bisa diam tak ingin menambah kekesalan teman-temannya yang mengira ia telah menuduh Faiha telah melakukan perbuatan yang tidak baik.


Sementara itu di lain tempat, Abiseka masih berada hotel .Meeting baru saja selesai. Tuan William dan asistennya pun telah pergi. Kini Abiseka beserta Asisten dan sekretarisnya juga akan bersiap meninggalkan hotel. Tiba-tiba Abiseka baru mengingat sesuatu dan sontak saja pikirannya tak tenang. Ia telah melupakan istrinya yang masih berada di ruangannya, tepatnya di kolong tempat tidurnya.


"Heru, mana sini...kunci mobilmu!"


"Untuk apa Tuan, apa anda ingin pergi ke suatu tempat? Biar saya yang akan mengantarkan anda."


"Tidak perlu, kamu kembali kekantor bersama Dina saja. Bisa, kan?"


"Tapi boss–"


Belum sempat menjawab, Abiseka langsung melesat pergi.


"Ada apa dengan boss ya?"


"Saya juga tidak tahu, Pak." Itu Dina yang menjawab, hanya terdiam menatap kepergian boss mereka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2