Gadis 147 cm

Gadis 147 cm
31. Hai Pengantin baru


__ADS_3

Au ah, gelap!"


"Apa barusan kamu bilang? Saya gelap? Apa mau kita realisasikan saja keinginan mama dan papa untuk memberikan mereka cucu. Sepertinya kamu sengaja menantang aku,ya."


"Eh–eh, sama sekali tidak. Siapa juga yang nafsu sama cowok dingin kayak situ. Hi...ngeri." Faiha membalikkan tubuhnya menyamping dan membelakangi Abiseka yang kini sudah rebahan di sebelahnya. Namun, tiba-tiba.


"Aaaakh–"


"Oh, maaf-maaf. Aku lupa...sakit ya?"


"Aduh, ya sakitlah!Tuan ini bagaimana sih.Main tubruk saja.duh...boyokku." Meringis menahan rasa nyeri pada pinggangnya, baru saja tubuh mungilnya di terjang oleh Abiseka yang berbody besar.


"Makannya jangan sekali-kali memancing kemarahanku, mengerti?" Menjauh dari atas tubuh Faiha, tatapannya melunak dan di balas anggukkan oleh Faiha.


"Sudah, tidurlah!"


Tak lama terdengar dengkuran halus dari Faiha pertanda gadis itu telah benar-benar terlelap. Kini, Abisekalah yang matanya tak bisa terpejam. Entah apa yang tengah mengganggu pikirannya. Menatap punggung Faiha dan teringat kembali akan apa yang tadi di perbuatnya pada Faiha.


"Apa sih yang telah kulakukan tadi?"


Seminggu kemudian.


"Loh, sayang. Kamu mau kemana sudah rapi begitu?"


"Mau pergi bekerja,ma. Ini sudah habis waktu cuti Faiha."


Pagi-pagi sekali Faiha sudah bersiap untuk berangkat ke perusahaan. Sesuai kesepakatan bahwa setelah ia sembuh maka, ia tetap akan bekerja di Jayendra Group.


"Bi, kamu nanti antar dan jemput istrimu. Jangan sampai telat!"


"Ya, lihat saja nanti ma.Kalau pekerjaanku padat ya biar supir yang akan menjemputnya."


Saat ini mereka sedang berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi. Hanya eyang Retno yang tidak ikut sarapan.Wanita sepuh itu tengah berada di luar negeri untuk melakukan pengobatan.


"Kamu ini bagaimana sih, Bi. Kalian ini kan pengantin baru, masa' tidak ada mesra-mesranya sama sekali? Penyakit cuekmu coba di hilangkanlah. Yang dibutuhkan istri itu ya kasih sayang dan perhatianmu, bukannya malah apa-apa menggampangkan dan memasrahkan pada bawahanmu."


"Mama ini ya, pagi-pagi sudah berceramah. Masa' iya mentang-mentang kami pengantin baru terus mesti nempel terus kayak perangko,gitu? Kami ini punya pekerjaan dan kesibukkan masing-masing. Jadi, ya wajar kalau tidak bisa bersama selalu."


"Ma, sudah...jangan terlalu mencampuri urusan rumah tangga putra kita. Biarlah mereka belajar membina rumah tangganya sendiri. Kita hanya boleh memberi masukkan saja bukannya mengatur." Tuan Aryan menegur sang istri yang mulai cerewet.


"Hemm– Papa sama anak sama saja." Kesal mama Malika pada suami dan putranya yang malah kompak menegurnya. Padahal ia seperti itudemi kebaikkan anak dan menantunya juga.Menurutnya itu tidaklah berlebihan dan salah.

__ADS_1


"Sudah-sudah, tidak baik berdebat di hadapan makanan. Ayo, lanjutkan makannya nak Faiha. Apa Andre sudah tahu kamu akan mulai bekerja hari ini?" Tuan Aryan.


"Tentu saja tahu lah, Pa. Abi juga sudah menelponnya tadi malam." Bohongnya.


"Baguslah kalau begitu."


Semua sudah berangkat untuk bekerja, tinggalah mama Malika di rumah sendiri hanya di temani oleh beberapa pegawai yang bekerja di kediaman Jayendra.


"Hh–semoga pernikahan mereka akan segera di karuniai kebahagiaan." Nyonya Malika menghela nafas panjang.


"Pak Heru, maaf–bisa tolong berhenti, saya turun di sini saja."


"Kenapa, nona. Apa anda ingin ke suatu tempat lain terlebih dahulu?" Heru yang beeada di kursi pengemudi pun menghentikan laju kendaraannya. Laki-laki mudah itu menoleh ke belakang dimana Faiha duduk manis di samping Abiseka, boss mereka.


"Tidak ada apa-apa. Lebih baik saya melanjutkan naik kendaraan umum saja.Tidak enak kalau nanti ada yang melihat bisa terjadi kesalah pahaman."


"Turuti saja, toh...apa yang dikatakannya itu memang benar adanya." Abiseka menyahut tanpa menoleh dan sibuk dengan tabletnya.


"Kalau begitu saya permisi Pak boss, mari Pak Heru." Faiha membuka pintu mobil dan segera keluar setelah sejenak menganggukkan kepala.


"Hah rasanya bebas lepas, males banget satu mobil sama si kanebo garing.Alhamdulillah, pas angkot datang....stop, berhenti pak!" Melambaikan tangannya pada angkot yang akan lewat di depannya.


"Assalamu'allaikum. Hallo semua, apa kabar?"


"Wa'allaikumsalam."


"Faiha–kamu yang apa kabar? Gimana apakah acaramu berjalan dengan lancar?maaf ya, kami tidak bisa hadir."


Faiha memang izin dalam waktu seminggu dengan alasan ingin menikah di kampung halamannya.Akan tetapi semua teman-temannya belum mengetahui siapa laki-laki yang telah berhasil memoersunting gadis cantik bertubuh mungil itu.


Susan dan Lia mengucapkan selamat dengan bercipika cipiki. Namun, ada satu orang yang tampak suram. Ya siapa lagi kalau bukan Ardi, pria yang begitu mengangguminya.


"Oh, hancur hatiku.Ambyarr‐ambyarr!" Ardi terduduk lemas menatap nelangsa pada gadis pujaannya yang kini telah menjadi milik laki-laki lain.


"Halah–lebay lo Di, udah cari yang lain saja. Masih banyak cewek yang mau sama lo,kok!" Itu Lia yang berbicara berusaha menghibur Arsi yang tengah patah hati.


"Siapa? Lo mau sama gue, Lia?" Mata si Ardi langsung berbinar mendengar perkataan Lia.


"Idih, siapa juga yang mau. Gue cuma bilang kali aja cewek-cewek di luaran sana yang pasti mau sama lo. Dari pada lo masih mikirin.bini orang.Yee–dasar playboy, ge'er aja kerjaannya." Lia mencebik Ardi yang selalu sok super ganteng.


Sedangkan Susan dan Faiha terkekeh melihat tingkah keduanya yang tak pernah akur.

__ADS_1


"Udah lo berdua jadian aja, cucok juga,kok! Ya ngak,Fai?" Susan menngedipkan matanya pada Faiha.Dan di jawab dengan acungan dua jempol.


"Kalian berdua malah ngeledek lagi. Sebel gue." Lia memanyunkan bibirnya lalu bangkit dari duduknya.


"Dah, ah...gue mau lanjut kerja.Ayo, San!" Susan pun mengangguk dan mengikuti langkah Lia. Ia pun ingin melanjutkan pekerjaannya kembali.


Kini tinggalah Faiha dan Ardi di ruang pantry. Suasana hening tanpa satu pun diantara mereka yang memulai percakapan.


"Emm–mas Ardi, Faiha juga mau ke lantai 15 ya, takut big boss keburu datang duluan. Bisa kena semprot nanti kalau ruangannya belum bersih." Faiha mencoba mencairkan suasana yang cukup canggung di antara mereka.


"Aku ngak apa-apa,kok dek Fai. By the way...selamat ya atas pernikahannya. Lain.waktu kenalkan suamimu itu kepadaku.boleh,kan aku kenalan dengannya?"


"Eh, emm...bo‐boleh kok, mas. Kapan-kapan. Ya sudah, Fai tinggal ke atas dulu ya.Takutnya boss sudah datang."


Ardi pun mengangguk. "Iya–."


Ting'


"Selamat pagi Bu, apa Tuan boss sudah datang?" Sesampainya di depan ruangan Ceo, Faiha bertanya pada sekretaris Abiseka.


"Baru saja masuk. Kenapa.Apa kamu di panggil sama Tuan Abiseka?"


"Oh, enggak Bu. Saya cuma mau membersihkan ruangan beliau.


"O–iya, kamu tidak perlu membersihkan ruangan boss lagi."


"Loh, memangnya kenapa bu?Apa saya di pindah tugaskan di ruangan lainnya?" Faiha jadi bingung dan berpikir apakah ia telah di berhentikan.


"Bukan, tadi sudah di beraihakan oleh OB lain namanya Ardi. Maka dari itu, lebih baik kamu kembali saja ke pantry. Nanti kalau Tuan Abiseka minta buatkan kopi baru kamu akan di panggil."


"Baik, Bu." Lega hatinya, ia mengira kalau bakal jadi pengangguran lagi. Lalu, bagaimana nasib kedua adiknya. Hanya dirinya yang bisa membantu biaya pendidikan Anwar dan Hani.


Baru saja ia berbalik, tiba-tiba–.


"Hai pengantin baru..."


"Eh–Tuan!?"


Bersambung


Maaf kemarin ngak update karena baru sibuk. Selamat membaca. Jangan lupa like dan komen nya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2