
Didalam kamar mandi Faiha tertegun menatap hasil dari test pack yang masih di pegangnya disana terpampang dua buah garis berwarna merah namun, salah satunya tampak buram tidak begitu kentara. Ia jadi ragu apakah itu positif ataukah sebaliknya.
Faiha pun pasrah dan beranjak dari dalam kamar mandi.Ketika baru saja membuka pintunya sontak ia dikejutkan oleh Abiseka yang langsung menghadangnya dan menanyakan hasilnya.
Kriett
"Bagaimana sayang hasilnya?"
"Astaqfirullah. Mas, bikin kaget aja ih!" Faiha mengusap dadanya saking terkejutnya.
"Ini mas–!" Menyerahkan hasil test pack tersebut ketangan Abiseka.
Abiseka mengamati dengan teliti. Keningnya mengernyit, ia tak mengerti apa artinya. "Ini cara mengetahuinya bagaimana? Satu garis merah dan satu garisnya agak buram hampir tak terlihat.Lalu, hasilnya apa...positif atau negatif?" Faiha menggeleng, ia pun kurang paham.
"Bagaimana kalau kita tanyakan saja pada mama, mas rasa mama lebih tahu?" Baru saja Abiseka akan beranjak mencari mama Malika, Faiha buru-buru menghentikannya.
"Jangan mas, mama pasti akan tahu kalau kita telah berbohong lagi. Bukankah mas sudah mengatakan beberapa waktu yang lalu pada mama kalau aku sudah hamil, bukan."
Abiseka menggaruk tengkuknya bingung juga harus bagaimana. "Atau nanti kita tanyakan langsung saja pada dokter kandungan. Bagaimana?" Memberikan jalan keluar yang lebih baik.
"Hm–begitu lebih baik. Baiklah mas, aku ikut saran mas saja."
Di meja makan seluruh anggota keluarga sesang sarapan bersama. Senyum selalu terkembang diwajah mama Malika. Wanita paruh baya itu tampak begitu bahagia karena tak lama lagi akan mendapatkan seorang cucu dari putra dan menantunya.
Hal itu telah lama ditunggu-tunggu oleh keluarga besar Jayendra. Dan terlebih lagi bayi tersebut adalah cucu pertama dan yang akan menjadi pewaris Jayendra Group selanjutnya.
"Makan yang banyak, sayang agar janin di dalam rahimmu dapat berkembang serta bertumbuh dengan baik dan normal." Mama Malika menaruh beberapa lauk kepiring sang menantu sampai Faiha bingung cara memakannya.
"I‐iya ma, terima kasih atas perhatian mama padaku."
"Aish‐, kamu ini ngomong apa sih? Tentu saja mama akan perhatian sama menantu dan calon cucu mama. Nih dengar ya, sayang. Kamu itu sudah mama anggap sebagai putri kandung sendiri. Jangan selalu merasa sungkan pada mama, oke!?"
Faiha pun mengangguk dan tersenyum pada sang ibu mertua yang sangat lembut dan baik hati itu. "Iya ma."
__ADS_1
Usai sarapan mama Malika mengajak Faiha duduk santai diruang tengah sambil menonton televisi ditemani oleh secangkir teh hangat dan camilan ringan. Kening mama Malika mengkerut menyadari kalau Abiseka sejak selalu mengikuti dibelakang mereka.
"Loh Bi, kamu ngapain malah ngintilin kami? Sudah sana berangkat ke kantor, kerja cari uang yang rajin buat masa depan anakmu nanti."
"Ya ampun ma, Abi juga ngerti kali. Hari ini ada yang lebih penting yang harus aku lakukan. Yaitu menemani Faiha periksa ke dokter kandungan."
Faiha menatap sendu pada Abiseka, berharap semoga mama Malika mendengarkan dan mengerti akan keinginan putranya.
"Kamu pergi saja bekerja kalau urusan periksa Faiha biar mama yang akan menemaninya. Jangan khawatir, Faiha akan aman bersama mama."
Menghela nafas panjang dan akhirnya Abiseka hanya bisa pasrah dan mengalah pada sang mama yang tak pernah mau kalah itu. "Iya deh terserah mama saja. Sayang, kamu hari ini ke dokter sama mama dulu ya.Yang akan datang mas yang akan menenemanimu."
"Iya mas, ngak apa-apa. Mas Abi pergi bekerja saja. Benar kata mama, mas tu harus lebih giat lagi mencari nafkah untuk masa depan anak kita nanti." Faiha tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya.
"Sayang, mas kan juga pingin lihat debay. Kenapa kamu sekarang jadi memihak mama." Abiseka memasang wajah cemberut namun, tingkahnya itu malah membuat mama Malika terkekeh geli.
"Astaga ni bocah tua, sudah sana berangkat kerja nanti kesiangan!" Usir mama Malika.
"Permisi Tuan, itu didepan ada Pak Heru sudah datang." Percekcokkan mereka terhenti ketika bi Romlah datang memberitahu kedatangan Heru sang Asisten setia dari Abiseka.
"Ma, Faiha ke kamar dulu ya mau menyiapkan segala keperluan mas Abi."
"Iya, sayang. Sana bantu suami manjamu itu. Ingat lo Bi, jangan macam-macam!" Mama Malika memperingati untuk yang kesekian kali agar putranya itu tidak mengganggu sang istri yang kini tengah hamil muda.
Abiseka tak menggubris omongan sang mama, ia cuek saja melenggang pergi sambil mengapit pinggang Faiha dengan mesra." Tidak usah didengarkan ya,sayang. Mam itu memang sukanya mengganggu kesenangan kita."
"Apa sih mas kamu ini sama mama kok seperti itu." Faiha mencubit dada bidang Abiseka. Bukan cubitan yang keeas namun, dasar si Abiseka yang manja laki-laki itu berpura-pura meringis kesakitan.
Heru telah menunggu setengah jam lebih, beberapa kali ia melirik jam di pergelangan tangannya. Pagi ini sebenarnya sang boss akan mengadakan pertemuan dengan klien penting yang baru saja tiba dari luar negeri.Dikarenakan waktu yang mepet, atas permintaan klien tersebut.
Akhirnya mereka sepakat akan bertemu di pagi hari ini. Benar saja feeling-nya kalau bossnya itu pasti akan lupa karena tengah di mabuk asmara alias bucin akut pada istri cantiknya.
"Heru, Untuk apa aih kamu pake datang kesini. Ada hal yang lebih penting yang harus aku lakukan. Memangnya kamu tidak bisa menghandlenya sendiri?" Abiseka langsung menyemprot sang Asisten tanpa basa basi.
__ADS_1
"Ekhem, maaf Boss. Pertemuan kali ini sudah tidak bisa ditunda lagi karena Tuan Karabey siang ini akan bertolak kembali ke Turkey dan beliau ingin berbicara langsung dengan anda Boss. Jadi, tidaklah pantas jika saya yang mewakili anda."
"Pintar sekali kamu berbicara ya, Her.Ya sudah.Ayo kita berangkat sekarang. Sebentar aku pamit dulu sama istriku." Heru tak menjawab, pria muda itu hanya mengangguk mengerti.
Faiha yang berdiri tak jauh dari Abiseka dan Heru. Mendengar pembicaraan keduanya membuat Faiha menggelengkan kepalanya tak habiis pikir dengan kelakuan seenaknya sang suami yang menyepelekan pekerjaannya.
"Jangan seperti itu lah mas, kasihan kan Pak Heru sudah capek-capek datang menjemput. Lagi pula kan, itu klien penting perusahaan mas sendiri,bukan? Jadi hormati dan hargailah mereka. Ini juga kan demi masa depan kita bersama kalau kerjasama bisnis mas berjalan lancar dan sukses."
"Waduh, istri mas sekarang jadi semakin mirip mama Malika, ya."
"Kenapa? Ngak suka?"
"Enggak-enggak, suka kok suka banget malah. Sudah, mas berangkat ya. Nanti kabari hasilnya! Daddy pergi kerja dulu ya, son. Ingat jangan nakal!" Mengelus lalu merunduk mencium perut istrinya.
Siangnya di suatu restauran ternama, seorang pria dan seorang wanita tengah menikmati makan siang bersama.Mereka adalah Ferdy dan Zivanya. Ya, sejak kejadian malam itu di Apartemen Andre, Zivanya langsung bergerak cepat mencari tahu kebenarannya. Wanita itu tidak sepenuhnya percaya akan perkataan dari Andre.
"Fer, ini aku beneran serius loh mau tanya dan kamu harus jawab dengan sejujur-jujurnya."
"Hmm–memangnya apa sih yang ingin kamu tanyakan? Kalau soal Abiseka lagi sorry Ziv aku ngak mau turut campur karena kamu tahu sendiri kan kalau Abi sudah hidup bahagia dengan istrinya."
Ferdy mengira bahwa Zivanya masih berharap pada Abiseka dan ingin mengusik ketentraman rumah tangga sahabatnya itu.Tentu saja Ferdy tidak akan menyetujuinya.
"Kamu ini Fer, negatif thinking saja sama aku. Bukan Abi, ini soal Andre."
"Andre? Jadi lo masih mau mengejarnya? Kamu itu ngak ada kapoknya sih Ziv. Kan kamu tahu kalau Andre itu tidak akan pernah mencampuradukkan antara bersahabatan dengan hubungan pribadi. Kita ini murni berteman, kita semua tahu gimana Andre. Jangan nekat kalau tak mau di jauhi olehnya!" Ferdy menasehati Zivanya.
"Dengarkan dulu lah Fer, kamu ini kebiasaan mrepet aja. Ini...yang mau aku tanyakan, apa benar kalau Andre memiliki sugar baby?"
Uhuk uhuk
"APA kamu bilang tadi?"
Bersambung
__ADS_1
Hai hai...maaf ya telat lagi up nya. Nah loh, gimana ya jawaban si Ferdy?
Tinggu jawabannya di bab berikutnya. Selamat membaca.